It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Thursday, December 31, 2015

The Jose Flash Review
The Wave / Bølgen

Meski masih belum seebesar negeri-negeri industri film Eropa seperti Perancis dan Jerman, perfilman Norwegia sebenarnya berkembang cukup masif, terutama setelah era 2000-an. Tak hanya beberapa judul populer yang berhasil dipasarkan secara internasional, seperti The Troll Hunter, Headhunters, dan Kon-Tiki yang sempat masuk bioskop Indonesia secara terbatas, ada pula yang berhasil menembus persaingan kategori Best Foreign Language Film Academy Award. Terakhir, Kon-Tiki yang 2012 lalu masuk nominasi. Untuk Academy Award tahun 2016 ini Norwegia secara ofisial mengirim perwakilannya untuk bersaing memperebutkan piala Oscar: The Wave atau yang judul aslinya Bølgen, karya sutradara Roar Uthaug. Meski tak berhasil menembus shortlist bulan Desember lalu, kita di Indonesia beruntung punya kesempatan untuk menilai kelayakan film bertemakan disaster ini.

Bertahun-tahun bekerja sebagai pakar geologis yang mengamati aktivitas Gunung Åkneset di sebuah desa kecil bernama Geiranger, Kristian memutuskan untuk menerima pekerjaan sebagai analis pertambangan yang lebih menjanjikan kehidupan jauh lebih baik. Maka Kristian harus pindah dari Geiranger, memboyong istrinya, Idun, yang bekerja sebagai resepsionis hotel, putra sulungnya, Sondre, dan putri bungsunya, Julia. Namun sehari sebelum rencana kepindahan mereka, Kristian mendapati aktivitas yang tak wajar dari fjord Gunung Åkneset dan bisa memicu tsunami setinggi 250 kaki dalam 10 menit saja. Namun rupanya sudah terlambat untuk mengevakuasi seisi desa dan terutama, keluarganya sendiri.

Apa yang paling utama Anda harapkan dari sebuah film bertemakan disaster atau bencana? Tentu saja adegan bencana spektakuler yang tentu mengandalkan visual effect mumpuni serta berhasil menghadirkan ketegangan lewat survival manusia-manusia yang terjebak di tengah-tengahnya. Untuk tema tsunami, The Impossible (2012) karya sutradara J.A. Bayona, berhasil menghadirkan horor bencana sekaligus drama kemanusiaan dan keluarga secara seimbang. The Wave pun sebenarnya menawarkan konsep yang kurang lebih sama. Porsi terbesarnya adalah bagaimana Kristian menyelamatkan keluarganya. Belum lagi sang istri, Idun, yang terjebak bersama putra sulungnya, mau tak mau mengingatkan saya akan karakter Maria (Naomi Watts) di The Impossible. Namun rupanya Uthaug belum mampu menghadirkan thrill maupun drama yang setara karya Bayona. Oke, adegan bencana utama dan survivalnya bolehlah sempat sedikit menimbulkan was-was dari diri saya, tapi durasinya ternyata tak berlangsung lama. Penyebabnya adalah peristiwa bencananya sendiri yang memang tak berlangsung lama. Sisanya, bagaimana Idun dan Sondre bisa segera diselamatkan dari jebakan bawah tanah dan harus mengejar waktu genangan air yang semakin meninggi. Drama antara Idun dan Sondre pun belum berhasil membuat waktu yang kritikal bisa juga dirasakan oleh saya (baca: penonton). Inilah yang membuat The Wave akhirnya jatuh menjadi sekedar just another disaster movie, tanpa mampu mengundang emosi yang cukup untuk membuat penonton bisa merasakan seolah benar-benar berada di tengah-tengah film.

Praktis, kelebihannya hanyalah terletak pada penjelasan ilmiah yang detail dan realistik tentang terjadinya tsunami dan panorama Gunung Åkneset yang memang memanjakan mata.

Di jajaran cast, hampir kesemuanya tampil cukup pas memerankan karakter sesuai porsi masing-masing. Kristoffer Joner (yang tahun ini bakal kita lihat juga di The Revenant) memerankan karakter Kristian sebagai ayah yang sayang keluarga meski seringkali ambisius dan menomer satukan pekerjaan. Ane Dahl Torp mampu mengimbangi sekaligus menghadirkan chemistry yang cukup dengan Joner. Selain dari itu, tak ada aktor maupun aktris yang benar-benar mampu mencuri perhatian di layar.

Adegan tsunami yang dibuat malam hari mungkin punya tujuan tersendiri untuk meminimalisir detail visual effect, yang artinya juga bisa menghemat budget (konon kabarnya film ini hanya berbudget sekitar US$ 6 juta. Angka yang relatif kecil untuk genre disaster). Saya sempat mencermati detail visual effect-nya dan mendapati CGI arus air raksasa yang cukup mumpuni dan terlihat sangat realistik. Sayangnya visual memuaskan ini tak diimbangi dengan tata suara yang cukup mampu mengimbangi kedahsyatan adegan tsunami. Suara arus air raksasa jadi terkesan biasa saja, tanpa volume maupun bass yang cukup menggelegar. Ini terasa cukup aneh mengingat di adegan-adegan lain, sebelum maupun sesudahnya, ia berhasil menghadirkan detail suara yang clear, crisp, bass yang terasa, serta pembagian kanal surround yang terdengar jelas. Dengarkan saja suara tanah yang bergerak dan efek suara di dalam genangan air ketika Idun dan Sondre berusaha meloloskan diri.

The Wave mungkin memang terkesan just another disaster movie yang gagal untuk menjadi remarkable seperti The Impossible. Family survival drama-nya tak buruk, namun juga belum terlalu kuat untuk benar-benar menarik simpati penonton. Jadi tonton saja The Wave untuk menambah pengetahuan tentang kemungkinan terjadinya tsunami (yang konon sebenarnya bisa saja terjadi pada Gunung Åkneset sebelum filmnya dirilis di negaranya sendiri) dan pemandangan Desa Geiranger yang memang menyegarkan mata. Tak lebih. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 30, 2015

The Jose Flash Review
Ip Man 3 (葉問3)

Penggemar martial arts mana yang tak kenal sosok Yip-Man? Lebih dikenal sebagai guru dari legenda martial art Hong Kong, Bruce Lee, namanya semakin populer  menjadi ikon martial art Hong Kong era 2000-an setelah dibuatkan film yang disutradarai oleh Wilson Yip, Ip Man, tahun 2008 lalu, sekaligus menobatkan Donnie Yen sebagai aktor ikoniknya, setara Wong Fei Hung versi Jackie Chan maupun Jet Li di era masing-masing. Sukses secara kritik dan komersial membuatnya dilanjutkan lewat Ip Man 2 tahun 2010 yang meski dipuji lebih baik daripada predesesornya oleh Donnie Yen, namun angka box office-nya tak sebesar seri pertama. Selain itu, muncul pula versi lain dari sosok Yip Man yang tak boleh diremehkan, seperti The Legend is Born: Ip Man (2010), Ip Man: The Final Fight (2013), dan dari Wong Kar-wai dengan pendekatan arthouse,  The Grandmaster (2013). Donnie Yen sendiri sempat menyatakan tidak tertarik untuk terlibat dalam proyek film apapun yang berkaitan dengan Ip Man, tapi kenyataan sebaliknya, entah faktor apa. Donnie kembali memerankan Yip Man lewat Ip Man 3 yang dirilis tahun 2015 dan lagi-lagi diklaim sebagai seri terakhir Ip Man yang dibintangi Donnie.

Jika Ip Man menceritakan awal mula Yip Man mengembangkan aliran Wing Chun di Foshan dan bersetting penjajahan Jepang, serta Ip Man 2 menceritakan hijrah Yip Man ke Hong Kong bersetting pendudukan Inggris, maka Ip Man 3 melanjutkan kehidupan low profie Yip Man dan keluarganya, sang istri, Cheung Wing-Sing dan putra sulungnya, Ip Ching, di Hong Kong. Tiba-tiba saja kedamaian daerahnya terusik ketika ada gembong yang menyerang sekolah Ip Ching. Tujuannya memaksa sekolah itu untuk dijual. Yip Man dan murid-muridnya pun berinisiatif untuk bergiliran menjaga sekolah siang dan malam. Toh gembong yang diketahui dipimpin oleh Ma King Sheung ini masih saja tak henti menyerang sekolah. Usut punya usut Ma adalah kaki tangan pemilik bisnis properti asal Amerika bernama Frank dan punya klub pertarungan bawah tanah.

Siapa sangka salah satu teman Ip Ching, Cheung Fung, adalah putra dari salah satu penganut aliran Wing Chun yang punya ilmu cukup tinggi. Demi mengumpulkan uang dan membuka perguruan sendiri, Cheung Tin Ching bersedia menjadi kaki tangan Ma King Sheung. Perseteruan antara Yip Man dan Cheung Fung tak sampai di sana saja, karena Cheung juga terobsesi untuk merebut gelar pendekar Wing Chun terbaik di Hong Kong dari Yip Man. Sementara itu perhatian Yip Man terpecah karena keadaan Wing Sing.

Menggabungkan fakta-fakta historis dan kisah fiktif, Ip Man 3 sebenarnya tak banyak berbeda, semacam perpaduan plot dari dua film pendahulunya. Melawan tirani penguasa, mempertahankan gelar pendekar Wing Chun terbaik dengan pertarungan lintas aliran martial arts, kesemuanya adalah formula klasik film martial arts, tak hanya Ip Man. Secara garis besar ada 3 sub-plot utama yang ditawarkan di seri ini;  Yip Man vs Ma King Sheung dan Frank, Yip Man vs Cheung Tin Ching, dan romansa antara Yip Man dan istrinya, Wing Sing. Meski ketiganya sebenarnya berjalan secara paralel dan bersinggungan, namun ada beberapa part yang membuat ketiganya menjadi berjalan sendiri-sendiri secara bergantian. Rasa ini semakin terasa dengan terselesaikannya masing-masing subplot yang secara bergantian pula. Tentu rasa terbagi-bagi dalam fragmen-fragmen yang terpisah ini membuat alur cerita Ip Man 3 terasa agak tersendat-sendat dan kurang seimbang. Untung saja masing-masing sub-plot ini menyuguhkan adegan-adegan yang cukup mengesankan. Lihat saja adegan-adegan pertarungan kroyokan antara kubu Yip Man dan Ma King Sheung yang kesemuanya breathtaking dan jaw dropping, pertarungan yang ditunggu-tunggu antara Yip Man dan Frank (Mike Tyson), serta pertarungan puncak antara Yip Man dan Cheung Tin Ching, dan kepedihan yang tak terasa melodrama berlebihan antara Yip Man dan Wing Sing. Lihat saja bagaimana Ip Man 3 menghadirkan adegan Yip Man sedang meluangkan waktu untuk belajar berdansa saat sedang ada tantangan penting dari Cheung. Romansa ini jelas menjadi penutup yang manis dan berkesan dari kisah Ip Man versi Wilson Yip (jika benar-benar menjadi film terakhir), yang tidak ditampilkan secara khusus di seri-seri sebelumnya.

Sejak kemunculan pertama kali, Donnie Yen sudah sangat melekat dengan sosok Yip Man. Meski saya tidak begitu menyukai performanya yang terkesan sangat kalem sebagai seorang pendekar martial art, harus diakui Donnie Yen punya kharismanya sendiri dalam menghidupkan karakter Yip Man. Begitu juga chemistry antara Donnie dan Lynn Hung (Cheung Wing Sing) yang menurut saya masih dingin-dingin saja. Untung saja kali ini mereka dibekali adegan-adegan manis dan menyentuh untuk menutup dengan kesan manis. Zhang Jin sebagai Cheung Tin-Chi berhasil mengimbangi kharisma Donnie selain performa martial art yang tak kalah mengesankannya. Dilematis sebagai karakter yang mengundang simpati ataupun villain yang dibenci penonton, berhasil dihadirkan. Terakhir, tentu saja kehadiran Mike Tyson sebagai Frank yang tak terlalu banyak namun jelas memberikan kesan tersendiri.

Sadar punya pertarungan-pertarungan bela diri memukau sebagai komoditas utama, Ip Man 3 tidak tanggung-tanggung untuk menaikkan level dan kadarnya. Dengan menyewa koreografi kawakan yang sudah banyak berkiprah di Hollywood, Yuen Woo-Ping, semua adegan pertarungan, baik yang one-on-one maupun keroyokan, terasa begitu fantastis. Menegangkan sekaligus tampak indah dan dengan ritme yang begitu enak diikuti. Tentu ini didukung pula oleh sinematografi yang pas merekam tiap detail pertarungan dari Kenny Tse dan editing Cheung Ka-Fai yang juga membuat ritme setiap adegan, terutama adegan-adegan pertarungannya, terasa bertenaga sekaligus mengalir lancar. Detail sound effect ditambah penggunaan fasilitas surround yang dimanfaatkan maksimal, membuat tata suara Ip Man 3 patut mendapat kredit tersendiri dalam keberhasilan menghidupkan tiap adegan. Terakhir, score dari Kenji Kawai yang turut membuat flow film begitu hidup dan beremosi.


In the end, Ip Man sudah menjadi franchise yang tetap bakal membuat banyak fans-nya berbondong-bondong memadati bioskop. Tak muluk-muluk, bisa menyaksikan adegan-adegan pertarungan fantastis yang breathtaking dan jaw dropping, sudah lebih dari cukup. So meski tak sampai jadi penutup yang spektakuler, jika Anda termasuk golongan ini dan tak keberatan dengan familiar plot di sub-genre-nya, Ip Man 3 tetap jadi sajian yang tak boleh dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dilwale

Berasal dari nama bumbu khas India, Masala, adalah genre film yang mencampur adukkan berbagai genre menjadi satu sajian. Kebanyakan adalah action, komedi, dan drama romance. Tentu genre Masala ini menjadi salah satu genre yang populer di sinema Hindi sampai sekarang. Tahun 2015, sutradara  Rohit Shetty yang memang bisa dibilang pakar di genre Masala, kembali bekerja sama dengan sang raja, Shah Rukh Khan setelah box office Chennai Express 2013 lalu. Tak tanggung-tanggung, SRK dipasangkan lagi dengan Kajol untuk ketujuh kalinya setelah film-film pencetak box  office legendaris macam Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhi Gham, dan My Name is Khan. Pasangan ini jelas menjadi daya tarik sendiri, apalagi dirilis di musim liburan Natal yang termasuk salah satu momen terbesar untuk perfilman Hindi, selain liburan Idul Fitri dan Diwali. Hasilnya ternyata tak main-main. Mengumpulkan 150 crore atau sekitar US$ 22 juta di minggu pertama di seluruh dunia, bahkan masuk top ten box office Amerika Serikat, tentu bukan prestasi yang main-main, meski harus bersaing ketat dengan film Sanjay Leela Bhansali, Bajirao Mastani yang dirilis berdekatan dan juga meraih kesuksesan box office internasional.

Dilwale membidik kisah cinta antara Veer dan Ishita. Mereka berdua langsung jatuh cinta ketika pertemuan pertama yang tak terduga. Manisnya kisah asmara mereka terganjal ketika kakak masing-masing teringat akan hubungan asmara mereka 15 tahun yang lalu dan harus kandas gara-gara kebencian keluarga mafia. Siasat pun disusun untuk kembali menghangatkan hubungan antara Raj, kakak Veer, dan Meera, kakak Ishita. Tentu saja siasat ini bertujuan juga agar hubungan Veer dan Ishita mendapatkan restu.

Oh well. Let’s not talk about how easy people falling in love in Hindi movies. Let’s not also talk about how cliché forbidden love theme was put in Hindi movies. Itu semua memang menjadi formula paling klasik dari sinema Hindi, dengan berbagai modifikasi latar belakang budaya. Dilwale memang tak mengejar orisinalitas cerita untuk menarik perhatian. Like I always say, mau seklise atau se-predictable apapun ceritanya, film Hindi selalu berhasil membangkitkan emosi penontonnya. Begitu juga dengan Dilwale yang tetap berhasil membuat saya merasakan manis dan indahnya asmara, kecewanya patah hati, sulitnya merasakan ego, dendam, dan cinta di saat yang bersamaan, hangatnya kekeluargaan, dan menegangkannya adegan-adegan aksi yang tergelar dalam satu pot Masala ala Rohit Shetty ini.

Selain plot cliché-nya, sayang storytelling Dilwale tak sepenuhnya berjalan mulus. Oke, penempatan flashback-flashback memang masih berjalan seimbang dan pas seperti kebanyakan film Masala SRK, namun ada cukup banyak adegan yang terkesan berlebihan dan tidak begitu penting, yang jujur agak mengganggu laju plot utama. Yang paling terasa mengganggu adalah sub-plot tentang King, bos mafia narkoba, yang memang di beberapa adegan kecil bisa memperkuat hubungan antara keluarga Veer dan Ishita, namun lama-kelamaan porsinya terasa terlalu besar sehingga mengganggu plot utama. Apalagi di adegan klimaks yang jatuhnya malah mengulur-ulur cerita, di saat sebenarnya sudah bisa ditutup dengan visualisasi swinging dance yang manis, indah, dan cerdas. Well, namanya juga film yang mengejar sensasi highly entertaining. Masala Hindi pula. Toh, mungkin kebanyakan fanbase SRK-Kajol atau Masala Bollywood tidak akan keberatan dengan ganjalan ini. Karena memang harus diakui, Dilwale was highly entertaining, with pretty big heart  (seperti makna judulnya) about romance and family.

SRK dan Kajol sebenarnya masih memerankan karakter-karakter tipikal seperti yang sudah-sudah. Namun tetap saja keduanya berhasil mencuri hati penonton. Note khusus untuk Kajol yang masih penuh pesona bak masih berusia 20-an di usianya yang sebenarnya sudah kepala empat. Perubahan karakter di sini pun layak mendapatkan pujian tersendiri. Di lini berikutnya, Varun Dhawan dan Kriti Sanon mungkin sulit untuk mengalahkan SRK-Kajol, but they’re not bad at all. Varun masih sedikit di bawah penampilannya di Student of the Year, sementara Kriti berkat pesona fisik dan kharismanya yang cukup kuat, mampu sedikit naik kelas dari performance-performance sebelumnya. Terakhir, penampilan Boman Irani sebagai King selalu berhasil menarik perhatian.

Dilwale mulai proses produksi bulan Maret 2015 dan terakhir diketahui wrap up bulan Oktobe 2015. Bahkan syuting salah satu music video baru dilaksanakan bulan Desember. Sementara jadwal rilis internasionalnya 18 Desember 2015. Terkesan sangat terburu-buru dan ini sebenarnya cukup terasa dari laju penceritaan. Untung saja editing yang serba dinamis masih mampu menutupinya. Untung juga visual effect dan sound effect yang sangat mendukung part action-nya dengan cukup baik, termasuk penggunaan fasilitas surround yang cukup maksimal. Ini tentu saja berkaitan dengan budget yang tak main-main, sekitar 100 crore atau US$ 15 juta. Sinematografi Dudley yang sudah jadi langganan Shetty seperti di Singham, Bol Bachchan, dan Chennai Express, sekali lagi berhasil membidik keindahan setnya dengan sangat maksimal. Mulai Goa, Mauritius, Cape Town, bahkan sampai Sofia, Bulgaria. Juara pula untuk desain produksi terutama untuk adegan fast date Raj-Meera dan pernikahan.

So, saya mengakui Dilwale bukanlah film Hindi favorit saya tahun ini, bukan juga film Hindi yang termasuk bagus bagi saya. Tapi dengan segala elemen favorit kebanyakan fans-nya, Dilwale jelas suguhan yang sangat menghibur, dengan lagu-lagu yang begitu ear-catchy seperti Janam Janam, Tukur Tukur, dan Manma Emotion Jaage. Maka tak perlu ekspektasi tinggi-tinggi ketika menyaksikannya, cukup nikmati sajian demi sajian yang ia gelar sepanjang dua setengah jam.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Negeri Van Oranje

Bisa mencicipi pengalaman berkuliah dan tinggal di negara asing, terutama sebesar Belanda, tentu menjadi impian banyak orang. Padahal hidup di negara asing jauh dari kata mudah. Atas dasar itulah, empat orang yang pernah menimba pengalaman surviving di empat kota penting Belanda, berkumpul untuk membagi panduan, tips, dan pengalaman-pengalaman mereka selama berkuliah di Belanda. Mirip buku panduan kota macam Lonely Planet atau Monocle, tapi dengan kemasan drama persahabatan dan romansa fiktif yang membuatnya jadi terkesan lebih menarik dan seru. Jadilah novel keroyokan Negeri Van Oranje (NVO) yang sempat jadi best seller. Tahun 2015, Falcon Pictures yang dikenal kerap mengadaptasi buku ke film, tertarik mengangkatnya ke layar lebar dengan ensemble cast yang tak main-main: Chicco Jerikho, Tatjana Saphira, Abimana Aryasetya, Arifin Putra, dan Ge Pamungkas. Meski bangku sutradara diserahkan kepada Endri Pelita (Dawai 2 Asmara, Air Mata Terakhir Bunda, dan Cabe-Cabean), namun naskahnya diadaptasi oleh Titien Wattimena yang jelas punya portofolio lebih menjanjikan.

NVO versi layar lebar membidik cerita dari sudut pandang Lintang yang sedang mempersiapkan pesta pernikahannya. Sebelum hari H, Lintang merefleksikan dirinya bersama empat orang pria yang menjadi sahabatnya selama menimba ilmu di Belanda: Geri, Wicak, Banjar, dan Daus. Kelimanya berkuliah di kota-kota yang berbeda namun dipertemukan di sebuah stasiun kereta api. Tentu saja persamaan bahasa dan kultur asal membuat mereka cepat akrab. Perbedaan kota tempat tinggal memberikan keuntungan tersendiri: bisa mengenal kota lain yang bukan kota tinggalnya. Persahabatan bisa berubah menjadi cinta, apalagi Lintang adalah satu-satunya wanita di geng bernama Aagaban (Aliansi Amersfoort Gara-Gara Badai Netherlands) ini. Lintang sendiri harus memilih dari keempatnya yang punya kepribadian beda, dengan kelebihan-kekurangan masing-masing. Konflik asmara dalam persahabatan ini memuncak ketika kelimanya memutuskan ke Praha bersama pasca kelulusan Lintang.

Dengan buku yang sangat detail dalam memberikan gambaran kehidupan di masing-masing kota: Utrecht, Rotterdam, Wageningen, Den Haag, dan Leiden, tentu mustahil untuk menampilkan kesemuanya dalam keterbatasan durasi. Maka pemilihan kisah asmara Lintang adalah keputusan yang paling tepat: mudah dicerna, dipahami, dan menjadi bungkus yang menarik untuk diikuti. Apalagi Titien mengajak penonton untuk menebak-nebak siapakah dari keempat pria ini yang berhasil menjadi pendamping Lintang. Maka dengan setup yang tepat untuk tujuan ini pula, penonton diajak mengenal satu per satu karakter pria, dengan keunikan karakteristik masing-masing yang terlihat dengan sangat tegas dan jelas. Inilah yang menjadi bekal bagi penonton untuk menebak.

Sebagai kompensasinya, kisah persahabatan kelimanya jadi terkesan dangkal tergali, terutama antar empat pria ini. But hey, menurut saya justru ‘kemasan’ seperti ini yang menjadikan NVO versi film begitu seru untuk dinikmati. Tentu saja sambil ‘diajak jalan-jalan’ keliling Belanda yang sangat memanjakan mata. Sememanjakan tampilan fisik para pemeran karakter-karakter utamanya. Dan begitu terbongkar siapa pria ‘beruntung’ itu, saya tergerak untuk menganalisa kembali karakternya, dan ternyata sangat masuk akal dengan setup-setup di awal. Oya, konon pria yang dipilih Lintang di film berbeda dengan di buku lho.

Harus diakui, ensemble cast NVO menjadi salah satu daya tarik utama yang mengundang penonton berbondong-bondong ke bioskop. Bukan tanpa sebab. Reputasi Chicco Jerikho, Tatjana Saphira, Abimana Aryasetya, Arifin Putra, dan Ge Pamungkas, sudah sangat dikenal di tanah air dan punya fanbase sendiri. Sebagai satu-satunya lead wanita, Tatjana tampil begitu mencuri perhatian. Lintang yang mandiri, berani, cerdas, tapi juga bisa rapuh, berhasil dihidupkan dengan penuh pesona olehnya. Melebihi pesonanya di Get M4rried, Crazy Love, dan Runaway. Tentu saja faktor kedewasaan turut mempengaruhi. Sementara Chicco, Abimana, Arifin, dan Ge punya porsi yang cukup seimbang, santai (atau malah cenderung laid back?), tapi berhasil menghidupkan karakter masing-masing. Khusus untuk Ge yang punya fungsi lebih: yaitu sebagai joker yang bikin suasana persahabatan mereka jadi pecah, juga sangat berhasil. Sebagai bonusnya, penampilannya di mata saya sedikit lebih mengesankan ketimbang ketiga pria lainnya.

Setting panorama kota-kota di Belanda jelas harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Untung saja Falcon kembali menggunakan tata kamera dari Yoyok Budi Santoso yang pernah menata kamera Haji Backpacker dan pernah pula menjadi operator kamera di Laura & Marsha yang juga ‘menjual’ panorama kota-kota di Eropa. Tak perlu angle-angle unik atau pergerakan kamera yang aneh-aneh untuk meng-capture keindahan tiap setting. Ditambah pemilihan kostum yang tak kalah catchy dan menyatu dengan begitu cantik dengan setting. Satu hal mengganggu adalah munculnya fake flare yang berlebihan di sepanjang film. Sebenarnya tak masalah banyak sekalipun, tapi kehadiran di tiap shot bahkan yang continuous, ini agak bikin risih. Tak ada kendala maupun sesuatu yang istimewa untuk tata suara. Namun scoring dari Andhika Triyadi jelas berhasil menghidupkan nuansa-nuansa tiap momen. Begitu juga theme song Cinta Cinta Cinta yang dibawakan oleh Wizzy dan Sandhy Sandoro yang sangat earcatchy. Terakhir, editor Cesa David Luckmansyah mampu membuat ritme adegan NVO begitu nyaman diikuti. Dinamis di saat-saat seru, mengalir lembut ketika manis dan mendayu-dayu. Good job!


Melihat materi aslinya yang tergolong punya cerita biasa-biasa saja (selain detail sebagai panduan survival di Belanda), Titien Wattimena versi layar lebar jelas berhasil mengadaptasinya menjadi sebuah tontonan tentang persahabatan dan romance yang tak sekedar asyik untuk dinikmati, tapi juga terasa manis dan hangat, meski harus diakui tidak didukung cerita yang begitu dalam. Semua aspek penting lain, mulai penyutradaraan, cast, desain produksi, sampai editing, semakin mendukungnya menjadi salah satu film Indonesia yang paling asyik untuk ditonton, bahkan mungkin re-experience beberapa kali.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Single

Berawal dari blog yang kemudian dibukukan, nama Raditya Dika sudah menjadi brand tersendiri. Satu demi satu bukunya menjadi best seller. Karirnya pun terus menjulang dengan follower twitter mencapai 12 juta lebih, eksistensinya semakin melebar di berbagai sektor, tak terkecuali film. Meski Kambing Jantan The Movie (2009) tergolong flop, ia tak berhenti menemukan bentuk paling pas untuk menyampaikan materi dan guyonan signatural-nya di film. Tahun 2013, ia mencoba lagi lewat 3 film: Manusia Setengah Salmon, Cinta Brontosaurus, dan yang formatnya paling unik dan menjadi paling favorit saya, Cinta dalam Kardus. Manusia Setengah Salmon berhasil menarik perhatian 440-an ribu penonton, sementara Cinta Brontosaurus membukukan angka 890-an ribu penonton. Prestasi ini jelas semakin melambungkan reputasi Dika. Maka tak heran jika sebagai salah satu PH yang dikenal ‘royal’ dan selalu mengedepankan teknis yang di atas rata-rata, Soraya Intercine Films, tertarik untuk bekerja sama dengan Dika. Maka jadilah karya terbaru Dika, tak hanya sebagai aktor, tapi juga penulis naskah bersama Sunil Soraya dan Donny Dirghantoro, serta bangku sutradara.

Kali ini Dika berperan sebagai Ebi, seorang pemuda yang tinggal di kos-kosan bersama dua sahabatnya, Wawan dan Victor. Selain bingung masih cari-cari pekerjaan, Ebi juga dikenal sebagai single bertahun-tahun. Penyebab utamanya adalah ia sulit berkomunikasi dengan wanita, meski sekedar untuk mengajak kenalan. Berbagai upaya yang diajarkan Wawan justru berbalik menjadi bencana. Bebannya semakin berat setelah adiknya, Alva, mengumumkan akan menikahi pacarnya selama ini. Di saat yang bersamaan, ada seorang gadis yang baru pindah ke kosnya, Angel. Selain cantik dan baik, Angel yang mahasiswi kedokteran ini punya hati yang besar dan ditunjukkan lewat kiprahnya di sebuah medical center. Diawali dengan perkenalan yang canggung dan konyol, Ebi dan Angel semakin dekat. Namun pendekatan itu terancam ketika muncul Joe, kakak ketemu gede Angel yang mengancam Ebi karena ia sendiri juga mengejar Angel selama bertahun-tahun. Joe yang lulusan Groeningen dan terlihat kaya, jelas jauh dalam segala hal daripada Ebi. Dengan dukungan Wawan dan Victor, Ebi memutuskan untuk ‘berperang’ dengan Joe.

Membaca sinopsis di atas, jelas kalau Dika masih bermain-main di ranah yang selama ini menjadi signatural dan lahan rejekinya: komedi yang mengolok-olok diri sendiri sebagai jomblo. Namun kali ini Dika mendapatkan support yang jauh lebih mumpuni daripada sebelum-sebelumnya. Yang paling terasa dan paling saya apresiasi adalah naskah yang digarap dengan baik. Mulai dari karakter-karakter yang ditulis dengan menarik, punya perkembangan-perkembangan penting, dan masing-masing punya porsi yang pas sehingga tak terasa tumpang tindih. Setup-setup menuju klimaksnya pun ditata dengan rapi, efektif, dan masuk akal. Tak ketinggalan pula sedikit ‘twist’ di menjelang klimaks yang bikin hati menghangat dan cukup tak terduga namun punya relevansi yang masuk akal dengan setup-setup yang sudah dibangun. Oh ya, tak lupa faktor hati yang terasa begitu besar dan hangat di beberapa bagian menambah nilai Single. Esensi tentang relationship atau being single turut tersampaikan dengan sangat baik dan mulus.

Naskah yang rapi tak lantas membuat hasil akhir Single selalu nyaman diikuti. Let’s not talk about his comedic style yang bisa jadi berbeda-beda efeknya bagi penonton. Meski harus diakui ‘cocok’ dengan mayoritas penikmatnya di Indonesia, bagi saya pribadi hanya mampu membuat saya sekedar senyum-senyum saja. Satu hal yang menjadi sedikit ganjalan untuk kelancaran storytelling adalah adegan-adegan yang terasa carried away. Saking asyiknya, Dika seperti membiarkan tiap adegan berakhir ‘tuntas’ dengan kemasan komedi khasnya. Ini sebenarnya tak jadi masalah jika hanya dihadirkan 1-2 kali sepanjang film dan dengan punchline yang benar-benar lucu. Di sini, Dika mengeluarkan formula ini di lebih dari separuh film. Efeknya film terasa lambat dan jauh dari kesan dinamis yang seharusnya diterapkan pada film komedi yang tidak boleh kelewatan momen-momennya untuk mempertahankan energi-energi lucunya. Walaupun tak sampai meyebabkan kelucuan-kelucuannya menjadi pudar dan garing, ini membuat laju pergerakan film menjadi agak lambat. Alhasil, drama komedi ini pun berdurasi sedikit terlalu panjang untuk genrenya: 127 menit!

Memasang tiga komika kondang sebagai garda depan jelas menjadi senjata ampuh untuk Single: Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Babe Cabita. Masing-masing punya fanbase yang cukup besar, sama-sama saling mengenal sehingga tak sulit  untuk menjalin chemistry, dan yang paling penting: punya style guyonan yang beda-beda sehingga membuat film menjadi semakin meriah. Ketiganya masih memainkan karakter-karakter tipikal selama ini, tapi bukankah justru itu yang menjadi komoditas paling dicintai fans-nya? Sebagai pendatang baru, Annisa Rawles menjadi pencuri perhatian paling besar. Tak hanya berfisik cantik dan menarik, kharismanya juga bisa dikatakan cukup kuat. Sementara Chandra Liow sebagai Joe dan Tinna Harahap sebagai Mama Ebi yang berusaha gaul, cukup berhasil menjadi pemancing tawa yang efektif. Di jajaran pemeran pendukung lainnya, kehadiran Rina Hassim, Dede Yusuf, Dewi Hughes, sampai Pevita Pearce patut mendapatkan kredit tersendiri lewat penampilan-penampilang yang mengesankan.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Soraya Intercine Films selalu berani mensupport budget besar demi tampilan film yang grande. Single pun mengalami keberuntangan yang sama. Maka siap-siap terkagum-kagum melihat set-set cantik, mulai kos-kosan Ebi-Wawan-Victor, outdoor family dinner di Bali, sampai outdoor wedding party Alva. Adegan-adegan yang dishot dengan aerial drone turut mendukung kemegahan visualnya dengan kualitas gambar yang tetap crisp. Hadirnya adegan se-ekstrim kecelakaan mobil dan skydiving semakin memperkuat keseruan visual Single. Meski didukung audio Dolby Surround 7.1, tata suara Single tak terlalu terasa grande selain sekedar cukup untuk menghidupkan adegan-adegannya. Pemilihan lagu-lagu populer seperti Sementara Sendiri dari Geisha yang seperti menghipnotis karena saking seringnya diputar sepanjang film, dan Single dari D’Masiv, terasa cocok dengan target audience utamanya dan tema film sendiri.


Betul jika film-film dan guyonan Raditya Dika punya segmen-nya sendiri, maka tak salah jika memang tak semua orang bisa mentertawai atau menganggap lucu guyonan-guyonannya. Tak salah juga jika ada cukup banyak penonton yang bosan dengan materi cerita Dika yang hanya bermain-main di seputar pejombloan. Namun kali ini harus diakui bahwa dengan berbagai dukungan mumpuni, Single menjadi film terbaik Raditya Dika so far. Jika Anda termasuk penggemar Dika yang cocok dengan gaya humornya, maka Single adalah sebuah paket lengkap: menghibur, sekaligus mencerahkan, terutama buat yang single.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 25, 2015

The Jose Flash Review
Sunshine Becomes You

Hitmaker Studio selama ini dikenal sebagai produsen film-film horor yang dibesut oleh sutradara Jose Poernomo, seperti Rumah Kentang, 308, Rumah Gurita, Mall Klender, dan tahun ini, Tarot. Namun tahun 2015 ini, Hitmaker Studio memproduksi film yang di luar kebiasaannya: drama romantis. Film berjudul Sunshine Becomes You (SBY) yang diangkat dari novel national best seller karya Ilana Tan keluaran 2012 ini dirilis hanya seminggu setelah induk perusahaan Hitmaker Studio, Soraya Intercine Film, merilis Single dari Raditya Dika. Disutradarai oleh Rocky Soraya, dan naskahnya diadaptasi oleh Riheam Junianti yang sudah menjadi langganan produksi-produksi Soraya maupun Hitmaker, SBY didukung oleh bintang-bintang muda yang punya fanbase cukup besar, yaitu Herjunot Ali, Nabilah JKT48, dan Boy William.

Ray Hirano, anggota group B-boy berdarah Jepang-Indonesia, tertarik dengan seorang gadis di tempatnya mengajar tari, Mia Clark. Selain memang cantik dan berbakat, Mia juga punya darah Indonesia sehingga bisa mengobati kekangenannya berbahasa Indonesia selama tinggal di New York. Namun rupanya Mia tidak terlalu menanggapi sinyal-sinya Ray, sampai suatu hari memperkenalkan Mia pada kakaknya, Alex Hirano, seorang pianis penting di generasinya yang super perfeksionis, kasar, dan temperamen. Sebuah kecelakaan yang tak disengaja disebabkan oleh Mia membuat tangan Ray terluka. Sebagai bentuk penyesalan, Mia menawarkan diri menjadi asisten Alex sampai tangan Alex sembuh. Alex setuju dan dimulailah neraka bagi Mia yang harus meladeni perfeksionisme Alex. Namun justru dari peristiwa ini sedikit demi sedikit Alex lebih mengenal Mia. Kedekatan pun terjalin dan mereka saling tertarik. Ray mulai merasakan kedekatan mereka tetapi memutuskan untuk tidak mengambil sikap apa-apa. Apalagi setelah mengetahui fakta tentang Mia yang membuat keduanya mengesampingkan ego masing-masing.

Meski diangkat dari novel, gaya storytelling yang dipilih untuk SBY serupa dengan Eiffel, I’m in Love produksi Soraya yang jadi box office tahun 2003 lalu. Cheesy, formulaic, dan dragging, namun berkat dialog yang cukup menarik diikuti serta perkembangan chemistry antara Alex-Mia di paruh pertama film yang mengalir lancar, setidaknya part ini masih menjadi semacam enjoyable cheesiness. Namun kesemuanya ini jadi berbalik 180 derajat ketika memasuki paruh kedua, yaitu ketika formula disease exploitation drama mengambil alih cerita. Adegan-adegan long take yang seolah mandeg berkembang mulai terasa dragging-nya. Alih-alih menghanyutkan emosi, saya justru mulai merasakan kebosanan, sehingga tak peduli ending seperti apa yang akan dipakai. Toh semua kemungkinan ending sudah sangat generik dipakai. Termasuk aftermath pada karakter Alex yang juga bukan barang baru.

Jika Anda mengikuti filmografi Soraya, tentu Anda tahu bagaimana Shandy Aulia diposisikan sebagai Soraya’s sweetheart. Begitu sering digandeng di film-film produksi mereka namun dengan kualitas dan karakteristik yang cenderung serupa. Nabilah JKT48 di SBY ini rupanya meneruskan tradisi Soraya dalam penggambaran karakter utama wanitanya. Sangat tipikal dengan karakter-karakter yang diperankan Shandy Aulia sebelumnya, mulai dari watak, gesture, hingga kecenderungan perkembangannya. Nabilah tak tampil begitu buruk, apalagi ini adalah penampilan pertamanya di layar lebar, namun tentu masih jauh dari kata bagus. Performance-nya ketika melakoni adegan-adegan balet pun cukup convincing, meski tidak sampai mengundang decak kagum berlebih. Sayangnya fisik yang tergolong chubby agak mengganggu, apalagi untuk perannya yang seorang penari balet kontemporer profesional. Herjunot masih tak beranjak jauh dari karakter-karakter yang sudah-sudah, misalnya sebagai Ferre di Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, atau Zainuddin di Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Masih melankoli, hanya ditambahkan sedikit kejudesan yang mungkin tak akan terlalu sulit bagi Herjunot. Penampilannya ketika memainkan piano (tentu saja musik yang terdengar bukan berasal dari permainan tangannya, tapi diakali dengan editing) tidak terlalu meyakinkan. Meski demikian, setidaknya Herjunot dan Nabilah cukup berhasil membangun chemistry yang convincing. Kualitas akting yang setara dengan Herjunot juga ditampilkan Boy William sebagai Ray Hirano. Selain dari tiga cast utama, ada pula Annabella Jusuf tampil mencuri perhatian berkat parasnya yang menarik, Sam Brodie yang masih menjadi tipikal diri sendiri namun cukup berhasil menyegarkan suasana, serta cameo dari Kimmy Jayanti.

Latar New York tentu terlihat begitu megah dan cantik di tangan sinematografer Dicky Maland dan Jose Poernomo. Pergerakan kamera yang begitu smooth dan mem-framing adegan demi adegan cantik, berhasil mengeksplor latar-latarnya. Sementara itu ada cukup banyak yang patut dipertanyakan untuk properti. Misalnya sheet lagu Sunshine Becomes You di piano Alex dengan not-not balok berukuran besar-besar dan tebal seperti yang biasa dimainkan oleh pemain piano anak-anak pemula. Padahal kita tahu bahwa Alex adalah pianis kelas dunia.

Tata suara tak terlalu istimewa, selain sekedar cukup menampilkan dialog yang jelas terdengar. Pilihan-pilihan lagu yang mengiringi pun tergolong pas, menarik, dan tidak terasa ada pengulangan yang biasa dilakukan di film-film produksi Soraya/Hitmaker sehingga terkesan brainwash. Favorit saya Sunshine Becomes You, Selamanya, dan Melaju Kencang. Sayang ada satu score yang hanya mengaransemen ulang score film klasik Cinema Paradiso (1988) yang digubah Ennio Morricone, tanpa ditulis di kredit pula.


Diangkat dari novel metropop yang ringan, SBY memang punya target audience utama remaja perempuan. Dengan kemasan ala Eiffel I’m in Love yang ringan dan manis (kalau tidak mau dikatakan cheesy), tentu SBY bisa dengan mudah disukai oleh target audience utamanya. Belum lagi ditambah pemilihan cast yang memang sedang menjadi idola mereka. Saya pribadi menikmatinya ketika menjadi romantic comedy seperti di paruh pertama film. Enjoyable dan dengan perkembangan karakter yang menarik. Sayangnya paruh kedua menciderai kenikmatan keseluruhan film menjadi total cheesy. Tanpa detail adegan yang begitu diperhatikan (tapi juga akan diabaikan oleh penonton awam) dan penampilan aktor-aktris yang biasa-biasa saja, SBY di mata saya bukan sajian yang mengesankan. Bahkan kadang menggelikan dan painful. But yes, tentu saya bukan termasuk target audience utamanya. Jadi, jika Anda merasa termasuk target audience utamanya dan kebetulan juga menyukai Eiffel I’m in Love atau film-film drama romantis produksi Soraya yang lain, mungkin Anda akan bisa menikmati SBY di liburan Natal dan tahun baru ini.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 24, 2015

The Jose Flash Review
Star Wars: The Force Awakens

Star Wars boleh jadi fenomena global sejak tahun 1977, tapi kenyataan tidak bisa bohong. Special Edition re-release tahun 1997 di Indonesia flop. Tidak tayangnya Episode I: The Phantom Menace boleh pakai alasan tidak ada layar bioskop di Indonesia yang tidak memenuhi standard THX. tapi flopnya Special Edition bisa jadi salah satu alasan pihak bioskop lokal enggan mengeluarkan banyak dana untuk upgrade demi Episode I. Sebuah pertaruhan yang tidak main-main. Episode II tayang setelah diundur 3 bulan setelah jadwal US, dan Episode III pun pendapatannya di Indonesia tergolong biasa saja, apalagi jika dibandingkan worldwide gross yang selalu di atas US$ 500 juta, bahkan Episode I melampaui angka US$ 1 miliar! Ini fenomena yang unik sebenarnya, mengingat ada cukup banyak merchandise dan komunitas yang  mengaku fanbase Star Wars.

10 tahun berselang, setelah Lucasfilm dibeli oleh Disney dan J.J. Abrams yang sebelumnya berhasil me-remake Star Trek, dipercaya untuk melanjutkan saga legendaris Star Wars. Beban tugas yang dipikul cukup berat: mempertahankan reputasi sekaligus menjaring fans baru yang bahkan mungkin sebelumnya sama sekali awam dengan Star Wars. Impact-nya jika berhasil pun bakal sangat besar. Mau tak mau fans baru pasti akan memburu merchandise dan film-film lawasnya, dan itu adalah komoditas tanpa batas bagi Disney (lewat Lucasfilm, tentunya). Maka Episode VII yang diberi tajuk The Force Awakens (TFA) ini wajib memuaskan fans lawasnya, sekaligus membuat penonton baru tetap paham, bahkan tertarik untuk mengikuti seri-seri sebelumnya. Di Indonesia sendiri, dimana habit penonton sudah sangat bergeser, yaitu dari nonton karena tertarik, menjadi nonton demi status ‘kekinian’, bisa jadi kesempatan TFA untuk menjaring dolar, dan tentu saja (hopefully), fans baru. Bukan pekerjaan mudah, namun jika Abrams bisa melakukannya untuk Star Trek, kenapa Star Wars tidak?

TFA mengambil setting 30 tahun setelah Darth Vader dan Empire-nya berhasil dikalahkan. Ternyata the dark side masih cukup kuat untuk bangkit. Kali ini di bawah kekuasaan Supreme Leader Snoke, dibantu oleh Kylo Ren yang memakai helm topeng seperti idolanya, Darth Vader, General Hux, dan kapten wanita, Captain Phasma. Mereka berniat membuat seisi galaksi tunduk pada First Order. Untuk memperkuat diri, mereka mengincar keberadaan Luke Skywalker sebagai Ksatria Jedi terakhir di galaksi. Tak ada yang tahu di mana Luke berada. Petanya dipegang oleh R2D2 yang sedang dalam safe mode dan droid baru berbentuk bola, BB8. Takdir mempertemukan pilot Resistance, Poe Dameron, mantan stormtrooper yang membangkang, Finn, dan gadis pengepul sparepart asal Jakku, Rey. Tiga orang yang sebelumnya tak saling kenal ini jadi terlibat dengan perjuangan Resistance menggagalkan obsesi First Order. Satu per satu rahasia jati diri mereka terkuak dan membawa mereka ke takdir yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

TFA memang merupakan sekuel dari seri-seri sebelumnya, namun tak bisa dipungkiri bahwa J.J. Abrams dan tim penulis naskahnya; Lawrence Kasdan (yang juga turut menulis naskah Empire Strikes Back dan Return of the Jedi) dan Michael Arndt (Little Miss Sunshine, Toy Story 3, Oblivion, dan The Hunger Games: Catching Fire), masih menggunakan formula dan template yang serupa dengan dua trilogy sebelumnya, terutama dalam mengolah konflik keluarga, psikologis, dan politiknya yang menjadi tiga pilar cerita utama Star Wars Saga. Tak ketinggalan ‘rahasia-rahasia’ twist-nya yang sebenaranya cukup mudah ditebak bagi fans lawas. Tak ada yang salah, terutama dalam upayanya memuaskan sekaligus mengajak bernostalgia fans lawas. Bagi penonton baru, plot TFA tergolong sangat mudah dipahami, meski tanpa punya referensi apa-apa dari trilogy-trilogy sebelumnya. Oh yes, plotnya berkelok-kelok khas Abrams, namun sesuai kekhasan beliau pula, disampaikan lewat storytelling yang sangat mudah dinikmati. Lengkap dengan adegan-adegan laga yang super seru, seperti serangan pesawat X-Wing ke Starkiller (Death Star baru dengan ukuran jauh lebih besar) dan necessary witty jokes dan menggelitik yang tersampaikan lewat berbagai dialog dalam porsi yang sangat seimbang, terutama yang dilontarkan oleh karakter Finn. It’s totally a fun ride!

Sementara karakter-karakter lawas, seperti Leia (Carrie Fisher), Han Solo (Harrison Ford), Chewbacca (Peter Mayhew), C3PO dan R2D2, berhasil membawa nostalgia bagi penonton lawas dan tampil sama kuatnya seperti di seri-seri sebelumnya, TFA membawa cukup banyak karakter baru yang juga diperankan oleh aktor-akor yang terhitung pendatang baru pula (meski bukan film pertama mereka juga). Daisy Ridley memerankan heroine kita, Rey, dengan kharisma dan pesona yang begitu kuat. Bahkan mungkin sampai Episode IX nanti peran karakternya bisa lebih kuat daripada Princess Leia di original trilogy. John Boyega yang sebelumnya kita kenal lewat film komedi Inggris tentang alien yang sempat cukup populer, Attack the Block, berhasil pula menjadi comedic character yang menyenangkan (baca: tak semenjengkelkan Jar Jar Binks yang lebih banyak memanfaatkan clumsiness dan stupidity sebagai bahan guyonan) sekaligus mengundang simpati penonton di momen-momen serius. Oscar Isaacs sebagai Poe Dameron juga masih bisa mengundang simpati penonton sebagai pahlawan yang layak diidolakan, meski porsinya tak banyak. Semoga saja ke depannya porsinya dan sepak terjangnya semakin banyak, sehingga berhasil menjadi salah satu karakter yang diidolakan.

Adam Driver sebagai villain utama, Kylo Ren, belum terasa begitu mengancam, gara-gara karakternya yang memang masih dibuat belum cukup kuat dalam mengendalikan The Force. Driver tampak sudah berupaya menampilkan performance terbaik, namun I just haven’t felt it strong enough. Terakhir, tak ketinggalan aktor-aktor Indonesia yang berhasil menorehkan sejarah di perfilman Hollywood; Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Cecep Arif Rahman, yang berperan sebagai Tasu Leech dan geng Kanjiklub. Porsinya tak banyak, but hey come on… it’s Star Wars man! It’s a privilege to be part of it anyway.

Meski visual effect memegang peranan penting di franchise Star Wars, rupanya TFA masih berusaha seminimal mungkin penggunaan CGI. That’s why ia masih menggunakan set asli. Untuk CGI, TFA lebih banyak mengingatkan gaya realis ala original trilogy, ketimbang CGI yang bersih namun terlihat palsu seperti di prequel trilogy. Tak ketinggalan sedikit ‘aura Star Trek’ yang terasa lewat beberapa kostum. Flare yang menjadi visual signature Abrams untungnya tak hadir di sini. Gimmick 3D menampilkan petualangan dan berbagai adegan dengan lebih exciting, terutama dari segi depth. Untuk tata suara, TFA juga tak pernah main-main untuk menggarap detail dan kedahsyatan tiap sound effect-nya, termasuk pemanfaatan surround (bahkan Atmos) untuk menghidupkan semua adegannya dan tentu saja membawa penonton ke pengalaman super seru, seperti saat kejar-kejaran X-Wing. Score asli John Williams masih dipakai dengan beberapa variasi yang sayangnya, tak terlalu berkesan, selain sekedar menyambung nuansa yang sama dengan score asli. Patut disayangkan score Duel of the Fates dari prequel trilogy yang begitu saya kagumi saat adegan-adegan pertarungan lightsaber, harus absen di seri ini. Tapi kesemuanya tetap mampu mengiringi tiap adegan menjadi lebih dramatis dalam takaran yang pas.

Yes, TFA is a movie event of the year you wouldn’t want to miss, but never to forget that somehow TFA is just a prolog or an intro to a more and bigger adventure to come. That’s why, in my eyes, it didn’t feel spectacular. Jujur, saya sendiri punya perasaan ‘kurang puas’ lewat presentasi kali ini, selain sekedar senang melihat elemen-elemen khas Star Wars yang selalu bisa bikin saya merinding hanya dengan mendengarkan main theme dan desingan lightsaber yang beradu. But hey, saya masih bisa melihat Abrams dan timnya sudah mempersiapkan grand design yang cukup matang untuk trilogy terbaru ini. Let’s just wait and see. Meanwhile, just enjoy the ride Abrams has delivered for all of us, over and over again!

Lihat data film ini di IMDb.

P.S.: untuk experience maksimal, ini urutan format dari prioritas paling utama :
  • IMAX 3D
  • 4DX 3D
  • Regular 3D
  • Dolby Atmos
  • Regular 2D

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Achievement in Editing - Maryann Brandon and Mary Jo Markey
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - John Williams
  • Best Achievement in Sound Mixing - Andy Nelson, Christopher Scarabosio, and Stuart Wilson
  • Best Achievement in Sound Editing - Matthew Wood and David Acord
  • Best Achievement in Visual Effects - Roger Guyett, Pat Tubach, Neal Scanlan, and Chris Corbould
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 22, 2015

The Jose Flash Review
Santa Claus / Le Père Noël

Jika Anda sedang mencari-cari film yang cocok untuk merayakan Natal tiap tahun, Perancis menawarkan persembahan film Natal yang punya formula generik tapi selalu kita rindukan tiap menjelang Natal: Christmas joy and spirit, Le Père Noël (LPN) atau judul internasionalnya Santa Claus. Disutradarai Alexandre Coffre yang sebelumnya menangani film komedi Eyjafjallajökull dan Borderline. LPN yang dirilis di negara aslinya Natal 2014 lalu ini sempat diputar dalam rangkaian Festival Sinema Perancis awal Desember lalu. Namun Feat Pictures selaku distributor merilisnya untuk tayang reguler di CGV Blitz, Cinemaxx, dan Platinum. Uniknya, Sang ‘Santa Claus’ di sini justru diperankan oleh Tahar Rahim, aktor Perancis berdarah Algeria.

Antoine, seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, tak ingin permintaan yang muluk-muluk Natal ini. Ia hanya ingin bertemu Santa Claus dan naik kereta luncurnya. Permintaannya ‘terkabul’ tak lama kemudian, ketika seorang pria berkostum Santa Claus mendarat di balkon apartemennya. Antoine yang penasaran terus membuntuti Sang Santa dan merengek-rengek untuk memperlihatkan kereta luncurnya. Siapa sangka bahwa Sang Santa ternyata adalah pencuri perhiasan yang menyamar menjadi Santa Claus dalam menjalankan aksinya. Meski berbagai usaha mengusir dicoba, Antoine tetap saja membuntutinya. Santa pun tak kehabisan akal. Ia memberi ‘tes kecil’ sebelum Antoine diiming-imingi untuk menjadi asisten Santa. Kesuksesan Antoine melahirkan ide untuk menjadikannya asisten dalam mencuri. Maka Antoine dan Santa berkeliling Paris dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan perhiasan. Sampai suatu ketika komplotan yang mengejar-ngejar Santa juga ikut mengancam keselamatan Antoine. Perlahan Santa pun merasakan punya tanggung jawab dan kepedulian terhadap Antoine.

Formula crime dan another ‘inappropriate-for-children’ material dalam film Natal bukan sekali ini saja dipadukan. Yang paling berkesan buat saya antara lain Reindeer Games dan Bad Santa. LPN memang menggunakan formula paduan ini, tapi dengan racikan yang sangat-sangat aman untuk dinikmati seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak sekalipun. Sebagai komedi, sayangnya LPN tak terlalu banyak memanfaatkan kesempatan-kesempatan untuk menghadirkan guyonan komikal seperti halnya Home Alone. In matter of fact, nuansa LPN sangat kalem untuk genre komedi. Kelucuan-kelucuannya lebih banyak memanfaatkan kepolosan dan tingkah Antoine yang untungnya berhasil mengundang senyum, tawa, dan rasa gemas. Cerita lebih banyak mengeksplor relasi antara Santa dan Antoine. Cukup berhasil sehingga ada cukup banyak momen heartwarming yang menjadi kekuatan utama LPN. Bikin tersenyum, mengundang haru, dan mungkin juga sedikit air mata kebahagiaan. LPN did it very well.

Selain dari itu, storyline LPN sebenarnya sangat-sangat generik dan tak banyak side storyline yang dikembangkan. Mungkin main storyline tentang relasi Santa-Antoine memang dikembangkan dengan baik meski tak terlalu istimewa pula, namun kehadiran komplotan yang mengejar-ngejar Santa seolah-olah hanya tempelan untuk menambah keseruan (atau sekedar menambah durasi semata?). Tak ada karakter komplotan yang digali lebih dalam sehingga ‘ancaman’-nya bisa lebih dirasakan oleh penonton. Motivasi mereka mengejar-ngejar Santa juga hanya sekedar masalah hutang-piutang. Bahkan adegan klimaksnya pun lebih memanfaatkan  Antoine dan Santa untuk menyelesaikannya. Para komplotan (lagi-lagi) harus menjadi ‘tempelan’ semata, tanpa mengesankan apa-apa.

Dengan relasi antara Santa-Antoine sebagai ‘komoditas’ utama, tentu aktor pemerannya menjadi tulang punggung film. Untung saja si cilik Victor Cabal sebagai Antoine tampil memikat lewat kepolosan dan tingkahnya yang menggemaskan. Mulai ekspresi wajah, gerak gestur tubuh, hingga celetukan-celetukannya selalu saja menjadi sumber hiburan yang berhasil. Saya tidak akan kaget jika karir Victor Cabal ke depannya semakin cemerlang. Tahar Rahim pun mampu tampil sebagai villain yang mengundang simpati. In one side, we’ve known what he did was wrong, thus we’ll still love and care about what’s happened to him. Tahar menunjukkan kharisma yang cukup sebagai lead dan mengundang simpati penonton. Perubahan sifat yang ditunjukkan lewat ekspresi wajahnya turut mendukung itu. Selain dari dua karakter ini, tak ada karakter lain yang cukup berkesan, selain sekedar ada untuk menggerakkan cerita utama.

Sinematografi Pierre Cottereau yang dinamis namun masih enak diikuti, mengeksplor sudut-sudut kota Paris dengan cantik. Mulai ruang-ruang apartemen yang modern-klasik sampai kawasan yang dipenuhi trailer-trailer kumuh. Bidikan-bidikannya pun membingkai momen-momen manis Santa dan Antoine, serta keseruan ketika Antoine dimanfaatkan untuk merampok. Editing Hervé de Luze cukup mendukung pace cerita yang kadang kalem, namun sekali-dua kali jadi seasyik video music dengan cut-to-cut dinamis. Pemilihan soundtrack-nya juga patut diapresiasi untuk mengimbangi nuansa kalem yang mendominasi.

So, LPN memang menawarkan tema Natal yang generik. Side storyline pun tak digarap dengan cukup seimbang dengan main storyline-nya. Tapi come on, apa sih yang paling diharapkan dari film Natal? Tentu saja nuansa dan semangat Natal yang hangat, manis, dan berhati besar bukan? That’s all Christmas is all about, isn’t it?  Merry Christmas, happy holiday, and enjoy LPN with your whole family!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Peanuts Movie (2015) /
Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie

Komik strip yang sempat populer dan menghiasi berbagai surat kabar di era ’50-’80-an sudah melahirkan cukup banyak tokoh iconic yang beberapa di antaranya sudah diangkat ke layar lebar di era setelah 2000-an. Sebut saja Garfield dan Tintin. Bahkan yang berasal dari komik dengan gaya gambar setipe dan seangkatan, Smurfs sudah juga diangkat ke dalam animasi CGI. Ada satu judul yang belum mendapatkan theatrical CGI treatment, yaitu Peanuts atau yang lebih sering kita kenal sebagai Snoopy & Charlie Brown. Padahal Peanuts pernah empat kali diangkat ke layar lebar dengan format 2D, mulai tahun 1969 (A Boy Named Charlie Brown) sampai yang terakhir, Bon Voyage, Charlie Brown (and Don’t Come Back!!) tahun 1980. Sampai kematian sang kreator, Charles M. Schulz, meninggal tahun 2000, hanya format film TV atau miniseri. Tahun 2006, putra dan cucu Charles, Craig dan Bryan Schulz bekerja sama untuk membuat naskah layar lebar Peanuts terbaru setelah lebih dari 35 tahun. Diproduksi oleh studio animasi milik 20th Century Fox, Blue Sky yang menandai film animasi ke-10-nya, Steve Martino yang pernah sukses menyutradarai Horton Hears a Who! dan Ice Age: Continental Drift (dua-duanya juga produksi Blue Sky Studio) ditunjuk sebagai sutradara. Tentu saja ‘tuntutan jaman’ membuat mereka memutuskan menggunakan treatment 3D untuk The Peanuts Movie terbaru.

Mengingat generation gap yang cukup lama, The Peanuts Movie kali ini kembali memperkenalkan karakter-karakter khasnya dari awal. Yang terutama, Charlie Brown, bocah laki-laki yang karena keteledoran dan ketidak becusannya dalam melakukan apa saja, membuatnya rendah diri. Untung ada anjing lucu dan pintarnya yang setia, Snoopy. Kerap kali Snoopy lah yang turun tangan untuk mengambalikan rasa percaya diri Charlie, termasuk ketika ada murid baru, gadis berambut merah yang membuat Charlie deg-degan tak tenang tiap kali kemunculannya. Maka Charlie pun mencoba belajar berbagai hal untuk menarik perhatian gadis berambut merah itu. Tentu saja dengan bantuan Snoopy yang seolah bisa segalanya. Tak disangka Charlie mendadak populer karena berhasil meraih nilai tertinggi di sekolahnya. Sementara adik Charlie, Sally, memanfaatkan popularitas Charlie untuk mengeruk keuntungan, Charlie semakin bersemangat untuk mengembangkan dirinya. Ia pun rela membaca buku tebal dan mengerjakan tugas kelompok bersama gadis berambut merah yang sedang ijin tidak masuk. Tentu saja menarik perhatian gadis itu tak semudah yang dibayangkan. Snoopy yang suka berkhayal pun terinspirasi untuk menulis kisah asmara Charlie dan gadis berambut merah lewat khayalannya sendiri bersama anjing betina pujaan, Fifi.

Sedikit berbeda dengan film-film animasi yang beredar belakangan yang cenderung punya target audience dengan range usia lebih luas, which means lebih cocok untuk penonton dewasa ketimbang pure anak-anak, The Peanuts Movie punya storyline dan adegan-adegan yang lebih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak ketimbang penonton dewasa. As for me, storyline utama tentang Charlie Brown masih cukup relevan untuk penonton dewasa dan humor-humor innocent namun tergolong smart-nya masih mampu membuat saya tersenyum dan sesekali tertawa terbahak-bahak. I always love innocent fun, seperti saya tersenyum melihat kepolosan anak-anak dalam memandang masalah. Demkianlah menu utama The Peanuts Movie which I loooooove very much. Meski jika mau dicermati lebih dalam, tiap karakter utama di sini punya studi kasus kepribadian dan psikologis yang cukup jelas dan mendalam. Sebagai side storyline, ada Snoopy yang dalam fantasi petualangannya melawan pesawat the Red Baron dan menyelamatkan Fifi, dengan treatment tanpa dialog seperti yang beberapa kali ditampilkan komik strip-nya. Di mata saya, memang tak ada salahnya menyisipkan side storyline yang seolah tak berhubungan dengan main storyline, tapi saya juga tak bisa bohong kalau saya kurang menyukainya dan merasa cukup mengganggu pergerakan main storyline yang sudah disusun dan dikembangkan dengan rapi. But once again, atas nama men-serve target audience utamanya yang anak-anak dan notabene doyan fantasi, it’s fairly okay lah.

Tak ada yang terlalu istimewa di barisan pengisi suara yang tergolong asing di telinga. Kesemuanya dengan pas menghidupkan tiap karakter yang memang punya kepribadian kontras. Misalnya Noah Schnapp sebagai Charlie Brown yang sering canggung, Mariel Sheets sebagai Sally yang selalu ceria dalam kepolosannya, Hadley Belle Miller sebagai Lucy yang narsis. Kesemuanya mengingatkan saya akan versi animasi 2D-nya dan seperti fantasi saya ketika membaca komik strip-nya. Bahkan suara karakter-karakter orang dewasa tetap mempertahankan konsep film lawas dan komik stripnya: berupa suara tak jelas bercampur trombone.

Dari segi teknis, animasi 3D yang digabungkan gaya gambar 2D klasik seperti goresan pena komik strip-nya jelas menjadi primadona yang tak hanya memanjakan mata tapi bagi penonton mana pun, tapi juga membawa nuansa nostalgic tertentu bagi generasi yang pernah akrab dengannya. Tata suara surround 7.1 benar-benar dimanfaatkan maksimal, terutama terasa sekali untuk storyline fantasi Snoopy bersama the Red Baron dan Fifi. Scoring Christophe Beck ditambah lagu-lagu dari Meghan Trainor jelas mendukung nuansa serba ceria dan menyenangkan dari dunia Peanuts.

Sebagai penonton dewasa tentu Anda tak boleh mengeluh dengan storyline-nya yang sangat simple, karena memang ditujukan untuk penonton anak-anak. Jangan permasalahkan juga jokes-nya yang polos dan innocent. Sebenarnya jika Anda punya masa kecil yang indah dan menyenangkan, saya yakin The Peanuts Movie dapat dengan mudah menjadi sajian yang menyenangkan, setidaknya membawa nostalgia keceriaan dan kepolosan masa kecil. Kalau buat saya sih, ia juga berhasil menjadi pengingat tentang kepribadian dari karakter Charlie Brown. See, even adults can find self-reminder from simple movies targeted mainly for kids. You’ll never know if you never give it a try, asal tetap tahu posisi diri saat menonton, karena Anda adalah ‘warga nomer dua’ di studio itu.

P.S.: Buat fan dan kangen Scrat dari Ice Age, jangan masuk telat, karena ada film animasi pendek Cosmic Scrat-tastrophe sebagai pembuka.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Krampus

Dulu di negara-negara dimana dominan kaum Kristiani sudah menjadi tradisi untuk merilis film-film bertemakan Natal ketika mendekati momen Natal tiap bulan Desember. Hollywood sebagai pusat industri film pun dulu rajin merilis film Natal tiap tahunnya yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Namun trend bergeser, semakin tahun semakin sedikit film Natal yang ditayangkan secara luas dan digarap dengan layak. Kebanyakan justru dirilis dalam format Video on Demand, straight to video, dan justru lebih cocok untuk penonton dewasa saja ketimbang untuk seluruh anggota keluarga. Kehangatan serta keceriaan kebersamaan yang menjadi semangat Natal utama pun sudah mulai jarang terasa tiap bulan Desember. Tahun ini Michael Dougherty yang pernah sukses membawa film horor indie Tricks ‘r Treat menjadi semacam cult, serta pernah juga dipercaya menulis naskah X-Men 2 dan Superman Returns, mencoba untuk menghadirkan sebuah horor dengan setting Natal. Meski bergenre horor, uniknya film yang diberi judul Krampus ini tergolong aman untuk ditonton seluruh keluarga. Ide ceritanya berasal dari monster mitologi Krampus yang dikenal oleh masyarakat Austria sebagai kebalikan dari Saint Nicholas atau yang kita kenal sebagai Santa Claus. Krampus sendiri beberapa kali diangkat dalam film, termasuk versi tahun 2015, Krampus: The Reckoning, tapi statusnya lebih sebagai film indie low budget. Baru kali ini proyek Krampus yang dibuat dengan treatment blockbuster, lengkap dengan aktor-aktris yang punya nama cukup besar pula.

Max jengah dengan keluarganya. Sang ayah dan ibu, Tom dan Sarah, sering berkelahi, sementara kakak perempuannya, Beth, lebih sering sibuk dengan smartphone-nya. Satu-satunya tempat curhat Max adalah sang nenek, Omi, yang hanya berbahasa Jerman. Keadaan diperparah ketika adik Sarah, Linda, dan suaminya, Howard berniat menghabiskan malam Natal di rumah Sarah. Jika keempat anak mereka, Howie Jr., Stevie, Jordan, dan Chrissy, sudah membuat rumah jadi berantakan, masih ada kejutan lain. Linda mengajak tante mereka, Dorothy yang tinggal sendirian, untuk bergabung dengan mereka. Bencana pun tak terelakkan, mulai saling sindir dan saling serang terjadi. Max makin merasa tersiksa dan merobek surat permintaan kepada Santa tentang keluarganya. Robekan surat Max terbawa angin dan siapa sangka membangkitkan monster mitologi Natal bernama Krampus. Satu per satu horor pun terjadi di lingkungan suburban itu, tak terkecuali keluarga Max yang terjebak di dalam rumah.

Sinopsis di atas jelas mengingatkan kita akan premise dasar berbagai kisah Natal, termasuk yang paling klasik, A Christmas Carol yang sudah diangkat dalam berbagai versi, dan tentu saja film Natal populer yang sampai sekarang masih digemari, Home Alone. Kuncinya: kekacauan keluarga, mimpi buruk akibat permintaan emosional yang tak sengaja terkabulkan, dan makna kebersamaan serta keceriaan Natal. Tentu saja saya tak perlu memberikan spoiler untuk memahami jalan cerita serta endingnya yang tergolong template bin generik, meski sekarang sudah jarang kita temui. Ya, Dougherty memang sengaja mengusung formula-formula klasik Natal untuk mengajak penonton saat ini bersenang-senang, bernostalgia dengan masa-masa kejayaan film Natal sejenis, atau sekedar menikmati horor monster yang konon sebagian besar diciptakan secara praktikal (dengan property, bukan hasil rekayasa CGI!). I don’t really care about familiar plot karena saya menyukai tema-tema Natal. Yang paling penting adalah makna yang disampaikan lewat momen-momen yang menyentuh sekaligus membahagiakan. Diiringi lagu-lagu Natal klasik, voila, it’s more than enough to be experienced in the theatres!

Berpengalaman menangani horor, tentu Dougherty tak banyak mengalami kendala. Namun yang patut diingat, Krampus adalah horror keluarga dengan villain berupa monster mitologi yang mungkin akan terasa beda ketika dipertontonkan di depan penonton dengan kebudayaan yang berbeda (baca: sama sekali awam dengan source materi aslinya). Untung saja Dougherty menjelaskan secukupnya dengan sosok Krampus dan kru mengerikannya, mulai badut jack-in-the-box pemakan manusia hingga gingerbread man hidup. Tingkat horor yang diusung pun bukan tipe horor mengerikan dengan adegan-adegan berdarah, tapi lebih ke thriller fun. Contoh paling mudah untuk menggambarkan horornya adalah Goosebumps beberapa bulan lalu. Penonton diajak seru-seruan dikejar-kejar dan head-to-head dengan berbagai sosok monster yang ditampilkan. Jika tidak menyukai tipikal horor seperti ini, Anda masih bisa dibuat tertawa oleh tingkah keseluruhan karakter keluarga Max, terutama sekali Aunt Dorothy yang menjadi favorit saya. Baik lewat dialog maupun tingkah laku, cukup mengimbangi horornya yang fun.

Above all, satu hal yang membuat Krampus layak menjadi pilihan tontonan Natal kali ini adalah keberhasilannya menghadirkan momen-momen paling penting dan konklusi bermakna seperti layaknya khas film Natal lainnya. In the end, it brought warmth and Christmas joy, lengkap dengan iringan lagu-lagu Natal klasik dan modern yang di-twist sedemikan rupa. Generic, but I never get bored with these classical Christmas stuffs.

Sebagai salah satu daya tarik utama film, Dougherty (dibantu oleh Todd Casey dan Zach Shields) tahu betul bagaimana menuliskan karakter-karakternya secara spesifik hingga jadi menarik dan untungnya, diperankan oleh aktor-aktris yang berhasil menghidupkannya pula. Oke, chemistry Adam Scott-Toni Collette mungkin tak terlalu terasa meyakinkan, namun untungnya Collette sendiri cukup meyakinkan memerankan ibu rumah tangga yang stress. Sayang, Stefania LaVie Owen sebagai Beth tak diberi cukup porsi untuk memikat penonton. Malah mungkin karakternya sekedar tempelan untuk ‘membentuk’ keluarga dasar semata. David Koechner sebagai Howard dan Conchata Ferrell sebagai Aunt Dorothy berhasil menjadi sumber tawa utama sepanjang film. Emjay Anthony sebagai Max pun patut diperhitungkan sebagai salah satu bintang cilik bermasa depan menjanjikan, setelah kita saksikan penampilannya di Chef dan Insurgent. Terakhir, tak boleh ketinggalan sosok Omi yang diperankan dengan sangat baik oleh Krista Stadler. Bersahaja, hangat, namun berkharisma kuat sebagai karakter kesayangan, meski porsinya tak terlalu banyak.

Bermain-main dengan horor praktikal di tengah maraknya penggunaan CGI untuk menghidupkan sosok-sosok mustahil, adalah sebuah pertaruhan di mata penonton. Bisa jadi horor seperti ini dirindukan karena kehadirannya yang sudah mulai jarang dan tentu saja membawa efek tampilan yang lebih realistis. Sebaliknya, penonton yang terbiasa dengan CGI menganggap tampilan monsternya tak mengerikan atau malah ridiculous. Tentu saja ini tergantung selera tiap-tiap penonton. Namun yang patut dicatat keputusan penggunaan prop instead of CGI patut dihargai, tak semata-mata karena faktor nostalgia, tapi harus diakui, membuat tampilannya lebih hidup dan nyata. Remember how the Gremlins looked scary as hell without showing gory images and CGI? That’s the similar feeling when watching Krampus. Tata suara yang detail dan dahsyat mendukung efek jumpscare fun sekaligus membuat visualisasinya semakin nyata. Tentu saja efek surround yang dimanfaatkan dengan sangat maksimal di sini cukup ambil andil dalam kesuksesan membangun efek horornya. Tak ketinggalan score dari Douglas Pipes yang me-remix lagu-lagu Natal klasik menjadi lebih dark dan creepy. Sungguh perpaduan yang menarik. Terakhir, desain produksi Jules Cook, termasuk kostum dari Bob Buck mampu menghadirkan perpaduan nuansa Natal klasik dan modern secara seimbang. Hasilnya, tampilan film, mulai set hingga kostum cukup memanjakan mata. Modern namun tak kehilangan ‘semangat’ Natal-nya.

Tipe horor Krampus diakui memang belum tentu cocok dengan setiap penonton. Namun setidaknya ia berhasil menghadirkan kembali ‘semangat’ Natal lewat caranya yang nyeleneh namun menyenangkan. Ada beberapa adegan yang kurang appropriate untuk anak-anak di bawah umur, tapi dengan dampingan orang tua (namanya juga film keluarga kan ya?), Krampus masih cukup aman disaksikan rame-rame. Tetap hangat dan menghibur, meski belum juga layak dijadikan instant classic. Just enjoy the ride and feel Christmas spirit and joy, once again, in cinemas!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 15, 2015

The Jose Flash Review
In the Heart of the Sea

Mungkin tak banyak publik Indonesia yang akrab dengan salah satu karya sastra klasik Amerika Serikat, Moby Dick, tapi di negara asalnya novel petualangan karya Herman Melville yang pertama kali dipublikasikan tahun 1851 ini sudah menjadi salah satu karya sastra yang wajib untuk dikaji dan dipelajari. Mungkin tak banyak pula yang tau kalau Moby Dick diinspirasi dari berbagai kejadian nyata, termasuk tenggelamnya kapal Essex asal Nantucket, Massachusetts tahun 1820. Kisah nyata ini tertuang pula lewat sebuah buku karya Nathaniel Philbrick tahun 2000, In the Heart of the Sea: The Tragedy of the Whaleship Essex. Buku ini sukses memenangkan National Book Award for Nonfiction di tahun yang sama. Tahun 2015 ini, salah satu sutradara visioner Hollywood, Ron Howard mencoba menggabungkan cerita In the Heart of the Sea dengan Moby Dick ke dalam sebuah film berjudul In the Heart of the Sea (ITHOTS). Howard menggandeng Charles Leavitt (Blood Diamond, Seventh Son) untuk mengadaptasi ke dalam bentuk skenario.

Cerita bergulir ketika Herman Melville yang saat itu baru saja mempublikasikan novel yang sukses, tertarik untuk mendatangi mantan kru kapal pemburu paus Essex, Tom Nickerson. Sebenarnya Tom enggan menceritakan kejadian yang membawa trauma baginya hingga saat itu. Namun karena kebutuhan materi dan dorongan dari sang istri, Tom bersedia menceritakan detail kejadian selama berada di kapal Essex, mulai perseteruan antara Owen Chase yang berpengalaman sebagai pemburu paus sembur (Sperm Whale itu terjemahan yang lebih tepat paus sembur, bukan paus sperma!) dengan kapten George Pollard yang ditunjuk sebagai kapten kapal hanya karena salah satu anggota keluarga pemilik perusahaan, sampai survival setelah kapal Essex hancur lebur oleh seekor paus sembur raksasa dan mereka harus terdampar di lautan selama 90 hari.

Basically, fokus utama cerita ITHOTS adalah petualangan survival para awak Essex selama 90 hari. Tentu saja ‘jualan’ utamanya adalah adegan-adegan serangan paus sembur yang mendebarkan. Kedua, upaya survival yang mencoba untuk membuat penonton iba, dengan penderitaan seperti badan yang jadi kurus kering, bahkan untuk Chris Hemsworth yang selama ini berpostur kekar sekalipun. Dua komoditas utama ini jelas untuk memposisikan ITHOTS sebagai film blockbuster yang menghibur dan menawarkan adegan-adegan epic. Namun Howard dan Leavitt tak sekedar memposisikannya sebagai film blockbuster semata, tapi memasukkan unsur-unsur yang juga bisa memposisikannya sebagai film yang berbobot. Upaya ini terlihat sekali lewat cukup banyak unsur-unsur dilematis moral yang dimasukkan ke dalamnya, mulai persaingan kepemimpinan antara Owen Chase dan George Pollard, antara ego pribadi dan pengalaman, moral dan survival, sampai kejujuran dan kepentingan ekonomis. Bahkan perburuan paus yang menjadi unsur utama cerita pun dibidik sebagai suatu kesalahan, disesuaikan dengan kecenderungan saat ini dimana keberadaannya yang langka menjadi terlarang untuk diburu, dengan mengambil angle kejadian naas yang menimpa awak kapal Essex sebagai karma dari perburuan paus. Tentu upaya ini patut diapresiasi lebih, termasuk juga lewat dialog-dialog quotable yang cukup banyak bertebaran. Apalagi ternyata Howard lagi-lagi berhasil menampilkan momen-momen paling menyentuh di sini. Ditambah adegan-adegan disaster yang menegangkan, ITHOTS sekali lagi membuktikan betapa masterful-nya Ron Howard, di balik alur cerita dan para karakter yang sebenarnya harus diakui di sini, tidak begitu banyak berkembang dan tergolong biasa-biasa saja di genrenya. Nevertheless, semuanya masih menjadi kesatuan yang enjoyable.

Meski tak ada yang sampai pada tahap brilian, aktor-aktornya bermain dengan maksimal dan pada kapasitas pas di masing-masing peran. Chris Hemsworth masih berhasil menjadi hunk lead yang kharismatik. Transformasi tubuhnya menjadi kurus kering yang sempat jadi salah satu ‘komoditas’ juga patut diapresiasi. Benjamin Walker memainkan karakter Kapten George Pollard dengan pas; angkuh, berusaha menjaga wibawa meski sadar tak sekuat itu, namun punya juga momen-momen revealing yang mampu mengundang simpati penonton. Brendan Gleeson-Michelle Fairley sebagai Mr. dan Mrs. Tom Nickerson punya satu momen yang termanis sepanjang film. Ben Whisaw sebagai Herman Melville bagi saya mampu mencuri perhatian meski porsinya tak begitu banyak dan kapasitas karakternya juga tak memberikan cukup ruang untuk mengeksplorasi akting lebih dalam. It’s simply because of his charisma.

Visual effect jelas memegang peranan penting dalam menghidupkan adegan demi adegan, terutama sang paus sembur raksasa yang begitu hidup dan mengancam. Tata suara pun mengimbangi dengan deep bass yang terasa bertenaga dan pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal, terutama saat badai dan serangan paus sembur. Extra credit untuk 4DX yang cukup memaksimalkan fasilitasnya. Mulai kursi yang bergerak-gerak lembut seolah seperti berada di dalam kapal di atas lautan yang tenang serta berguncang kencang saat badai dan paus sembur menyerang. Namun tidak sampai membuat mual. Semburan air diletakkan pada momen-momen tertentu yang pas, tidak diumbar sepanjang film, sehingga terasa maksimal. Terakhir, aroma gosong saat adegan ledakan dan aroma laut di momen-momen yang bertujuan menenangkan, jadi efek 4DX favorit saya.

Utamanya, ITHOTS memang disiapkan sebagai film blockbuster yang menghibur dan megah. Sehingga kemasan luarnya cukup mengundang. Ditambah moral dilemma yang cukup banyak, manusiawi, dan relevan dengan setting, membuatnya jadi lebih berbobot, dan saya sangat menghargai itu. Award material? Hmmmm saya rasa belum cukup kuat sampai pada tahap itu. But at least ITHOTS jadi perpaduan cerita tenggelamnya Kapal Essex dan Moby Dick yang menarik dan cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates