Tuesday, October 20, 2015

The Jose Flash Review
American Ultra

Meski menjadi kontroversi dan bahkan dilarang di banyak negara, marijuana sering menjadi ‘elemen’ yang menarik sebagai bahan cerita film. Bahkan ada beberapa judul yang memvisualisasikan petualangan dari sudut pandang karakter yang sedang stoned (teler), seperti Pineapple Express, Harold & Kumar, dan favorit saya, This is the End. Jangan salah, stoned state yang bisa membuat fantasi melayang-layang setinggi-tingginya justru menghasilkan adegan-adegan fantastis dan hilarious. Sutradara asal Iran, Nima Nourizadeh yang pernah dikenal gara-gara mockumentary fenomenalnya, Project X, mengangkat tema ‘stoner’ lewat American Ultra (AU) dengan memasangkan Kristen Stewart dengan Jesse Eisenberg. Naskahnya ditulis oleh Max Landis yang pernah membantu Josh Trank di Chronicle, AU menjanjikan tontonan yang menghibur.

Meski hidup tak jelas, Mike Howell merasakan hidupnya sudah lengkap dengan kehadiran sang kekasih, Phoebe Larson. Bahkan ia mengakui tidak ingat sekali kehidupannya sebelum bersama Phoebe. Meski Mike terkesan seorang loser dan sering melakukan hal-hal bodoh, plus seorang pecandu marijuana, Phoebe tidak pernah sedikitpun kecewa atau komplain. Kehidupan Mike berubah ketika muncul seorang wanita yang meracau ketika ia menjaga sebuah supermarket suatu malam. Tak lama setelah itu, Mike diserang oleh dua orang yang berniat merampok mobilnya. Ajaibnya, Mike mampu menghabisi mereka berdua dengan keahlian bela dirinya. Padahal Mike tidak ingat pernah belajar beladiri. Namun semenjak kejadian itu, Mike seperti diburu oleh banyak pihak. Maka Mike dan Phoebe melarikan diri sekaligus mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Premise ini mungkin terdengar menarik, namun sebenarnya cukup familiar. Tak salah jika ada yang mengatakan AU sebagai ‘stoner Bourne’ yang jelas merujuk pada Jason Bourne. Sejak awal kita diperkenalkan oleh pasangan Mike-Phoebe dan gaya hubungan mereka, saya teringat pasangan ala Bonny & Clyde atau Natural Born Killers. Cerita menjadi lebih menarik ketika Mike mulai menunjukkan skill beladirinya lewat adegan gory yang kickass. Barulah kita diperkenalkan cerita di balik Mike yang sebenarnya cukup bisa diterka oleh penonton yang akrab dengan tema serupa.

Sayangnya naskah (dan juga penyutradaraan) AU ternyata tak lebih dari sekedar proyek just for fun. Tak ada yang lebih menarik ketimbang momen-momen Mike meladeni musuh-musuhnya. Sedikit seru, menegangkan, terkadang hilarious, dan yang paling memuaskan, quite gory and bloody. Namun tetap saja, kesemuanya masih tergolong serba tanggung, termasuk ketika mencapai klimaksnya.  Intrik di dalam tubuh CIA yang melatari petualangan Mike hanya sekedar dijadikan penjelasan, padahal sebenarnya bisa dikembangkan menjadi lebih bold dan menarik lagi. Perkembangan cerita hubungan antara Mike dan Phoebe juga terkesan agak dikesampingkan di paruh terakhir cerita karena porsi petualangan Mike yang dibuat mendominasi. Alhasil penonton gagal menaruh simpati lebih pada hubungan antara Mike dan Phoebe sekuat, sebut saja, Mickey dan Mallory dari Natural Born Killers atau Clarence dan Alabama dari True Romance.

Tak ada yang istimewa dari penampilan Jesse Eisenberg, secara dia sendiri cukup sering memerankan karakter tipikal Mike. Misalnya James Brennan di Adventureland atau di 30 Minutes or Less. Namun kepiawaiannya ketika menghabisi musuh-musuhnya tergolong impresif dan memang layak menjadi wow-factor. Kristen Stewart did good tapi tetap tidak memberikan kontribusi apa-apa untuk menjadikan AU lebih menarik. Topher Grace, Connie Britton, dan Bill Pullman, memainkan karakter yang seimbang porsinya. Padahal Topher dipasang sebagai main villain. Yang paling menarik perhatian justru John Leguizamo sebagai Rose.

Di teknis tak ada yang terlalu istimewa pula. Mulai sinematografi, tata suara, sampai pemilihan soundtrack untuk mengiringi, sekedar tergolong pas dalam mendukung nuansa ‘stoned’. Satu yang patut saya paling apresiasi adalah animated end title yang keren.


Punya premise yang sebenarnya menarik jika digali lebih dalam dengan budget yang mungkin lebih besar, sayangnya AU hanya menjadi proyek just for fun dengan penggarapan yang serba tanggung, termasuk dalam visualisasi violence sebagai modal jualan utamanya. But hell yeah, boleh lah dijadikan tontonan ringan buat yang memang suka adegan aksi tangan kosong yang gory atau penikmat black comedy.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates