Wednesday, October 7, 2015

The Jose Flash Review
The Martian

Tiga tahun belakangan, genre sci-fi menawarkan cukup banyak pengalaman sinematis yang luar biasa dan realistis. Dimulai Gravity (Alfonso Cuarón) tahun 2013 lalu yang seolah benar-benar mengajak penontonnya ‘hilang’ sendirian di luar angkasa, dilanjutkan Interstellar tahun 2014 yang ‘mengobrak-abrik’ luar angkasa dengan teori-teori fiktifnya. Tahun 2015 ini giliran sebuah novel fiktif namun penuh dengan fakta-fakta ilmiah karya Andy Weir yang diangkat ke layar lebar. Naskahnya diadaptasi oleh Drew Goddard yang kita kenal visi dan inovasinya lewat serial Alias, Lost, Daredevil, dan layar lebar The Cabin in the Woods dan World War Z. Sayang karena jadwal menggarap The Sinister Six, Goddard batal turun tangan langsung sebagai sutradara. Namun jangan salah, masuknya Ridley Scott di bangku sutradara yang menunda sekuel Prometheus demi proyek ini, jelas semakin memperkuat status The Martian sebagai tontonan wajib, apalagi bagi penggemar adventure sci-fi. Mempertemukan Matt Damon dan Jessica Chastain dalam sebuah film bertemakan luar angkasa juga menjadi node ke Interstellar yang menarik, meski sebenarnya tak punya hubungan cerita apa-apa.

Mark Watney adalah seorang astronot yang juga punya background botanis (dan juga insinyur mekanik, meski tak disebutkan secara langsung, tapi ada di versi novel dan skill-nya ini sempat ditunjukkan dalam beberapa adegan). Ketika menjalankan misi bersama kru Ares 3 di Planet Mars, sebuah badai besar menerjang dan membuat mereka segera meninggalkan lokasi dan kembali ke bumi. Sialnya, Mark tertinggal karena kecelakaan kecil yang menimpanya. Terbangun sendirian di Mars, Mark mengandalkan rover habitat yang tertinggal dan berbagai skill yang dimilikinya untuk bertahan hidup sendirian di planet merah dan berusaha mengontak bumi agar keberadaannya sebagai penyitas diketahui. Jarak antara Mars dan Bumi serta perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk melintasinya jelas menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menemukan strategi penyelamatan Mark kembali pulang ke Bumi.

Punya premise bak perpaduan Cast Away dan Apollo 13, ternyata tak lantas membuat The Martian menjadi sajian yang depresif, kelewat serius, dan membosankan. Sekali ini Scott menawarkan The Martian sebagai film adventure sci-fi yang sangat fun. Malahan dari sekian daftar panjang filmografinya yang rata-rata serius, ini adalah filmnya yang paling fun. Lebih fun daripada A Good Year. Oh yes, Scott memang membangun emosi seolah penonton menjadi seorang Mark Watney dan punya cukup banyak momen kegagalan yang bikin penonton ikutan down. Namun Scott tak membiarkan itu berlangsung lama, karena dengan segera ia menawarkan solusi yang kembali menumbuhkan harapan. Karakter-karakter yang digambarkan punya sense of humor yang bagus turut mewarnai film dengan humor-humor segar dan cerdas, seperti salah satu favorit saya, yaitu humor tentang Project Elrond yang jelas bereferensi pada The Lord of the Rings and hey, there’s Boromir playing here! Kemudian ketika mencapai klimaksnya, penonton tetap dibuat deg-degan luar biasa dengan eksekusi misi penyelamatan final yang penuh kenekadan. So yes, meski tak sampai jatuh dalam kebosanan (apalagi dalam cerita Mark harus menghabiskan tujuh bulan lebih sendirian di Planet Mars), penonton tetap diajak merasakan ‘rollercoaster’ kehidupan dan emosi Mark di planet Mars.

Berperean sebagai karakter utama dengan porsi yang jauh paling mendominasi, Matt Damon sekali lagi berhasil mencuri simpati penonton. Tiap tindakan, akal, dan semangatnya membuat penonton begitu peduli terhadap perkembangan nasib Mark Watney sepanjang film. Di lini pemeran pendukung yang memang tergolong all-star, kesemuanya juga berhasil menghidupkan tiap karakter sesuai dengan porsi masing-masing. Penulisan tiap karakter yang memang menarik dan punya porsi serba pas tanpa mengganggu fokus karakter Mark, membuat mereka tampil berkilau. Mulai Jeff Daniels (yang meski belum bisa benar-benar menghilangkan image komedik ala Dumb & Dumber), Chiwetel Ejiofor, Sean Bean, Kristen Wiig, Jessica Chasatain, Michael Peña, Kate Mara, Sebastian Stan, Aksel Hennie, serta tentu saja scene stealer, Benedict Wong dan Donald Glover.

Masih mengambil lokasi di kebanyakan film bertemakan Planet Mars, seperti Red Planet dan Mission to Mars, Lembah Wadi Rum di Yordania dipilih sebagai latar utama. Ditambah CGI dan set yang dibangun khusus, gambaran Planet Mars benar-benar terlihat nyata. Kering, gersang, kesepian, dan diam-diam membahayakan. Tak ketinggalan seabreg teknologi-teknologi NASA yang memang nyata, membuat tiap adegan petualangan The Martians begitu hidup dan realistis. Desain kostum astronot yang lebih stylish ketimbang biasanya (yang katanya desain kostum astronot asli seperti Buzz Lightyear) memberikan ‘warna’ tersendiri terhadap desain produksinya.

Dariusz Wolski yang sudah menjadi langganan Ridley Scott mulai Prometheus, The Counselor, dan Exodus: Gods and Kings, menyajikan sinematografi yang begitu mempesona. Menjadikan tiap detail petualangan begitu terasa emosinya, pun juga punya kemegahan sinematik yang luar biasa. Tata suara juga mendukung tiap adegan menjadi lebih hidup. Misalnya, rasakan kedahsyatan badai lewat tata suara yang memaksimalkan fasilitas Dolby Atmos. Bukan gimmick Dolby Atmos terbaik tahun ini, tapi cukup terdengar maksimal. Score dari Harry Gregson-Williams berhasil memaksimalkan tiap emosi, terutama glory moments, dan cukup signatural pula. Sementara pemilihan lagu-lagu dengan 80’s groove seperti Turn the Beat Around-nya Vicki Sue Robinson, Hot Stuff-nya Donna Summer, Starman-nya David Bowie, Waterloo-nya ABBA, Love Train-nya The O’Jays, dan tak ketinggalan, I Will Survive-nya Gloria Gaynor, jelas memperkuat nuansa fun dari film.


Dengan berbagai keunggulan di tiap elemen dan nama-nama bergengsi, The Martians menjadi sajian hiburan yang tak hanya fun, namun juga memainkan rollercoaster emosi dengan porsi yang serba pas, dan tentu saja informatif leweat akurasi teknologi dan fakta ilmiah yang tergolong tinggi. Mungkin tak terlalu spektakuler, namun setidaknya ia berhasil menyampaikan konten-konten science-nya dengan kemasan yang mudah dipahami dan sangat menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Academy Awards nominees for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Matt Damon
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published - Drew Goddard
  • Best Achievement in Production Design - Arthur Max and Celia Bobak
  • Best Achievement in Sound Mixing - Paul Massey, Mark Taylor, and Mac Ruth
  • Best Achievement in Sound Editing - Oliver Tarney
  • Best Achievement in Visual Effects - Richard Stammers, Anders Langlands, Chris Lawrence, and Steven Warner

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates