Tuesday, November 17, 2015

The Jose Flash Review
Bus 657 (Heist)

Langkah yang dilakukan oleh Stephen Cyrus Sepher bisa jadi teladan bagi siapa saja yang ingin menjadi sineas tapi tidak tahu harus bermula dari mana. Hanya dengan modal US$ 350.000 saja, Sepher nekad memproduksi film panjang pertamanya berjudul One More Round, sebuah drama komedi tentang krisis paruh baya. Diikuti beberapa film pendek, puncaknya tahun 2011 Sepher memproduksi 4 Minutes bersama Ray Liotta, yang berhasil dinominasikan untuk Best Director dan Best Short Film di Noor International Film Festival. Setelah itu, Sepher berhasil menjual naskah berjudul Bus 657 untuk diproduksi oleh Emmett/Furla/Oasis Films dengan budget US$ 25 juta. Scott Mann, sutradara Inggris yang sering menang penghargaan untuk film pendek, ditunjuk untuk duduk di bangku sutradara, sementara Lionsgate Premiere bersedia menjadi distributor untuk limited release di layar lebar dan VoD (video on demand). Meski salah satu bintangnya adalah Robert DeNiro, keputusan rilis terbatas dan VoD, sempat membuat saya menyangsikan kualitasnya. Apalagi dengan budget ‘hanya’ US$ 25 juta padahal bergenre action thriller dan berani pasang Robert De Niro, apa yang bisa diharapkan? Namun setelah melihat hasil akhirnya, rupanya saya terlalu meng-underestimate Bus 657 yang di US dirilis dengan judul Heist.

Pemilik sebuah casino besar yang dikenal sebagai The Pope, dikenal sebagai orang yang sangat keji. Ia tak segan-segan menghabisi siapa saja yang berani mencuri darinya, sekecil apapun nilainya. Adalah Vaughn, salah satu karyawan setianya yang harus dihadapkan pada pilihan sulit ketika sang putri dirawat di rumah sakit dan butuh biaya yang cukup besar untuk operasi. Karena menaati prinsipnya, The Pope tak mau sedikitpun membantu Vaughn, meski tau Vaughn cukup lama setia bekerja dengan jujur di casino-nya. Sebuah tawaran kerja sama datang dari Cox, salah satu petugas security yang baru bekerja di casino itu beberapa bulan. Melihat keadaan dan pengetahuan Vaughn, Cox mengajaknya merampok casino The Pope, bersama temannya, Dante dan Mickey. Rencana pun disusun. Nyatanya sukses merampok, bukan berarti mereka bisa lolos begitu saja. Tak diduga mereka harus menyandera sebuah bus bernomer 657 untuk meloloskan diri. Kali ini mereka tak hanya berurusan dengan anak buah The Pope, tapi juga polisi. The Pope pun memilih untuk mengejar secara diam-diam, mengingat uang yang dirampok Vaughn dan timnya adalah hasil money laundry yang tentu membahayakan diri dan casino-nya jika sampai diendus polisi.

Cliché? Sangat. Sudah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus kali anak yang sakit dijadikan motivasi cerita perampokan. Formula penyanderaan bis pun bukan barang baru, mengingat kita pernah menyaksikan formula action thriller serupa dengan sangat maksimal lewat Speed-nya Jan de Bont dan bahkan Swordfish-nya Dominic Sena yang punya adegan penyanderaan bis gila-gilaan di klimaksnya. Baik Mann maupun Sepher mungkin belum berhasil sampai selevel itu, tapi Bus 657 ternyata tampil dengan cukup memikat sebagai sebuah action thriller. Setidaknya berhasil menghadirkan ketegangan dan rasa was-was dari penonton. Kelebihan lainnya, naskah Sepher yang dikerjakan bersama Max Adams berani menampilkan kejutan-kejutan twist yang didukung oleh setup-setup relevan sebelumnya. Bahkan memberikan latar belakang lebih untuk karakter The Pope yang mengkontraskan dad-daughter issue dengan Vaughn, membuat cerita cliché-nya tak terkesan asal ada dan punya kedalaman lebih. Namun bukan berarti naskahnya tanpa celah. Beberapa keputusan polisi yang terkesan terlalu mudah ‘memuluskan’ semua permintaan Vaughn dan kawan-kawan tanpa motivasi yang kuat, membuat beberapa logika cerita terkesan agak dipaksakan. Memang sih alasan-alasannya masih bisa dilogika, namun dibandingkandengan  resikonya, tetap saja terkesan tak sebanding. Well, agak mengganggu, tapi atas nama mulusnya alur cerita, masih sah dilakukan. Apalagi dibayar dengan adegan-adegan action thriller yang cukup menegangkan, twist yang cukup mengasyikkan, dialog yang mengena dengan beberapa joke, dan isu utama yang digarap lebih dalam. Not bad at all. Pretty good, actually.

Kepercayaan mengisi karakter utama ternyata dimanfaatkan dengan cukup meyakinkan oleh Jeffrey Dean Morgan sebagai Vaughn. Berkat porsi dan kekuatan aktingnya yang cukup dominan serta dibawakan dengan baik pula, kharisma karakter Vaughn berhasil mengundang simpati penonton. Dave Bautista yang baru saja kita lihat di Spectre masih memerankan karakter tipikal yang sudah melekat erat pada dirinya. Robert De Niro seperti biasa tampil maksimal dengan kharisma aktingnya yang luar biasa, meski karakternya tak terlalu unik dan tergolong tipikal untuk dirinya. Gina Carano cukup bad-ass meski porsinya tak terlalu banyak. Mark-Paul Gosselaar pun cukup mencuri perhatian sebagai karakter abu-abu, Marconi.

Untuk teknis, entah faktor apa yang membuat gambar-gambar Bus 657 tergolong buruk. Mulai grainy pada gambar-gambar gelap sampai cukup banyaknya gambar yang blur dan pecah-pecah untuk aerial shot. Padahal konon di-shot menggunakan Red Epic. Mungkin faktor mastering untuk bioskop Indonesia atau memang aslinya seperti itu. Just awful. Sementara untuk tata suara lebih dari cukup untuk menghidupkan nuansa action thriller-nya, kendati tak ada yang terlalu istimewa pula. Not bad at all for a US$ 25 million movie.

Well, yeah. Penyutradaraan Mann maupun naskah Sepher mungkin belum sekelas Speed-nya Jan de Bont atau Swordfish-nya Dominic Sena. Namun sebagai sebuah debut dengan budget minim untuk genre tersebut, it’s way way beyond expectation. Menghibur dan heart warming.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates