Tuesday, December 22, 2015

The Jose Flash Review
The Peanuts Movie (2015) /
Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie

Komik strip yang sempat populer dan menghiasi berbagai surat kabar di era ’50-’80-an sudah melahirkan cukup banyak tokoh iconic yang beberapa di antaranya sudah diangkat ke layar lebar di era setelah 2000-an. Sebut saja Garfield dan Tintin. Bahkan yang berasal dari komik dengan gaya gambar setipe dan seangkatan, Smurfs sudah juga diangkat ke dalam animasi CGI. Ada satu judul yang belum mendapatkan theatrical CGI treatment, yaitu Peanuts atau yang lebih sering kita kenal sebagai Snoopy & Charlie Brown. Padahal Peanuts pernah empat kali diangkat ke layar lebar dengan format 2D, mulai tahun 1969 (A Boy Named Charlie Brown) sampai yang terakhir, Bon Voyage, Charlie Brown (and Don’t Come Back!!) tahun 1980. Sampai kematian sang kreator, Charles M. Schulz, meninggal tahun 2000, hanya format film TV atau miniseri. Tahun 2006, putra dan cucu Charles, Craig dan Bryan Schulz bekerja sama untuk membuat naskah layar lebar Peanuts terbaru setelah lebih dari 35 tahun. Diproduksi oleh studio animasi milik 20th Century Fox, Blue Sky yang menandai film animasi ke-10-nya, Steve Martino yang pernah sukses menyutradarai Horton Hears a Who! dan Ice Age: Continental Drift (dua-duanya juga produksi Blue Sky Studio) ditunjuk sebagai sutradara. Tentu saja ‘tuntutan jaman’ membuat mereka memutuskan menggunakan treatment 3D untuk The Peanuts Movie terbaru.

Mengingat generation gap yang cukup lama, The Peanuts Movie kali ini kembali memperkenalkan karakter-karakter khasnya dari awal. Yang terutama, Charlie Brown, bocah laki-laki yang karena keteledoran dan ketidak becusannya dalam melakukan apa saja, membuatnya rendah diri. Untung ada anjing lucu dan pintarnya yang setia, Snoopy. Kerap kali Snoopy lah yang turun tangan untuk mengambalikan rasa percaya diri Charlie, termasuk ketika ada murid baru, gadis berambut merah yang membuat Charlie deg-degan tak tenang tiap kali kemunculannya. Maka Charlie pun mencoba belajar berbagai hal untuk menarik perhatian gadis berambut merah itu. Tentu saja dengan bantuan Snoopy yang seolah bisa segalanya. Tak disangka Charlie mendadak populer karena berhasil meraih nilai tertinggi di sekolahnya. Sementara adik Charlie, Sally, memanfaatkan popularitas Charlie untuk mengeruk keuntungan, Charlie semakin bersemangat untuk mengembangkan dirinya. Ia pun rela membaca buku tebal dan mengerjakan tugas kelompok bersama gadis berambut merah yang sedang ijin tidak masuk. Tentu saja menarik perhatian gadis itu tak semudah yang dibayangkan. Snoopy yang suka berkhayal pun terinspirasi untuk menulis kisah asmara Charlie dan gadis berambut merah lewat khayalannya sendiri bersama anjing betina pujaan, Fifi.

Sedikit berbeda dengan film-film animasi yang beredar belakangan yang cenderung punya target audience dengan range usia lebih luas, which means lebih cocok untuk penonton dewasa ketimbang pure anak-anak, The Peanuts Movie punya storyline dan adegan-adegan yang lebih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak ketimbang penonton dewasa. As for me, storyline utama tentang Charlie Brown masih cukup relevan untuk penonton dewasa dan humor-humor innocent namun tergolong smart-nya masih mampu membuat saya tersenyum dan sesekali tertawa terbahak-bahak. I always love innocent fun, seperti saya tersenyum melihat kepolosan anak-anak dalam memandang masalah. Demkianlah menu utama The Peanuts Movie which I loooooove very much. Meski jika mau dicermati lebih dalam, tiap karakter utama di sini punya studi kasus kepribadian dan psikologis yang cukup jelas dan mendalam. Sebagai side storyline, ada Snoopy yang dalam fantasi petualangannya melawan pesawat the Red Baron dan menyelamatkan Fifi, dengan treatment tanpa dialog seperti yang beberapa kali ditampilkan komik strip-nya. Di mata saya, memang tak ada salahnya menyisipkan side storyline yang seolah tak berhubungan dengan main storyline, tapi saya juga tak bisa bohong kalau saya kurang menyukainya dan merasa cukup mengganggu pergerakan main storyline yang sudah disusun dan dikembangkan dengan rapi. But once again, atas nama men-serve target audience utamanya yang anak-anak dan notabene doyan fantasi, it’s fairly okay lah.

Tak ada yang terlalu istimewa di barisan pengisi suara yang tergolong asing di telinga. Kesemuanya dengan pas menghidupkan tiap karakter yang memang punya kepribadian kontras. Misalnya Noah Schnapp sebagai Charlie Brown yang sering canggung, Mariel Sheets sebagai Sally yang selalu ceria dalam kepolosannya, Hadley Belle Miller sebagai Lucy yang narsis. Kesemuanya mengingatkan saya akan versi animasi 2D-nya dan seperti fantasi saya ketika membaca komik strip-nya. Bahkan suara karakter-karakter orang dewasa tetap mempertahankan konsep film lawas dan komik stripnya: berupa suara tak jelas bercampur trombone.

Dari segi teknis, animasi 3D yang digabungkan gaya gambar 2D klasik seperti goresan pena komik strip-nya jelas menjadi primadona yang tak hanya memanjakan mata tapi bagi penonton mana pun, tapi juga membawa nuansa nostalgic tertentu bagi generasi yang pernah akrab dengannya. Tata suara surround 7.1 benar-benar dimanfaatkan maksimal, terutama terasa sekali untuk storyline fantasi Snoopy bersama the Red Baron dan Fifi. Scoring Christophe Beck ditambah lagu-lagu dari Meghan Trainor jelas mendukung nuansa serba ceria dan menyenangkan dari dunia Peanuts.

Sebagai penonton dewasa tentu Anda tak boleh mengeluh dengan storyline-nya yang sangat simple, karena memang ditujukan untuk penonton anak-anak. Jangan permasalahkan juga jokes-nya yang polos dan innocent. Sebenarnya jika Anda punya masa kecil yang indah dan menyenangkan, saya yakin The Peanuts Movie dapat dengan mudah menjadi sajian yang menyenangkan, setidaknya membawa nostalgia keceriaan dan kepolosan masa kecil. Kalau buat saya sih, ia juga berhasil menjadi pengingat tentang kepribadian dari karakter Charlie Brown. See, even adults can find self-reminder from simple movies targeted mainly for kids. You’ll never know if you never give it a try, asal tetap tahu posisi diri saat menonton, karena Anda adalah ‘warga nomer dua’ di studio itu.

P.S.: Buat fan dan kangen Scrat dari Ice Age, jangan masuk telat, karena ada film animasi pendek Cosmic Scrat-tastrophe sebagai pembuka.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates