Thursday, September 17, 2015

The Jose Flash Review
The Maze Runner: The Scorch Trials

Film yang diangkat dari novel young adult bertemakan dystopian memang masih laris untuk dijual. Terbukti, The Maze Runner, yang tergolong paling terakhir diangkat, dibandingkan kompetitornya, The Hunger Games dan Divergent, masih termasuk laris di pasaran. Dengan budget ‘hanya’ US$ 34 juta, berhasil mengumpulkan sekitar US$ 340 juta di seluruh dunia. Fox pun tak perlu pikir panjang untuk melanjutkan franchise ini, dimana versi novelnya sudah sampai pada seri kelima. Maka hanya berselang 1 tahun, The Maze Runner: The Scorch Trials (TST) dirilis, dengan tim yang kurang lebih sama, termasuk sutradara Wes Ball dan penulis naskah yang hanya menyisakan T.S. Nowlin seorang.
Setelah berhasil lolos dari labirin, Thomas dan teman-temannya dibawa ke sebuah fasilitas yang seolah lebih baik daripada labirin. Janson, kepala fasilitas itu meyakinkan mereka bahwa mereka bukan bagian dari WCKD (the World Catastrophe Killzone Department) dan ini adalah tempat sementara bagi para penyitas labirin sebelum dibawa pulang ke rumah masing-masing. Bagaimana tidak senang, setelah berbulan-bulan hidup di dalam labirin, mereka akhirnya mendapatkan fasilitas yang jauh lebih nyaman di situ. Makanan, mandi dengan air bersih, tempat tidur yang nyaman. Thomas mencurigai ada sesuatu yang salah dengan fasilitas itu, dan diperkuat oleh fakta yang ditunjukkan salah satu penyitas terlama, Aris. Rencana kabur pun disusun. Namun keluar dari fasilitas itu ternyata barulah permulaan dari petualangan di bentaran dunia luar yang ternyata gersang dan sudah dalam kondisi rusak parah. Perjalanan mereka nyaris tanpa tujuan. Hanya cerita tentang para rebel yang dikenal menentang WCKD, Right Arm yang menjadi referensi tujuan mereka.

Jika di installment pertama cukup setia, kali ini Nowlin dan Ball memilih untuk berbeda dari novelnya. Saya sendiri tidak masalah, karena selain memang bukan penggemar novelnya, toh perubahan juga bagus jika mampu menyampaikan ceritanya dengan lebih baik. Nyatanya, di mata saya perubahan ini punya sisi positif dan negatifnya. Di sisi positif, Nowlin-Ball bisa mengeksplor adegan petualangan dan laga dengan porsi yang lebih banyak. Apalagi materi cerita yang memang menampilkan sosok makhluk serupa zombie yang diberi nama Crank. Setidaknya ia memanfaatkannya untuk menampilkan lebih banyak adegan seru, antara lain kejar-kejaran, hide and seek, dan aksi. At this point, Ball rupanya mengalami upgrade kemampuan yang cukup banyak. Terutama untuk adegan hide and seek, ia punya cukup banyak momen yang benar-benar mendebarkan.

Sayangnya perubahan itu pula yang membuat alur cerita TST menjadi terkesan bertele-tele. Sejak keluar dari fasilitas, tokoh-tokoh utamanya sudah dibuat tidak punya tujuan. Para karakter utamanya saja bingung, apalagi penonton. Dengan sedikit demi sedikit info, akhirnya mereka mulai punya tujuan. Ternyata perjalanan panjang melewati berbagai rintangan ini cukup melelahkan. Memperkenalkan karakter-karakter baru melalui tiap titik perjalanan memperparah alur cerita sehingga terkesan bertele-tele. Dalam hati saya hanya bisa berujar, “ya ampun, ketemu siapa lagi ini?”. Belum lagi pemilihan karakter-karakter yang akan dimatikan tergolong klise. Jujur, gara-gara ini semua, tak ada satupun karakter yang membuat saya peduli akan nasibnya.

Dylan O’Brien masih diberi porsi yang paling besar sebagai Thomas. Meski tak banyak perubahan acting skill yang dimunculkan, namun setidaknya Dylan masih mampu mengemban tugas beratnya sebagai karakter utama. Sementara teman-teman dalam gengnya, seperti Ki Hong Lee (Minho), Kaya Scodelario (Teresa), Thomas Brodie-Sangster (Newt), Dexter Darden (Frypan), dan Alexander Flores (Winston), nyaris tidak diberi porsi untuk berkembang. Sebaliknya, pengisi karakter-karakter baru yang berhasil mencuri perhatian antara lain Rosa Salazar (Brenda) dan Jacob Lofland (Aris Jones). Giancarlo Esposito sebagai Jorge juga patut mendapatkan kredit tersendiri.

Sinematografi dari Gyula Pados dan editing Dan Zimmerman, meski tak ada yang istimewa, namun tergolong efektif dalam visualisasi berbagai kebutuhan adegannya. Scoring dari John Paesano juga tak ada yang istimewa. Sementara tata suara cukup banyak memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos. Gimmick sound effect Atmos favorit saya adalah ketika shocking gun ditembakkan. Sementara suara helikopter lewat yang biasanya dimanfaatkan menjadi gimmick Atmos untuk speaker atap, tak begitu terdengar efeknya.


Dengan berbagai perubahan yang cukup signifikan, baik jika dibandingkan installment pertama maupun versi novelnya, TST bisa jadi lebih baik atau malah lebih buruk bagi Anda. Kalau menurut saya, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, perubahan ini membawa 2 sisi. Keputusan ada di tangan Anda, apakah neracanya lebih berat ke ‘suka’ atau ‘tidak suka’.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates