Tuesday, October 20, 2015

The Jose Flash Review
Crimson Peak

Karya-karya sineas Guillermo del Toro sering dituding style over substance. Ini wajar, melihat film-film yang ditulis dan disutradarai (bahkan juga termasuk yang ia produseri), jelas del Toro punya signatural visual yang cukup kuat. Tak hanya itu, del Toro juga dikenal sebagai salah satu sineas visioner yang ‘peduli’ untuk bercerita melalui karya-karyanya. Tak heran jika film-filmnya yang kebanyakan memang adalah produk horor, sering menjadi semacam cult meski secara komersial tak selalu menggembirakan. Bukan berarti del Toro menghindari film komersial. Buktinya dia juga menggarap duologi Hellboy, Blade II, dan yang paling ambisius, Pacific Rim. Kembali ke jalurnya di horor dengan signatural khasnya setelah Cronos, Mimic, The Devil’s Backbone, dan Pan’s Labyrinth, del Toro menggarap Crimson Peak (CP). Menggandeng Matthew Robbins yang pernah bekerja sama dengannya lewat Mimic dan Don’t be Afraid of the Dark, CP mencampur adukkan genre horor dengan drama romance berbumbu intrik manipulatif.

Kemunculan Thomas Sharpe di Amerika Serikat yang misterius membuat industrialis, Carter Cushing, menolak proposal investasi pembuatan mesin penambang ultisol (semacam lumpur merah) yang menenggelamkan kastil milik keluarganya di Allerdale Hall, Inggris. Siapa sangka Thomas jatuh cinta pada putri Carter, Edith dan berbalas pula. Mendapati latar belakang keluarga Sharpe, Carter semakin menghindarkan Thomas dan Edith dengan mengancam agar Thomas dan kakak perempuannya, Lucille, kembali pulang ke negaranya. Merasa terancam, Thomas dan Lucille memutuskan pulang ke Allerdale Hall. Di saat yang nyaris bersamaan, Carter ditemukan tewas di kamar mandi dengan kondisi yang mengenaskan. Tak punya pilihan lain, Edith memutuskan untuk menikahi Thomas dan pindah ke Allerdale Hall. Horor pun dimulai ketika Edith menemukan semakin banyak rahasia mengerikan terjadi di kastil yang dijuluki Crimson Peak itu.

Percampuran genre horor dan romance drama membuat CP terasa sedikit berbeda, terutama bagi penggemar pure horror. Alih-alih intens menghadirkan nuansa creepy atau jumpscare, del Toro tetap konsisten dengan kepeduliannya untuk bercerita. Maka jangan kaget jika CP menggunakan 45 menit pertamanya untuk membangun cerita yang melatari kepindahan Edith ke kastil Crimson Peak. Namun tetap saja ada satu-dua elemen horor yang diselipkan di paruh ini, sekedar untuk membuat penonton penasaran.

Ketika masuk ke paruh berikutnya, cerita berjalan semakin jelas untuk sedikit demi sedikit membuka rahasia cerita, seiring dengan “penampakan” yang semakin intens terjadi. Bagi penonton yang sering menonton film dengan tema serupa, agaknya tidak akan kesulitan untuk sekedar menebak rahasia film ini. Namun tetap saja CP membuat saya, setidaknya, menantikan konfirmasi dari dugaan-dugaan saya sendiri di klimaksnya. In short, CP berhasil membuat faktor misteri tetap menarik untuk disimak perkembangannya. Hingga ketika semua sudah terkuak dan saya berpikir tidak ada lagi yang menarik, CP men-treat penonton dengan bloody final showdown yang seru dan menegangkan.

Namun bukan berarti CP tanpa celah. Bukan, bukan faktor alur ceritanya yang seperti menggabungkan berbagai elemen dari Bram Stoker’s Dracula, Cruel Intentions, dan Jane Eyre, tapi penggunaan karakter untuk menggerakkan cerita. Penonton diletakkan pada sudut pandang Edith untuk menguak misterinya. Sayangnya, karakter Edith sendiri tidak dibuat lebih menarik ketimbang, let’s say, Thomas dan Lucille Sharpe. Karakter Edith yang kelewat naif membuat penonton sulit untuk benar-benar bersimpati kepadanya. Sebaliknya, Thomas dan lebih lagi, Lucille, menampilkan performa yang begitu kuat untuk mencuri perhatian penonton. Sayangnya, Lucille tak diberi porsi yang lebih banyak untuk mendominasi cerita dan membuat feel keseluruhan film terasa lebih menarik. Meski screen presence-nya di sini sebenarnya sudah cukup untuk mencuri perhatian penonton. Konklusi yang disampaikan lewat epilog Edith di ending pun di telinga saya terdengar ‘ngaco’. I mean, after all what happened on screen, that’s your conclusion? Sorry to say, but it’s really laughable, even more it’s coming out from del Toro’s movie. Untung saja visualisasinya ketika epilog itu masih bisa menyelamatkan ending CP dari kekonyolan.

Mia Wasikowska tampak begitu cocok memerankan karakter Edith yang naif, namun masih punya cukup daya untuk menemukan kebenaran. Karakternya agak tipikal, terutama dengan karakter yang ia mainkan di Jane Eyre atau Stoker. Tak buruk, namun juga jelas bukan presentasti terbaiknya. Bukan kesalahannya, tapi lebih ke penulisan karakter yang tak membuatnya jadi lebih menarik. Sebaliknya, Jessica Chastain justru menunjukkan salah satu performa terbaiknya sebagai Lucille. Sayang screen presence-nya kurang, kendati lebih dari cukup untuk menjadi penarik perhatian terkuat sepanjang film. Tom Hiddleston memberikan penampilan yang moderate dengan kapasitas yang pas untuk perannya. Sedangkan Charlie Hunnam sebenarnya memainkan karakter Dr. Alan McMichael yang menarik untuk digali lebih dalam (setidaknya lewat adegan-adegan investigasi yang lebih banyak dan mendalam, misalnya). Sayang peran karakternya sangat minim sehingga terkesan sekedar untuk save the day.

Satu kekuatan terbesar CP adalah visualnya. Terutama sekali desain produksi yang begitu detail dan remarkable. Tak heran, del Toro memang sangat teliti dan peduli untuk urusan desain. Lihat saja desain set kastil Crimson Peak yang luar biasa detail. Sayang pasca syuting, set yang dibangun dari nol ini harus dirubuhkan karena kendala space di studio. Del Toro sendiri mengakui bahwa set untuk CP adalah yang terbaik yang pernah ia buat, and I have to agree to that. Tentu saja costume design oleh Kate Hawley serta visual effect hantu-hanti yang semakin melengkapi detail dan keindahan setnya. Sinematografi Dan Laustsen yang pernah bekerja sama dengan del Toro di Mimic, turut membingkai tiap detail desain dengan sempurna, berikut menyampaikan ceritanya dengan efektif.

Tata suara tergolong cukup memuaskan, terutama karena penggunaan fasilitas surround untuk memberi kesan dimensi dan tentu saja kesan semakin hidup. Dengarkan saja misalnya ketika adegan Edith melemparkan bola untuk ditangkap anjingnya, Papillon atau ketika lolongan hantu-hantu. Terakhir, score oleh Fernando Velázquez jelas berpadu dengan semua desain dan nuansa yang ingin dibangun oleh del Toro.


Meski mungkin agak di luar ekspektasi terutama bagi penggemar pure horror dan cerita yang terkesan hanya ‘campur-campur’, namun kepedulian del Toro untuk bercerita dan kepiawaiannya mempertahankan excitement dari misteri yang ia bangun, membuat CP layak untuk disimak. Memang bukan del Toro’s best piece (setidaknya dari segi storytelling. Sebaliknya dari segi desain, mungkin malah jadi yang terbaik), tapi bagi penggemar yang sudah sangat cocok dengan seleranya, CP jelas tak boleh dilewatkan.

Lihat data IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates