Tuesday, September 22, 2015

The Jose State of Mind
From German Cinema 2015 (Part 3/3)

Bagian sebelumnya.

Hirngerspinster /
Flights of Fancy (2014)

Keluarga Simon berubah ketika penyakit schizophrenia sang ayah, Hans, kembali kambuh dan bahkan mencapai titik terburuknya. Sebagai akibatnya, Simon harus kehilangan pekerjannya sebagai sopir antar jemput karena para orang tua enggan mempercayakan anaknya dijemput oleh anak seorang schizophrenia yang baru saja ditangkap polisi. Apalagi ada kemungkinan penyakit itu diturunkan pada Simon. Tak hanya itu, masa depannya menjadi terancam tidak bisa berkembang karena waktunya habis untuk mengurus keluarganya, terutama adiknya yang masih kecil, Maja, yang menjadi terbengkalai karena sang ibu sibuk mengurus Hans. Pertemuannya dengan seorang gadis, Verena, yang cerdas dan punya cita-cita yang tinggi, membuat Simon semakin bingung menentukan, apakah akan terus-terusan mengurus keluarganya atau menciptakan masa depannya sendiri.

Hirngerspinster sebenarnya punya premise yang menarik dan divisualisasikan dengan alur yang pas pula. Namun selain akting yang begitu kuat terutama dari Tobias Moretti sebagai Hans dan pendatang baru, Jonas Nay sebagai Simon (tak heran dua-duanya diganjar penghargaan di Bavarian Film Awards), jujur, tak ada sesuatu yang benar-benar remarkable.

Lihat data film ini di IMDb.

Im Labyrinth des Schweigens /
Labyrinth of Lies (2014)

Johann Radman adalah jaksa muda pendatang baru yang tertarik untuk melakukan investigasi terhadap sebuah kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. Ini bukan hal yang mudah, mengingat masyarakat Jerman, terutama para pejabatnya, lebih memilih untuk sebisa mungkin melupakan aib di mata dunia yang terjadi belasan tahun yang lalu itu. Namun dengan gigih dan sabar, Johann mengumpulkan fakta-fakta yang membawanya pada kemuakan terhadap bangsanya sendiri.

Diangkat dari kisah nyata, Im Labyrinth des Scweigens (ILdS) membeberkan fakta-fakta yang sangat akurat, baik tentang perkembangan investigasi dan seputar kamp konsentrasi di Auschwitz. Namun kesetiaan inilah yang membuat satu jam pertama terasa berjalan begitu lambat, datar, dan terkesan bertele-tele. Baru pada paruh kedua, ketika investigasi mulai punya pertalian langsung dengan perkembangan karakter Johann, film menjadi lebih menarik. Termasuk ketika menampilkan hubungan Johann dengan Marlene Wondrak yang menyumbangkan rangkaian dialog paling mengesankan sepanjang film. Esensi terpenting dari pengungkapan kasus Auschwitz pun menjadi kesimpulan yang bergaung begitu kuat.

Lihat data film ini di IMDb.

Who Am I – Kein System ist sicher /
Who Am I - No System is Safe (2014)

Benjamin yang selama ini selalu merasa invisible, ingin merasakan menjadi superhero. Beruntung dengan kemampuannya mengutak-atik bahasa program komputer, ia punya harapan untuk mewujudkan mimpinya. Apalagi pertemuannya dengan Max yang memotivasinya untuk menjadi manusia yang berani mengambil tindakan. Bersama timnya; Stephan dan Paul, mereka berempat memutuskan untuk menjadi Robin Hood di dunia maya (baca: hacker) dengan nama sandi CLAY (Clowns Laughing At You). Popularitas CLAY membuat Europol yang dipimpin oleh Hanne Lindberg, memburu mereka. Setelah muncul tantangan dari grup hacker lain dan satu per satu melibatkan pembunuhan, keadaan menjadi semakin buruk, hingga semua tuduhan jatuh pada Benjamin.


Sejak awal, Who Am I (WAI) mengingatkan saya akan Fight Club-nya David Fincher. Mulai dari gaya dan energi visual, sampai penggambaran karakter serta fisik Benjamin yang dibuat mirip karakter Edward Norton di film cult itu. Benar saja, hingga klimaksnya, WAI memang memasukkan sebagian besar template Fight Club pada tema hacker-nya. Bahkan di kamar Benjamin terpasang dengan jelas poster film yang juga dibintangi oleh Brad Pitt itu. Mungkin yang membuatnya jadi lebih menarik adalah tambahan visualisasi dunia maya, terutama antara Benjamin dengan group hacker misterius. Cerita juga menambah satu lapisan twist lagi setelah klimaks sebagai bumbu tambahan. Menarik dan cukup relevan dengan setup-setup yang dibangun sejak awal sih, tapi tetap saja bagi saya yang hafal Fight Club luar-dalam, that didn’t really work that much. Namun bagi penonton yang belum familiar, mungkin masih bisa menikmati energi dan alur yang memang tertata dengan pas, rapi, cerdas, dan mudah dicerna oleh penonton umum. Tak heran jika WAI mencetak box office di Jerman dengan mengumpulkan US$ 11 juta dalam waktu 4 minggu. Kabar terakhir, Warner Bros. sudah melakukan deal untuk me-remake film ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates