Thursday, October 8, 2015

The Jose Flash Review
Sicario

Perbatasan Amerika Serikat-Meksiko yang rentan kasus penyelundupan imigran dan narkoba sudah menginspirasi banyak film, seperti Crossing Over dan Traffic. Denis Villeneuve, sutradara asal Kanada yang pernah dinominasikan di Academy Awards 2011 untuk kategori film asing terbaik lewat Incendies, dan pernah membuat penonton tercekat lewat thriller Prisoners, menawarkan thriller terbarunya, Sicario. Secara etimologi, istilah Sicario yang berasal dari bahasa Latin, “Sicarius” yang artinya pria belati, atau lebih umumnya, “pembunuh bayaran”. Istilah ini mulai muncul sejak jaman Kerajaan Romawi dimana di Provinsi Yudea muncul pembunuh misterius yang berasal dari kaum Zelot. Istilah sicario hingga saat ini digunakan untuk menyebut pembunuh bayaran di Bahasa Spanyol dan Portugis.

Berawal dari misi penggerebekan rumah di Arizona yang diduga menjadi sarang kartel Meksiko, Kate Macer, salah satu agen FBI, direkomendasikan untuk terlibat  dalam penyelidikan lebih lanjut. Namun misinya kali ini ia tak lagi bekerja sama dengan tim FBI yang biasanya. Ia harus bekerja sama dengan seorang yang mengaku sebagai penasehat Departemen Pertahanan, Matt Graver, dan partnernya yang misterius, Alejandro Gillick. Sasaran utama mereka adalah seorang bos kartel besar, Manuel Diaz. Kate yang seolah clueless dengan misi ini hanya bisa mengamati dari dekat cara kerja mereka. Menyadari ada yang tidak benar dengan cara kerja mereka dan mendapati diri terjebak di dalamnya, Kate mau tak mau harus menyelesaikan misi yang jauh dari prosedur yang benar ini.

Dari premise demikian, dan juga trailernya yang terkesan sangat badass bin seru, ternyata hasil akhir Sicario agak menipu. Oh yes, adegan-adegan seru dan menegangkan di trailer memang ada di dalam film dan memang worked really good sebagai momen-momen paling mendebarkan sepanjang film, terutama adegan pembuka dan di jalan tol, but that’s all you’ve got. Sisanya, penonton akan lebih banyak disuguhi adegan-adegan yang super lambat untuk menyampaikan ceritanya. Misalnya setelah adegan pembuka yang sudah memompa adrenalin, penonton diajak untuk menjadi Kate yang clueless tentang misi apa yang ada di hadapannya. Detail adegan yang disuguhkan terkesan sangat-sangat lambat and I know a lot of scene details that I didn’t really care. Misalnya long shot panjang perjalanan mobil yang membawa Kate dan timnya. Did I really care about that? Gaya penceritaan seperti ini mengingatkan saya akan Zero Dark Thirty. Bedanya, jika ZDT punya adegan-adegan penting yang harus ditunjukkan ke penonton, Sicario tidak. It’s such a waste of time. Saya sebenarnya tak ada masalah dengan pace yang lambat atau dialog-driven jika memang substansial bagi cerita. Namun yang dilakukan Villeneuve di sini, di mata saya tidak punya esensi apa-apa, selain sekedar gaya-gayaan ala arthouse.  Seandainya saja ia memvisualisasikannya dengan lebih dinamis, cut to cut, dan atau to the point, mungkin Sicario berpotensi menjadi action thriller yang jauh lebih seru untuk diikuti bak karya-karya almarhum Tony Scott, misalnya.

Ada sih reviewer dan penonton yang mengatakan Sicario membangun tensinya melalui silent. I didn’t really get it either. Menurut saya, sebuah thriller bisa berhasil jika penonton dibuat berfantasi tentang the worst thing that could has happened pada adegan-adegan mencekamnya. In this case, misalnya bisa dengan memberikan gambaran betapa brutalnya sang sasaran, Manuel Diaz. Namun karena sosok Manuel Diaz baru dimunculkan di klimaks, maka saya tidak bisa merasa terancam sama sekali dengan sosoknya. Jadi bagaimana saya bisa merasakan tensinya? Jika tujuannya untuk menghadirkan tensi lewat sosok misterius Alejandro yang memang menjadi rujukan judulnya, maka tak relevan juga. Dengan penceritaan yang berasal dari sudut pandang Kate, maka tak mungkin jika Alejandro bakal menyakiti Kate yang notabene berada pada pihak yang sama. Ketegangan antara keduanya baru bisa terasa relevan pasca adegan klimaks, yang berarti tak sampai berdurasi 10 menit. Terus, apa dong yang menjadi fokus penceritaan utama Villeneuve di Sicario, selain gaya penceritaan yang (sok) elegan?

Well, di balik gaya penceritaan yang menurut saya ‘mengganggu’, Villeneuve sebenarnya menghadirkan metafora daerah ‘perbatasan’ Amerika Serikat-Meksiko dengan batasan sejauh mana yang boleh dilakukan untuk membekuk kriminal, yang cukup menarik. But that’s all I found interesting in Sicario. Sorry to say, but I didn’t find something substantial from Villeneuve’s storytelling style here. Very boring.

Bisa jadi gaya Villeneuve yang seperti itu sebenarnya mengandalkan penampilan aktor-aktrisnya dalam bercerita. Untung saja kesemuanya, terutama pengisi tiga  peran utama yang mampu memberikan penampilan terbaik sehingga setidaknya mampu bercerita tentang karakter masing-masing dengan jelas tanpa dialog maupun adegan-adegan background yang berlebihan. Emily Blunt sebagai karakter utama sebenarnya masih memerankan karakter yang tak terlalu beda dengan karakter action hero sebelumnya, seperti Rita di Edge of Tomorrow, namun dengan kualitas pendalaman yang jauh lebih bold dan kuat. Begitu juga dengan Benicio Del Toro yang masih mengingatkan saya dengan karakter yang ia mainkan di Traffic maupun The Hunted. Misterius sekaligus mengancam dalam keheningan.  Sementara Josh Brolin yang tenang dan seringkali melontarkan guyonan, terkesan sama misteriusnya dengan Alejandro. Membuat penonton penasaran di pihak manakah karakter Matt di cerita yang serba abu-abu ini.

Salah satu yang menjadi kekuatan utama Sicario adalah sinematografi Roger Deakins  yang berhasil menampilkan momen-momen menegangkan (yang sangat minim itu) menjadi terasa begitu mencekam. Tak ketinggalan sinematografer yang berpengalaman dalam film bergaya sejenis (seperti No Country for Old Men, dan juga Prisoners bersama Villeneuve) ini menyumbangkan cukup banyak perfect shot yang memanjakan mata. Well, mungkin salah satu tujuan shot-shot panjang dengan detail yang tak begitu substansial itu memang untuk ‘pamer’ shot-shot cantik ini. Who knows?

Tak ada yang istimewa dengan tata suaranya karena memang tak banyak hingar-bingar yang dihadirkan. Meski demikian, pada saat yang tepat, ia menghadirkan kualitas tata suara yang tepat pula. Termasuk score dari Jóhann Jóhannsson yang minim namun pada saat-saat yang tepat hadir semencekam scoring Sinister.


In the end, gaya penceritaan Sicario jelas not for everyone. Jika Anda dibikin penasaran oleh trailernya dan mengharapkan gaya yang sama, maka Anda harus siap mental dulu. Setidaknya jangan nonton dalam kondisi mengantuk. Sisanya, terserah Anda bisa menikmati gaya Villeneuve atau tidak. Yang jelas, saya tidak.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Achievement in Cinematography - Roger Deakins
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Jóhann Jóhannsson
  • Best Achievement in Sound Editing - Alan Robert Murray
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates