Tuesday, November 10, 2015

The Jose Flash Review
Spectre

Sejak pertama kali diumumkan, pemilihan Daniel Craig sebagai James Bond menggantikan Pierce Brosnan sudah menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak, termasuk fanatic James Bond. Kendati kualitas Casino Royale yang ternyata merombak cukup banyak pakem-pakem aslinya, terutama karakteristik James Bond yang dari flamboyan jadi tough and rough, cukup bisa dipertanggung jawabkan, kontroversi terus berlanjut hingga installment keempat yang dirilis tahun 2015 ini, Spectre dan digadang-gadang sebagai film James Bond terakhir dari Daniel Craig. Namun bagaimanapun juga kekuatan brand James Bond yang sudah berusia lebih dari separuh abad tentu tak menyurutkan minat penonton di seluruh dunia untuk terus mengikuti sepak terjangnya di layar lebar. Ini dibuktikan dengan rekor demi rekor yang terus dicetak.

Cerita dibuka dengan pengejaran James Bond terhadap sosok bernama Marco Sciarra di tengah hiruk pikuk festival Día de los Muertos di Mexico City. Ternyata aksinya ini merupakan tindak lanjut dari pesan rahasia M sebelum meninggal. Pasca Skyfall, James Bond move on dengan kehidupannya sebagai agen rahasia berkode 007. Seperti biasa ia lebih suka bekerja sendiri tanpa melibatkan atasan maupun tim sidekick yang biasa membantunya di markas besar MI6. Kematian Marco Sciarra ternyata menuntun James Bond ke sebuah organisasi kejahatan internasional yang selama ini berada di balik tiap kasus besar yang ditanganinya. Bersama Madeleine Swann, putri musuh lawasnya, Mr. White, yang bisa menuntunnya ke musuh utamanya, Franz Oberhauser, yang secara dokumen sudah lama tewas.

Sebelum membandingkan Spectre dengan film-film James Bond era Daniel Craig, sebaiknya Anda memahami dulu seperti apa James Bond yang sebenarnya. Mulai dari karakterisasinya, elemen-elemen iconic yang selalu menjadi komoditas selama lebih dari separuh abad. Ya, film-film Bond punya banyak sekali elemen yang selalu ditunggu-tunggu oleh fans sejatinya. Line, karakter-karakter sekutu maupun villain, Bond Girl, gadget, sampai sekedar opening title. Tidak perlu cerita yang terlalu ribet untuk menghiasinya. In short, Bond is never about the story, but the experience of being a 007 agent. Jika Anda fans lama James Bond dan mengharapkan elemen-elemen asli James Bond, Spectre menawarkan kembali itu semua. Opening gun barrel yang akhirnya diletakkan kembali ke awal film, villain iconic yang tentu mengingatkan fans aslinya kepada iconic villain, Ernst Stavro Blofeld yang pernah muncul di Thunderball dan From Russia with Love, bahkan Hinx yang dengan mudah mengingatkan kepada iconic henchman bernama Jaws, dan puluhan adegan yang menjadi homage terhadap adegan-adegan iconic di film-film James Bond klasik sampai era Pierce Brosnan. For the fans who are familiar with most of James Bond movies, will notice and take this as a very pleasant entertainment. Buat yang penasaran apa saja trivia dan homage yang tersebar di Spectre, bisa diintip di sini (spoiler alert!).

Sayangnya, Casino Royale hingga Skyfall memberikan cerita yang terlalu serius dan rumit untuk sebuah film James Bond. Tak heran jika ada kelompok penonton yang ikut terpengaruh dengan ‘standard’ baru yang sudah terlanjur dipasang. Dengan standard yang demikian, jujur Spectre tidak menawarkan cerita yang benar-benar baru. Bahkan tergolong mirip dengan Mission: Inpossible – Rogue Nation yang kebetulan rilis di tahun yang sama, dengan mix and match adegan dari beberapa film James Bond sebelumnya. Untuk plot, Spectre memilih untuk memiliki kaitan dengan Casino Royale, Quantun of Solace, dan Skyfall, meski tak secara langsung, sehingga penonton yang tak menonton ketiga film ini masih bisa memahami jalan cerita dengan mudah. Tak ada yang baru untuk plot cerita, namun masih dieksekusi dengan gaya Bond yang berkelas dan grande, namun masih mudah dinikmati dan dipahami. Durasi yang 148 menit memang terasa terlalu panjang dan melelahkan untuk sebagian penonton, tapi bagi saya yang familiar dan memang ngefans dengan elemen-elemen klasik James Bond, durasi tersebut sama sekali tak terasa berkat pace yang tergolong padat. Bahkan saya yang biasanya sering melihat jam sebagai patokan pembabakan, sering lupa untuk menoleh ke jam tangan. Memang harus diakui beberapa adegan yang sebenarnya berpotensi menjadi lebih tajam dan emosional namun dilewatkan begitu saja demi menjaga pace dan durasi. Misalnya ketika James Bond mengetahui rahasia terbesar dari masa kecilnya atau chemistry antara James Bond dengan Madeleine. Namun dengan alasan durasi dan pace, saya masih bisa mengkompromikannya.

Above all, kepentingan utama Spectre sebenarnya adalah menunjukkan perkembangan karakter James Bond sendiri yang sudah dimulai sejak perubahan drastic di Casino Royale. Dengan hadirnya Spectre, penonton yang peduli dan memperhatikan perubahan karakter James Bond dari seri ke seri (versi Craig) tentu menemukan transformasi yang natural dan logis hingga menjadi sosok James Bond yang kita kenal sebelum era Craig. Spectre has succeeded to complete this mission, meski Sam Mendes mengakui banyak terinspirasi dari The Dark Knight-nya Christopher Nolan. Bagi penonton yang jeli tentu menemukan referensi dari The Dark Knight di salah satu adegan penting Spectre.

Di installment keempat ini Daniel Craig berhasil menggenapi transformasinya sejak Casino Royale. Meski bagi beberapa penonton Craig terlihat kelelahan, namun harus diakui sepak terjangnya melakoni berbagai adegan aksi masih sangat prima. Mulai adegan pembuka yang fenomenal karena faktor no cut take sepanjang 4 menit dan sangat mendebarkan karena melibatkan puluhan ribu orang, sampai final showdown dengan speedboat yang menjadi tribute terhadap The World is Not Enough, semuanya gripping!

Meski tak menciptakan chemistry yang begitu kuat maupun meyakinkan, namun Léa Seydoux masih memberikan performa terbaik sebagai Bond Girl (atau Bond Lady, sesuai julukan dari Sam Mendes). Punya garis wajah tegas, berkarakter kuat, seksi sekaligus anggun dengan kostum-kostum yang dipakaikan ke tubuhnya. Bond Girl pendukung, Monica Bellucci mungkin porsinya sangat sedikit (dan tentu saja fisik yang tak lagi bisa menipu), namun  kekuatan kharismanya menjadi obat rindu yang cukup manjur. Ralph Fiennes, Ben Whisaw, dan Naomie Harris, yang di film-film Bond sebelumnya hanya duduk manis di markas pun diberi porsi yang lebih banyak dan penting dalam cerita. Tentu tak perlu meragukan kharisma akting masing-masing, bukan?

Dari sudut villain, siapa yang bisa menyangsikan Christoph Waltz yang seolah sudah identik dengan peran-peran villain. Masih tersisa aura Colone Hans Landa dari Inglorious Basterds, namun Waltz tetap berhasil membangkitkan rasa was-was penonton dari karakter yang dihidupkannya, meski lewat joke. Dalam menghidupkan villain iconic, Blofeld, Waltz juga berhasil melebihi kharismatik Donald Pleasance maupun Anthony Dawson untuk peran yang sama. Sementara untuk wrestler Dave Bautista yang menghidupkan karakter henchman Hinx, berhasil pula menghidupkan memori penonton terhadap sosok Jaws dan Oddball. Tak kalah bengis dan mengancam.

Dengan porsi adegan aksi yang cukup banyak, Spectre berhasil memuaskan berkat sinematografi mumpuni dari Hoyte Van Hoytema. Tak hanya berhasil mem-framing gambar-gambar eksotis settingnya, dari London, Milan, hingga Tangier, tapi juga merekam beberapa perfect shot. Tak ketinggalan ‘kesan’ no cut 4 minutes di adegan pembuka yang jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Tata suara pun dengan menggelegar menghidupkan tiap adegan aksinya dengan maksimal, termasuk pemanfaataan fasilitas 7.1. surround dengan sangat maksimal. Suara ledakan, tembakan, lesatan helikopter, dan deru mesin mobil, terdengar dengan sangat renyah dan menggelegar. Membuat saya lupa akan kekecewaan saya atas absen-nya format Dolby Atmos yang sebenarnya lebih mumpuni. Tak banyak score baru dari Thomas Newman, tapi berhasil mendukung beberapa adegan menegangkan, serta tentu saja kemegahan original main score yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi fans sejati. Meski harus saya akui tidak begitu suka dengan Writing's on the Wall-nya Sam Smith yang jadi theme song kali ini, tapi ternyata terdengar cukup nge-blend dengan nuansa Spectre. Mungkin juga faktor opening title yang tetap terlihat keren.

Production design dari Dennis Gassner juga layak mendapatkan kredit lebih berkat setting-setting eksotis yang dimanfaatkan maksimal. Termasuk pula di dalamnya costume design dari Jany Temime yang terutama mendandani James Bond dan Madeleine dengan sangat sempurna.


So in the end, it’s your decision to put yourself in which categories of audience. Fans sejati dari film-film James Bond sebelum Craig yang kangen experience menjadi seorang Bond, fans karena plot cerita bak Casino Royale, atau penonton ‘eceran’ yang sekedar ingin menikmati adegan-adegan aksi bombastis sepanjang hampir dua setengah jam. As for me yang familiar dengan film-film Bond sebelum Craig, Spectre menjadi sajian yang sangat menyenangkan, terutama karena faktor referensi homage yang disebar di sepanjang film, meski saya juga harus mengakui bahwa tak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditawarkan Spectre.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominee for:

  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original SongWriting’s on the Wall – Sam Smith and James Napier
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates