Tuesday, September 8, 2015

The Jose Flash Review
No Escape

Dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya, Thailand termasuk yang paling welcome terhadap Hollywood untuk  memproduksi film di negaranya. Tak terkecuali film-film yang menggambarkan masalah yang bisa didapatkan pengunjung ketika ke Thailand. Dalam ingatan saya ada cukup banyak judul yang seperti ini. Sebut saja The Beach-nya Danny Boyle, Brokendown Palace-nya Jonathan Kaplan, bahkan seorang Bridget Jones pun pernah bermasalah ketika ke Thailand di Bridget Jones: The Edge of Reason. Tahun 2015 ini ada satu lagi film yang mengambil gambar di Thailand dan bisa jadi momok paling seram yang bisa terjadi di Asia Tenggara; No Escape (NE). Ditulis dan disutradarai oleh John Erick Dowdle, dibantu saudaranya, Drew Dowdle yang kepiawaiannya memompa adrenaline dikenal sejak Quarantine, Devil, dan tahun lalu lewat As Above, So Below, NE menjanjikan sebuah pemompa adrenaline yang berkualitas.

Jack Dwyer dikirim oleh perusahaan penyedia fasilitas air bersih, Cardiff, ke sebuah negara di Asia Tenggara. Jack mengajak keluarganya; sang istri, Annie, serta kedua putrinya, Lucy dan Beeze. Baru mendarat, mereka sudah mendapati pengalaman yang tidak mengenakkan. Namun mimpi buruk baru dimulai ketika tiba-tiba pecah kerusuhan yang disulut oleh para pemberontak sadis. Tak kenal ampun, siapapun yang menghadang dihabisi dengan kejam, terutama terhadap kaum ekspatriat yang dituduh menjadi dalang permasalahan di negaranya. Terjebak di dalam hotel, Jack harus bermain kucing-kucingan menyusuri kota asing tersebut, dan yang paling penting menyelamatkan keluarganya. Untung mereka tidak sendiri. Ada ekspatriat lain yang nampaknya paham betul penyebab kerusuhan itu dan lebih piawai dalam beraksi, Hammond.

Secara keseluruhan, premise dan kemasan NE mengingatkan saya akan salah satu film favorit tahun 2012 lalu, The Impossible. Sama-sama bercerita tentang satu keluarga yang berjuang survive dari bencana di negara Asia Tenggara. Bedanya jika The Impossible lawannya adalah bencana alam, NE adalah bencana sosial. Sama-sama mengerikan dan sama-sama tak terduga. Efek thrilling dan ‘horor’-nya pun sama efektifnya. Selama satu setengah jam lebih, penonton diajak untuk merasakan adrenaline rush bak yang dialami Jack. Rasa was-was ada musuh yang siap menghabisi di tiap jengkal dan tiap menit, ditambah khawatir terhadap nasib orang-orang yang disayangi, menjadi formula yang begitu dipahami dan dimanfaatkan Dowdle di sini. Tiap kejadian di alurnya berhasil membuat saya deg-degan dan merasa tidak nyaman (for this case, it is a good thing) tanpa henti. For me, it was a nightmare of being chased and playing deadly hide and seek. Very terrifying.

Lupakan naskah cerita yang berbobot, karena NE tidak membutuhkannya. Alur cerita dengan ride yang bisa membuat penonton menahan nafas sepanjang film, sudah membuat NE berhasil menjalankan misinya. Namun bukan berarti naskahnya sama sekali tak patut diapresiasi. Meski berbagai elemen merujuk setting cerita di Thailand, seperti tulisan aksara Thai, bahasa, dan penggambaran fisik masyarakatnya, namun sama sekali tak ada penyebutan nama negara Thailand sepanjang film dan dalam materi promosi apa pun. Faktanya pun, Thailand memang tak berbatasan langsung dengan Vietnam seperti yang diceritakan dalam film (kalau mau lebih teliti, yang lebih masuk akal dari detail yang ditampilkan, latarnya justru berada di Kamboja). Jelas ini menjadi bukti bahwa naskah dikerjakan dengan sangat hati-hati, tanpa bermaksud mendeskritkan suatu negara tertentu. Namun impact-nya (like, xenophobic, for instance) memang bisa terasa terhadap negara-negara Third World, khususnya Asia Tenggara. Modus negara-negara Barat yang digambarkan sengaja membantu negara-negara berkembang yang mustahil membayar hutang-huntangnya sebagai cara untuk mengendalikan suatu negara, menjadi penyeimbang untuk menetralkan keterpihakan salah satu blok negara. Meski harus diakui, fakta itu sudah bukan rahasia lagi dipraktekkan oleh negara-negara yang bersangkutan.

Di lini utama, Owen Wilson membuktikan diri bahwa dirinya juga bisa memerankan karakter di film non-komedi. Kharismanya sebagai loving dad yang juga pemberani cukup terasa kuat. Lake Bell sebagai sang istri bisa mengimbangi meski tak terlalu menonjol. Sementara Pierce Brosnan yang dipasang sebagai sang badass action hero who saved the day ala Chuck Norris atau Liam Neeson, memang tak diberi screen time yang cukup maupun karakter yang diberi cukup perkembangan untuk menjadi loveable, tapi aksinya yang memang ‘saved the day’ dan kharisma action hero yang memang tak pernah luntur dari dirinya, membuat penampilannya lebih mencuri perhatian, along with the Kenny Rogers, Sahajak Boonthanakit.

Editing dari Elliot Greenberg dan sinematografi efektif dari Léo Hinstin memegang peranan penting terhadap penyutradaraan Dowdle yang sudah sangat baik dalam menghadirkan intensitas thriller-nya. Ditambah score dari Marco Beltrami dan Buck Sanders yang membuat suasana menjadi semakin mencekam.

Tak perlu terlalu sensitif maupun memikirkan fakta di balik yang terjadi di layar, karena kenyataannya NE tak menawarkan itu. Nikmati saja the breathtaking thrilling ride sepanjang durasinya yang ditawarkan Dowdle. Tak salah jika lantas Anda menjadi trauma untuk berkunjung ke negara… Oh well, kita sendiri juga tinggal di negara Asia Tenggara ya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates