Thursday, November 5, 2015

The Jose Flash Review
Paranormal Activity: The Ghost Dimension

Jika Anda ingin berkecimpung di dunia film dan memulai dari indie namun berharap mendapatkan keuntungan berlipat-lipat, agaknya Anda harus memilih genre horor. Sudah banyak sekali contoh kasus yang mengamini fenomena tersebut. Sebut saja The Blair Witch Project yang menjadi world-phenomenon pada tahun 1999 lalu dan memulai trend found-footage atau mockumentary. Film horor indie found-footage lain yang punya nasib luar biasa adalah Paranormal Activity (PA) yang hanya dengan budget US$ 15,000 berhasil menyumbangkan US$ 193.4 juta di seluruh dunia ke dalam kantong Paramount Pictures yang membeli hak siar domestiknya hanya seharga US$ 300.000. Kesuksesan yang luar biasa ini membuat Paramount terus ‘memerah’-nya menjadi sebuah franchise. Dengan semakin banyaknya film horor found-footage, maka ketertarikan penonton untuk terus-terusan menikmati PA semakin menurun. Kendati demikian, dengan budget yang sangat-sangat rendah, membuatnya tetap profitable. Hingga para produser, termasuk sang fenomenal, Jason Blum, memutuskan untuk mengakhiri franchise ini di installment ke-6 dengan treatment khusus, yang juga digunakan beberapa franchise lainnya; 3D!

Pasangan Ryan-Emily dan putri cilik mereka, Leila, baru saja pindah ke sebuah rumah yang cukup besar. Entah dari mana, tiba-tiba muncul satu kardus berisi sebuah camcorder kuno yang ternyata masih berfungsi dengan sangat baik dan beberapa kaset VHS rumahan. Iseng-iseng dipakai, Ryan menemukan bahwa kamera ini bisa merekam sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa. Awalnya mereka menganggap ini sebagai kerusakan mengingat usia kamera, namun seiring dengan Leila yang mengaku punya teman khayalan bernama Toby dan kelakuannya semakin aneh, mereka semakin percaya bahwa yang dilihatnya lewat rekaman video bukan karena kerusakan. Investigasi Ryan menemukan bahwa ada keterkaitan antara Toby, camcorder unik itu, dan rekaman video yang menggambarkan dua gadis cilik dari tahun 1988; Kristi dan Katie, sedang melakukan ritual okultisme. Belum lagi fakta bahwa tanggal lahir Leila sama dengan Hunter, anak laki-laki yang pernah hilang dengan modus yang mirip.

Sebenarnya kalau ingin memperhatikan, tiap installment PA (dan juga kebanyakan film horor akhir-akhir ini, baik dengan konsep konvensional maupun found-footage) punya premise dan struktur cerita yang kurang lebih sama. Paranormal Activity – The Ghost Dimension (PATGD) pun masih punya storyline yang kurang lebih mirip. Untuk yang mengikuti kisah PA sejak pertama, tentu PATGD menjadi follow up yang menyatukan installment pertama sampai keempat, terutama tentang Kristi-Katie, Toby, dan Hunter. Di sini akhirnya ditunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di balik kejadian di installment-instalment sebelumnya, meski tak sampai memberikan konklusi yang cukup memuaskan alias biasa saja. Bagi yang tidak mengikuti franchise PA juga tak terlalu menjadi masalah karena di sini cukup jelas dijabarkan, terutama yang berkaitan langsung dengan cerita utama PATGD. Justru bagi yang tidak mengikuti, latar belakang cerita dari seri pertama sampai keempat yang dirangkum dan dijelaskan di sini bisa jadi sebuah rangkaian cerita utuh yang terasa lebih menarik.

Alur cerita yang klise tidak terlalu menjadi masalah karena PATGD cukup mampu meramunya untuk membuat penonton penasaran, lengkap dengan momen-momen yang sebenarnya biasa saja, namun dengan gimmick 3D bisa terasa jauh lebih mendebarkan. Terutama di bagian klimaks yang benar-benar breathtaking. Tak berlangsung begitu lama, namun cukup untuk membayar penantian selama hampir satu setengah jam dengan rasa penasaran.

Dengan nama-nama yang sama sekali asing di telinga penonton, cast PATGD sekedar cukup pas mengisi peran masing-masing yang sebenarnya tak terlalu istimewa juga. Seperti Chris J. Murray, Brit Shaw, Dan Gill, dan mungkin yang namanya paling populer di sini, Olivia Taylor Dudley. Namun seperti film-film horor yang melibatkan pemain cilik lainnya, yang paling mencuri perhatian tentu saja Ivy George yang memerankan si cilik, Leila. Masih dengan aura innocence-nya, Ivy mampu tampil cukup creepy di beberapa bagian.

Tak ada yang istimewa dengan sinematografi yang jelas ala-ala mockumentary yang steady di atas tripod. Namun sinematografinya mampu memanfaatkan keterbatasan ini untuk menghadirkan adegan-adegan mengerikan dengan nyata, meski kali ini harus melibatkan CGI. Efek night vision di beberapa adegan menambah nuansa creepy. Namun tentu saja primadona yang membuatnya layak untuk disaksikan di bioskop adalah gimmick 3D-nya. Meski hanya bagian gambar yang diambil oleh camcorder unik, yang diberi efek 3D, namun tampilannya benar-benar maksimal dan berhasil memberikan efek psikologis lebih bagi penonton. Lihat saja tampilan orb yang terkesan biasa saja di layar 2D. Belum lagi beberapa gimmick pop-out ditambah efek suara menggelegar yang berhasil memicu jantung lebih cepat daripada ketika menontonnya tanpa efek 3D dan tata suara biasa.


Well, meski terkesan sekedar pengulangan cerita dan formula dari installment-installment sebelumnya ataupun horor found footage lain, PATGD menawarkan pengalaman yang lebih dengan 3D-nya. So, if you’re willingly to watch this, make sure it’s in 3D. Jika tidak, maka tak perlu mengharapkan tontonan horor yang berbeda selain sekedar just another PA atau just another found footage horror.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates