Tuesday, November 10, 2015

The Jose Flash Review
Dark Places

Pernah dengar nama Gillian Flynn? Meski secara internasional, namanya baru dikenal luas ketika salah satu novel thriller investigasi yang diangkat ke layar lebar, Gone Girl tahun 2014 lalu, Flynn yang punya background jurnalis sebenarnya sudah menulis 3 novel investigasi sejak tahun 2006, yaitu Sharp Objects (2006) dan Dark Places (2009). Mungkin faktor kesuksesan Gone Girl, baik secara komersial maupun di berbagai ajang penghargaan, membuat novel-novel Flynn sebelumnya ikut dilirik untuk diangkat ke layar lebar. Gilles Paquet-Brenner (Walled In dan Sarah’s Key) adalah yang berhasil mendapatkan hak mengadaptasi Dark Places (DP) ke layar lebar. Meski dengan skala produksi yang jauh lebih kecil ketimbang Gone Girl yang digarap oleh sutradara sekaliber David Fincher, Brenner berhasil menggandeng aktor-aktris sekaliber Charlize Theron, Nicholas Hoult, dan ChloĆ« Grace Moretz.

Sejak awal film kita diperkenalkan dengan protagonis, Libby Day, seorang wanita yang menjelang usia 30 tahun namun tidak menjadi atau bekerja sebagai apa-apa karena selama ini mendapatkan sokongan dana dari sumbangan orang-orang yang bersimpati kepadanya. Seluruh keluarganya dibantai pada suatu malam; sang ibu dan kedua saudarinya. Karena kesaksian Libby, pengadilan mendakwa saudara laki-lakinya, Ben Day, sebagai tersangka. Libby yang hampir kehabisan uang akhirnya menerima tawaran dari seorang pria bernama Lyle Wirth. Tugasnya hanya menceritakan kembali kejadian naas malam itu di depan semua anggota klub bernama The Kill Club. Tak hanya membuka trauma lama, Libby terpaksa harus merubuhkan keyakinannya bahwa Ben adalah pelaku semuanya, sekaligus melakukan penyelidikan sendiri untuk menemukan kebenaran di balik kasus pembunuhan yang sudah lama ditutup ini.

Bagi penggemar cerita investigasi, DP punya premise yang sangat menarik. Mungkin beberapa bisa dengan mudan menebak, namun Brenner sudah berupaya cukup keras untuk menjaga misterinya hingga klimaks. Meski berjalan cukup lambat dalam menyampaikan kepingan-kepingan informasinya, namun kesemuanya ditata dengan cukup efektif dan tetap mengundang rasa penasaran penonton. Hingga akhirnya investigasi yang menarik untuk diikuti ini diruntuhkan begitu saja dengan sebuah revealing yang sama sekali tidak berasal dari informasi-informasi sebelumnya. It’s like you’re facing a twisting truth that has no connection with any leads you’ve collected before. Sebuah twisting yang masih menarik sebenarnya, namun cara penyampaiannya membuat penonton merasa dikhianati oleh investigasi dari sudut pandang Libby yang menjadi referensi penonton selama sekitar 100 menit. Untung saja sebuah konklusi psikologis karakter Libby Day sebagai dampak dari terselesaikannya kasus ini tergolong cukup  memuaskan.

Bukan penampilan terbaiknya, namun Charlize Theron di sini sekali lagi membuktikan kualitasnya sebagai aktris yang punya kelas tersendiri. Nicholas Hoult tidak begitu istimewa dengan porsinya yang tergolong sangat sedikit. Sementara aktor-aktris yang memerankan karakter masa lalu, seperti Christina Hendricks sebagai sang ibu, Patty Day, Tye Sheridan sebagai Ben Day muda, dan Chloƫ Grace Moretz sebagai Diondra muda, justru menunjukkan performa yang lebih berhasil merengkuh emosi serta simpati penonton.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan teknis DP. Mulai sinematografi, editing, tata suara, dan scoring tergolong biasa saja. Setidaknya cukup untuk menghantarkan ceritanya yang gelap namun tidak terlampau depresif, sehingga masih cukup bisa dinikmati di balik pace-nya yang lambat.


Overall, DP jelas tidak boleh dilewatkan oleh pecinta cerita investigasi. Tak akan menjadi film yang terlalu istimewa, remarkable, atau mungkin juga tak akan memuaskan, namun cukup layak untuk menjadi salah satu referensi film investigasi yang menarik.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates