Wednesday, October 21, 2015

The Jose Flash Review
Knock Knock

Nama Eli Roth mulai diperhitungkan ketika horor indie-nya, Cabin Fever dianggap sebagai film horor paling profitable di tahun 2002. Bagaimana tidak, dengan budget ‘hanya’ US$ 1.5 juta, Cabin Fever berhasil mencetak box office sebesar US$ 22 juta. Bakatnya kontak dilirik sutradara-sutradara besar lainnya, seperti Quentin Tarantino dan Peter Jackson. Bahkan Quentin setuju untuk menjadi eksekutif produser karya berikutnya yang juga tak kalah fenomenalnya, Hostel. Bahkan Eli digandeng Quentin untuk muncul di Inglourious Basterds sebagai Sgt. Donny Donnowitz. Reputasinya sebagai sutradara spesialis ‘cult horor’ terus dipertahankan hingga di tahun 2015 ini ia menelurkan 2 karyanya, Knock Knock dan Green Inferno. Keduanya masih dengan relatively low budget. Namun Knock Knock (KK) yang bertema home invasion macam The Strangers atau Funny Games, jelas memanfaatkan ruang sempit dan otomatis menghemat budget. Diadaptasi dari film berjudul Death Game tahun 1977, daya tarik utama KK jelas terletak pada genre thriller dengan sedikit bumbu erotic.

Evan Webber adalah seorang suami yang begitu dicintai dan mencintai keluarganya. Tepat saat Father’s Day, istrinya, Karen, dan kedua anaknya memutuskan untuk pergi berlibur. Karena harus menyelesaikan proyek yang sedang dikerjakannya, Evan memutuskan untuk tidak ikut dan sendirian di rumah. Tak lama kemudian muncul dua wanita muda, Genesis dan Bel, yang mengaku tersesat dan kehujanan, meminta bantuan. Tanpa curiga macam-macam, Evan membuat Genesis dan Bel merasa senyaman di rumah. Mulai mengeringkan pakaian mereka sampai meng-order-kan ubertaxi untuk mereka. Sembari menanti, mereka bertiga mulai saling mengenal. Siapa sangka ternyata Genesis dan Bel punya rencana yang keji untuk Evan.

Sebelum the main show dimulai, KK menawarkan perkenalan yang lebih dari cukup untuk membuat penonton bersimpati pada karakter Evan. Ketika masuk ke menu utamanya, barulah kita dibawa ke thriller kucing-kucingan yang membuat penonton khawatir apa yang akan dilakukan Genesis dan Bel kepada Evan. Tentu saja keberhasilan ini didukung oleh penampilan Genesis dan Bel yang memang menggoda sekaligus mengerikan. Namun alih-alih menjadi thriller yang super gripping lewat adegan hide-and-seek, Roth justru lebih memperkuat sisi komikalnya. Alhasil, yang lebih terasa adalah creepily funny. Not bad, tapi sebagai penggemar gripping thriller ala Roth, ini bisa jadi sebuah let down. Faktor minimnya darah (dan mungkin juga nudity?) yang sudah menjadi signatural Roth semakin membuat penggemar Roth kecewa.

Genesis dan Bel sendiri dikembangkan dengan porsi yang serba pas, mulai perkenalan, main action yang bikin geleng-geleng, hingga ending yang revealing serta membuat penonton memahami konsep besar ceritanya (dan geleng-geleng lagi).

Sebagai tokoh sentral, Keanu Reeves sebenarnya cukup mampu mengundang simpati penonton. Meski harus diakui, penampilannya di sini masih jauh dari kata kuat dan berkharisma. Apalagi jika Anda membayangkan Keanu dengan peran-peran jagoan tough sebelumnya, macam The Matrix dan John Wick. Lorenza Izzo yang adalah istri Eli Roth sendiri mampu menjadi pencuri perhatian dengan fisiknya yang exotically sensual dan permainan watak psychotic yang cukup kuat. Ana de Armas sebagai Bel pun masih bisa mengimbangi Izzo meski pada porsi yang sedikit di bawahnya.

Memanfaatkan ruang sempit dan interior rumah yang itu-itu saja, KK bisa dikatakan cukup berhasil mengeksplorasinya sehingga tak terkesan monoton sekaligus memberikan penonton atmosfer yang pas, lewat sinematografi Antonio Quercia yang juga bekerja sama dengan Roth di Green Inferno. Tak istimewa maupun remarkable, tapi setidaknya cukup berhasil. Editing Diego Macho Gómez juga terasa memberikan pace yang pas untuk performa thriller-nya. Sementara yang menjadi aspek favorit saya adalah score Manuel Riveiro dan pemilihan soundtrack yang mewarnai atmosfer erotic thriller-nya dengan bumbu techno, selaras dengan karakter Evan yang digambarkan juga seorang DJ.

Bagi penggemar Eli Roth, KK mungkin bisa jadi sebuah let down. Dengan konsep besar cerita yang sebenarnya tergolong menarik, KK bisa sebenarnya bisa jadi karya yang jauh lebih menarik jika aspek thriller dan sedikit bumbu bloody gore turut diperkuat. Namun setidaknya Roth masih menyisakan sisi komikal dan creepy funny feel yang juga sering dihadirkan Roth di film-filmnya, dan hasil akhirnya cukup enjoyable, meski mungkin dengan bergumam, “ah kok cuma begitu saja sih?”. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates