Friday, October 2, 2015

The Jose Flash Review
Southpaw

Nama Antoine Fuqua boleh jadi salah satu sutradara kawakan terutama untuk genre drama thriller bertema crime, dengan sedikit bumbu action. Keberhasilan Training Day masuk bursa Oscar (meski untuk kategori akting, bukan film maupun sutradara) menjadi salah satu buktinya. Karya-karya populer lainnya, seperti Tears of the Sun, King Arthur, Shooter, Brooklyn’s Finest, dan terakhir, The Equalizer, juga tergolong bagus atau setidaknya, menarik. Kali ini Fuqua mencoba membuat pure drama yang ‘menyentuh’ sebagai porsi utama. Bak kisah Cinderella Man atau Warrior, Southpaw menyorot dunia boxing yang menjadi background kisah pergulatan kembali ke puncak setelah sempat jatuh pada titik terendah.

Karir Billy Hope sebagai petinju profesional sempat berada di puncak. Salah satu motivator terbesarnya adalah sang istri, Maureen, dan putri tunggalnya, Leila. Namun roda kehidupan berputar 180 derajat ketika sebuah kejadian menyulut emosinya dan menewaskan Maureen. Sang manajer, Jordan, sama seperti manajer lainnya, tidak bisa banyak membantu. Kehilangan semangat hidup, satu per satu kasus terjadi, hingga Billy harus melepaskan karirnya yang sudah terlanjur berada di atas awan, termasuk Leila yang harus diasuh oleh pihak pemerintah atas perindah pengadilan. Melepaskan egonya, Billy merangkak dari nol lagi untuk meraih semua yang tersisa dari hidupnya.

Di atas kertas, jalan cerita Southpaw memang terkesan klise. Sudah puluhan bahkan mungkin ratusan cerita tentang pergulatan kembali mencapai puncak setelah sempat terjatuh sampai titik terendah, sudah jatuh tertimpa tangga, dengan melibatkan kehilangan seluruh anggota keluarga si karakter utama. Pun juga Southpaw bukan drama terkuat dengan background dunia boxing. Namun naskah Kurt Sutter yang sebelumnya berpengalaman menulis naskah serial-serial papan atas seperti The Shield dan Sons of Anarchy, ditambah penyutradaraan Fuqua yang masih tergolong baik membuatnya menjadi tetap layak diikuti dan setidaknya masih bisa menyentuh emosi penonton. Meski mungkin tak sampai menitikkan air mata. Adegan-adegan pertarungan di atas ring pun terkesan biasa saja, meski adegan pertarungan final di klimaksnya sempat cukup mampu bikin saya tahan nafas dan merasakan intensitasnya. Namun saat final victory tercapai, sekali lagi tak sampai maksimal menekan emosi saya merasakan keharuan.

Satu hal yang patut di-highlight adalah performa yang serba prima dari hampir keseluruhan cast. Terutama sekali Jake Gyllenhaal yang sekali lagi membuktikan kekuatan akting mumpuni. Pride, kepedihan, keputus-asaan, pergulatan, sampai ekspresi seolah-olah sedang mabuk yang ditunjukkan Billy Hope sepanjang film bak rollercoaster emosi yang men-drive emosi penonton sepanjang film. Rachel McAdams juga sekali lagi membuktikan diri mampu memerankan karakter dengan kuat meski dibatasi oleh screentime. Forest Whitaker dan Naomi Harris tak buruk, namun tetap terasa biasa saja, gara-gara karakternya yang memang ditulis biasa saja. 50 Cent pun memberikan performa yang biasa saja meski tetap berhasil membuat karakternya hateable. Sementara pencuri perhatian terbesar adalah Oona Laurence sebagai si cilik Leila.

Tidak ada yang istimewa di teknis, selain penggunaan lagu-lagu rap dan hip-hop untuk memperkuat nuansa dark dan ghetto (namun melankoli)-nya. Terutama theme song Phenomenal yang dibawakan oleh Eminem.


Southpaw memang tak begitu istimewa di berbagai aspeknya, namun akting dari aktor-aktrisnya, terutama Gyllenhaal, membuatnya tetap layak untuk disaksikan. Toh once in a while kita perlu juga diingatkan dan diberi semangat baru. For that matter, Southpaw might be able to deliver ‘em in its way.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates