Monday, October 12, 2015

The Jose Flash Review
The Wedding & Bebek Betutu

Siapapun yang pernah melewati tahun 2004-2009 di Indonesia, pasti pernah mengenal sebuah acara sketsa komedi ala Saturday Night Live bertajuk Extravaganza. Atau bukan tidak mungkin, Anda menjadi salah satu penggemar yang tak mau ketinggalan satu episode pun. Well, Extravaganza memang sempat menjadi acara TV paling top di Indonesia ketika disiarkan yang sekaligus melambungkan aktor-aktrisnya, seperti Tora Sudiro, Indra Birowo, Amink, Ronal Surapradja, Rony Dozer, Virnie Ismail, Sogi Indra Dhuaja, Omesh, Tike Priatnakusumah, Edric Tjandra, Mieke Amalia, dan TJ. Setelah melewati beberapa generasi dan rotasi aktor dan aktris, bahkan beberapa spin-off show, maka tak ada salahnya menghadirkan kembali Extravaganza ke layar lebar. Dengan akumulasi fans masing-masing aktor dan demand penonton Indonesia saat ini yang sepertinya sedang membutuhkan (baca: menggemari) film komedi (lihat saja, tahun ini sudah ada Comic 8: Casino Kings yang sudah sukses melewati angka sakral 1 juta penonton, Komedi Moderen Gokil dengan niat membawa kembali film komedi ala Warkop yang sampai sekarang sudah ditonton sebanyak 282.000 penonton, dan 3 Dara yang juga sudah melewati angka 348.000 penonton dan masih terus bertambah), jelas reuni para pendukung Extravaganza terdengar seperti proyek yang menjanjikan kesuksesan.

Tora dan Mieke yang duduk di bangku produser lantas menggandeng Hilman Mutasi, yang sempat menjabat head writer untuk program Extravaganza. Sebagai penulis skenario, Hilman sendiri punya filmografi yang cukup panjang dan variatif, baik dari segi genre maupun kualitas. Misalnya duologi The Tarix Jabrix, 5 cm, Coboy Junior the Movie, Mama Cake, Potong Bebek Angsa, Sehidup (Tak) Semati, KM 97, Check in Bangkok, Air & Api, dan terakhir awal tahun ini, Kacaunya Dunia Persilatan yang merupakan parodi film-film kolosal Indonesia. Tentu saja berbeda dengan Komedi Moderen Gokil yang konsepnya memang ala Warkop dan tak perlu storyline yang solid, The Wedding & Bebek Betutu (WeBek) menawarkan sebuah film dengan naskah yang sama pentingnya dengan jokes-nya.

WeBek menyorot kehidupan di sebuah hotel mewah yang dimanajeri oleh Angga. Reputasi dan karirnya dipertaruhkan ketika hotel itu didaulat untuk mengurus semua persiapan pernikahan Lana, putri sang owner, Rama Sastranegara. Tingtong dengan wedding organizer Double Rose yang ternama, ditunjuk untuk mengatur semuanya. Namun pernikahan Lana dan Bagas, yang merupakan putra ningrat Jawa, Edo Wicaksono, terancam batal setelah masing-masing di-blackmail. Lana dengan foto-foto mesranya dengan mantan pacarnya, Alex, dan Bagas dengan rekaman video bachelor party bersama sexy dancers. Keadaan menjadi semakin genting ketika Edo meminta dimasakkan Bebek Betutu terbaik di Bandung. Pasalnya, sang chef hotel, Janu, punya trauma dengan bebek. Maka Angga mengutus The Crew supaya pernikahan tetap berjalan lancar. Tim yang pertama, seorang housekeeping bernama Kokom dan tukang reparasi, Buluk, bertugas menyelidiki siapa yang mem-blackmail Lana dan Rama. Sedangkan Janu, ditemani petugas concierge, Mayo, dan bellboy, Noby, bertugas mencari juru masak Bebek Betutu terbaik se-Bandung.

Membaca premise dan menonton trailernya, mungkin Anda melihat pengaruh The Grand Budapest Hotel (TGBH) karya Wes Anderson di WeBek. Harus diakui, inspirasi dari TGBH terasa begitu kental di sini, baik dari segi desain produksi, sinematografi, penulisan karakter-karakter, bahkan sampai formula-formula storytelling-nya. Namun untungnya tak sampai pada storyline-nya. Di awal, Hilman memperkenalkan satu per satu karakter serta konfliknya dengan begitu menarik dan asyik untuk diikuti. Namun sayang, ketika cerita bergerak mendekati klimaks, excitement-nya sedikit menurun. Begitu juga dengan kadar jokes yang semakin jarang muncul, dan itu pun tak semuanya berhasil memancing tawa. Sampai pada satu titik, naskah mulai ‘ngaco’ dan kehilangan energi, terutama ketika adegan Janu-Mayo-Noby bertemu si nenek misterius yang seperti bingung mau dibawa ke mana. Potensi komedi dan ‘fantasi’-nya ada, tapi sayang tak dimanfaatkan.

Naskah mengalami kedodoran terbesarnya ketika menampilkan resolusi utamanya terlebih dahulu sebelum revealing the main case. Selain melangkahi excitement timing-nya, logika cerita pun menjadi timpang. I mean, sebenarnya cerita bisa selesai ketika Lana dan Bagas menyadari hal terpenting dalam hubungan mereka, maka sebenarnya menemukan siapa dalang blackmail tentu tidak menjadi hal yang penting lagi. Sayang, penonton tetap harus di-treat dengan revealing yang layak, setelah mengikuti perjalanan investigasi yang cukup lama (meski dengan logika yang sebenarnya main-main) bukan? Maka Lana-Bagas dibuat berkonflik lagi demi bisa diselamatkan (lagi) oleh penemuan siapa sebenarnya dalang di balik blackmail. Agak memusingkan? Well, that’s what happened in WeBek.

Namun yang membuat WeBek masih layak untuk disimak, tentu saja adalah penampilan para cast yang sudah dekat dengan penonton. Di sini saya patut menyebut nama TJ – Mieke Amalia sebagai pasangan yang menghadirkan konflik paling menarik dan paling lucu sepanjang film. Di urutan berikutnya, saya menyukai salah satu adegan paling lucu sepanjang durasi, yang dibawakan oleh Indra Birowo-Ronal Surapradja. Sementara tim Tora Sudiro-Edric Tjandra-Ibob Tarigan dan Tike Priatnakusumah-Ence Bagus, menurut saya masih gagal untuk memberikan comedic moment yang berkesan maupun sekedar memancing tawa. Selebihnya, Aming dan Rony Dozer, seperti biasa, tetap berhasil menjadi karakter signatural (diri sendiri) yang sudah lucu dari sananya.

Banyak terinspirasi dari TGBH, desain produksi WeBek memang patut diacungi jempol. Terutama sekali tiap sudut GH Universal Hotel yang memang luar biasa indah dan megahnya. Sinematografi Yunus Pasolang lagi-lagi mem-framing tiap adegan dan keindahan settingnya dengan maksimal. Tak hanya hotel, tapi juga desa tempat trio Janu-Mayo-Noby mencari si nenek misterius dan jalanan Kota Bandung. Pergerakan kamera ala Wes Anderson pun diadopsi dengan cukup rapih. Sementara tata suara tak begitu istimewa dan dialognya masih terdengar kurang clear & crisp, scoring Emil Husein terdengar begitu pas dengan nuansa komedik yang dihadirkan WeBek.


Meski masih sedikit kedodoran di naskah (apalagi dengan durasi 110 menit yang tergolong panjang untuk genre komedi) dan persebaran joke yang kurang merata dan masih banyak yang belum berhasil memancing tawa, secara keseluruhan WeBek masih lebih dari layak untuk disimak sebagai tontonan komedi yang segar, menyenangkan, dan menghibur. Apalagi jika Anda termasuk penggemar atau pernah menyukai program Extravaganza, pantang untuk melewatkannya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates