Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Monday, November 30, 2015

The Jose Flash Review
Brush with Danger

Di tengah carut-marut yang tiada hentinya di Indonesia, kabar baik dari dunia internasional tentang bangsa ini tentu menjadi angin segar tersendiri. “Prestasi” sekecil apapun jadi bahan yang bagus untuk di-blow up dan dijadikan materi “inspirasi” dalam negeri. Mulai trend-lah istilah “anak bangsa” yang jadi sering digunakan sebagai materi jualan. Masyarakat Indonesia yang kebanyakan memang masih inferior bisa saja ikut-ikutan ‘bangga’, tapi terbukti tetap saja belum berhasil jadi label jualan yang efektif, apalagi jika tidak disertai dengan produk akhir yang cukup memuaskan. Film animasi ‘karya anak bangsa’ yang konon mengklaim diri dilirik Disney, Battle of Surabaya, salah satu contohnya. Namun rupanya publisis-publisis film kita masih belum kapok menggunakan formula ini yang digunakan lagi untuk ‘menjual’ ‘film Hollywood pertama karya anak bangsa’, Brush with Danger (BwD). Nama Livi Zheng yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh publik Indonesia lantas menjadi selebriti yang di-interview di berbagai talkshow ‘inspiratif’. Belum lagi misleading informasi yang masih sering dilakukan media kita menuliskan bahwa BwD masuk nominasi Oscar. Padahal faktanya, BwD hanya masuk dalam daftar Oscar Eligible Movies. Artinya, setelah didaftarkan, ia memenuhi syarat yang sudah ditetapkan juri, seperti minimal tayang di bioskop komersial selama 7 hari berturut-turut dan berdurasi lebih dari 40 menit. BwD masih harus berkompetisi dengan 322 judul film lain di tiap kategori yang didaftarkan. Melihat hasil akhir yang sudah kita tahu bersama, jelas pemberitaan BwD masuk nominasi Oscar adalah salah. Entah disengaja atau tidak, mengingat rendahnya kontrol editorial media kita dan minimnya wawasan masyarakat Indonesia tentang film. November ini akhirnya publik Indonesia bisa menilai sendiri seperti apa hasil akhir ‘film Hollywood karya anak bangsa’ ini.

Iming-iming American Dream membuat kakak-beradik, Alice dan Ken menjadi imigran gelap lewat kontainer ke Seattle. Setelah mencoba menjadi penjual lukisan Asia di lapak semacam weekend market namun gagal menarik perhatian, Ken mencoba beratraksi seni bela diri dan rupanya berhasil. Sedikit demi sedikit uang pun terkumpul dari aksi street performer ini. Keberuntungan mulai menghampiri setelah mereka menolong seorang nenek-nenek bernama Elizabeth dari perampokan. Untuk membalas budi, Elizabeth memberikan makanan dan tumpangan sambil mempekerjakan mereka di kedai makan miliknya. Muncul pula Justus Sullivan, pemilik galeri lukisan yang tertarik dengan karya Alice dan berniat membantu menjualnya. Justus juga membantu Ken menyalurkan hobinya berbela diri. Baru ketika Justus minta dibuatkan copy lukisan Van Gogh, Alice mulai curiga. Ternyata semua itu ternyata harus dibayar dengan sebuah ancaman bahaya. Apalagi Justus diduga terlibat kematian seorang wanita Asia misterius yang mayatnya ditemukan di tepi sungai.

Plot seperti ini jelas sudah sangat sangat generik. Apalagi dengan berbagai stereotype Asia yang sudah lama melekat di Amerika Serikat, seperti pasti jago bela diri. Termasuk pula jalan cerita cliché menolong orang yang dirampok, balas budi, sampai ‘jebakan-jebakan’ orang kulit putih untuk mereka. Well, kalau mau dibilang rasis, it is, meski konteksnya sebenarnya anti-racist. Kenyataannya, BwD justru mengamini rasisme dan stereotype orang Asia di Amerika Serikat. Sebenarnya ini tak jadi masalah jika setidaknya bisa dikemas lebih menarik. Sayangnya, BwD tidak demikian. Lihat saja adegan Ken dan Alice beratraksi di jalan yang menarik perhatian banyak orang. Sorry to say, jika saya melihat hal yang demikian di jalan, saya bahkan tidak tertarik untuk berhenti dan menyaksikan, apalagi sampai memberi applause.  Atraksi yang ditampilkan sangat biasa, bahkan dari sudut pandang penonton terawam sekalipun. So, I guess it’s very delusional jika pengguna-pengguna jalan di Seattle sampai menyoraki penampilan mereka. Tak hanya itu, pertarungan-pertarungan Ken di atas ring pun gagal untuk menarik perhatian saya. Sorry to say, in this attempt, BwD still has to fail.

Sub-plot investigasi pembunuhan sebenarnya bisa menjadikan keseluruhan film lebih menarik jika diangkat menjadi plot utama. Nuansa investigasi bisa jadi ‘kemasan’ yang lebih menjual ketimbang drama mengharu-biru kakak-adik imigran gelap, apalagi pada kenyataannya tak berhasil pula mencapai tujuannya gara-gara terlampau cliché, shallow, dan story telling yang masih jauh dari menarik. Ke-cliché-an berlanjut sampai ending yang membuat American dream jadi semakin cheap. Sorry to say, if you made BwD to inspire people, inspire to what? Untuk jadi imigran gelap dan meraih American Dream dengan begitu instant-nya? Well, I guess formula seperti ini hanya akan berhasil untuk menarik hati penonton di daerah-daerah pelosok yang masih lugu.

Keputusan memasang diri sendiri dan saudaranya sebagai lead juga menjadi tanda tanya besar buat saya. Sorry to say, Ken Zheng jauh dari kata kharismatik untuk menjadi lead character. And look at his eyes… it’s just blank and empty. Livi mungkin sedikit lebih bisa akting, namun masih jauh pula dari kata cukup layak, apalagi untuk ‘kelas’ Hollywood. Untung saja di deretan supporting cast masih lebih baik, setidaknya masih bisa membuat BwD terasa film beneran, bukan film tugas akhir anak kuliahan. Terutama Norma Newkirk sebagai Justus dan Stephanie Hilbert sebagai Elizabeth. Sementara Nikita Breznikov masih terasa kurang kharismatik sebagai detektif Nick Thompson.

Beruntung Livi berhasil menarik kru-kru yang menjadikan karya debutnya punya teknis yang profesional dan setidaknya, layak. Terutama sinematografi Ryan Purcell yang piawai memanfaatkan pencahayaan sehingga menghasilkan gambar yang tajam dan tone menarik. Scoring Garry Schyman masih tergolong generik dan hanya sampai terasa cukup dalam mengiringi adegan-adegannya. Tata suara digarap dengan biasa saja, tak ada yang stand out, termasuk juga pemanfaatan fasilitas surround yang tak begitu terasa.

Tanpa tahu ‘unsur’ Indonesia di dalamnya, mungkin BwD tidak akan dilirik distributor lokal untuk diimpor dan tayang di sini. Well, BwD memang bukan karya yang cukup pantas untuk membuat slogan “film Hollywood pertama karya anak bangsa” jadi membanggakan, namun kegigihan dan kenekadan Livi untuk mewujudkan mimpinya masih patut diapresiasi. Kekurangan masih sangat banyak di sana-sini, terutama sebagai penulis naskah, sutradara, dan… pemilihan cast. Please, please, please… Pilih cast secara profesional dong. It’s Hollywood lho, bukan tugas akhir kuliah. Semoga saja segala materi promosi BwD yang delusional dan terkesan hanya sekedar cari popularitas bukan datang dari Livi Zheng sendiri. Jika tidak, maka ia hanya akan menambah daftar panjang ‘anak bangsa yang delusional di kancah internasional’. Semoga saja tidak. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 29, 2015

The Jose Flash Review
Skakmat

Fenomena The Raid ternyata membawa gaung perubahan yang cukup besar untuk perfilman Indonesia. Sejak kesuksesannya (dan juga sekuelnya, The Raid: Berandal), produser-produser mulai melirik lagi genre action untuk film Indonesia setelah sempat cukup lama dihindari. Padahal di tiap era film Indonesia, genre action selalu ada. Sebelum The Raid, terakhir generasi Dede Yusuf yang ‘berani’ unjuk gigi di layar bioskop. Satu per satu film action Indonesia bermunculan. Bahkan seorang Gatot Brajamusti atau yang dikenal dengan nama AA Gatot pernah tertarik memproduksi dan membintangi sendiri film action fenomenal, Azrax. Tahun ini, Fajar Nugros sudah menggarap action komedi dengan star-ensemble sebagai salah satu daya tariknya. Di penghujung tahun, MNC Pictures yang sudah memproduksi 7/24, Di Balik 98, dan 3 Dara, mencoba peruntungan di ranah action-comedy, yang konon menjadi perpaduan formula pas untuk penonton Indonesia yang haus tontonan pure entertainment. Tak mau tanggung-tanggung, Salman Aristo didapuk sebagai penulis naskah, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Ody C. Harahap.

Menjadi seorang tukang ojek rupanya tak cukup bagi Jamal yang punya mimpi besar jadi seorang entrepreneur. Sayang tak banyak hal yang bisa dilakukannya dengan benar hingga semua orang, termasuk sang ibu, menganggapnya hanya membawa sial. Pacarnya, Mirna, juga sedang diujung tanduk karena dijodohkan dengan orang lain oleh orang tuanya. Kondisi ini dibaca oleh Ivan yang akhirnya memanfaatkan Jamal untuk mengantar seseorang bernama Dito ke Bos Tanah Tinggi. Dengan tawaran uang yang cukup banyak, Jamal menyanggupi. Ternyata Dito juga menjadi buruan dari Mami Tuti, germo yang mengirim gerombolan anak buah untuk menghabisi nyawanya. Jamal yang tak berdaya akhirnya harus menuruti rencana Dito. Terkuaklah masa lalu dan rencana Dito dengan Bos Tanah Tinggi sebelum akhirnya meletus perseteruan antara Dito, Geng Bos Tanah Tinggi, dan Mami Tuti.

ak ada yang benar-benar istimewa dari plot Skakmat. Mulai dari asmara yang menjadi motivasi karakter utama terlibat ‘dunia hitam’, tema balas dendam, prostitusi, dan perang geng. Semuanya diramu dengan kepiawaian Salman Aristo dalam sebuah naskah yang cerdas, berbobot, namun tak melupakan unsur hiburannya. Berbagai formula komedi, terutama chaotic comedy, diselipkan di sana-sini, yang bagusnya, cerdas dan menyatu dengan sangat baik dalam cerita maupun adegan-adegan laganya. Tak selalu mengundang tawa terbahak-bahak, namun setidaknya berhasil membuat saya tersenyum dan mengakui kualitas guyonan-guyonannya.

Analogi catur dalam cerita juga menjadi elemen yang menarik. Meski kehadirannya secara ‘fisik’ dalam cerita termasuk kurang nge-blend dan terkesan sekedar asal ada, namun nyatanya punya relevansi yang sangat kuat dengan cerita secara keseluruhan. Saya pun memaklumi penjelasan analogi ini dalam dialog meski sebenarnya tak perlu. Wajar, mengingat target audience utama Skakmat adalah penonton menengah ke bawah yang belum terlalu familiar dengan konsep analogi. So let’s say, it tried to introduce this kind of concept to them. Hitung-hitung, sekalian mengedukasi penonton.

Namun sebenarnya yang tak boleh dilupakan oleh Skakmat sebagai sebuah film action adalah energi yang cukup untuk membuatnya seru untuk diikuti. Jangan salah, Skakmat punya semua adegan pertarungan yang diidam-idamkan penonton. Termasuk four-way-fight Donny Alamsyah-Cecep Arif Rahman-Hannah Al Rashid-Tanta Ginting yang mengalahkan three-way-fight-nya Yayan Ruhiyan-Dian Sastrowardoyo-Kelly Tandiono di Gangster. Adegan pertarungan-pertarungannya pun ditata lebih natural ketimbang Gangster yang terkesan staged. Namun somehow energi action Skakmat masih berada di bawah Gangster. Entah faktor penyutradaraan, tata kamera, editing, atau tata suara efek. I just feel it could have been fueled even more.

Tanta Ginting yang selama ini lebih sering membawakan peran-peran serius, kali ini membuktikan bisa bagus juga memainkan peran komedik bak aktor lenong. Dengan logat Betawi yang kental, gesture heroine bodor, dan haircut norak, Tanta mendominasi hampir keseluruhan atmosfer komedik Skakmat dengan sangat baik. Donny Alamsyah pun membangun chemistry bodor yang tak kalah gokilnya dengan Tanta. Kehadiran Cecep Arif Rahman dan Hannah Al Rashid memeriahkan film dengan peran-peran yang meski tipikal mereka, masih berhasil menarik perhatian.

Di teknis, sinematografi Padri Nadeak menyumbangkan angle-angle yang berhasil merekam tiap adegan fight-nya dengan cukup epic. Mulai one-on-one fight, keroyokan, sampai four-way-fight di klimaks dan favorit saya, pertarungan di celah gang sempit, semuanya terekam dengan sangat baik. Namun visual yang prima ternyata tidak diikuti tata suara. Sebagai film action, tata suara Skakmat masih terasa sangat kurang untuk menciptakan energi dan atmosfer keseruan. Bukannya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membuat adegan-adegan fight-nya terkesan lebih seru, fasilitas surround malah dimanfaatkan untuk gimmick yang tidak begitu esensial. Scoring-nya pun masih terkesan dimasukkan dan diedit dengan kurang halus, termasuk untuk theme song Jika dari Virzha yang sebenarnya punya lirik dan melodi yang cocok untuk energi Skakmat secara keseluruhan.


In the end, Skakmat menjadi sajian yang cukup berhasil menghibur, baik dengan adegan-adegan action-nya maupun jokes-nya. Tak sampai menjadi film yang benar-benar bakal memorable, namun come on… Terlihat sekali Skakmat hanya berniat sekedar untuk menghibur. Dengan naskah Salman yang menjadikan plot generiknya jadi jauh lebih menarik dan jajaran cast yang ada, Skakmat jelas lebih dari sekedar layak untuk menjadi tontonan ringan yang menghibur.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 25, 2015

The Jose Flash Review
The Hunger Games: Mockingjay Part 2

Setiap franchise besar (setidaknya dari segi komersial) selalu punya akhir yang sejatinya memuaskan semua fans setianya. Tak heran jika ada part terakhir dari franchise besar yang sengaja dibagi dua bagian. Idealnya, supaya tiap detail yang ada di source aslinya (dalam banyak kasus, novel) tak terlewatkan dalam versi film. Tentu ini semata-mata tak lepas dari tujuan ingin memuaskan para fanatik yang lebih mengutamakan kepersisan dengan materi asli. Alasan tambahan yang tak kalah penting, terutama dari segi produser, pemasukan yang berlipat. Harry Potter sudah membuktikan formula ini berhasil, karena memang menjalankan kedua fungsi tersebut secara simultan. Twilight Saga juga mengekor formula ini dengan cukup berhasil pula (terutama dari segi komersial) meski tak bisa bohong bahwa Breaking Dawn part 1 terasa tidak berisi, yang untungnya tertolong dengan part 2 yang menghadirkan visualisasi pertarungan akhir yang seru meski tidak nyata. Sekali lagi studio Lionsgate tidak mau melepaskan salah satu franchise pendulang emas terbesarnya, The Hunger Games, berakhir begitu saja. Tak hanya membagi seri terakhir, Mockingjay menjadi dua bagian, Lionsgate pun berencana untuk membuat whether prekuel atau sekuel dari part terakhir ini. Well, selagi bisa diperah, kenapa tidak bukan? Apalagi studio independent yang tak sering-sering bisa menghasilkan keuntungan besar.

The Hunger Games: Mockingjay Part 1 (THGM1) terasa tidak begitu banyak pergerakan cerita selain memperkenalkan President Alma Coin dari District 13 yang memimpin gerakan pemberontakan terhadap President Snow dan pemerintahan Panem, serta pembuatan video propaganda dengan Katniss Everdeen sebagai simbol perlawanan, maka di part 2 inilah puncak perlawanan pecah dan mengakhiri segalanya. President Alma berhasil mengumpulkan pasukan dari berbagai distrik dan siap melancarkan serangan ke Capitol dan melengserkan President Snow. Bukan perkara mudah karena President Snow sudah mengantisipasi dengan menyebarkan pod jebakan di seluruh penjuru Capitol menuju ke istana President Snow. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan para mutt, makhluk mutan ciptaan President Snow. Tak hanya perang yang membuat Katniss harus membuat keputusan-keputusan penting, tapi juga antara kekasihnya sejak lama, Gale, atau pasangan settingan selama di Hunger Games, Peeta, yang menunjukkan kasih sayang lebih selama ini.

Adalah hal biasa jika satu seri dipecah menjadi 2 bagian, maka awal dari bagian ke-2 menjadi jembatan yang mengingatkan penonton dengan apa yang terjadi di part 1. Begitu juga dengan THGM2 yang 20 menit awalnya berusaha me-refresh ingatan penonton, terutama tentang hubungan antara Katniss dan Peeta yang tak jelas. Karakter Katniss yang menjadi sentral pun diberi pilihan dilematis yang akhirnya membawa kita ke momen-momen seru dan menegangkan, yaitu ketika pasukan pemberontak mulai masuk ke Capitol. Mulai menghindarkan diri dari jebakan pod yang breathtaking, kejar-kejaran dengan genangan minyak, sampai serangan mutt. Sedikit mengingatkan saya akan The Maze Runner: Scorch Trials belum lama ini, namun dengan visualisasi dan rangkaian adegan yang jauh lebih seru dan menghibur.

Sayangnya rangkaian adegan seru tersebut adalah all that you can get from this installment. THGM2 memilih visualisasi yang lebih “adem ayem” untuk menutup keseluruhan ceritanya. Sebenarnya tak ada yang salah, mengingat secara keseluruhan di balik adegan-adegan laga, THG punya plot politik dan sosial yang kental. Maka sebuah ending yang membuat saya bergumam “ya begitulah politik” ketika menghadirkan twist-nya. It’s a good conclusion dimana Katniss dibuat punya pilihan keputusan sendiri yang menurutnya bisa membawa masa depan lebih baik untuk Panem ketimbang kemungkinan bakal jatuh ke lubang yang lain lagi yang mungkin malah lebih dalam dan lebih gelap. Who knows. Namun yang patut disayangkan adalah, after all of what happened all this time, sebuah klimaks yang visualisasinya ‘begitu saja’ jelas membuatnya terasa semacam antiklimaks. Not bad, even very realistic, but can’t lie that it’s such an anticlimax feel.  Tak lupa THGM2 juga menutup dengan konklusi dari sudut pandang personal Katniss sendiri, yang mungkin tidak dipedulikan oleh sebagian penonton, namun sebenarnya sebuah konsistensi dari sudut pandang penceritaan dan perkembangan karakter Katniss selama ini.

Setelah semua yang dialami oleh Katniss dan kebingungan di THGM1, Jennifer Lawrence diberi cukup banyak kesempatan di sini untuk menunjukkan tiap detail emosi dan dilematis yang dialami karakternya. Dengan kualitasnya selama ini, Lawrence jelas memberikan performa yang terbaik di sini. Sementara aktor-aktris pengisi karakter-karakter lain masih tampil stabil dari sebelum-sebelumnya, mulai Josh Hutcherson sebagai Peeta, Woody Harrelson sebagai Haymitch, Donald Sutherland sebagai President Snow, Julianne Moore sebagai President Alma, Sam Claflin sebagai Finnick Odair, sampai Liam Hemsworth yang tetap saja gagal mencuri simpati penonton untuk bersanding bersama Katniss gara-gara performanya yang masih saja datar.

Terakhir, tentu saja performa terakhir dari Alm. Philip Seymour Hoffman menjadi fokus tersendiri. I know we’re gonna miss his performance after this.

Dari jajaran teknis, saya mencatat desain produksi Philip Messina yang luar biasa, mulai dari tiap sudut Capitol yang meski terkesan hancur namun masih tetap terlihat nuansa sophisticated dan stylish-nya, sampai butik milik Tigres yang mengingatkan kita akan betapa fashionable-nya franchise ini di installment-installment awal. Impressive! Adegan-adegan menegangkannya didukung oleh visual effect dan sinematografi Jo Willems yang berhasil memframing tiap adegan sesuai kebutuhan. Tiap adegan terasa begitu megah apalagi di layar IMAX, meski tanpa efek 3D yang terasa begitu signifikan, baik dalam bentuk depth apalagi gimmick pop-out. Sementara scoring dari James Newton Howard mencapai titik emosi puncaknya di sini.


Setelah menyaksikan THGM part 1 dan part 2, sebenarnya sangat terasa bahwa pemecahan seri terakhir menjadi 2 bagian ini sangat mubazir. Part 1 jadi terasa hanya sekedar intro dari sebuah kejadian-kejadian massive, sementara part 2 seperti kehabisan excitement-nya  meski sudah didukung dengan momen-momen aksi yang breathtaking. Apalagi dengan klimaks yang terkesan antiklimaks seperti ini, part 2 terasa sedikit lebih baik daripada part 1. Sebagai sajian yang punya momen-momen seru dan konklusi yang secara konsep bagus, saya masih bisa menikmati THGM2, namun saya juga tak bisa bohong bahwa energi THGM2 tak sekuat The Hunger Games atau The Hunger Games: Catching Fire. Tentu saja bagi yang sudah mengikuti franchise ini sejak awal atau bahkan menjadi fans beratnya, THGM2 sayang untuk dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 24, 2015

The Jose Flash Review
Nay

Meski lahir dari keluarga film (ayah seorang sutradara, Sjumandjaja, dan ibu seorang aktris, Tuti Kirana), Djenar Maesa Ayu lebih dikenal sebagai penulis yang sudah menelurkan beberapa novel dan cerpen. Tulisan-tulisannya yang berani dan cenderung provokatif lebih banyak mengangkat teman perempuan. Tahun 2008 ia memberanikan diri menjadi sutradara Mereka Bilang Saya Monyet, gabungan dari 2 cerpen tulisannya sendiri, Lintah dan Melukis Jendela. Diikuti Saia yang juga tayang terbatas di tahun 2009. Tahun 2015, Djenar kembali menelurkan karya film yang ia tulis, sutradara, dan produseri sendiri, Nay. Meski punya kesamaan nama karakter dari salah satu novelnya, Nayla, tapi film ini sama sekali bukan adaptasi dari novel tersebut. Uniknya, Nay didominasi oleh karakter utamanya, Nay yang hanya berkomunikasi lewat telepon seluler dan sesekali ber-monolog.

Sejak awal (dan juga sepanjang film) kita diperkenalkan dengan Nay yang sedang menyetir tanpa jelas arah di suatu malam di Jakarta. Awalnya ia meminta pertanggung jawaban pacarnya, Ben, karena ia tengah hamil. Namun Ben ternyata lebih memilih peduli dengan sang ibu daripada Nay. Mendengar kabar Nay, ibu Ben pun ikut menuduh Nay macam-macam. Merasa dendam dengan Ben dan ibunya, Nay memutuskan untuk tetap melahirkan bayinya, with or without Ben. Apalagi ia juga bersumpah untuk menjadi ibu yang lebih baik daripada ibunya dulu. Satu per satu detail masa lalu pun terkuak hingga menjelaskan pola pikir Nay saat ini.

Secara gaya penceritaan, Nay jelas sangat mengingatkan dengan film Inggris yang dibintangi Tom Hardy tahun 2013, Locke. Apalagi juga sama-sama punya hubungan dengan kehamilan dan dialog-dialog imajiner dengan orang tua. Namun persamaan hanya sejauh itu saja. Nay hanya memanfaatkan gaya penceritaan yang serupa untuk mengembangkan karakter Nay dan mengulik masa lalu Nay, terutama lewat adegan-adegan monolog (baca: dialog imajiner antara Nay dan ibunya). Lewat percakapan-percakapan sepanjang film, kita diajak untuk mengenal Nay, terutama tentang pola pikir-pola pikirnya yang harus diakui banyak diadaptasi oleh sebagian dari kita.

Masih mengusung tema kekerasan terhadap wanita sebagai latar belakang cerita, seperti ke-khas-an Djenar biasanya. Kali ini kita diajak untuk ikut memikirkan dan merasakan menjadi Nay, salah satu korban kekerasan yang harus mengambil keputusan tentang dirinya ke depan. Inilah yang menjadi kekuatan utama Nay: ia menjadi sebuah kontemplasi yang universal tentang kehidupan. Tentang sejauh mana kita bisa menyalahkan seseorang atas apa yang terjadi dalam diri kita, konsekuensinya, bagaimaa kita memandang suatu masalah dengan berbagai sudut pandang, tidak hanya melalui mata ego kita, dan yang paling penting, keputusan bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Karena itulah yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya. Terkesan kasar, blak-blakan, dan cerewet, namun mampu menjadi sebuah kontemplasi yang cukup dalam dan menyeluruh tentang hidup. Tak hanya dalam konteks sempit ‘wanita’, tapi juga secara universal. Ini jelas berbeda dengan isu yang diusung Locke, meski sama-sama punya benang merah “seseorang yang berusaha bertanggung jawab untuk tidak menjadi sama dengan sang orang tua”. Setidaknya jika Locke memlih untuk menyampaikan isunya melalui perkembangan cerita, Nay lebih sebagai sebuah kontemplasi. Termasuk juga lewat senandung Que Sera Sera yang punya relevansi cukup kuat dengan cerita.

Tampil solo, Sha Ine Febriyanti sangat berhasil menghidupkan karakter Nay. Tak hanya berhasil membuat sepanjang durasi Nay yang berpotensi membosankan menjadi jauh lebih menarik. Meledak-ledak namun masih natural dan jauh dari kesan menjengkelkan. Meski sepanjang film Ine sering tampak kurang convincing sedang menyetir, yang lebih penting Ine sudah berhasil menyampaikan sekaligus menggerakkan emosi penonton.

Selain Ine, aktor-aktor lainnya hanya tampil lewat suara. Seperti Paul Agusta, Cinta Ramlan, Niniek L Karim, Farishad Latjuba, dan Joko Anwar. Hanya Farishad yang menurut saya terdengar seperti membaca dan jauh dari kesan natural, sementara yang lain memberikan voice cast yang convincing dan bernyawa.

Keterbatasan setting membuat teknis harus bekerja lebih keras untuk menjadikan keseluruhan film lebih menarik dan tak terkesan monoton. Ipung Rachmat Syaiful (tahun ini juga menghasilkan Guru Besar Tjokroaminoto dan Surga yang Tak Dirindukan) memberikan tata kamera yang cukup variatif dan merekam tiap emosi Ine dengan maksimal. Ditambah editing yang serba pas dari Wawan I Wibowo dan tak lupa tata musik dari Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang membangun mood Nay yang kelam namun berkelas.

Dikerjakan secara indie (bahkan sempat menggunakan metode crowd-funding), Nay adalah karya sederhana yang mampu memberikan impact cukup besar bagi saya. Tak se-solid Locke sebagai sebuah film cerita, namun berhasil membuat saya merefleksikan berbagai isu kehidupan yang ia angkat. Sampai sejauh ini, jelas Nay menjadi karya yang berhasil di mata saya, sekaligus menjadi salah satu film Indonesia yang paling berkesan tahun ini.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 17, 2015

The Jose Flash Review
The Gift

Selama ini kita mengenal Joel Edgerton sebagai aktor, terutama lewat Warrior, The Great Gatsby, dan Exodus: Gods and Kings. Namun siapa sangka ternyata ia punya talenta lebih di belakang layar, yaitu penulis naskah dan sutradara? Ini adalah suatu kejutan setelah 2013 lalu aktor Wentworth Miller membuktikan diri bisa jadi penulis naskah yang bagus lewat Stoker. Hebatnya, di The Gift, Edgerton merangkap sekaligus sebagai penulis naskah, sutradara, dan salah satu aktor utama. Dengan premise home invasion dengan misteri masa lalu sebagai kunci, The Gift tentu menjadi menarik untuk disimak.

Simon dan pasangannya, Robyn, memulai hidup baru dengan pindah ke suburban California. Simon mendapatkan pekerjaan di sebuah firma sekuritas, sementara Robyn memilih untuk beristirahat setelah mengalami keguguran. Tak disangka, Gordon, seorang kawan lama Simon menyapa. Gordon bersikap manis dengan terus-menerus mengirimkan hadiah ke rumah Simon. Sementara Robyn menyambutnya dengan positif, Simon justru mencium gelagat tidak baik. Pasalnya ada kasus antara Simon dan Gordon di masa kecil mereka yang berdampak besar. Rahasia Simon sedikit demi sedikit terkuak, namun menurut Gordon semuanya sudah terlambat.

Secara garis besar, Edgerton menawarkan sebuah psychological thriller yang menarik untuk dibahas. Tak sekedar home invasion thriller biasa, Edgerton menuliskan naskah yang cukup detail dan rapi untuk The Gift. Alhasil, ia memiliki kedalaman cerita latar belakang dan karakter yang lebih, yang disampaikan per layer. Isu bullying yang diangkat menjadi begitu tought-provoking dengan twist-ending yang sedikit ‘nakal’. Berani, namun mampu secara efektif menggugah sudut pandang serta emosi penonton tentang kasus bullying (dan juga tentang how far you know about your spouse?)

Sayangnya, ada beberapa part yang membuat story telling-nya masih terkesan kaku. Ada pula beberapa part yang tidak begitu relevan dengan plot utama sehingga agak mengganggu nuansa thrill yang sudah dibangun secara perlahan, serta fokus cerita secara keseluruhan. Ada beberapa jumpscare yang benar-benar bikin terhenyak, tetapijika dirasa-rasa lagi secara keseluruhan, ada banyak potensi thrill yang bisa jauh lebih gripping namun terlewatkan begitu saja. Well, mungkin sudah menjadi konsep Edgerton sejak awal untuk penontonnya lebih menggunakan otak ketimbang emosi ketika menyaksikan The Gift. Masih belum sempurna, tapi debutnya ini sudah bisa dikatakan sangat baik dan punya potensi yang besar.

Sebagai aktor utama, Joel Edgerton sukses menjadikan karakternya sangat creepy. Ramah, tenang, namun menyimpan misteri yang bisa saja membahayakan. Di lini berikutnya, Rebecca Hall memainkan peran penggerak emosi penonton yang cukup berhasil mengundang simpati penonton. Sementara Jason Bateman juga tak buruk tapi juga tak istimewa, sebagai karakter yang dibuat berubah dari putih menjadi hitam seiring dengan cerita.

Sinematografi Eduard Grau merekam tiap detail adegan dengan sangat baik sesuai kebutuhan cerita, sekaligus memframing production design Terry Anderson yang modernly beautiful. Tata suara dan musik bekerja cukup efektif untuk membangun nuansa thrill dan jumpscare-nya.


In the end, The Gift hadir sebagai psychological thriller yang tak sekedar mengumbar adegan pemompa adrenaline ataupun kekerasan (bahkan tak ada adegan darah sedikit pun!), namun membangun ketegangan melalui karakter Gordon dan detail adegan. Dengan kedalaman cerita serta karakter yang lebih, juga twist yang cerdas, ia menyampaikan tema anti-bullying dengan sangat efektif. Meski sebagai sebuah thriller, ada banyak potensi yang terasa tidak dimaksimalkan. But hey, it’s a very great debut from Edgerton as a screenwriter and director, anyway. Kudos!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Bus 657 (Heist)

Langkah yang dilakukan oleh Stephen Cyrus Sepher bisa jadi teladan bagi siapa saja yang ingin menjadi sineas tapi tidak tahu harus bermula dari mana. Hanya dengan modal US$ 350.000 saja, Sepher nekad memproduksi film panjang pertamanya berjudul One More Round, sebuah drama komedi tentang krisis paruh baya. Diikuti beberapa film pendek, puncaknya tahun 2011 Sepher memproduksi 4 Minutes bersama Ray Liotta, yang berhasil dinominasikan untuk Best Director dan Best Short Film di Noor International Film Festival. Setelah itu, Sepher berhasil menjual naskah berjudul Bus 657 untuk diproduksi oleh Emmett/Furla/Oasis Films dengan budget US$ 25 juta. Scott Mann, sutradara Inggris yang sering menang penghargaan untuk film pendek, ditunjuk untuk duduk di bangku sutradara, sementara Lionsgate Premiere bersedia menjadi distributor untuk limited release di layar lebar dan VoD (video on demand). Meski salah satu bintangnya adalah Robert DeNiro, keputusan rilis terbatas dan VoD, sempat membuat saya menyangsikan kualitasnya. Apalagi dengan budget ‘hanya’ US$ 25 juta padahal bergenre action thriller dan berani pasang Robert De Niro, apa yang bisa diharapkan? Namun setelah melihat hasil akhirnya, rupanya saya terlalu meng-underestimate Bus 657 yang di US dirilis dengan judul Heist.

Pemilik sebuah casino besar yang dikenal sebagai The Pope, dikenal sebagai orang yang sangat keji. Ia tak segan-segan menghabisi siapa saja yang berani mencuri darinya, sekecil apapun nilainya. Adalah Vaughn, salah satu karyawan setianya yang harus dihadapkan pada pilihan sulit ketika sang putri dirawat di rumah sakit dan butuh biaya yang cukup besar untuk operasi. Karena menaati prinsipnya, The Pope tak mau sedikitpun membantu Vaughn, meski tau Vaughn cukup lama setia bekerja dengan jujur di casino-nya. Sebuah tawaran kerja sama datang dari Cox, salah satu petugas security yang baru bekerja di casino itu beberapa bulan. Melihat keadaan dan pengetahuan Vaughn, Cox mengajaknya merampok casino The Pope, bersama temannya, Dante dan Mickey. Rencana pun disusun. Nyatanya sukses merampok, bukan berarti mereka bisa lolos begitu saja. Tak diduga mereka harus menyandera sebuah bus bernomer 657 untuk meloloskan diri. Kali ini mereka tak hanya berurusan dengan anak buah The Pope, tapi juga polisi. The Pope pun memilih untuk mengejar secara diam-diam, mengingat uang yang dirampok Vaughn dan timnya adalah hasil money laundry yang tentu membahayakan diri dan casino-nya jika sampai diendus polisi.

Cliché? Sangat. Sudah berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus kali anak yang sakit dijadikan motivasi cerita perampokan. Formula penyanderaan bis pun bukan barang baru, mengingat kita pernah menyaksikan formula action thriller serupa dengan sangat maksimal lewat Speed-nya Jan de Bont dan bahkan Swordfish-nya Dominic Sena yang punya adegan penyanderaan bis gila-gilaan di klimaksnya. Baik Mann maupun Sepher mungkin belum berhasil sampai selevel itu, tapi Bus 657 ternyata tampil dengan cukup memikat sebagai sebuah action thriller. Setidaknya berhasil menghadirkan ketegangan dan rasa was-was dari penonton. Kelebihan lainnya, naskah Sepher yang dikerjakan bersama Max Adams berani menampilkan kejutan-kejutan twist yang didukung oleh setup-setup relevan sebelumnya. Bahkan memberikan latar belakang lebih untuk karakter The Pope yang mengkontraskan dad-daughter issue dengan Vaughn, membuat cerita cliché-nya tak terkesan asal ada dan punya kedalaman lebih. Namun bukan berarti naskahnya tanpa celah. Beberapa keputusan polisi yang terkesan terlalu mudah ‘memuluskan’ semua permintaan Vaughn dan kawan-kawan tanpa motivasi yang kuat, membuat beberapa logika cerita terkesan agak dipaksakan. Memang sih alasan-alasannya masih bisa dilogika, namun dibandingkandengan  resikonya, tetap saja terkesan tak sebanding. Well, agak mengganggu, tapi atas nama mulusnya alur cerita, masih sah dilakukan. Apalagi dibayar dengan adegan-adegan action thriller yang cukup menegangkan, twist yang cukup mengasyikkan, dialog yang mengena dengan beberapa joke, dan isu utama yang digarap lebih dalam. Not bad at all. Pretty good, actually.

Kepercayaan mengisi karakter utama ternyata dimanfaatkan dengan cukup meyakinkan oleh Jeffrey Dean Morgan sebagai Vaughn. Berkat porsi dan kekuatan aktingnya yang cukup dominan serta dibawakan dengan baik pula, kharisma karakter Vaughn berhasil mengundang simpati penonton. Dave Bautista yang baru saja kita lihat di Spectre masih memerankan karakter tipikal yang sudah melekat erat pada dirinya. Robert De Niro seperti biasa tampil maksimal dengan kharisma aktingnya yang luar biasa, meski karakternya tak terlalu unik dan tergolong tipikal untuk dirinya. Gina Carano cukup bad-ass meski porsinya tak terlalu banyak. Mark-Paul Gosselaar pun cukup mencuri perhatian sebagai karakter abu-abu, Marconi.

Untuk teknis, entah faktor apa yang membuat gambar-gambar Bus 657 tergolong buruk. Mulai grainy pada gambar-gambar gelap sampai cukup banyaknya gambar yang blur dan pecah-pecah untuk aerial shot. Padahal konon di-shot menggunakan Red Epic. Mungkin faktor mastering untuk bioskop Indonesia atau memang aslinya seperti itu. Just awful. Sementara untuk tata suara lebih dari cukup untuk menghidupkan nuansa action thriller-nya, kendati tak ada yang terlalu istimewa pula. Not bad at all for a US$ 25 million movie.

Well, yeah. Penyutradaraan Mann maupun naskah Sepher mungkin belum sekelas Speed-nya Jan de Bont atau Swordfish-nya Dominic Sena. Namun sebagai sebuah debut dengan budget minim untuk genre tersebut, it’s way way beyond expectation. Menghibur dan heart warming.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 16, 2015

The Jose Flash Review
Prem Ratan Dhan Payo

Reputasi Salman Khan sebagai box office hitmaker masih bertahan. Setelah sukses besar lewat Bajrangin Bhaijaan, tahun 2015 ini Salman mengeluarkan amunisi keduanya, Prem Ratan Dhan Payo (PRDP) yang sengaja dipersiapkan untuk menyambut hari raya Dilwali. Diadaptasi dari kisah klasik The Prince & The Pauper, PRDP ditulis dan disutradarai oleh sineas Hindi yang tak main-main, Sooraj R. Barjatya, yang sudah 10 tahun absen setelah Vivah tahun 2006 lalu. Setelah beberapa minggu penghasilan film-film Hindi tergolong lesu, PRDP menjadi angin segar dengan pencapaian rekor film Hindi keempat yang berhasil mengumpulkan lebih dari 100 crore (US$ 15 juta) di 3 hari pertama, mengalahkan Bajrangi Bhaijaan dan Dhoom 3. Dengan pencapaian ini, tentu star-factor Salman Khan masih tidak boleh diremehkan.

Prem Dilwale adalah aktor drama panggung yang sebenarnya sedang berada dalam krisis. Namun hati yang tulus membuatnya tetap menyumbangkan sebagian besar penghasilannya ke sebuah yayasan yang dimiliki oleh Maithili, gadis muda cantik yang dikabarkan akan dinikahi pangeran Pritampur, Vijay Singh. Mendengar kabar Maithili akan mengunjungi Pritampur, Prem ditemani Kanhaiya, berniat bertemu dan memberikan sumbangannya secara langsung.

Di sisi lain, Pangeran Vijay jatuh sekarat setelah lolos dari upaya pembunuhan. Padahal upacara penobatannya sebagai Raja Pritampur tinggal beberapa hari lagi. Tak sengaja kepala pengamanan Istana Pritampur, Sanjay, menemukan Prem yang ternyata punya wajah sangat mirip dengan Vijay. Karena panik, Prem didapuk untuk menyamar menjadi Vijay sampai kesehatannya membaik. Prem menyetujui dan mulai memainkan peran sebagai Vijay. Ternyata ini bukan hal yang mudah karena selama ini Vijay punya tabiat dan watak yang menyebabkan banyak kebencian, terutama dari Maithili sendiri dan adik tirinya, Rajkumari Chandrika, Rajkumari Radhika, dan Ajay Singh. Perlahan Prem berusaha memperbaiki image Vijay dan menyatukan semuanya. Namun tentu tidak mudah, apalagi ancaman pembunuhan kepada Pangeran Vijay yang gagal membuat nyawa Prem jadi incaran.

Dari sinopsis tersebut basic cerita Prince & The Pauper begitu terasa dengan jelas. PRDP membangun kerajaan fiktif dengan nuansa budaya Hindi dengan sangat megah dan indah. Lengkap dengan istana, kostum, dekorasi, dan koreografi yang luar biasa grande. Namun sayangnya cerita yang cenderung cliché dan sudah berulang kali didaur ulang ini terasa begitu panjang dan bertele-tele dengan durasinya yang mencapai 164 menit. Sedikit lebih panjang daripada kebanyakan film Hindi akhir-akhir ini yang rata-rata sekitar dua setengah jam. Ada cukup banyak sub-plot yang harus diceritakan dan diselesaikan. Dengan storyline yang sebenarnya cukup padat dan dibumbui dengan cukup banyak humor, nyatanya belum mampu meng-uplifting storytelling-nya jadi lebih menarik dan enjoyable. Agaknya PRDP perlu humor dengan dosis yang lebih tinggi dan lebih  menarik untuk membuatnya jadi lebih enjoyable. Untung saja PRDP masih punya momen-momen emosional yang somehow selalu berhasil, terutama dalam konteks ‘romance’ dan ‘family value’.

Memainkan 2 peran yang sama sekali berbeda, Vijay dan Prem, terbukti tidak menjadi masalah bagi Salman. Meski tak terlalu istimewa juga, Salman melakoni keduanya dengan sangat baik. Setidaknya penonton masih bisa membedakan keduanya di layar di balik fisik yang sama persis selain kumis, berkat pembedaan karakter (terutama dari segi gesture dan kharisma) yang jelas. Sonam Kapoor masih mampu mempesona dengan peran tipikal lead actress film Hindi. Anupam Kher memainkan karakter Bapu Diwan Sahab yang surprisingly menarik. Deepak Dobriyal sebagai Kanhaiya mampu menghidupkan karakter comedic dengan cukup berhasil pula. Sedikit mengingatkan saya akan sosok aktor dan sineas Italia, Roberto Benigni.

Di balik storytelling-nya yang masih terasa kurang menghibur, desain produksi berhasil mengambil alih peran wow-factor-nya. Lihat saja set-set yang begitu megah, mulai dari istana Pritampur sampai teater Prem. Tak terkecuali desain kostum, koreografi, serta sinematografi yang sangat berhasil mengeksplorasi tiap sudut keindahannya dengan maksimal. Tata suara dan musik juga mendukung kemegahan berkat pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Meski tak banyak musik yang berhasil menempel terus di benak saya, namun tetap saja tampil menghibur dan masih berkorelasi dengan cerita utama. Setidaknya diletakkan pada momen dan dengan porsi yang pas.


PRDP sebenarnya berpotensi menjadi sebuah film fairy tale tentang romance dan yang lebih penting, keluarga, yang begitu hangat, manis, dan indah. Sayang dengan durasi yang begitu panjang dan storytelling yang terkesan melelahkan, membuatnya less enjoyable. Tapi jika Anda menontonnya dengan santai dan tidak buru-buru walk out, PRDP masih menyimpan cukup banyak momen-momen emosional yang berhasil. Lagipula sayang rasanya jika harus melewatkan kesempatan menjadi saksi kemegahannya di layar lebar.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Badoet

Penonton film Indonesia mungkin mengenal nama Daniel Topan sebagai aktor pendukung di film-film horor seperti Danau Hitam dan Oo Nina Bobo, atau dengan porsi yang sedikit lebih besar di Street Society. Namun ternyata Daniel punya background pendidikan yang membuatnya layak pula duduk di belakang layar, Daniel mengantongi gelar master degree in film making di New York Film Academy.  Maka Daniel mencoba peruntungan memproduseri film sendiri di bawah payung DT Films. Kiprahnya dimulai dengan sebuah film horor yang trailernya sempat menarik perhatian pecinta horor di seluruh dunia, Badoet. Daniel menggandeng sutradara yang gemar mencoba berbagai genre namun dengan kualitas dan style signatural, Awi Suryadi, yang pernah mengarahkannya di Street Society.

Badoet mengambil setting di sebuah rumah susun pinggiran kota Jakarta. Kehidupan bertetangga yang harmonis terusik ketika sekelompok anak-anak tak sengaja bermain petak umpet di sebuah pasar malam yang masih belum buka. Vino, salah satu dari anak-anak itu, membawa pulang sebuah kotak musik dari salah satu stand di pasar malam. Siapa sangka kotak musik yang ia tunjukkan ke teman-temannya ini membawa bencana. Satu per satu temannya tewas secara misterius. Teror ini membuat Donald, seorang mahasiswa yang juga sering menjadi teman main Vino, penasaran. Bersama Farel, sepupu Donald, dan Kayla, mereka mencoba mengungkap apa yang menjadi penyebab kasus-kasus kematian misterius itu. Petunjuknya, kesemua anak yang meninggal meninggalkan gambar-gambar sosok badut. Ketika ketiganya hampir menjadi korban, muncul Nikki, cewek indigo yang sebelumnya sempat twit-war dengan Donald di twitter. Feeling Nikki yang tidak enak berujung pada revealing siapa sosok badut yang misterius ini.

Sosok badut di film horor sebenarnya masih tergolong sangat jarang. Namun karena pernah tampil dengan sangat menyeramkan hingga menjadi sosok iconic di It (1990). Kemudian Eli Roth tahun 2014 juga pernah mencoba memproduseri Clown yang juga menampilkan  sosok badut di film horor. Dengan referensi yang tak terlalu banyak, maka tak heran jika banyak yang teringat dengan film-film tersebut sejak Badoet diperkenalkan, bahkan tak sedikit yang menuduhnya menjiplak. Wajar, mengingat banyak orang Indonesia (yang belum tentu merupakan penonton film Indonesia juga) yang selalu sinis dengan film Indonesia dan hanya jago menuduh plagiat padahal hanya berbekal referensi yang minim. Jika mau melihat lebih dalam, Badoet punya cerita yang jauh berbeda. Ada pula yang mengatakan The Conjuring dan Sinister sebagai referensi, itu juga wajar. Jika Anda pernah berada di project film-making tentu Anda tahu betul bahwa ketika pitching naskah pun, Anda akan diminta untuk menyebutkan beberapa judul sebagai gambaran bakal seperti apa look dan feel filmnya nanti. So, it’s really not about originality at all. Lagian, what’s really really original nowadays? Semua judul yang disebutkan juga punya referensi mirip dengan plot film lain sebelumnya. So let’s not make these as issues, apalagi tanpa modal referensi dan informasi yang cukup.

Back to Badoet. Dari trailernya tak sedikit yang mengira ini adalah sebuah thriller pembunuhan. Tak sepenuhnya salah, namun sebenarnya Badoet adalah pure horror dengan latar belakang mistik (baca: Badoet menghadirkan sosok makhluk halus, bukan manusia pembunuh). Namun jangan keburu skeptis dulu. Kendati menghadirkan makhluk halus dan masih menyisakan beberapa jumpscare yang menjadi ‘hiburan utama’ bagi kebanyakan penonton horor kita, namun ia tak mau terjebak menjadi horor murahan  yang hanya bermodalkan jumpscare. Ia justru memanfaatkan teror kematian yang bikin deg-degan di paruh pertama film. If you remember how it felt when watching Final Destination, yang mana justru teror kematian itu sendiri yang paling menyeramkan, di situlah Badoet banyak bermain. Didukung dengan atmosfer rumah susun dan pasar malam, sinematografi, editing, serta tata musik yang semakin meneror penonton, Badoet dengan sangat sukses menghantui penonton secara psikologis. Bahkan bagi saya yang sebenarnya tergolong ‘tahan banting’ ketika menonton film horor, Badoet berhasil membuat saya merinding tidak karuan, sampai-sampai membuat mata saya sedikit berair. Ini sangat jarang terjadi ketika saya menonton film horor. Maka itu artinya Badoet berhasil, dan harus saya akui, ia punya momen-momen paling seram dari semua film horor yang pernah saya tonton, termasuk film-film Hollywood.

Namun bukan berarti Badoet tanpa celah. Tidak, saya tidak akan mengeluh tentang dialog yang memang dibuat se-simple mungkin agar bisa dipahami dan dinikmati seluas-luasnya range penonton. Tapi yang tak bisa dipungkiri adalah setelah membangun misteri dengan sangat kuat, ia seolah kebingungan bagaimana menyajikan penjelasan dan penyelesaiannya. Meski divisualisasikan dengan gore yang masih menarik, revealing moment-nya terkesan ‘gampangan’. Begitu juga dengan penyelesaian yang semakin kehilangan excitement. Untung saja ketika klimaks penyelesaiannya, ada dua adegan yang dibuat intercut, sehingga intensitasnya meski terkesan sedikit  menurun, namun tak sampai terjerumus ke jurang enerji terendah. Setidaknya, penonton masih bisa dibuat berdebar-debar dan gregetan. Bahkan saya berpikir, intercut ini sengaja dimasukkan karena menyadari satu adegan resolve maka akan membuat tensinya menurun secara drastis. A good move. Apalagi segera setelah itu, tensi dan nuansa ngeri diangkat lagi di bagian akhir yang sukses membungkus Badoet menjadi tontonan horor yang paling berkesan tahun ini, bahkan in years in term of film Indonesia.

Di jajaran karakter utamanya, sebenarnya tak ada yang benar-benar tampil menonjol (dan tak terlalu perlu juga sebenarnya). Namun setidaknya penampilan kesemuanya tak mengganggu tujuan utama, yaitu menciptakan nuansa horor sengeri dan seseram mungkin. Daniel Topan sendiri masih tak jauh-jauh dari peran tipikalnya, meski kali ini dengan peran utama yang tentu punya porsi jauh lebih banyak. Begitu juga dengan Christopher Nelwan yang tahun lalu kita lihat di Marmut Merah Jambu dan Aurellie Moeremans yang barusan kita lihat di Tarot dan duologi LDR.  Yang tampil paling menarik perhatian justru Tiara Westlake sebagai Nikki yang tampil jauh berbeda dibanding peran-perananya di sinetron dan FTV sebelumnya. Ronny P. Tjandra yang kali ini ditunjuk sebagai sosok Sang Badut pun memberikan aura yang mengerikan. Tanpa membaca namanya di credit mungkin saya tak akan menyangkan jika dirinya yang berada di balik make up itu. Terakhir, penampilan Ratu Felisha sebagai ibu Vino, dan Fernandito Raditya sebagai Vino sendiri, juga patut mendapatkan pujian, terutama di adegan klimaks.

Di teknis hampir semuanya berhasil ‘menyumbangkan’ nyawa yang diperlukan pun juga maksimal untuk Badoet. Mulai sinematografi Jimmy Indra yang cukup banyak bermain variasi angle untuk menghadirkan atmosfer horor, desain produksi Ikent Gimbal, terutama untuk setting pasar malam dan kamar si badut, dan make up Aktris Handradjasa yang dengan brilian menghadirkan sosok badut menjadi begitu signatural. Terakhir, tata suara dari Khikmawan Santosa dan musik Ricky Lionardi, semakin menghiasi atmosfer horornya menjadi lebih maksimal, termasuk dalam memanfaatkan fasilitas surround dengan maksimal.

So yes, meski belum sempurna sebagai satu sajian utuh yang bagus, setidaknya Badoet sudah sangat berhasil dalam menghadirkan horor yang menghadirkan atmosfer kengerian sengeri-ngerinya. OTeror yang dihadirkan benar-benar terasa dan dibangun dengan sangat baik. Konsep cerita pun disusun dengan sangat baik tanpa harus dibuat ribet dan kompleks, masih pas dengan penggemar horor Indonesia. Dialog yang terkesan lebih banyak bercanda juga membuatnya terkesan ringan dan menyenangkan untuk ditonton seru-seruan rame-rame. Come on… jujur, tujuan utama Anda nonton horor untuk ‘merasakan’, bukan untuk berpikir keras, bukan? If you think so, yes, Badoet is a horror you really shouldn’t miss in theatres! Jika Anda menyukainya dan want even more, open ending-nya memberikan kesempatan untuk itu. So make it 100.000 audiences minimal, and prepare for more Badoet to come. If you think the verdict I've given is quite weird, saya memang sengaja membuat verdict sedikit lebih tinggi dari 3.5/5. Menurut saya Badoet layak mendapatkan lebih dari 3.5/5 tapi masih belum sempurna untuk mencapai 4/5. So, 3.75/5 mungkin adalah verdict yang paling pas.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 10, 2015

The Jose Flash Review
Dark Places

Pernah dengar nama Gillian Flynn? Meski secara internasional, namanya baru dikenal luas ketika salah satu novel thriller investigasi yang diangkat ke layar lebar, Gone Girl tahun 2014 lalu, Flynn yang punya background jurnalis sebenarnya sudah menulis 3 novel investigasi sejak tahun 2006, yaitu Sharp Objects (2006) dan Dark Places (2009). Mungkin faktor kesuksesan Gone Girl, baik secara komersial maupun di berbagai ajang penghargaan, membuat novel-novel Flynn sebelumnya ikut dilirik untuk diangkat ke layar lebar. Gilles Paquet-Brenner (Walled In dan Sarah’s Key) adalah yang berhasil mendapatkan hak mengadaptasi Dark Places (DP) ke layar lebar. Meski dengan skala produksi yang jauh lebih kecil ketimbang Gone Girl yang digarap oleh sutradara sekaliber David Fincher, Brenner berhasil menggandeng aktor-aktris sekaliber Charlize Theron, Nicholas Hoult, dan Chloë Grace Moretz.

Sejak awal film kita diperkenalkan dengan protagonis, Libby Day, seorang wanita yang menjelang usia 30 tahun namun tidak menjadi atau bekerja sebagai apa-apa karena selama ini mendapatkan sokongan dana dari sumbangan orang-orang yang bersimpati kepadanya. Seluruh keluarganya dibantai pada suatu malam; sang ibu dan kedua saudarinya. Karena kesaksian Libby, pengadilan mendakwa saudara laki-lakinya, Ben Day, sebagai tersangka. Libby yang hampir kehabisan uang akhirnya menerima tawaran dari seorang pria bernama Lyle Wirth. Tugasnya hanya menceritakan kembali kejadian naas malam itu di depan semua anggota klub bernama The Kill Club. Tak hanya membuka trauma lama, Libby terpaksa harus merubuhkan keyakinannya bahwa Ben adalah pelaku semuanya, sekaligus melakukan penyelidikan sendiri untuk menemukan kebenaran di balik kasus pembunuhan yang sudah lama ditutup ini.

Bagi penggemar cerita investigasi, DP punya premise yang sangat menarik. Mungkin beberapa bisa dengan mudan menebak, namun Brenner sudah berupaya cukup keras untuk menjaga misterinya hingga klimaks. Meski berjalan cukup lambat dalam menyampaikan kepingan-kepingan informasinya, namun kesemuanya ditata dengan cukup efektif dan tetap mengundang rasa penasaran penonton. Hingga akhirnya investigasi yang menarik untuk diikuti ini diruntuhkan begitu saja dengan sebuah revealing yang sama sekali tidak berasal dari informasi-informasi sebelumnya. It’s like you’re facing a twisting truth that has no connection with any leads you’ve collected before. Sebuah twisting yang masih menarik sebenarnya, namun cara penyampaiannya membuat penonton merasa dikhianati oleh investigasi dari sudut pandang Libby yang menjadi referensi penonton selama sekitar 100 menit. Untung saja sebuah konklusi psikologis karakter Libby Day sebagai dampak dari terselesaikannya kasus ini tergolong cukup  memuaskan.

Bukan penampilan terbaiknya, namun Charlize Theron di sini sekali lagi membuktikan kualitasnya sebagai aktris yang punya kelas tersendiri. Nicholas Hoult tidak begitu istimewa dengan porsinya yang tergolong sangat sedikit. Sementara aktor-aktris yang memerankan karakter masa lalu, seperti Christina Hendricks sebagai sang ibu, Patty Day, Tye Sheridan sebagai Ben Day muda, dan Chloë Grace Moretz sebagai Diondra muda, justru menunjukkan performa yang lebih berhasil merengkuh emosi serta simpati penonton.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan teknis DP. Mulai sinematografi, editing, tata suara, dan scoring tergolong biasa saja. Setidaknya cukup untuk menghantarkan ceritanya yang gelap namun tidak terlampau depresif, sehingga masih cukup bisa dinikmati di balik pace-nya yang lambat.


Overall, DP jelas tidak boleh dilewatkan oleh pecinta cerita investigasi. Tak akan menjadi film yang terlalu istimewa, remarkable, atau mungkin juga tak akan memuaskan, namun cukup layak untuk menjadi salah satu referensi film investigasi yang menarik.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Spectre

Sejak pertama kali diumumkan, pemilihan Daniel Craig sebagai James Bond menggantikan Pierce Brosnan sudah menimbulkan kontroversi dari berbagai pihak, termasuk fanatic James Bond. Kendati kualitas Casino Royale yang ternyata merombak cukup banyak pakem-pakem aslinya, terutama karakteristik James Bond yang dari flamboyan jadi tough and rough, cukup bisa dipertanggung jawabkan, kontroversi terus berlanjut hingga installment keempat yang dirilis tahun 2015 ini, Spectre dan digadang-gadang sebagai film James Bond terakhir dari Daniel Craig. Namun bagaimanapun juga kekuatan brand James Bond yang sudah berusia lebih dari separuh abad tentu tak menyurutkan minat penonton di seluruh dunia untuk terus mengikuti sepak terjangnya di layar lebar. Ini dibuktikan dengan rekor demi rekor yang terus dicetak.

Cerita dibuka dengan pengejaran James Bond terhadap sosok bernama Marco Sciarra di tengah hiruk pikuk festival Día de los Muertos di Mexico City. Ternyata aksinya ini merupakan tindak lanjut dari pesan rahasia M sebelum meninggal. Pasca Skyfall, James Bond move on dengan kehidupannya sebagai agen rahasia berkode 007. Seperti biasa ia lebih suka bekerja sendiri tanpa melibatkan atasan maupun tim sidekick yang biasa membantunya di markas besar MI6. Kematian Marco Sciarra ternyata menuntun James Bond ke sebuah organisasi kejahatan internasional yang selama ini berada di balik tiap kasus besar yang ditanganinya. Bersama Madeleine Swann, putri musuh lawasnya, Mr. White, yang bisa menuntunnya ke musuh utamanya, Franz Oberhauser, yang secara dokumen sudah lama tewas.

Sebelum membandingkan Spectre dengan film-film James Bond era Daniel Craig, sebaiknya Anda memahami dulu seperti apa James Bond yang sebenarnya. Mulai dari karakterisasinya, elemen-elemen iconic yang selalu menjadi komoditas selama lebih dari separuh abad. Ya, film-film Bond punya banyak sekali elemen yang selalu ditunggu-tunggu oleh fans sejatinya. Line, karakter-karakter sekutu maupun villain, Bond Girl, gadget, sampai sekedar opening title. Tidak perlu cerita yang terlalu ribet untuk menghiasinya. In short, Bond is never about the story, but the experience of being a 007 agent. Jika Anda fans lama James Bond dan mengharapkan elemen-elemen asli James Bond, Spectre menawarkan kembali itu semua. Opening gun barrel yang akhirnya diletakkan kembali ke awal film, villain iconic yang tentu mengingatkan fans aslinya kepada iconic villain, Ernst Stavro Blofeld yang pernah muncul di Thunderball dan From Russia with Love, bahkan Hinx yang dengan mudah mengingatkan kepada iconic henchman bernama Jaws, dan puluhan adegan yang menjadi homage terhadap adegan-adegan iconic di film-film James Bond klasik sampai era Pierce Brosnan. For the fans who are familiar with most of James Bond movies, will notice and take this as a very pleasant entertainment. Buat yang penasaran apa saja trivia dan homage yang tersebar di Spectre, bisa diintip di sini (spoiler alert!).

Sayangnya, Casino Royale hingga Skyfall memberikan cerita yang terlalu serius dan rumit untuk sebuah film James Bond. Tak heran jika ada kelompok penonton yang ikut terpengaruh dengan ‘standard’ baru yang sudah terlanjur dipasang. Dengan standard yang demikian, jujur Spectre tidak menawarkan cerita yang benar-benar baru. Bahkan tergolong mirip dengan Mission: Inpossible – Rogue Nation yang kebetulan rilis di tahun yang sama, dengan mix and match adegan dari beberapa film James Bond sebelumnya. Untuk plot, Spectre memilih untuk memiliki kaitan dengan Casino Royale, Quantun of Solace, dan Skyfall, meski tak secara langsung, sehingga penonton yang tak menonton ketiga film ini masih bisa memahami jalan cerita dengan mudah. Tak ada yang baru untuk plot cerita, namun masih dieksekusi dengan gaya Bond yang berkelas dan grande, namun masih mudah dinikmati dan dipahami. Durasi yang 148 menit memang terasa terlalu panjang dan melelahkan untuk sebagian penonton, tapi bagi saya yang familiar dan memang ngefans dengan elemen-elemen klasik James Bond, durasi tersebut sama sekali tak terasa berkat pace yang tergolong padat. Bahkan saya yang biasanya sering melihat jam sebagai patokan pembabakan, sering lupa untuk menoleh ke jam tangan. Memang harus diakui beberapa adegan yang sebenarnya berpotensi menjadi lebih tajam dan emosional namun dilewatkan begitu saja demi menjaga pace dan durasi. Misalnya ketika James Bond mengetahui rahasia terbesar dari masa kecilnya atau chemistry antara James Bond dengan Madeleine. Namun dengan alasan durasi dan pace, saya masih bisa mengkompromikannya.

Above all, kepentingan utama Spectre sebenarnya adalah menunjukkan perkembangan karakter James Bond sendiri yang sudah dimulai sejak perubahan drastic di Casino Royale. Dengan hadirnya Spectre, penonton yang peduli dan memperhatikan perubahan karakter James Bond dari seri ke seri (versi Craig) tentu menemukan transformasi yang natural dan logis hingga menjadi sosok James Bond yang kita kenal sebelum era Craig. Spectre has succeeded to complete this mission, meski Sam Mendes mengakui banyak terinspirasi dari The Dark Knight-nya Christopher Nolan. Bagi penonton yang jeli tentu menemukan referensi dari The Dark Knight di salah satu adegan penting Spectre.

Di installment keempat ini Daniel Craig berhasil menggenapi transformasinya sejak Casino Royale. Meski bagi beberapa penonton Craig terlihat kelelahan, namun harus diakui sepak terjangnya melakoni berbagai adegan aksi masih sangat prima. Mulai adegan pembuka yang fenomenal karena faktor no cut take sepanjang 4 menit dan sangat mendebarkan karena melibatkan puluhan ribu orang, sampai final showdown dengan speedboat yang menjadi tribute terhadap The World is Not Enough, semuanya gripping!

Meski tak menciptakan chemistry yang begitu kuat maupun meyakinkan, namun Léa Seydoux masih memberikan performa terbaik sebagai Bond Girl (atau Bond Lady, sesuai julukan dari Sam Mendes). Punya garis wajah tegas, berkarakter kuat, seksi sekaligus anggun dengan kostum-kostum yang dipakaikan ke tubuhnya. Bond Girl pendukung, Monica Bellucci mungkin porsinya sangat sedikit (dan tentu saja fisik yang tak lagi bisa menipu), namun  kekuatan kharismanya menjadi obat rindu yang cukup manjur. Ralph Fiennes, Ben Whisaw, dan Naomie Harris, yang di film-film Bond sebelumnya hanya duduk manis di markas pun diberi porsi yang lebih banyak dan penting dalam cerita. Tentu tak perlu meragukan kharisma akting masing-masing, bukan?

Dari sudut villain, siapa yang bisa menyangsikan Christoph Waltz yang seolah sudah identik dengan peran-peran villain. Masih tersisa aura Colone Hans Landa dari Inglorious Basterds, namun Waltz tetap berhasil membangkitkan rasa was-was penonton dari karakter yang dihidupkannya, meski lewat joke. Dalam menghidupkan villain iconic, Blofeld, Waltz juga berhasil melebihi kharismatik Donald Pleasance maupun Anthony Dawson untuk peran yang sama. Sementara untuk wrestler Dave Bautista yang menghidupkan karakter henchman Hinx, berhasil pula menghidupkan memori penonton terhadap sosok Jaws dan Oddball. Tak kalah bengis dan mengancam.

Dengan porsi adegan aksi yang cukup banyak, Spectre berhasil memuaskan berkat sinematografi mumpuni dari Hoyte Van Hoytema. Tak hanya berhasil mem-framing gambar-gambar eksotis settingnya, dari London, Milan, hingga Tangier, tapi juga merekam beberapa perfect shot. Tak ketinggalan ‘kesan’ no cut 4 minutes di adegan pembuka yang jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Tata suara pun dengan menggelegar menghidupkan tiap adegan aksinya dengan maksimal, termasuk pemanfaataan fasilitas 7.1. surround dengan sangat maksimal. Suara ledakan, tembakan, lesatan helikopter, dan deru mesin mobil, terdengar dengan sangat renyah dan menggelegar. Membuat saya lupa akan kekecewaan saya atas absen-nya format Dolby Atmos yang sebenarnya lebih mumpuni. Tak banyak score baru dari Thomas Newman, tapi berhasil mendukung beberapa adegan menegangkan, serta tentu saja kemegahan original main score yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi fans sejati. Meski harus saya akui tidak begitu suka dengan Writing's on the Wall-nya Sam Smith yang jadi theme song kali ini, tapi ternyata terdengar cukup nge-blend dengan nuansa Spectre. Mungkin juga faktor opening title yang tetap terlihat keren.

Production design dari Dennis Gassner juga layak mendapatkan kredit lebih berkat setting-setting eksotis yang dimanfaatkan maksimal. Termasuk pula di dalamnya costume design dari Jany Temime yang terutama mendandani James Bond dan Madeleine dengan sangat sempurna.


So in the end, it’s your decision to put yourself in which categories of audience. Fans sejati dari film-film James Bond sebelum Craig yang kangen experience menjadi seorang Bond, fans karena plot cerita bak Casino Royale, atau penonton ‘eceran’ yang sekedar ingin menikmati adegan-adegan aksi bombastis sepanjang hampir dua setengah jam. As for me yang familiar dengan film-film Bond sebelum Craig, Spectre menjadi sajian yang sangat menyenangkan, terutama karena faktor referensi homage yang disebar di sepanjang film, meski saya juga harus mengakui bahwa tak ada sesuatu yang benar-benar baru yang ditawarkan Spectre.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominee for:

  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original SongWriting’s on the Wall – Sam Smith and James Napier
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 6, 2015

The Jose Flash Review
Kakak

Nama Ivander Tedjasukmana mungkin masih tak begitu familiar di telinga penikmat film Indonesia. Padahal kiprahnya di dunia film sudah dimulai sejak menjadi asisten Monty Tiwa di Pocong 3. Kemudian ia dipercaya untuk menyutradarai XXL: Double Extra Large dan akhirnya mendampingi Tiwa di film horor yang sempat fenomenal, Keramat. Sempat menulis naskah Romantini yang masih disutradarai Tiwa, dan terakhir tahun 2014 lalu menyutradarai Kota Tua Jakarta. Akhir tahun 2014 lalu Ivander juga menulis serta menyutradarai sendiri sebuah film horor yang diberi judul Kakak di bawah Firefly Cinema. Untuk penulisan naskahnya, Ivander dibantu oleh Almarhum Kim Kematt (Noble Hearts: Mentari di Ufuk Timur dan Bara di Negeri Hujan) yang baru 1 November 2015 lalu meninggal dunia karena kanker. Kakak menjadi kenang-kenangan terakhir Kim, sekaligus menandai film terakhir Laudya Cynthia Bella sebelum memutuskan untuk berhijab awal tahun 2015 ini.

Adi dan Kirana adalah pasangan muda yang masih belum dikaruniai anak. Gara-gara mengidap asthma, Kirana harus tiga kali keguguran. Khawatir dengan kondisi istrinya, Adi memutuskan untuk membeli sebuah rumah untuk tinggal sendiri, terpisah dari sang Ibu, Aida. Meski awalnya tidak terlalu memberikan pengaruh terhadap Kirana, perlahan Kirana menjadi lebih ceria dan rumah tangga Adi-Kirana pun perlahan kembali menghangat. Usut punya usut ternyata keceriaan Kirana berasal dari sesosok makhluk halus yang dipanggil dengan sebutan ‘kakak’. Meski sempat khawatir, setelah melihat istrinya berubah menjadi lebih baik, Adi memilih untuk membiarkan Kirana dan Kakak berhubungan. Sampai saat Kirana hamil lagi dan Kakak mulai menunjukkan gelagat tidak baik, Adi meminta Kirana untuk memilih: anak yang ada di dalam kandungannya atau Kakak.

Melihat dari ceritanya, Kakak jelas menggunakan pendekatan drama untuk diramu dengan bumbu horor-nya, terutama drama rumah tangga. Tak ada masalah sebenarnya, mengingat drama seperti ini bisa menjadi drive cerita yang menarik dan bagus. Sebagai adegan pembuka, sebuah kilasan kejadian masa lalu yang menceritakan sedikit asal mula karakter Kakak, terasa terlalu berlebihan. Satu kejadian yang melibatkan 5 orang yang saling menyalahkan lalu kemudian sama-sama menyalahkan diri sendiri dan penuh tangis. Penuh dialog-dialog cheesy dan drama banget. Dari sini sebenarnya sudah jelas bahwa latar belakang karakter Kakak bukan menjadi hal yang dipasang untuk membuat penonton penasaran hingga akhir film.

Kemudian ketika masuk ke cerita tentang Adi dan Kirana, barulah sedikit demi sedikit teror dimasukkan sambil membangun hubungan antara keduanya. Pada titik ini sebenarnya cerita tak bergerak terlalu banyak, namun satu per satu adegan teror (yang sebenarnya juga lebih ke komedi ketimbang horor) cukup membuat penonton terhibur. Masih menggunakan formula jumpscare untuk tetap mengesankan horor, namun secara psikologis masih jauh dari kesan horor. Menurut saya, ini karena sosok Kakak digambarkan tidak mengancam meski beberapa kali melakukan penampakan ala Sadako. Barulah ketika Kakak ‘unjuk gigi’ menyerang beberapa karakter, sedikit rasa khawatir muncul pada benak penonton. Itu pun juga tak terasa begitu maksimal karena atmosfernya yang memang kurang mendukung suasana seram. Namun kelemahan terbesar Kakak terletak pada sosok makhluk halus yang tidak cukup ‘hidup’ untuk bisa dikenal dan dirasakan penonton, selain sekedar efek-efek teknis seperti pergerakan benda secara ajaib.

Penampilan Laudya Cynthia Bella menjadi highlight yang paling menonjol dari Kakak. Tak hanya karena porsinya yang mendominasi, namun juga karakter Kirana, seorang istri yang stress karena kerap keguguran, berhasil dihidupkan dengan sangat baik oleh Bella. Kalau mau mengamati karir akting Bella, bisa dibilang ini adalah salah satu atau malah penampilan terbaiknya. Rollercoaster emosinya, mulai stress, ceria, bahagia, gundah, dan takut, terasa begitu natural namun tetap terasa maksimal. Surya Saputra sebagai sang suami tak buruk namun memang tak ada yang istimewa juga. Beberapa kali justru terasa sangat Surya Saputra sehari-hari yang kita kenal, sehingga terkesan tampil lepas. Untungnya chemistry yang dibangunnya bersama Bella termasuk convincing. Highlight berikutnya adalah pemeran Kakak, Yafi Tesa Zahara, yang aktingnya tak terlalu banyak terlihat maupun terasa gara-gara riasan dan pose hantu yang harus menyertainya sepanjang durasi.

Tidak ada yang istimewa dengan sinematografi, selain lebih dari cukup untuk menyampaikan ceritanya. Begitu juga editing yang tergolong pas, terutama dalam menghadirkan momen-momen horornya. Sayangnya desain produksi yang lebih pas untuk genre drama di sini masih terasa sangat kurang untuk mendukung nuansa-nuansa creepy maupun eerie. Saya membayangkan ada cukup banyak adegan horor yang seharusnya bisa lebih maksimal jika didukung desain produksi yang lebih bold. Untuk tata suara dan scoring memang tak ada yang istimewa dan kadang terdengar terlalu gaduh (terutama untuk adegan-adegan jumpscare-nya), namun atas nama memberikan nuansa horor, masih sah lah.

Pada akhirnya, Kakak menjadi horor yang terasa tanggung, namun menjadi sedikit lebih menarik berkat dukungan cerita yang digarap dan dikembangkan dengan cukup layak. Kalau kangen dengan film horor Indonesia yang digarap baik dan ingin melihat Bella tanpa hijab untuk terakhir kalinya, Kakak bisa jadi pilihan tontonan.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates