Monday, November 16, 2015

The Jose Flash Review
Prem Ratan Dhan Payo

Reputasi Salman Khan sebagai box office hitmaker masih bertahan. Setelah sukses besar lewat Bajrangin Bhaijaan, tahun 2015 ini Salman mengeluarkan amunisi keduanya, Prem Ratan Dhan Payo (PRDP) yang sengaja dipersiapkan untuk menyambut hari raya Dilwali. Diadaptasi dari kisah klasik The Prince & The Pauper, PRDP ditulis dan disutradarai oleh sineas Hindi yang tak main-main, Sooraj R. Barjatya, yang sudah 10 tahun absen setelah Vivah tahun 2006 lalu. Setelah beberapa minggu penghasilan film-film Hindi tergolong lesu, PRDP menjadi angin segar dengan pencapaian rekor film Hindi keempat yang berhasil mengumpulkan lebih dari 100 crore (US$ 15 juta) di 3 hari pertama, mengalahkan Bajrangi Bhaijaan dan Dhoom 3. Dengan pencapaian ini, tentu star-factor Salman Khan masih tidak boleh diremehkan.

Prem Dilwale adalah aktor drama panggung yang sebenarnya sedang berada dalam krisis. Namun hati yang tulus membuatnya tetap menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke sebuah yayasan yang dimiliki oleh Maithili, gadis muda cantik yang dikabarkan akan dinikahi pangeran Pritampur, Vijay Singh. Mendengar kabar Maithili akan mengunjungi Pritampur, Prem ditemani Kanhaiya, berniat bertemu dan memberikan sumbangannya secara langsung.

Di sisi lain, Pangeran Vijay jatuh sekarat setelah lolos dari upaya pembunuhan. Padahal upacara penobatannya sebagai Raja Pritampur tinggal beberapa hari lagi. Tak sengaja kepala pengamanan Istana Pritampur, Sanjay, menemukan Prem yang ternyata punya wajah sangat mirip dengan Vijay. Karena panik, Prem didapuk untuk menyamar menjadi Vijay sampai kesehatannya membaik. Prem menyetujui dan mulai memainkan peran sebagai Vijay. Ternyata ini bukan hal yang mudah karena selama ini Vijay punya tabiat dan watak yang menyebabkan banyak kebencian, terutama dari Maithili sendiri dan adik tirinya, Rajkumari Chandrika, Rajkumari Radhika, dan Ajay Singh. Perlahan Prem berusaha memperbaiki image Vijay dan menyatukan semuanya. Namun tentu tidak mudah, apalagi ancaman pembunuhan kepada Pangeran Vijay yang gagal membuat nyawa Prem jadi incaran.

Dari sinopsis tersebut basic cerita Prince & The Pauper begitu terasa dengan jelas. PRDP membangun kerajaan fiktif dengan nuansa budaya Hindi dengan sangat megah dan indah. Lengkap dengan istana, kostum, dekorasi, dan koreografi yang luar biasa grande. Namun sayangnya cerita yang cenderung cliché dan sudah berulang kali didaur ulang ini terasa begitu panjang dan bertele-tele dengan durasinya yang mencapai 164 menit. Sedikit lebih panjang daripada kebanyakan film Hindi akhir-akhir ini yang rata-rata sekitar dua setengah jam. Ada cukup banyak sub-plot yang harus diceritakan dan diselesaikan. Dengan storyline yang sebenarnya cukup padat dan dibumbui dengan cukup banyak humor, nyatanya belum mampu meng-uplifting storytelling-nya jadi lebih menarik dan enjoyable. Agaknya PRDP perlu humor dengan dosis yang lebih tinggi dan lebih  menarik untuk membuatnya jadi lebih enjoyable. Untung saja PRDP masih punya momen-momen emosional yang somehow selalu berhasil, terutama dalam konteks ‘romance’ dan ‘family value’.

Memainkan 2 peran yang sama sekali berbeda, Vijay dan Prem, terbukti tidak menjadi masalah bagi Salman. Meski tak terlalu istimewa juga, Salman melakoni keduanya dengan sangat baik. Setidaknya penonton masih bisa membedakan keduanya di layar di balik fisik yang sama persis selain kumis, berkat pembedaan karakter (terutama dari segi gesture dan kharisma) yang jelas. Sonam Kapoor masih mampu mempesona dengan peran tipikal lead actress film Hindi. Anupam Kher memainkan karakter Bapu Diwan Sahab yang surprisingly menarik. Deepak Dobriyal sebagai Kanhaiya mampu menghidupkan karakter comedic dengan cukup berhasil pula. Sedikit mengingatkan saya akan sosok aktor dan sineas Italia, Roberto Benigni.

Di balik storytelling-nya yang masih terasa kurang menghibur, desain produksi berhasil mengambil alih peran wow-factor-nya. Lihat saja set-set yang begitu megah, mulai dari istana Pritampur sampai teater Prem. Tak terkecuali desain kostum, koreografi, serta sinematografi yang sangat berhasil mengeksplorasi tiap sudut keindahannya dengan maksimal. Tata suara dan musik juga mendukung kemegahan berkat pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Meski tak banyak musik yang berhasil menempel terus di benak saya, namun tetap saja tampil menghibur dan masih berkorelasi dengan cerita utama. Setidaknya diletakkan pada momen dan dengan porsi yang pas.


PRDP sebenarnya berpotensi menjadi sebuah film fairy tale tentang romance dan yang lebih penting, keluarga, yang begitu hangat, manis, dan indah. Sayang dengan durasi yang begitu panjang dan storytelling yang terkesan melelahkan, membuatnya less enjoyable. Tapi jika Anda menontonnya dengan santai dan tidak buru-buru walk out, PRDP masih menyimpan cukup banyak momen-momen emosional yang berhasil. Lagipula sayang rasanya jika harus melewatkan kesempatan menjadi saksi kemegahannya di layar lebar.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates