Sunday, November 29, 2015

The Jose Flash Review
Skakmat

Fenomena The Raid ternyata membawa gaung perubahan yang cukup besar untuk perfilman Indonesia. Sejak kesuksesannya (dan juga sekuelnya, The Raid: Berandal), produser-produser mulai melirik lagi genre action untuk film Indonesia setelah sempat cukup lama dihindari. Padahal di tiap era film Indonesia, genre action selalu ada. Sebelum The Raid, terakhir generasi Dede Yusuf yang ‘berani’ unjuk gigi di layar bioskop. Satu per satu film action Indonesia bermunculan. Bahkan seorang Gatot Brajamusti atau yang dikenal dengan nama AA Gatot pernah tertarik memproduksi dan membintangi sendiri film action fenomenal, Azrax. Tahun ini, Fajar Nugros sudah menggarap action komedi dengan star-ensemble sebagai salah satu daya tariknya. Di penghujung tahun, MNC Pictures yang sudah memproduksi 7/24, Di Balik 98, dan 3 Dara, mencoba peruntungan di ranah action-comedy, yang konon menjadi perpaduan formula pas untuk penonton Indonesia yang haus tontonan pure entertainment. Tak mau tanggung-tanggung, Salman Aristo didapuk sebagai penulis naskah, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Ody C. Harahap.

Menjadi seorang tukang ojek rupanya tak cukup bagi Jamal yang punya mimpi besar jadi seorang entrepreneur. Sayang tak banyak hal yang bisa dilakukannya dengan benar hingga semua orang, termasuk sang ibu, menganggapnya hanya membawa sial. Pacarnya, Mirna, juga sedang diujung tanduk karena dijodohkan dengan orang lain oleh orang tuanya. Kondisi ini dibaca oleh Ivan yang akhirnya memanfaatkan Jamal untuk mengantar seseorang bernama Dito ke Bos Tanah Tinggi. Dengan tawaran uang yang cukup banyak, Jamal menyanggupi. Ternyata Dito juga menjadi buruan dari Mami Tuti, germo yang mengirim gerombolan anak buah untuk menghabisi nyawanya. Jamal yang tak berdaya akhirnya harus menuruti rencana Dito. Terkuaklah masa lalu dan rencana Dito dengan Bos Tanah Tinggi sebelum akhirnya meletus perseteruan antara Dito, Geng Bos Tanah Tinggi, dan Mami Tuti.

ak ada yang benar-benar istimewa dari plot Skakmat. Mulai dari asmara yang menjadi motivasi karakter utama terlibat ‘dunia hitam’, tema balas dendam, prostitusi, dan perang geng. Semuanya diramu dengan kepiawaian Salman Aristo dalam sebuah naskah yang cerdas, berbobot, namun tak melupakan unsur hiburannya. Berbagai formula komedi, terutama chaotic comedy, diselipkan di sana-sini, yang bagusnya, cerdas dan menyatu dengan sangat baik dalam cerita maupun adegan-adegan laganya. Tak selalu mengundang tawa terbahak-bahak, namun setidaknya berhasil membuat saya tersenyum dan mengakui kualitas guyonan-guyonannya.

Analogi catur dalam cerita juga menjadi elemen yang menarik. Meski kehadirannya secara ‘fisik’ dalam cerita termasuk kurang nge-blend dan terkesan sekedar asal ada, namun nyatanya punya relevansi yang sangat kuat dengan cerita secara keseluruhan. Saya pun memaklumi penjelasan analogi ini dalam dialog meski sebenarnya tak perlu. Wajar, mengingat target audience utama Skakmat adalah penonton menengah ke bawah yang belum terlalu familiar dengan konsep analogi. So let’s say, it tried to introduce this kind of concept to them. Hitung-hitung, sekalian mengedukasi penonton.

Namun sebenarnya yang tak boleh dilupakan oleh Skakmat sebagai sebuah film action adalah energi yang cukup untuk membuatnya seru untuk diikuti. Jangan salah, Skakmat punya semua adegan pertarungan yang diidam-idamkan penonton. Termasuk four-way-fight Donny Alamsyah-Cecep Arif Rahman-Hannah Al Rashid-Tanta Ginting yang mengalahkan three-way-fight-nya Yayan Ruhiyan-Dian Sastrowardoyo-Kelly Tandiono di Gangster. Adegan pertarungan-pertarungannya pun ditata lebih natural ketimbang Gangster yang terkesan staged. Namun somehow energi action Skakmat masih berada di bawah Gangster. Entah faktor penyutradaraan, tata kamera, editing, atau tata suara efek. I just feel it could have been fueled even more.

Tanta Ginting yang selama ini lebih sering membawakan peran-peran serius, kali ini membuktikan bisa bagus juga memainkan peran komedik bak aktor lenong. Dengan logat Betawi yang kental, gesture heroine bodor, dan haircut norak, Tanta mendominasi hampir keseluruhan atmosfer komedik Skakmat dengan sangat baik. Donny Alamsyah pun membangun chemistry bodor yang tak kalah gokilnya dengan Tanta. Kehadiran Cecep Arif Rahman dan Hannah Al Rashid memeriahkan film dengan peran-peran yang meski tipikal mereka, masih berhasil menarik perhatian.

Di teknis, sinematografi Padri Nadeak menyumbangkan angle-angle yang berhasil merekam tiap adegan fight-nya dengan cukup epic. Mulai one-on-one fight, keroyokan, sampai four-way-fight di klimaks dan favorit saya, pertarungan di celah gang sempit, semuanya terekam dengan sangat baik. Namun visual yang prima ternyata tidak diikuti tata suara. Sebagai film action, tata suara Skakmat masih terasa sangat kurang untuk menciptakan energi dan atmosfer keseruan. Bukannya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membuat adegan-adegan fight-nya terkesan lebih seru, fasilitas surround malah dimanfaatkan untuk gimmick yang tidak begitu esensial. Scoring-nya pun masih terkesan dimasukkan dan diedit dengan kurang halus, termasuk untuk theme song Jika dari Virzha yang sebenarnya punya lirik dan melodi yang cocok untuk energi Skakmat secara keseluruhan.


In the end, Skakmat menjadi sajian yang cukup berhasil menghibur, baik dengan adegan-adegan action-nya maupun jokes-nya. Tak sampai menjadi film yang benar-benar bakal memorable, namun come on… Terlihat sekali Skakmat hanya berniat sekedar untuk menghibur. Dengan naskah Salman yang menjadikan plot generiknya jadi jauh lebih menarik dan jajaran cast yang ada, Skakmat jelas lebih dari sekedar layak untuk menjadi tontonan ringan yang menghibur.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates