Thursday, October 15, 2015

The Jose Flash Review
Pan

Sejak pertama kali muncul di novel dewasa The Little White Bird karya J. M. Barrie tahun 1902, karakter Peter Pan sudah menarik perhatian banyak pihak. Hingga kahirnya J. M. Barrie sendiri menuliskan novel sendiri berjudul Peter and Wendy tahun 1911 dan sampai sekarang sudah menjelma menjadi puluhan versi, termasuk yang paling populer, animasi klasik Disney tahun 1953. Bahkan seorang Steven Spielberg tahun 1991 pernah menggarap Hook yang bisa dianggap sebagai sekuel cerita Peter Pan yang selama ini kita kenal dengan bintang Robin Williams. Terakhir, Universal Pictures bekerja sama dengan Columbia Pictures mencoba mengdaptasi sebuah live action tahun 2003, yang meski rata-rata mendapatkan review positif, namun hasil box office-nya tak terlalu menggembirakan. Kini giliran Warner Bros. yang mencoba peruntungan dengan konsep ‘the beginning’ seperti yang pernah dilakukan beberapa franchise dengan hasil beragam. Menggandeng Jason Fuchs (Ice Age: Continental Drift) sebagai penulis naskah dan sutradara Joe Wright yang sebenarnya populer di scene tipikal film festival macam Pride & Prejudice, Atonement, The Soloist, Hanna, dan Anna Karenina, proyek Pan sebenarnya menarik untuk disimak.

Tinggal di sebuah panti asuhan milik biarawati sejak bayi membuat Peter berharap akan hidup yang lebih baik. Ketika Perang Dunia II meletus dan keadaan memburuk, Peter mendapati anak-anak di panti asuhannya satu per satu hilang tiap malam. Ketika menyelidiki, Peter dan sahabatnya, Nibs, malah menemukan rahasia sang suster biara, Mother Barnabas, termasuk surat terakhir yang ditinggalkan ibu Peter untuknya. Hingga akhirnya Peter sendiri menjadi ‘korban’ penculikan yang ternyata membawa anak-anak panti asuhan ke Neverland, sebuah negeri antah berantah yang gersang. Dengan iming-iming kehidupan yang lebih baik daripada menjadi anak yatim piatu, anak-anak ini dipekerjakan untuk menggali tiap jengkal tanah di Neverland untuk menemukan serbuk peri oleh Kapten Blackbeard. Karena sifat rebel-nya, Peter mencoba melawan. Tidak sendiri, upaya melarikan diri Peter dibantu oleh seorang rebel lainnya, Hook, dan salah satu karyawan Blackbeard, Mr. Smee. Tak sengaja mereka menemukan suku pribumi, Pan, dengan seorang putrinya, Tigerlily, yang menyebut Peter sebagai messiah mereka. Tapi Peter harus membuktikan diri dulu bahwa memang benar ia lah yang diramalkan akan datang menjadi penyelamat suku dari Blackbeard. Krisis kepercayaan diri sekaligus dikejar-kejar kaki tangan Blackbeard, menjadi highlight petualangan mereka.

Dengan premise yang demikian, sebenarnya tak ada elemen cerita yang benar-benar baru untuk konsep ‘the beginning’-nya. Mulai kemunculan bajak laut legendaris Blackbeard yang pernah dimasukkan ke dalam franchise Pirates of the Caribbean, persahabatan yang nantinya kita tahu bersama akan menjadi musuh, sampai konsep cerita secara keseluruhan yang seolah terinspirasi dari kisah Yesus Kristus (come on… mulai prophecy Peter akan menjadi semacam Messiah bahkan sampai nama ibu kandungnya pun Mary!), atau cerita Nabi Musa (? - bisa jadi clue lewat adegan bersembunyi di dalam keranjang yang mengapung di sungai). Namun semua elemen cerita yang di-mash up di sini membentuk kesatuan konsep besar yang tak hanya sekedar bisa divisualisasikan menjadi petualangan seru, namun juga punya korelasi yang sangat kuat dengan cerita utama yang sudah kita kenal bersama, terutama pada karakter Hook yang secara brilian digambarkan identik dengan karakter Hook yang kita kenal selama ini. Sedikit terasa terlalu gelap dan serius untuk penonton cilik di awal-awal film, Pan menebusnya dengan nuansa yang lebih ceria dan punya rangkaian petualangan yang seru serta enjoyable untuk range usia yang lebih luas mulai pertengahan hingga penghujung film. Tentu saja yang terpenting, Pan masih mengusung nuansa innocent magic yang selalu menjadi highlight cerita Peter Pan selama ini, terutama menjelang klimaks hingga bagian penutupnya. Tak ketinggalan, line-line bagus, meaningful, dan terkadang merujuk pada cerita aslinya, tersebar rata di sepanjang film. Love it so much I’m sharing some of those with you.

Mengisi peran utama menjadi beban tersendiri bagi Levi Miller yang selama ini hanya mengisi peran pendukung dengan screentime terbatas. Untungnya, Levi Miller mampu menghidupkan karakter Peter dengan begitu hidup. Tiap perkembangan karakternya terasa kuat, meski tak se-memorable Jeremy Sumpter misalnya. Namun bisa jadi ini bukan kesalahannya, karena harus berbagi layar dengan aktor sekuat Hugh Jackman sebagai Blackbeard dan terutama sekali, Garrett Hedlund. Jackman memang terlihat dan terasa berbeda dibandingkan sosok yang kita kenal selama ini, bahkan suaranya pun nyaris terasa asing bagi saya. Namun penulisan karakternya belum terlalu membuat karakter Blackbeard menjadi villain yang memorable ataupun signatural. Sementara Hedlund harus saya akui, terasa yang paling menonjol dari jajaran cast lainnya. Faktor penulisan karakter yang menurut saya, paling kuat, faktor kontinuiti karakteristik di cerita utama aslinya, dan ternyata berhasil dibawakan dengan sangat baik oleh Hedlund, membuat karakter Hook yang paling menarik sepanjang film.

Tapi tunggu dulu, Adeel Akhtar sebagai Smiegel layak menjadi scene stealer yang cukup menarik selain Hook. Tiger Lily yang secara kontroversial diperankan oleh Rooney Mara (mengingat karakter aslinya adalah native American atau suku Indian, namun diperankan oleh Mara yang American Caucasian) ternyata juga berhasil mempesona dan mencuri hati saya. Karakternya yang cerdas dan pemberani menjadi begitu loveable oleh Mara. Sementara di jajaran figuran, Cara Delevigne sebagai putri duyung (tak hanya satu tapi banyak!) dan Amanda Seyfried yang secara fisik juga tidak saya kenali sebagai ibu Peter, Mary.

Selain mashup cerita yang solid, Pan juga tak main-main dengan teknisnya. Terutama sekali desain produksi yang meski sedikit berbeda dengan nuansa Peter Pan yang selama ini kita kenal, namun masih dengan color palette yang warna-warni dan cerah. Lihat saja desain setting suku pribumi dengan kostum-kostumnya yang begitu memanjakan mata, atau adegan klimaks menuju sarang peri yang membuat mata saya terbelalak. Kesemuanya terekam dengan sempurna lewat sinematografi John Mathieson dan Seamus McGarvey. Koreografi beberapa adegan pertarungan, terutama Hook vs Kwahu, yang terlihat indah dan keren, juga patut mendapatkan kredit lebih. Dukungan tata suara turut membuat tiap adegan serunya terasa lebih nyata dan hidup. Sayang saya tidak menikmatinya di studio Dolby Atmos yang bisa saya bayangkan, bakal punya banyak gimmick-gimmick yang lebih menarik lagi.

Score gubahan John Powell sekaligus mendukung petualangan Pan menjadi lebih seru, megah, dan berkelas. Mencampur adukkan nuansa wild west, tribal, epic battle ala Star Wars dan Pirates of the Caribbean, playful ala animasi Disney, sampai children choir yang luar biasa mengaduk-aduk emosi, bahkan juga penggunaan Smells Like Teen Spirit dari Nirvana yang digunakan sebagai chant hingga membuat saya bersorak, score Pan boleh jadi salah satu yang terbaik tahun ini. Lily Allen yang menyumbangkan Little Soldier juga menjadi theme song representatif, baik secara lirik maupun nuansa secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, sebenarnya Pan adalah suguhan cerita ‘the beginning’ yang cukup solid, meski merupakan hasil mashup dari berbagai elemen yang sudah pernah kenal sebelumnya. Dukungan teknis yang serba menonjol dan beberapa justru menurut saya, termasuk terbaik tahun ini, Pan jelas sayang untuk dilewatkan di layar lebar. I know resepsi secara internasional tergolong flop. Salah satu penyebabnya adalah review yang rata-rata negatif. Memang, ada beberapa part yang membuat Pan terasa terlalu gelap dan serius untuk penonton anak-anak, namun selain dari itu, Pan masih merupakan pengalaman berkualitas yang sangat menghibur serta pastinya, memanjakan panca penglihatan dan pendengaran. Apalagi jika Anda termasuk yang pernah terpukau oleh cerita Peter Pan lewat pesona innocence magic-nya, setidaknya Pan akan membawa Anda ke memori-memori indah itu beserta cerita prekuel yang sangat relate dengan cerita aslinya. Fuck what most reviewers said, you deserve to experience it yourself!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates