Sunday, October 4, 2015

The Jose Flash Review
3 - Alif Lam Mim

Berhasil menjadi salah satu penguasa sinetron di layar TV tidak membuat Multivision Plus (MVP) berpuas diri. Meski sudah cukup lama merambah layar lebar, tahun 2015 ini bisa menjadi penanda perbaikan kualitas film-film yang diproduksinya (atau setidaknya, sekedar mendukung produksi). Meski masih belum membuahkan hasil box office, namun tahun ini sudah melahirkan karya-karya yang termasuk bermutu. Mulai dari Ayat-Ayat Adinda, Mencari Hilal, dan Love You Love You Not, hingga yang akan kita bahas, yaitu 3. Setelah itu sampai akhir tahun, masih mengantri Aach… Aku Jatuh Cinta, sebuah drama romantis bergaya retro garapan Garin Nugroho, dan 3 Srikandi, biopic 3 atlet pemanah wanita yang mengharumkan Indonesia di Olimpiade 1988 di Seoul. 3 adalah proyek yang unik, tak hanya bagi MVP, tapi juga dalam ranah perfilman Indonesia. Berangkat dari sang mastermind yang sedang high demand, Anggy Umbara, 3 dengan berani memvisualisasikan Indonesia dystopian.

Tahun 2036, Indonesia berubah menjadi negara liberal dimana agama menjadi kegiatan terlarang yang dianggap hanya menyebabkan kekacauan. Aparat keamanan juga dilarang menggunakan peluru tajam dan hanya boleh menggunakan peluru karet yang hanya akan melumpuhkan sementara. Kendati demikian masih ada kelompok-kelompok agama yang menjalankan kegiatan secara tertutup. Adalah Pondok Pesantren Al-Ikhlash yang mendadak disorot dan dituduh sebagai sarang militan yang menyebarkan teror setelah kasus peledakan di sebuah kafe. Alif, salah satu anggota aparat keamanan dengan skill bela diri di atas rata-rata dan punya idealisme yang tinggi, tertarik menyelidiki kasus ini. Lam adalah wartawan media besar yang menjunjung tinggi kebenaran meski media sering disetir oleh pemerintah. Alif dan Lam bekerja sama untuk mengusut kasus yang melibatkan pondok pesantren tempat mereka dibesarkan dulu. Apalagi salah satu sahabat mereka sejak dulu, Mim, masih menjadi bagian dari pondok pesantren itu. Latar belakang yang pernah menyatukan mereka bertiga menjadi tantangan tersendiri untuk memandang kasus ini dengan jelas dan adil.

Jika Anda mendalami agama Islam, mungkin tak akan asing dengan nama karakter Alif, Lam, dan Mim. Ketiganya dikenal sebagai salah satu 3 huruf kombinasi misterius atau Muqatta’at yang memulai 29 sura Al-Qur’an. Meski sebenarnya sampai sekarang punya makna yang misterius, beberapa Sufi mengatakan bahwa ketiganya adalah representasi dari Allah, Jibril, dan Nabi Muhammad. Well, I’m not an expert at it, tapi dari penggunaan Alif-Lam-Mim sebagai nama karakter, jelas bahwa Anggy punya misi tersendiri lewat 3. Dakwah agama Islam memang bukan hal baru dari Anggy. Kalau Anda cukup jeli, maka akan selalu menemukan sisi ‘dakwah’-nya. Tentu saja, Anggy membungkusnya se-pop mungkin agar menarik, dan yang paling penting, bisa dipahami dengan mudah oleh siapa saja. Itulah keunikan (dan bagi saya, termasuk juga sebuah kehebatan) dari seorang Anggy.

Jika membaca sinopsisnya atau menonton separuh awal film, mungkin Anda akan merasa film ini sebenarnya menawarkan tema yang sangat kontroversial, bahkan mungkin insulting. Namun melihatnya secara keseluruhan, Anggy tetaplah ‘berdakwah’ dengan cara-cara yang sangat cerdas. Jauh lebih cerdas dibandingkan upaya-upayanya selama ini.  Tak hanya itu, Anggy pun menuliskan naskah 3 bersama Bounty dan Fajar Umbara dengan sangat-sangat rapi. Diawali dengan perkenalan karakter-karakter utamanya, seiring dengan perkenalan terhadap konflik. Agak panjang, namun tidak lantas menjadi membosankan berkat editing yang tergolong dinamis. Tensi mulai dibangun di paruh kedua ketika cerita berkembang menjadi investigasi yang menarik dan bikin penasaran. Sekali lagi saya harus memberikan acungan jempol karena menghadirkan alur investigasi yang sangat menegangkan, ditambah twist di sana-sini yang dihadirkan di saat yang tepat dan sangat relevan dengan keseluruhan alur cerita. Porsi tiap karakter yang ditampilkan, meski tergolong banyak, terjaga dengan pas, sehingga tiap karakter menjadi memorable dan berhasil mengundang simpati penonton.

Tak hanya naskah, Anggy juga menunjukkan penyutradaraan yang begitu prima di sini. Tak heran jika tiap aktornya benar-benar berhasil tampil all-out. Termasuk juga memanfaatkan koreografi yang ditata oleh Cecep Arif Rahman (masih ingat duelnya dengan Iko Uwais di The Raid 2: Berandal?). Trio pemeran utamanya, Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, dan Agus Kuncoro jelas memberikan performa yang maksimal, baik dari segi akting maupun kemampuan beladiri. Namun jangan lupakan pemeran-pemeran pendukung yang sama kuatnya di kedua aspek. Mulai Prisia Nasution, Tika Bravani, Donny Alamsyah, Verdi Solaiman, dan Piet Pagau. Namun yang paling mencuri perhatian tentu saja si cilik Bima Azriel (masih ingat Troy di segmen terakhir Princess, Bajak Laut, dan Alien, atau anak Teuku Rifnu Wikana di Di Balik 98?) yang begitu cemerlang. Tak lupa juga Tanta Ginting yang memerankan karakter eksentrik dengan luar biasa bikin tercengang, meski screentime-nya tergolong sedikit.

Jika Anda familiar dengan gaya visual film-film Anggy sebelumnya, maka Anda akan menemukan hal-hal yang tak jauh berbeda. Masih dihiasi shot-shot megah dengan editing dinamis yang jadi sudah jadi Anggy’s stylish signature. Slow-mo dan fast-mo di hampir semua adegan fight-nya memang lama-lama terasa berlebihan, namun untung tak sampai jadi melelahkan dan mengganggu keseluruhan film. Kali ini Anggy juga menggunakan colortone yang lebih nyaman di mata, tak lagi bermain-main di warna vibrant surealis. Menghadirkan Indonesia di masa depan tentu membutuhkan visual effect dan CGI yang tak main-main. Meski tak sepenuhnya rapi, namun secara keseluruhan termasuk di atas rata-rata produksi film Indonesia. Apalagi ternyata kesemua visual effect-nya dikerjakan oleh anak bangsa sendiri. Lihat saja tampilan layar tembus pandang pada gadget dan monitor komputer. Begitu juga CGI gedung-gedung fiktif di masa depan yang tergolong rapi. Bagi saya, hanya visual effect adegan-adegan ledakannya saja yang masih terlihat kasar. Selebihnya, I have to say a very good effort with worth results. Tata suara tak mengalami kendala. Sangat berhasil menghidupkan adegan-adegan yang dinamis dan dahsyat, meski pembagian kanal untuk menampilkan efek surround tak banyak terasa.


Secara keseluruhan, saya berani mengakui bahwa 3 adalah karya terbaik Anggy Umbara so far. Dengan mengangkat isu kebebasan dan kebenaran yang bold serta relevan dengan keadaan negara manapun, disusun dalam sebuah film cerita yang menarik untuk diikuti, dihiasi adegan-adegan fight yang memanjakan mata, serta dialog-dialog yang padat namun tetap mudah dipahami, 3 jelas sebuah upaya yang berani, malah mungkin paling berani di ranah film Indonesia, dan sangat berhasil.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates