Thursday, September 17, 2015

The Jose Flash Review
The Transporter Refueled

Sineas Perancis, Luc Besson, harus diakui memang punya tangan dingin di dunia sinema. Tak hanya dalam menghasilkan karya berkelas award, tapi juga pop corn flicks. Salah satu franchise terbesarnya adalah Transporter yang menurut dirinya, awalnya adalah sekedar remake bebas dari karya sebelumnya, Kiss of the Dragon. Action-pack berbudget (relatif) rendah, yaitu hanya sekitar US$ 21 juta, berhasil mengumpulkan lebih dari 2 kali lipat di seluruh dunia. Jalan cerita yang based on character memungkinkan Transporter untuk berkembang menjadi sebuah franchise. Apalagi di tangan dingin sutradara Louis Letterier, karakter Frank Martin berhasil begitu melekat pada sosok Jason Statham. Meski sebelumnya sudah membintangi beberapa film yang remarkable, Transporter tetap bisa dianggap sebagai judul yang melambungkan namanya setinggi saat ini. Setelah 3 installment dan 2 season serial TV, sebuah trilogy baru dipersiapkan untuk diproduksi, dengan masuknya investor dari Cina. Sayangnya, permintaan bayaran sebesar US$ 11 juta per hari dinilai memberatkan, sehingga pihak EuropaCorp memutuskan untuk menggantinya dengan Ed Skrein, yang dikenal lewat serial Game of Thrones, untuk memerankan iconic character Frank Martin. Diputuskan jugalah untuk me-reboot cerita Transporter secara keseluruhan, dengan mengabaikan installment-installment sebelumnya. Camille Delamarre yang selama ini sering menjadi editor film-film produksi Besson, seperti Transporter 3, Taken 2, Lockout, Colombiana, dan 22 Bullets, ditunjuk menjadi sutaradara setelah sebelumnya pernah dipercaya Besson menyutradarai Brick Mansions.

Masih seperti installment-installment sebelumnya, Frank Martin di sini masih digambarkan sebagai bekas tentara operasi khusus yang bekerja sebagai transporter, alias ‘supir’ eksekutif yang siap melayani klien-kliennya dengan 3 syarat: tidak pernah mengubah persetujuan, tak perlu tahu nama sang klien maupun apa yang diantarkan, dan terakhir, tidak pernah melihat apa isi paket yang diantarkan. Klien yang sepakat dilayaninya kali ini adalah seorang wanita anggun bersama 3 orang wanita lainnya dengan wig yang sama sehingga keempatnya terkesan kembar empat. Awalnya Frank mengira keempatnya adalah perampok bank. Namun setelah sang ayah, Frank Senior, diculik, Frank mau tak mau melanggar peraturan-peraturan kode etik kerjanya dan terlibat permainan mematikan dengan gembong prostitusi besar, Arkady Karasov.

Membaca sinopsis di atas, tentu sudah tidak asing lagi terutama buat penggemar installment-installment sebelumnya. Tak ada yang istimewa dari segi naskah. Well, sejak franchise ini berdiri pun juga sudah bukan tipe film yang butuh naskah yang kuat ataupun istimewa. Semua berfokus pada rangkaian adegan aksi gila-gilaan dan aksi kebut-kebutan yang juga tak kalah breathtaking. Truly a high-dose and high-octane entertainment, brainless sometimes. Begitu juga dengan Transporter Refueled (TR) yang masih menggunakan konsep dan formula yang sama. Saking terlalu fokusnya dalam menghadirkan adegan aksi tanpa henti, hampir kesemua adegan aksinya terkesan dingin dan kaku bak es. Seolah kesemuanya sudah ditata dan didesain sedemikian rupa, tinggal dijalankan, dan tidak banyak memberikan efek keseruan ataupun ketegangan. Ada sih satu-dua adegan aksi yang masih sedikit breathtaking, tapi secara keseluruhan memang terasa dingin dan kaku, termasuk ekspresi Frank Martin ketika melakoninya. Eye-candy, very much, but that’s all it got.

Jason Statham memang tidak mungkin digantikan. Meski menampilkan charm yang sama-sama kuat dan unik sebagai Frank Martin, termasuk skill bela diri yang tak kalah mumpuni, Ed Skrein tetap terasa ‘beda’. Bagi penggemar setia Transporter yang sudah terlanjur terbiasa melihat Jason Statham sebagai sosok Frank, tentu sulit untuk menyukai penampilan Skrein, sementara penonton baru mungkin bisa menyukai sepak terjangnya di sini. Sebaliknya, karakter Frank Senior yang sebelumnya memang belum pernah dimunculkan, berhasil memberi warna tersendiri, baik dari segi cerita maupun kharisma Ray Stevenson selaku pemeran. Malah bisa dibilang, Stevenson mencuri layar sepanjang film, selain sepak terjang Skrein.

Loan Chabanol sebagai Anna, Gabriella Wright sebagai Gina, Tatiana Pajkovic sebagai Maria, dan Wenxia Yu sebagai Qiao, bak empat wanita dengan pesona sensualitas yang sama besarnya. Namun karena porsi ‘sensualitas’ yang nyaris setara ini membuat tidak ada salah satu yang menonjol, sehingga akhirnya tak ada satupun dari keempatnya yang benar-benar memorable, selain just another hot chicks. Begitu juga Radivoje Bukvic (Arkady Korasov), Yuri Kolokolnikov (Yuri), dan Lenn Kudrjawizki (Leo Imasova) yang terasa just another replaceable Russian thugs.

Bagi yang sudah terbiasa dengan kamera dan editing di installment-installment sebelumnya, tentu tak ada yang terasa istimewa di sini. Masih stylish, porsi yang serba pas, serta sesuai dengan kebutuhan adegan aksi yang mengandalkan pace. Apalagi latar Nice, Alpes-Maritimes yang terekam dengan indah. Pemilihan soundtrack-nya pun masih seasyik installment-installment sebelumnya. Sayang, untuk sebuah film action, fasilitas Dolby Digital 7.1 terasa begitu mubazir. Entah kenapa tiap suara yang terdengar, mulai dialog hingga sound effect, semua seperti terdengar mengambang. Jauh dari kesan crisp dan deep bass. 

Sebagaimana pendahulu-pendahulunya, Transporter memang sebuah franchise yang dibuat untuk tidak pernah beranjak ke mana-mana, termasuk level yang lebih tinggi. Semuanya tergantung pada adegan-adegan aksi yang ditampilkan dan kharisma sang action hero, Frank Martin, untuk menghibur penonton. Begitu pula dengan TR yang masih dibuat dengan konsep itu. Nikmati saja tiap adegannya seperti eye-candy. Forgettable? Probably. Ed Skrein sukses memerankan Frank Martin? Tergantung Anda yang menilai. As for me, he’s doing okay, but Statham as Frank was definitely irreplaceable.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates