Monday, October 12, 2015

The Jose Flash Review
The Walk


Nama Robert Zemeckis, terutama sebagai sutradara di Hollywood, jelas sudah menjadi semacam jaminan mutu. Tak hanya menggarap film-film serius yang lebih cocok untuk konsumsi festival, Zemeckis juga menangani film-film pure entertainment yang menarik dan tetap dengan kualitas yang tak main-main. Beberapa filmografinya menjadi all-time classics, seperti trilogy Back to the Future, Who Framed Roger Rabbit, dan Forrest Gump. Terakhir, Flight yang dibintangi Denzel Washington masuk bursa Oscar tahun 2013 lalu, meski bukan untuk kategori Best Director maupun Best Picture. Tahun ini, Zemeckis dipercaya untuk menangani sebuah biopic dari high wire artist asal Perancis yang pernah mencatatkan sejarah sebagai manusia yang pernah menyebrangi puncak WTC di New York hanya dengan seutas kawat, Philippe Petit.

Tertarik seni keseimbangan tubuh sejak kecil membuat Philippe Petit terus-menerus melatih diri. Apalagi sejak kehadiran sirkus keliling Les Diables Blancs di kotanya yang semakin menginspirasi dirinya untuk menjadi high-wire artist. Meski berkali-kali diusir oleh sang pemilik sirkus dan akhirnya juga oleh orang tuanya, keteguhan hati Philippe menggerakkan Rudy Omankowski atau yang akrab dipanggilnya Papa Rudy, untuk diam-diam melatihnya. Tak pernah merasa puas meski sudah menyebrangi pilar-pilar Gereja Notre Dame, Philippe berambisi untuk terbang ke New York dan menyebrangi gedung kembar WTC yang saat itu masih belum sepenuhnya jadi. Maka dikumpulkanlah kru yang akan membantu aksinya dan sebuah rencana matang yang tak main-main. Termasuk seorang gadis yang dulunya sempat menjadi rival sebagai seniman jalanan, Annie.

Dari premise dan semua media promosinya, potensi jualan utama The Walk jelas adegan klimaks dimana Philippe menyebrangi gedung kembar WTC dengan hanya seutas kabel. Gimmick IMAX 3D dan 3D juga jelas dimaksudkan untuk mendukung adegan klimaks ini. Namun ternyata Zemeckis tak hanya mau menumpukan harapan pada adegan klimaks itu. Sejak awal, Zemeckis yang menuliskan naskahnya sendiri, dibantu Christopher Browne, mentransformasi buku biografi To Reach the Clouds menjadi sebuah sajian yang sangat fun, cantik, dan fully passionate. Kita diperkenalkan dengan sosok Philippe yang sejak kecil sudah terkesan gigih, ambisius, namun tetap menyenangkan. Tak mau berlama-lama dengan adegan-adegan masa kecil dan muda Philippe, cerita bergerak ke momen di mana Philippe mulai menemukan takdirnya sebagai high wire artist ketika bertemu dengan Annie, dengan kecantikan visual ala classic French cinema. Cantik dan manis. Kemudian cerita bergulir lagi ketika Philippe dan timnya tiba di New York dan melakukan investigasi sebagai persiapan sebelum aksi kudeta menyeberangi gedung WTC. Di fase ini, penonton diajak untuk mengikuti serunya tiap tahapan investigasi bak heist movies macam Ocean’s Eleven.

Hingga pada akhirnya sampai pula kita pada 20 menit klimaks yang menjadi highlight The Walk: adegan yang begitu mendebarkan tak hanya bagi kaum acrophobia. Apalagi ternyata Philippe melakukan lebih dari sekedar berjalan 1 rute. Dengan detail dan variasi adegan serta sinematografi yang sangat memukau, adegan 20 menit ini bisa jadi salah satu cinematic experience yang paling magical sepanjang sejarah perfilman dunia. Tak hanya sampai di situ, adegan-adegan konklusi pasca klimaks masih terus menyuguhkan atmosfer yang heartful, termasuk adegan penutup yang memberikan tribute tersendiri pada salah satu mantan gedung tertinggi di dunia itu. To be honest, adegan tribute sederhana yang dijadikan penutup ini sempat membuat saya berkaca-kaca. Membayangkan betapa hancurnya hati Philippe Petit ketika mendengar musibah 9/11. Betapa saya juga merindukan gedung WTC meski secara pribadi belum pernah mengunjunginya secara langsung.

Joseph Gordon-Levitt tampak paling berkilau sebagai Philippe Petit di sini. Tak hanya berkat aksen Perancis-nya yang terdengar begitu fasih dan otentik, meski masih ada ‘rasa’ komikal yang memang jadi salah satu karakteristik Philippe di film, namun saya dibuat melongo karena melihat perwujudan fisik JGL yang saya kenal selama ini, namun dengan kepribadian yang berbeda sama sekali dengan biasanya. Santai tetapi tetap terasa luar biasa! Tak ketinggalan stunt adegan klimaks yang dilakoninya sendiri. Meski tak benar-benar dilakukan di gedung setinggi itu, namun melakukannya dengan supervisi Philippe Petit sendiri di ketinggian 10 kaki jelas bukan hal yang mudah dilakukan siapa saja.

Seperti biasanya, Ben Kingsley menjadi aktor pendukung yang paling terasa kharismatiknya dan paling loveable meski porsinya tak begitu banyak. Charlotte Le Bon pun membawa chemistry yang tak manis dan hangat dengan JGL. Sementara di lini pendukung lainnya, mulai César Domboy, James Badge Dale, Clément Sibony, dan Steve Valentine yang masing-masing tetap memberikan screen presence yang menarik dalam cerita meski dengan kadar yang berbeda-beda.

Banyak aspek teknis yang menjadi pilar-pilar kekuatan utama The Walk. Terutama sekali sinematografi Dariusz Wolski (langganan Ridley Scott, termasuk yang terakhir, The Martian) yang berhasil mem-framing semua adegan dengan sangat indah dan mengundang emosi penonton. Mulai framing desain produksi yang super cantik ketika adegan di jalanan Paris, yang berhasil menghidupkan visual sinematik Perancis klasik dengan nafas modern berkat pergerakan kameranya, sampai adegan klimaks yang berhasil membuat penonton menahan nafas dan panik. Itulah sebabnya The Walk wajib disaksikan di layar sebesar-besarnya untuk mendapatkan efek dari adegan klimaks yang maksimal. Efek 3D turut bekerja dengan sangat luar biasa dari segi depth serta pop-out gimmick yang mencolok mata. Membuatnya juga sayang untuk tidak dinikmati di layar IMAX 3D. Tata suara tak menawarkan sesuatu yang begitu istimewa, namun lebih dari cukup untuk menghidupkan adegan-adegannya. Terakhir, Alan Silvestri berhasil mempertahankan reputasinya sebagai komposer film handal dengan menghadirkan score-score berkelas instant-classic untuk mengiringi The Walk. Terkadang playful dan quirky, sekaligus secara keseluruhan megah dan heartful, seperti filmnya sendiri. Tak ketinggalan, penggunaan Für Elise-nya Beethoven yang menambah keindahan serta dramatisasi adegan klimaks. 

Di mata saya, The Walk berhasil menyuguhkan keajaiban sinematik yang sudah sangat jarang terjadi. Berkat storytelling yang heartful dan fully passionate. Ringan, seru, fun, tapi hangat dan menginspirasi, terutama tentang passion. Ditambah stunt adegan klimaks yang super mendebarkan, The Walk tak hanya menjadi salah satu film terbaik tahun ini, tapi juga jadi salah satu yang terbaik bagi karir Robert Zemeckis, Dariusz Wolksi, dan tentu saja JGL. A truly magical cinematic experience you wouldn’t want to miss in the largest screen possible, and in 3D.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates