Tuesday, October 27, 2015

The Jose Flash Review
Bridge of Spies

Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet sering diangkat ke cerita layar lebar, baik yang memang berasal dari kejadian nyata maupun materi fiktif. Beberapa judul populer beberapa tahun belakangan ini antara lain Tinker Tailor Soldier Spy (2011) dan bahkan yang terbaru, The Man from U.N.C.L.E. Maraknya kemunculan mata-mata dari kedua pihak membuatnya jadi menarik sebagai latar belakang cerita. Tahun ini Steven Spielberg tertarik untuk mengangkat kisah salah satu karakter penting yang berperan besar dalam Perang Dingin, James B. Donovan, ke layar lebar. Tak main-main, Spielberg menggandeng Ethan & Joel Coen yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya sebagai penulis naskah (sekaligus sutradara), mendampingi Matt Charman. Spielberg pun turun tangan langsung di bangku sutradara. Tom Hanks lagi-lagi didapuk mengisi peran utama, menandai kerjasama Hanks-Spielberg keempat setelah Saving Private Ryan, Catch Me If You Can, dan The Terminal.

Seorang pelukis tua yang tinggal sendirian di Amerika Serikat bernama Rudolph Abel ditangkap oleh FBI dengan tuduhan mata-mata Uni Soviet. Berniat menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat tetap memberikan hak penuh bahkan kepada narapidana asing, ditunjuklah James Donovan sebagai pengacara. Donovan sendiri sebenarnya pengacara asuransi yang belum pernah menangani kasus semacam ini. Ia tahu bakal kalah dan kehadirannya hanya untuk formalitas, namun Donovan menemukan sisi lain dari kasus ini yang mungkin bisa menguntungkan bagi negaranya di kemudian hari. Benar saja, ramalannya tepat dan Donovan akhirnya ditunjuk untuk melakukan negosiasi dengan pihak Rusia. Hanya saja, Donovan maju sebagai warga sipil biasa, bukan mewakili pemerintahan Amerika Serikat yang enggan mengakui dirinya.

Baik Spielberg maupun Coen Brothers sama-sama berpengalaman dalam mengemas cerita yang berasal dari kejadian nyata. Coen Brothers dengan Unbroken, sementara Spielberg dengan Schindler’s List, Amistad, Saving Private Ryan, Catch Me if You Can,  dan Munich. Jadi sebenarnya Bridge of Spies (BoS) adalah proyek jaminan mutu. Benar saja, BoS memang menjelma menjadi sebuah drama politik yang begitu mengalir. Meski mengangkat tema yang serius dan terkesan berat, Coen Brothers-Charman-Spielberg mampu menyajikannya menjadi sangat mudah dipahami sekaligus seru untuk diikuti, bahkan untuk penonton yang asing dengan Perang Dingin. Memang tak ada adegan aksi yang ditampilkan, namun hampir semua adegan dialog memiliki kekuatan yang luar biasa, terutama sifatnya yang witty sehingga menjadikan alurnya selalu asyik untuk diikuti.

Meski berpotensi menjadi sebuah drama investigasi yang mungkin juga bisa jadi menarik, namun BoS memilih untuk lebih fokus pada karakter Donovan, mulai bagaimana perasaannya terhadap kasus Rudolph Abel, ide-ide untuk membawa kasus ini ke depannya, sepak terjangnya beradu wibawa dengan pihak Rusia lewat perundingan, hingga kesannya terhadap pihak pemerintah kedua belah pihak pasca kasus selesai yang menjadi highlight utama BoS. In the end, keputusan ini punya impact yang luar biasa bagi saya, ketimbang misalnya menjadikannya hanya sekedar drama investigasi. Apalagi kita tahu bersama kasus Rudolph Abel mustahil dimenangkan karena bukti-bukti yang sudah jelas. Dengan bentuk seperti ini, saya jadi mempertanyakan kepedulian negara terhadap warga negaranya di kala kita sebagai warga negara sudah mati-matian mengabdi kepada negara. Atau bagaimana kita selalu dengan mudah menilai sebuah kasus politis dari luarnya saja. Padahal mungkin ada sisi-sisi politis lain yang lebih bermanfaat ketimbang mengikuti emosional semata yang seringkali justru sifatnya delusional, tidak berimbas secara langsung dengan kehidupan kita. In other words, because of BoS, I now learn to see things differently than it looked from the outside.

‘Keajaiban’ lainnya yang ditampilkan BoS adalah relasi antara Donovan dan Abel yang dari luar terkesan biasa saja. Tak banyak adegan yang menunjukkan keduanya jadi saling mengenal lebih dalam. Namun berkat sedikit bercerita, kita bisa dengan mudah merasakan kedekatan antara keduanya, hingga pada ending kita bisa merasakan emosional yang begitu mendalam dari keduanya, hanya lewat beberapa baris dialog yang begitu kuat. Seketika kita seolah sudah begitu mengenal Donovan, dan lebih lagi, Abel. Sungguh sebuah metode storytelling yang luar biasa efektif namun punya impact emosional yang begitu kuat.

Mungkin Donovan bukan performa terbaik Tom Hanks dari daftar filmografinya yang begitu impresif selama ini, namun ia jelas memberikan performa terbaik dalam memerankan karakter James B. Donovan. Di tengah pergulatan batin dan keragu-raguannya, kharismanya tetap terasa begitu kuat sebagai karakter utama. Pada porsi berikutnya, jelas penonton dengan mudah bersimpati terhadap karakter Rudolf Abel yang dimainkan dengan sangat heartful oleh Mark Rylance. Amy Ryan sebagai Mary, istri James Donovan pun mampu mengimbangi kharisma Tom Hanks sesuai dengan porsinya.

Di jajaran pemain pendukung muda, Austin Stowell sebagai Francis Gary Powers, Will Rogers sebagai Frederic Pryor, dan Billy Magnussen (yang tahun lalu kita lihat sebagai Pangeran Rapunzel di Into the Woods) mampu mencuri perhatian berkat kharisma yang cukup kuat sesuai porsinya, selain faktor fisik yang memang menjanjikan aura bintang. Eve Hewson yang merupakan putri dari Bono ‘U2’ dan Noah Schnapp sebagai putra-putri James Donovan juga memberikan performa yang tak kalah mencuri perhatian.

Seperti layaknya proyek Spielberg lainnya, BoS juga tak mau kompromi di teknis. Janusz Kaminski masih didapuk menjadi DoP yang menambah daftar panjang kerjasama keduanya sejak Schindler’s List. Hasilnya, tak hanya adegan-adegan yang begitu efektif dalam bercerita, namun juga mencetak begitu banyak perfect shot, termasuk yang tak hanya berupa still shot, namun juga yang melibatkan pergerakan kamera. Luar biasa indah. Favorit saya dan saya yakin menjadi favorit kebanyakan penonton, tentu saja adegan pertukaran di Glienicke Bridge yang bersejarah dan menjadi klimaks di sini.

Scoring dari Thomas Newman juga menjadi aspek terkuat BoS yang mampu menghantarkan emosi terdalamnya kepada penonton. Ini menandai babak baru kerjasama Spielberg-Newman setelah biasanya berlangganan dengan komposer John Williams yang seolah sudah blending menjadi satu jiwa lewat karya, konon karena faktor kesehatan. Namun tak perlu khawatir, karena Thomas Newman pun sudah terbiasa memberikan nyawa yang luar biasa hidup, emosional, dan tentu saja, megah, ke berbagai judul-judul film high profile.


Seperti karya-karya Coen Brothers dan Spielberg lainnya, BoS menawarkan sebuah biografi yang mungkin belum banyak dilirik dan bahkan hanya menjadi footnote dalam sejarah, dengan storytelling yang mudah dipahami dan melalui sudut pandang yang begitu kuat serta relevan hingga saat ini. Tak ketinggalan faktor heart yang begitu besar hingga membuat penonton begitu hormat dan salut terhadap karakter Donovan dan juga bersimpati kepada Rudolf Abel. Truly, another beautiful piece from Spielberg, and of course, Coen Brothers.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards Nominees for:


  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Mark Rylance
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - Matt Charman, Ethan Coen, and Joel Coen 
  • Best Achievement in Production Design - Adam Stockhausen, Rena DeAngelo, Bernhard Henrich
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Thomas Newman
  • Best Achievement in Sound Mixing - Andy Nelson, Gary Rydstrom, Drew Kunin 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates