Tuesday, October 27, 2015

The Jose Flash Review
Shaandaar

Di sinema Hindi, nama Vikas Bahl menjadi salah satu sutradara yang dianggap punya kualitas di atas rata-rata. Dua karya sebelumnya, Chillar Party dan Queen mendapatkan pujian di mana-mana karena selain punya esensi cerita yang cerdas, juga punya presentasi yang menghibur. Masih di bawah Phantom Films miliknya, tahun 2015 ini Bahl kembali bekerja sama dengan penulis naskah Chaitally Parmar dan Anvita Dutt memproduksi sebuah film berjudul Shaandaar yang kalau dalam Bahasa Inggris punya makna fabulous atau grand. Kali ini Bahl menggandeng Dharma Productions-nya Karan Johar yang sering mencetak film-film hits.

Alia adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga kaya. Sang nenek dan ibu tiri sangat membenci Alia, sementara yang paling menyayanginya adalah sang ayah, Vipin, dan adik tirinya, Isha. Supaya bahagia dan bisa mengobati Alia yang insomnia, Vipin selalu memberikan kertas mimpi kepada Alia tiap malam. Ketika dewasa, Alia tumbuh menjadi gadis muda yang luar biasa mempesona, sementara Isha ‘sedikit’ chubby. Demi bisnis dan membayar hutang-hutang keluarga, Isha dinikahkan dengan Robin, putra konglomerat yang suka merendahkan wanita dan hanya mementingkan bentuk tubuhnya. Berangkatlah mereka semua ke sebuah kastil mewah di Inggris untuk mempersiapkan pesta pernikahan besar-besaran. Siapa sangka sang wedding organizer adalah seorang pria muda tampan yang juga insomnia, Jagjinder Joginder alias JJ. Segeralah Alia dan JJ sama-sama jatuh cinta. Vipin yang protektif terus mencoba untuk menghalang-halangi hubungan mereka. Namun ternyata ada satu konflik yang sudah berjalan antar generasi yang mengancam kebahagiaan Isha. Maka keputusan Vipin, Alia, dan keluarganya untuk membuat keputusan baru atas keluarga mereka.

Dari berbagai materi promo, jelas bahwa komoditas utama Shaandaar adalah sebuah komedi romantis antara JJ dan Alia. Oh yes, memang ada cukup banyak adegan yang memvisualisasikan hubungan asmara mereka. Entah disengaja atau tidak, rupanya porsi hubungan asmara ini tidak dikembangkan sedemikian rupa. Hubungan asmara JJ-Alia dibuat semanis mungkin, tanpa hambatan yang berarti, selain Vipin yang terus-menerus bersiasat untuk memisahkan mereka. Tapi apapun yang dilakukan Vipin ini terasa sekedar sebagai pemancing tawa, bukan sesuatu yang serius. Untung saja ada satu adegan yang “mempersatukan” Alia-JJ-Vipin dan cameo yang menarik dari Karan Johar himself. I love this heartwarming scene!

Porsi asmara JJ-Alia harus mengalah dengan aspek-aspek yang lebih esensial pada kisah Shaandaar. Dari sini, akhirnya saya teringat film-film Vikas sebelumnya yang memang kental dengan kritik sosial. Jika Queen membidik feminisme dalam budaya India, maka Shandaar berbicara tentang battle of sexes (digambarkan dengan begitu menghibur sekaligus ironis lewat lagu Senti Wali Mental di salah satu adegan) dan above all, kebahagiaan yang sebenarnya atau kebutuhan realitas yang mau tidak mau mengarah pada materi. Sebuah bentuk kritik sosial yang mungkin terdengar klise namun disadari atau tidak, masih sering terjadi. Meski harus berbenturan dengan mish-mash kisah asmara JJ-Alia, aspek cerita ini nyatanya mampu disampaikan dengan sangat menghibur lewat chaotic comedy namun tanpa kehilangan hati.

Sayangnya (lagi), chaotic comedy yang memang cukup banyak yang menggelitik, namun secara keseluruhan terasa overdone. Paling fatal, chaotic comedy yang berlebihan ini diletakkan pada bagian klimaks, yang mana justru menutupi heart-factor yang sudah terlanjur terbentuk sebelumnya. Sayang sekali.

Di balik porsinya yang harus berbagi dengan kisah Isha, Shahid Kapoor sebagai JJ dan Alia Bhatt sebagai Alia tetap saja mendominasi layar sebagai pasangan yang begitu manis dan seperti punya chemistry yang sangat alami. Love Shahid and Alia’s spontaneity here. Manis dan loveable. I’ve already fallen for Alia Bhatt since her appearance in Student of the Year.

Pankaj Kapur yang selama ini kita kenal sebagai Inspector P.K. juga bermain dengan penuh kharisma dan mengundang simpati penonton lewat karakter Vipin, sang ayah. Ketika memainkan part comedic-nya pun, Kapur bisa juga memancing tawa tanpa terkesan dibuat-buat. Sanah Kappor sebagai Isha turut mengundang simpati penonton, terutama di bagian klimaks. Terakhir, sang nenek yang diperankan Sushma Seth jelas menjadi pencuri perhatian penonton berkat karakternya yang menyebalkan namun menjadi sumber comedic yang sangat menghibur.

Kekuatan teknis utama dari Shaandaar tentu saja desain produksinya yang tergambarkan lewat judulnya; megah dan cantik. Naskah pun memanfaatkan setting  Kozlówka Palace, Polandia dengan berbagai pesta bertema yang masing-masing ditata sama luar biasanya. Favorit saya ketika adegan Gulaabo dan Black-White party (Nazdeekiyaan). I guess any wedding or party organizers should see this as  wonderful references. Pilihan lagu-lagunya cukup menarik, apalagi lirik-liriknya yang berkaitan dengan cerita. Tak sampai terus-terusan terngiang di telinga, tapi mengikuti lirik dan visualnya, sudah menjadi pengalaman yang serba enjoyable.

Shaandaar mungkin bukan menjadi karya Vikas Bahl yang paling kuat, namun upayanya untuk menyampaikan kritik sosial dengan sajian humor-humor menggelitik, romansa manis, music performance yang sangat menghibur dan megah, serta hati untuk beberapa kali menyentuh penonton, Shaandaar masih jadi salah satu film Hindi yang cukup impressive tahun ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates