Thursday, October 29, 2015

The Jose Flash Review
The Runner

Here comes another Nicolas Cage’s… Menyedihkan sebenarnya melihat karir Cage beberapa tahun terakhir ini yang seolah-olah hanya kejar setoran tanpa mempertimbangkan faktor prestisius suatu peran. Bermain di film-film kelas B atau malah direct-to-video macam The Frozen Ground, Tokarev, Outcast, Left Behind, dan Dying of the Light, padahal kita ingat betul betapa ia pernah bersinar terang, bahkan sampai masuk bursa Oscar lewat Leaving Las Vegas dan Adaptation. Tahun 2015 ini rupanya Cage masih enggan untuk memperbaiki karirnya dengan membintangi (lagi-lagi) film yang tergolong kelas B, The Runner dan Pay the Ghost. The Runner sendiri disutradarai dan ditulis naskahnya oleh seorang debutant untuk film panjang, Austin Stark.

Pasca kebocoran tambang minyak yang menjadi bencana nasional tahun 2010, seorang anggota konggres dari Louisiana, Colin Pryce, menyuarakan perjuangan agar warga negara bagiannya mendapatkan keadilan. Colin pun menjadi pahlawan dan kandidat anggota Senat terkuat. Seperti biasa, kesuksesannya dimanfaatkan oleh seorang businessman di bidang pengeboran minyak yang merasa punya kepentingan, Mark Lavin. Logikanya, perekonomian Amerika Serikat dan khususnya, Louisiana, membutuhkan minyak. Colin yang sangat idealis menolak mentah-mentah pinangan Mark. Hubungannya dengan sang istri, Deborah, pun semakin merenggang karena Deborah memilih untuk mendukung Colin menerima pinangan Mark. Tak lama kemudian, reputasi Colin runtuh setelah beredar video affair dengan istri salah satu nelayan yang diperjuangkannya, Lucy. Colin memutuskan untuk mengundurkan diri dan satu per satu hidupnya mulai hancur. Colin pun diuji untuk terus mempertahankan idealismenya atau berkompromi demi kebaikan bersama.

Dengan sinopsis demikian, The Runner sebenarnya berpotensi menjadi sebuah drama thriller politik yang gripping, atau setidaknya drama perkembangan diri yang menyentuh atau inspiratif. Namun sayangnya kapasitas Austin Stark (baik sebagai penulis naskah maupun sutradara) belum sampai ke situ. The Runner justru jatuh menjadi drama yang superflat, terlalu dalam terjerumus nuansa desperation berkepanjangan, hingga pada satu titik, penonton akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan karakter Colin sebagai tokoh sentral. Keputusannya karakter Colin untuk menjalin hubungan asmara dengan mantan direktur kampanyenya, Kate Haber, bukan mencoba memperbaiki hubungan dengan Deborah yang selalu mendukungnya bahkan di saat Colin sedang berada di bawah. Baik secara logika, moralitas, dan emosional, ini jelas bukan sikap yang bisa mengundang simpati penonton. Sebaliknya, penonton dibuat sebal dengan karakter Colin yang terlalu larut dalam kegagalannya, ditambah did a lot of dumb things instead. Maka ketika di bagian penghujung, ketika Mark harus mengkompromikan idealismenya dengan realitas (which is actually a good point), penonton tak merasakan apa-apa selain buru-buru beranjak dari kursi saking bosannya.

Nicolas Cage, Connie Nielsen, dan Peter Fonda, masing-masing sebenarnya diberi satu momen yang benar-benar menunjukkan akting yang powerful. Sayangnya, masing-masing momen itulah semua yang mereka punya di sini. Cage lagi-lagi harus menelan pil pahit memerankan karakter yang jauh dari simpati penonton. Sebaliknya, Connie Nielsen dan Peter Fonda dengan porsi yang tak terlalu banyak, justru lebih menarik perhatian dan mengundang simpati penonton. Sarah Paulson pun sebenarnya cukup menarik perhatian. Sayang karakternya tidak dikembangkan menjadi lebih menarik lagi.

Lebih parah lagi, tidak ada yang benar-benar menarik pula di teknis. Mulai sinematografi, desain produksi, hingga tata suara, semuanya sekedar biasa saja. Tidak ada yang benar-benar memanjakan panca indra.

I didn’t know how to describe The Runner other than ‘filled with desperation and things we didn’t care at all’. Stark benar-benar harus belajar banyak untuk mengembangkan potensi cerita menjadi sajian yang menarik untuk diikuti. And looking at this, I think it’s still far far away. Otherwise he does not have any talents in storytelling at all, and he just have to let it go.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates