Tuesday, December 22, 2015

The Jose Flash Review
Krampus

Dulu di negara-negara dimana dominan kaum Kristiani sudah menjadi tradisi untuk merilis film-film bertemakan Natal ketika mendekati momen Natal tiap bulan Desember. Hollywood sebagai pusat industri film pun dulu rajin merilis film Natal tiap tahunnya yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Namun trend bergeser, semakin tahun semakin sedikit film Natal yang ditayangkan secara luas dan digarap dengan layak. Kebanyakan justru dirilis dalam format Video on Demand, straight to video, dan justru lebih cocok untuk penonton dewasa saja ketimbang untuk seluruh anggota keluarga. Kehangatan serta keceriaan kebersamaan yang menjadi semangat Natal utama pun sudah mulai jarang terasa tiap bulan Desember. Tahun ini Michael Dougherty yang pernah sukses membawa film horor indie Tricks ‘r Treat menjadi semacam cult, serta pernah juga dipercaya menulis naskah X-Men 2 dan Superman Returns, mencoba untuk menghadirkan sebuah horor dengan setting Natal. Meski bergenre horor, uniknya film yang diberi judul Krampus ini tergolong aman untuk ditonton seluruh keluarga. Ide ceritanya berasal dari monster mitologi Krampus yang dikenal oleh masyarakat Austria sebagai kebalikan dari Saint Nicholas atau yang kita kenal sebagai Santa Claus. Krampus sendiri beberapa kali diangkat dalam film, termasuk versi tahun 2015, Krampus: The Reckoning, tapi statusnya lebih sebagai film indie low budget. Baru kali ini proyek Krampus yang dibuat dengan treatment blockbuster, lengkap dengan aktor-aktris yang punya nama cukup besar pula.

Max jengah dengan keluarganya. Sang ayah dan ibu, Tom dan Sarah, sering berkelahi, sementara kakak perempuannya, Beth, lebih sering sibuk dengan smartphone-nya. Satu-satunya tempat curhat Max adalah sang nenek, Omi, yang hanya berbahasa Jerman. Keadaan diperparah ketika adik Sarah, Linda, dan suaminya, Howard berniat menghabiskan malam Natal di rumah Sarah. Jika keempat anak mereka, Howie Jr., Stevie, Jordan, dan Chrissy, sudah membuat rumah jadi berantakan, masih ada kejutan lain. Linda mengajak tante mereka, Dorothy yang tinggal sendirian, untuk bergabung dengan mereka. Bencana pun tak terelakkan, mulai saling sindir dan saling serang terjadi. Max makin merasa tersiksa dan merobek surat permintaan kepada Santa tentang keluarganya. Robekan surat Max terbawa angin dan siapa sangka membangkitkan monster mitologi Natal bernama Krampus. Satu per satu horor pun terjadi di lingkungan suburban itu, tak terkecuali keluarga Max yang terjebak di dalam rumah.

Sinopsis di atas jelas mengingatkan kita akan premise dasar berbagai kisah Natal, termasuk yang paling klasik, A Christmas Carol yang sudah diangkat dalam berbagai versi, dan tentu saja film Natal populer yang sampai sekarang masih digemari, Home Alone. Kuncinya: kekacauan keluarga, mimpi buruk akibat permintaan emosional yang tak sengaja terkabulkan, dan makna kebersamaan serta keceriaan Natal. Tentu saja saya tak perlu memberikan spoiler untuk memahami jalan cerita serta endingnya yang tergolong template bin generik, meski sekarang sudah jarang kita temui. Ya, Dougherty memang sengaja mengusung formula-formula klasik Natal untuk mengajak penonton saat ini bersenang-senang, bernostalgia dengan masa-masa kejayaan film Natal sejenis, atau sekedar menikmati horor monster yang konon sebagian besar diciptakan secara praktikal (dengan property, bukan hasil rekayasa CGI!). I don’t really care about familiar plot karena saya menyukai tema-tema Natal. Yang paling penting adalah makna yang disampaikan lewat momen-momen yang menyentuh sekaligus membahagiakan. Diiringi lagu-lagu Natal klasik, voila, it’s more than enough to be experienced in the theatres!

Berpengalaman menangani horor, tentu Dougherty tak banyak mengalami kendala. Namun yang patut diingat, Krampus adalah horror keluarga dengan villain berupa monster mitologi yang mungkin akan terasa beda ketika dipertontonkan di depan penonton dengan kebudayaan yang berbeda (baca: sama sekali awam dengan source materi aslinya). Untung saja Dougherty menjelaskan secukupnya dengan sosok Krampus dan kru mengerikannya, mulai badut jack-in-the-box pemakan manusia hingga gingerbread man hidup. Tingkat horor yang diusung pun bukan tipe horor mengerikan dengan adegan-adegan berdarah, tapi lebih ke thriller fun. Contoh paling mudah untuk menggambarkan horornya adalah Goosebumps beberapa bulan lalu. Penonton diajak seru-seruan dikejar-kejar dan head-to-head dengan berbagai sosok monster yang ditampilkan. Jika tidak menyukai tipikal horor seperti ini, Anda masih bisa dibuat tertawa oleh tingkah keseluruhan karakter keluarga Max, terutama sekali Aunt Dorothy yang menjadi favorit saya. Baik lewat dialog maupun tingkah laku, cukup mengimbangi horornya yang fun.

Above all, satu hal yang membuat Krampus layak menjadi pilihan tontonan Natal kali ini adalah keberhasilannya menghadirkan momen-momen paling penting dan konklusi bermakna seperti layaknya khas film Natal lainnya. In the end, it brought warmth and Christmas joy, lengkap dengan iringan lagu-lagu Natal klasik dan modern yang di-twist sedemikan rupa. Generic, but I never get bored with these classical Christmas stuffs.

Sebagai salah satu daya tarik utama film, Dougherty (dibantu oleh Todd Casey dan Zach Shields) tahu betul bagaimana menuliskan karakter-karakternya secara spesifik hingga jadi menarik dan untungnya, diperankan oleh aktor-aktris yang berhasil menghidupkannya pula. Oke, chemistry Adam Scott-Toni Collette mungkin tak terlalu terasa meyakinkan, namun untungnya Collette sendiri cukup meyakinkan memerankan ibu rumah tangga yang stress. Sayang, Stefania LaVie Owen sebagai Beth tak diberi cukup porsi untuk memikat penonton. Malah mungkin karakternya sekedar tempelan untuk ‘membentuk’ keluarga dasar semata. David Koechner sebagai Howard dan Conchata Ferrell sebagai Aunt Dorothy berhasil menjadi sumber tawa utama sepanjang film. Emjay Anthony sebagai Max pun patut diperhitungkan sebagai salah satu bintang cilik bermasa depan menjanjikan, setelah kita saksikan penampilannya di Chef dan Insurgent. Terakhir, tak boleh ketinggalan sosok Omi yang diperankan dengan sangat baik oleh Krista Stadler. Bersahaja, hangat, namun berkharisma kuat sebagai karakter kesayangan, meski porsinya tak terlalu banyak.

Bermain-main dengan horor praktikal di tengah maraknya penggunaan CGI untuk menghidupkan sosok-sosok mustahil, adalah sebuah pertaruhan di mata penonton. Bisa jadi horor seperti ini dirindukan karena kehadirannya yang sudah mulai jarang dan tentu saja membawa efek tampilan yang lebih realistis. Sebaliknya, penonton yang terbiasa dengan CGI menganggap tampilan monsternya tak mengerikan atau malah ridiculous. Tentu saja ini tergantung selera tiap-tiap penonton. Namun yang patut dicatat keputusan penggunaan prop instead of CGI patut dihargai, tak semata-mata karena faktor nostalgia, tapi harus diakui, membuat tampilannya lebih hidup dan nyata. Remember how the Gremlins looked scary as hell without showing gory images and CGI? That’s the similar feeling when watching Krampus. Tata suara yang detail dan dahsyat mendukung efek jumpscare fun sekaligus membuat visualisasinya semakin nyata. Tentu saja efek surround yang dimanfaatkan dengan sangat maksimal di sini cukup ambil andil dalam kesuksesan membangun efek horornya. Tak ketinggalan score dari Douglas Pipes yang me-remix lagu-lagu Natal klasik menjadi lebih dark dan creepy. Sungguh perpaduan yang menarik. Terakhir, desain produksi Jules Cook, termasuk kostum dari Bob Buck mampu menghadirkan perpaduan nuansa Natal klasik dan modern secara seimbang. Hasilnya, tampilan film, mulai set hingga kostum cukup memanjakan mata. Modern namun tak kehilangan ‘semangat’ Natal-nya.

Tipe horor Krampus diakui memang belum tentu cocok dengan setiap penonton. Namun setidaknya ia berhasil menghadirkan kembali ‘semangat’ Natal lewat caranya yang nyeleneh namun menyenangkan. Ada beberapa adegan yang kurang appropriate untuk anak-anak di bawah umur, tapi dengan dampingan orang tua (namanya juga film keluarga kan ya?), Krampus masih cukup aman disaksikan rame-rame. Tetap hangat dan menghibur, meski belum juga layak dijadikan instant classic. Just enjoy the ride and feel Christmas spirit and joy, once again, in cinemas!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates