Wednesday, December 30, 2015

The Jose Flash Review
Single

Berawal dari blog yang kemudian dibukukan, nama Raditya Dika sudah menjadi brand tersendiri. Satu demi satu bukunya menjadi best seller. Karirnya pun terus menjulang dengan follower twitter mencapai 12 juta lebih, eksistensinya semakin melebar di berbagai sektor, tak terkecuali film. Meski Kambing Jantan The Movie (2009) tergolong flop, ia tak berhenti menemukan bentuk paling pas untuk menyampaikan materi dan guyonan signatural-nya di film. Tahun 2013, ia mencoba lagi lewat 3 film: Manusia Setengah Salmon, Cinta Brontosaurus, dan yang formatnya paling unik dan menjadi paling favorit saya, Cinta dalam Kardus. Manusia Setengah Salmon berhasil menarik perhatian 440-an ribu penonton, sementara Cinta Brontosaurus membukukan angka 890-an ribu penonton. Prestasi ini jelas semakin melambungkan reputasi Dika. Maka tak heran jika sebagai salah satu PH yang dikenal ‘royal’ dan selalu mengedepankan teknis yang di atas rata-rata, Soraya Intercine Films, tertarik untuk bekerja sama dengan Dika. Maka jadilah karya terbaru Dika, tak hanya sebagai aktor, tapi juga penulis naskah bersama Sunil Soraya dan Donny Dirghantoro, serta bangku sutradara.

Kali ini Dika berperan sebagai Ebi, seorang pemuda yang tinggal di kos-kosan bersama dua sahabatnya, Wawan dan Victor. Selain bingung masih cari-cari pekerjaan, Ebi juga dikenal sebagai single bertahun-tahun. Penyebab utamanya adalah ia sulit berkomunikasi dengan wanita, meski sekedar untuk mengajak kenalan. Berbagai upaya yang diajarkan Wawan justru berbalik menjadi bencana. Bebannya semakin berat setelah adiknya, Alva, mengumumkan akan menikahi pacarnya selama ini. Di saat yang bersamaan, ada seorang gadis yang baru pindah ke kosnya, Angel. Selain cantik dan baik, Angel yang mahasiswi kedokteran ini punya hati yang besar dan ditunjukkan lewat kiprahnya di sebuah medical center. Diawali dengan perkenalan yang canggung dan konyol, Ebi dan Angel semakin dekat. Namun pendekatan itu terancam ketika muncul Joe, kakak ketemu gede Angel yang mengancam Ebi karena ia sendiri juga mengejar Angel selama bertahun-tahun. Joe yang lulusan Groeningen dan terlihat kaya, jelas jauh dalam segala hal daripada Ebi. Dengan dukungan Wawan dan Victor, Ebi memutuskan untuk ‘berperang’ dengan Joe.

Membaca sinopsis di atas, jelas kalau Dika masih bermain-main di ranah yang selama ini menjadi signatural dan lahan rejekinya: komedi yang mengolok-olok diri sendiri sebagai jomblo. Namun kali ini Dika mendapatkan support yang jauh lebih mumpuni daripada sebelum-sebelumnya. Yang paling terasa dan paling saya apresiasi adalah naskah yang digarap dengan baik. Mulai dari karakter-karakter yang ditulis dengan menarik, punya perkembangan-perkembangan penting, dan masing-masing punya porsi yang pas sehingga tak terasa tumpang tindih. Setup-setup menuju klimaksnya pun ditata dengan rapi, efektif, dan masuk akal. Tak ketinggalan pula sedikit ‘twist’ di menjelang klimaks yang bikin hati menghangat dan cukup tak terduga namun punya relevansi yang masuk akal dengan setup-setup yang sudah dibangun. Oh ya, tak lupa faktor hati yang terasa begitu besar dan hangat di beberapa bagian menambah nilai Single. Esensi tentang relationship atau being single turut tersampaikan dengan sangat baik dan mulus.

Naskah yang rapi tak lantas membuat hasil akhir Single selalu nyaman diikuti. Let’s not talk about his comedic style yang bisa jadi berbeda-beda efeknya bagi penonton. Meski harus diakui ‘cocok’ dengan mayoritas penikmatnya di Indonesia, bagi saya pribadi hanya mampu membuat saya sekedar senyum-senyum saja. Satu hal yang menjadi sedikit ganjalan untuk kelancaran storytelling adalah adegan-adegan yang terasa carried away. Saking asyiknya, Dika seperti membiarkan tiap adegan berakhir ‘tuntas’ dengan kemasan komedi khasnya. Ini sebenarnya tak jadi masalah jika hanya dihadirkan 1-2 kali sepanjang film dan dengan punchline yang benar-benar lucu. Di sini, Dika mengeluarkan formula ini di lebih dari separuh film. Efeknya film terasa lambat dan jauh dari kesan dinamis yang seharusnya diterapkan pada film komedi yang tidak boleh kelewatan momen-momennya untuk mempertahankan energi-energi lucunya. Walaupun tak sampai meyebabkan kelucuan-kelucuannya menjadi pudar dan garing, ini membuat laju pergerakan film menjadi agak lambat. Alhasil, drama komedi ini pun berdurasi sedikit terlalu panjang untuk genrenya: 127 menit!

Memasang tiga komika kondang sebagai garda depan jelas menjadi senjata ampuh untuk Single: Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Babe Cabita. Masing-masing punya fanbase yang cukup besar, sama-sama saling mengenal sehingga tak sulit  untuk menjalin chemistry, dan yang paling penting: punya style guyonan yang beda-beda sehingga membuat film menjadi semakin meriah. Ketiganya masih memainkan karakter-karakter tipikal selama ini, tapi bukankah justru itu yang menjadi komoditas paling dicintai fans-nya? Sebagai pendatang baru, Annisa Rawles menjadi pencuri perhatian paling besar. Tak hanya berfisik cantik dan menarik, kharismanya juga bisa dikatakan cukup kuat. Sementara Chandra Liow sebagai Joe dan Tinna Harahap sebagai Mama Ebi yang berusaha gaul, cukup berhasil menjadi pemancing tawa yang efektif. Di jajaran pemeran pendukung lainnya, kehadiran Rina Hassim, Dede Yusuf, Dewi Hughes, sampai Pevita Pearce patut mendapatkan kredit tersendiri lewat penampilan-penampilang yang mengesankan.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Soraya Intercine Films selalu berani mensupport budget besar demi tampilan film yang grande. Single pun mengalami keberuntangan yang sama. Maka siap-siap terkagum-kagum melihat set-set cantik, mulai kos-kosan Ebi-Wawan-Victor, outdoor family dinner di Bali, sampai outdoor wedding party Alva. Adegan-adegan yang dishot dengan aerial drone turut mendukung kemegahan visualnya dengan kualitas gambar yang tetap crisp. Hadirnya adegan se-ekstrim kecelakaan mobil dan skydiving semakin memperkuat keseruan visual Single. Meski didukung audio Dolby Surround 7.1, tata suara Single tak terlalu terasa grande selain sekedar cukup untuk menghidupkan adegan-adegannya. Pemilihan lagu-lagu populer seperti Sementara Sendiri dari Geisha yang seperti menghipnotis karena saking seringnya diputar sepanjang film, dan Single dari D’Masiv, terasa cocok dengan target audience utamanya dan tema film sendiri.


Betul jika film-film dan guyonan Raditya Dika punya segmen-nya sendiri, maka tak salah jika memang tak semua orang bisa mentertawai atau menganggap lucu guyonan-guyonannya. Tak salah juga jika ada cukup banyak penonton yang bosan dengan materi cerita Dika yang hanya bermain-main di seputar pejombloan. Namun kali ini harus diakui bahwa dengan berbagai dukungan mumpuni, Single menjadi film terbaik Raditya Dika so far. Jika Anda termasuk penggemar Dika yang cocok dengan gaya humornya, maka Single adalah sebuah paket lengkap: menghibur, sekaligus mencerahkan, terutama buat yang single.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates