Friday, December 11, 2015

The Jose Flash Review
The Good Dinosaur

Setelah musim panas lalu menuai sukses besar, lewat Inside Out, baik secara kritik maupun komersial, musim dingin ini Disney-Pixar mempersembahkan animasi keduanya di tahun 2015. Ini memang bukan kebiasaan mereka merilis lebih dari 1 judul dalam 1 tahun. Maklum, The Good Dinosaur (TGD) ini rencana awalnya dirilis musim panas 2014. Namun TGD diterpa cukup banyak masalah, yang paling krusial adalah ‘dipecat’-nya sutradara Bob Peterson (Up!) dan beberapa kru lain yang konon disebabkan oleh perbedaan kreatif. Kursi sutradara pun berpindah ke Peter Sohn (short animation Partly Cloudy yang jadi animasi pembuka Up!). Buntutnya, Finding Dory pun terdorong mundur hingga musim panas 2016 karena rencana tanggal rilis awalnya ditempati oleh TGD. Sebagai studio animasi yang sudah punya reputasi animasi-animasi dengan cerita unik, penuh makna, dan storytelling yang bisa dinikmati anak-anak maupun dewasa (meski seringkali tema-temanya lebih bisa dinikmati penonton dewasa ketimbang anak-anak), berbagai masalah yang terjadi di balik layar ini diharapkan tidak berimbas pada produk akhir. Well, history tells that issues that much often affect the final result. Toh tema dinosaurus bukan hal yang baru lagi, termasuk Walt Disney sendiri yang pernah membuat gabungan animasi-live action Dinosaur di tahun 2000 yang meski mengumpulkan ratusan juta dollar, namun terhitung tak terlalu baik, mengingat budgetnya yang tertinggi di tahun 2000.

Secara unik, TGD bercerita dari sudut pandang seekor Apatosaurus bernama Arlo yang merasa minder karena tak sehebat anggota keluarga yang lain; ayah Henry, ibunda Ida, serta kedua kakaknya, Libby dan Buck. Berniat memberi semangat putra bungsunya dalam menemukan bakat terbaiknya, Henry mengajak Arlo ‘bertualang’. Siapa sangka petualangan ini berbuntut petaka. Arlo terpisah dari sang ayah dan terdampar di tanah yang tak ia kenal. Tak sendiri, Arlo ditemani Spot, seorang manusia gua yang awalnya menjadi musuh Arlo, namun akhirnya menjadi teman perjalanan senasib sepenanggungan untuk mencari jalan pulang. Tentu saja alam yang liar tak membuat perjalanan mereka menjadi mulus. Mulai kawanan Pterodactyl ganas, hingga Velociraptor yang tak kalah buasnya. Arlo dan Spot bahu-membahu untuk saling melindungi dan above all, saling menemukan jati diri.

Membaca plot di atas, lantas membandingkan ide-ide cerita film Pixar sebelumnya, akan terasa sangat generik. Saya pribadi teringat dengan salah satu animasi Disney klasik, The Lion King (TLK). Mulai tema petualangan mencari jati diri (coming of age) hingga trauma kehilangan ayah. Uniknya, kali ini mereka meletakkan plot itu dalam setting alternate universe, ketika tak semua dinosaurus benar-benar punah setelah hujan meteor yang selama ini dituding sebagai penyebab punahnya dinosaurus di muka bumi. Tak hanya itu, di sini karakter dinosaurus dibuat bisa berbicara, sementara manusia gua justru tak mengenal bahasa. Tak ada masalah sebenarnya, meski terkadang terasa inappropriate bagi saya. Namun di mata saya, isu terbesar TGD adalah nuansa keseluruhan film yang cenderung gelap dan depresif. TLK juga punya momen-momen gelapnya, namun diseimbangkan dengan kehadiran karakter Pumbaa-Timon yang memberi cukup banyak sense of humor dan membuat nuansa sedikit lebih ceria. Apalagi kemasan musikal membuatnya jadi mengasyikkan untuk ditonton. TGD tak punya itu semua. So sejak awal kita dibuat depresi dengan ‘tekanan sosial’ yang dirasakan oleh Arlo. Perjalanan yang dilaluinya pun terasa semakin gelap dan depresif. Hubungan persahabatan yang dijalin dengan Spot memang dihadirkan lewat beberapa adegan manis, tapi sama sekali tak berhasil memberi warna lebih pada nuansa kelamnya. Ini belum lagi ditambah kehadiran Thunderclap, Downpour, dan Coldfront, trio Pterodactyl dan kawanan Velociraptor yang ganas luar biasa. Saya sebagai penonton yang dewasa saja merasa semakin stress dengan kehadiran villain-villain ini. Bisa dibayangkan bagaimana efeknya pada anak-anak. Tak heran jika Anda akan selalu menemukan penonton-penonton cilik yang menangis keras (bukan karena terharu, tapi karena ketakutan) di tiap show-nya. Belum lagi ternyata TGD menghadirkan adegan-adegan yang terlampau mengerikan untuk menggambarkan kerasnya kehidupan pra sejarah. Speaking of inappropriate scenes, TGD juga menampilkan cukup banyak violence, ancaman kematian, sampai flying (iya, dalam arti teler, bukan harafiah!). Oh yes, I know some people will say, film animasi kan bukan cuma konsumsi anak-anak, tapi orang dewasa juga. But remember this, dengan desain karakter-karakter dan kemasan seperti ini, jelas akan lebih menarik perhatian anak-anak. Orang tua pun akan dengan mudah memilihkan film ini untuk ditonton anak-anaknya. So, sengaja menampilkan adegan-adegan tak layak dan berlebihan seperti ini untuk film animasi yang seharusnya family friendly, apalagi dari Pixar, membuat saya mengerutkan kening. What the hell has happened to Pixar? Even all Jurassic Park movies were still less vicious than this.

Okay, let’s leave those inappropriate elements for a moment. Let’s take a look at another aspects. Tak banyak part yang menunjukkan perkembangan hubungan antara Arlo dan Spot, sehingga susah bagi saya untuk merasakan emosi dari keduanya. Well, jika Anda mudah dibuat tersentuh oleh kasus kehilangan keluarga, mungkin masih bisa berhasil. Saya pernah kehilangan anggota keluarga, namun yang ditampilkan di sini sama sekali tak berhasil menggerakkan emosi saya. Satu-satunya cara untuk menghadirkan keseruan petualangan pun lewat kehadiran para villain, yaitu Pterodactyl dan Velociraptor. Namun apakah kehadiran mereka berhasil membuat ceritanya jadi lebih menarik? Well, belum seminggu saya menonton film ini, saya sudah tak ingat lagi nama masing-masing karakter mereka. Ditambah desain karakter yang sama sekali tak memorable dan tergolong generik untuk karakter dinosaurus. Kehadiran mereka pun seperti sekedar ada untuk menghalang-halangi tujuan karakter utama. Tanpa kedalaman karakter lebih yang seharusnya bisa membuat karakternya jadi lebih memorable. In short, semua kejadian yang ada di layar seperti berjalan begitu saja, tanpa memberikan rasa apa-apa selain gelap, pedih, dan depresif. Begitu juga dengan adegan akhir yang konon membuat terharu beberapa penonton, tapi lagi-lagi gagal menggerakkan saya. Mungkin karena saking painful-nya storytelling yang saya alami sepanjang hampir dua jam sebelumnya, yang membuat saya susah untuk bisa berempati. It’s like, susah untuk merasa kasihan terhadap seseorang yang pernah menyakiti Anda.

Tak ada voice talent yang benar-benar remarkable di sini. Raymond Ochoa (Arlo), Jack Bright (Spot), Jeffrey Wright (Poppa), Frances McDormand (Momma), semuanya biasa-biasa saja. Tak buruk, tapi juga tak ada yang cukup remarkable maupun memorable. Yang menarik mungkin Steve Zahn yang mengisi suara Thunderclap, salah satu Pterodactyl dengan joke relevation yang gagal memberi sense of humor pada TGD.

Penggabungan animasi karakter-karakter yang begitu komikal dengan latar yang sangat realis terbukti tidak terasa aneh di sini. Ya, Arlo tampak seperti boneka hidup yang berjalan-jalan di alam liar, tapi saya masih bisa menikmati keindahannya. Dan siapa pun pasti terpana melihat animasi air yang begitu nyata. Tata suara pun ditata dengan sangat maksimal dalam menghadirkan ‘teror’-nya. Tak ketinggalan fasilitas surround (bahkan Dolby Atmos) yang dimanfaatkan dengan sangat maksimal untuk menghidupkan tiap adegannya.


In the end, TGD di mata saya menjadi film animasi Disney-Pixar dengan storytelling yang sangat-sangat kasar. Pixar yang biasanya mengemas isu-isu menarik dan penting sehingga bisa dipahami dan yang paling penting, dinikmati, oleh semua golongan umur, kali ini membuat orang-orang dewasa pun merasa inappropriate. Belajar dari banyaknya kasus penonton yang membawa anaknya, coba pikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk mengajak anak-anak Anda, terutama yang masih balita, menonton TGD. Sebaliknya, jika Anda ingin menonton sendiri dan selama ini menyukai animasi-animasi Pixar karena sekedar bisa bikin terharu, mungkin beberapa adegan TGD bisa menggerakkan emosi Anda. Buat saya sih tidak. This was even worse than Cars 2 dan Brave.

P.S.: Ada opening animation Sanjay's Super Team. Menarik, menggabungkan tema religi Hindu dan konsep superhero. Visually stunning with superb audio quality. Meski hasil akhirnya buat saya, secara storytelling yang tanpa dialog tidak terlalu berkesan untuk jangka waktu yang lama.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates