Tuesday, September 1, 2015

The Jose Flash Review
The Man from U.N.C.L.E.

Tahun 2015 bisa dibilang tahunnya secret agent. Bagaimana tidak, tahun ini kita disuguhi aksi dari Kingsman: The Secret Service, Melissa McCarthy di Spy, Ethan Hunt dan timnya di Mission: Impossible – Rogue Nation, dan nantinya masih ada sang legenda, James Bond, di Spectre. Satu lagi agen rahasia dari serial TV yang mencoba peruntungannya di layar lebar, Napoleon Solo dan Illya Kuryakin. Keduanya pernah populer di TV era 60-an. Tak tanggung-tanggung, sutradara bervisi yang pernah sukses mengadaptasi Sherlock Holmes, Guy Ritchie, didapuk sebagai sutradara sekaligus penulis naskah dengan dibantu Lionel Wigram yang pernah bekerja sama dengannya di Sherlock Holmes. Bisa ditebak, Guy Ritchie bakal memasukkan semua signatural khasnya ke dalam The Man from U.N.C.L.E. (TMFU) versi terbaru ini.

TMFU membidik kolaborasi antara dua agen rahasia yang pernah berseteru sehingga tetap membawa persaingan ketika harus bekerja sama, Napoleon Solo, agen rahasia Amerika Serikat yang mantan narapidana, dan Illya Kuryakin, agen KGB Jerman yang punya masa kecil traumatis dan menyebabkan sifat temperamentalnya kelak. Tugas mereka adalah menyelediki kasus hilangnya ilmuwan nuklir Jerman. Mereka curiga ia diculik oleh milyarder bernama Victoria dan suaminya, Alexander, untuk merakit senjata nuklir. Sebagai bantuan, bergabung juga Gaby, putri sang ilmuwan nuklir Jerman.

Jalan cerita di atas jelas bukan sesuatu yang baru. Malah termasuk generik di genrenya. Namun bagi yang mengenal dan menyukai gaya sinematik Guy Ritchie, maka bukan itu yang terpenting. Bagi yang belum tahu, TMFU versi Guy Ritchie ini menyajikan semua ciri khasnya, mulai karakter-karakter dengan latar belakang ganjil, dialog-dialog cerdas, humor-humor witty yang banyak dimanfaatkan terutama untuk menggambarkan persaingan antara Solo-Kuryakin, adegan-adegan split screen, dan subtitle stylish. In one word, TMFU was definitely very stylish in every aspect. Premise cerita yang biasa-biasa saja jelas terasa jauh lebih menarik dengan treatment ala Guy Ritchie.

Sayangnya, kali ini Guy Ritchie terpeleset terlalu dalam dengan segala signaturalnya. Saya memuji berbagai effortnya untuk ‘menghiasi’ TMFU, dan visually, it really really worked. Namun saya juga tidak bisa memungkiri kalau TMFU gagal untuk engage me emotionally. I mean, saya masih bisa tertawa atau sekedar tersenyum, dan mungkin beberapa kali geleng-geleng kepala sambil berujar “gile”, namun in the end, tak menghasilkan decak kagum apa-apa seperti yang biasa dilakukan oleh Ritchie. Saya sempat mencoba mengingat-ingat dan menganalisa, apa yang menjadi penyebabnya. Lalu saya mendapatkan beberapa aspek yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama, Ritchie has overdone it, terutama dalam mengeksploitasi persaingan antara Solo dan Kuryakin. Kedua, ada cukup banyak adegan yang dibuat terlalu lama. Mungkin maksudnya menyesuaikan dengan durasi lagu pengiringnya, tapi seringkali malah jauh melewati ‘momen’-nya. Ketiga, klimaksnya tergolong terlalu datar dan biasa saja dibandingkan kebanyakan genre sejenis. Terakhir, mungkin saja style vintage yang begitu kental diusung membuat TMFU terkesan ‘vintage’ pula. Tak ada yang salah dengan style vintage, hanya saja tetap butuh menghasilkan excitement yang bisa dinikmati dengan standard modern.

Sebagai lead, duet Henry Cavill dan Armie Hammer jelas terasa paling kuat, terutama dalam menghasilkan chemistry love-hate-nya yang juga menghasilkan adegan-adegan komikal. Hammer mengingatkan saya akan peran Jason Statham ketika membintangi film Guy Ritchie sebelumnya, Snatch. Sementara Alicia Vikander (Ex-Machina) dan Elizabeth Debicki (The Great Gatsby versi Baz Luhrman) dengan kecantikan dan keanggunannya sepanjang film, jelas memberi warna yang begitu mencolok di layar. Terakhir, Hugh Grant yang running time-nya tak terlalu banyak terasa hanya sekedar menjadi cameo yang mencoba mencuri layar. Cukup berhasil meski tak meninggalkan kesan yang terlalu berarti.

Bicara soal teknis, TMFU yang ‘sangat Ritchie sekali’ jelas unggul di banyak aspek. Mulai sinematografi John Mathieson yang dengan cantik membingkai adegan-adegan cantiknya begitu match dengan latar yang juga luar biasa. Termasuk adegan-adegan aksinya. Split screen yang menjadi salah satu ciri editingnya tak terlalu banyak berpengaruh terhadap adegan selain sekedar gaya-gayaan, tapi terlihat cukup menarik. Art direction yang membuat segalanya serba vintage juga patut mendapat kredit lebih, terutama kostum yang marvelous dan fabulous.

Tata suara tak terlalu istimewa namun lebih dari cukup untuk menghidupkan adegan-adegannya. Fasilitas Atmos juga tak terlalu istimewa namun begitu terasa dimanfaatkan ketika bohlam lampu berputar di adegan torturing Solo, hujan tembakan, dan car chase di klimaks. Terakhir, pilihan musik pengiring dan scoring dari Daniel Pemberton yang juga signatural dan begitu sinematis, menjadi salah satu aspek terpenting dari TMFU.


In the end, meski punya semua yang biasanya Anda suka dari film-film Guy Ritchie, TMFU masih gagal untuk menjadi lebih dari sekedar tontonan spionase yang menghibur serta mengasyikkan dengan segala aspeknya. Dengan hasil box office yang termasuk flop di US, harapan saya dan mungkin fans Guy Ritchie yang lain untuk melihat lebih banyak aksi Solo-Kuryakin di layar lebar semakin mengecil. Semoga saja Warner Bros masih tertarik untuk melanjutkannya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates