Friday, September 25, 2015

The Jose Flash Review
Katti Batti

Dibandingkan film yang mengangkat tema ‘jadian’, tema ‘putus’ dan ‘move-on’ tergolong jarang diangkat. Dari sekian film bertemakan ‘putus’ dan ‘move-on’, siapapun bisa dengan mudah menyebut (500) Days of Summer sebagai yang paling diingat. Tak salah, harus diakui 500DoS yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel ini memang jadi film tentang move-on yang tak hanya appealing, cerdas, tapi juga bisa ‘memotivasi’ siapa saja yang sedang patah hati dan harus move-on. Tahun 2015 sutradara-penulis naskah India, Nikhil Advani (Kal Ho Naa Ho, Salaam E-Ishq, dan D-Day), me-remake 500DoS menjadi sebuah racikan baru lewat Katti Batti (KB), dengan pasangan Imran Khan (Delhi Belly) dan Kangana Ranaut (Tanu Weds Manu, Queen).

Payal dan Maddy telah menjalin hubungan asmara selama 5 tahun. Bahkan terakhir mereka sudah sampai memutuskan untuk tinggal bersama. Seiring dengan usia dan perkembangan masing-masing, tiba-tiba ada yang turut berubah dari hubungan mereka. Payal yang sudah tak tahan lagi akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Maddy. Menyadari tak bisa hidup tanpa Payal, Maddy berusaha mencari keberadaan Payal dan berniat balikan. Namun Payal seolah sudah menutup semua aksesnya. Hingga di satu titik Maddy menemukan sesuatu yang salah yang menyebabkan Payal meninggalkannya.

Seperti 500DoS, KB sebenarnya punya premise dasar yang sangat sederhana. Dan seperti rata-rata film Hindi, KB banyak memanfaatkan flashback sebagai motor penggerak cerita. Bahkan jauh sampai ketika Maddy pertama kali melihat Payal dan langsung jatuh cinta. Awal-awal hubungan mereka pun divisualisasikan lewat sebuah rangkaian kolase stop motion yang cantik dan penuh warna-warni ceria. Penonton pun awalnya disuguhi awal keretakan hubungan mereka melalui sudut pandang Maddy. Baru kemudian di babak selanjutnya, sudut pandang Maddy dipatahkan lewat sudut pandang Payal. Ini menarik. Jika di 500DoS, kita hanya disuguhi penceritaan dari sudut pandang sang pria, Tom (Joseph Gordon-Levitt), sementara sosok Summer (Zooey Deschanel) dibuat semisterius mungkin sampai revealing yang juga tak terlalu menjelaskan di bagian akhir, maka KB menampilkan konsep battle of sexes yang seimbang dan realistis. Misalnya bagaimana pria pada awal sebuah perpisahan cenderung menyalahkan si wanita, padahal dirinya sendiri yang lebih butuh untuk balikan, atau bagaimana wanita bisa memutuskan untuk berpisah hanya karena alasan-alasan yang mungkin bagi pria, sepele. Tidak ketinggalan, sentilan-sentilan menggelitik yang memancing penonton untuk tertawa, atau malah mentertawai diri sendiri.

Namun pada klimaksnya, cerita ala 500DoS yang sudah dibangun dengan setup-setup yang bagus ini diputar balikkan lewat sebuah twist yang mungkin bagi penonton yang sering menikmati film romantis, cheesy dan corny. I don’t want to spoil here, tapi intinya, break-up story yang dikembangkan dengan battle of sexes, berubah jadi cerita cinta sejati yang manis dan mengharukan. Secara logika, twist ini pun terkesan sulit diterima logika, namun bukan berarti tidak mungkin. Nevertheless, seperti kebanyakan film Hindi, twisting part ini tetap saja berhasil menyentuh emosi penonton dengan cukup maksimal.

Sebagai pasangan, Imran dan Kangana berhasil membangun chemistry yang kuat dan meyakinkan, baik ketika sedang akur-akurnya, bertengkar, maupun ketika sedang berpura-pura bersikap biasa saja, we know that there’s still love left in them. Kehadiran Roger dan band ‘sakit hati’-nya, FOSLA (Frustrated One Sided Lovers Association), mencuri perhatian (baca: menghibur) di paruh kedua, meski harus diakui kehadirannya dalam cerita termasuk ‘aneh’. Dengan porsi yang jauh lebih sedikit, Vivan Bhatena sebagai Ricky juga cukup mencuri layar.

Di teknis, saya sangat mengagumi desain produksi yang begitu cantik. Tidak hanya ketika adegan kolase di awal, tapi juga semua settingnya. Mulai rumah tempat Maddy-Payal tinggal bersama, galeri, wedding aisle di tengah danau, bahkan sampai minivan FOSLA, semuanya luar biasa cantik. Pemilihan lagu-lagunya pun tergolong manis-manis dan ear catchy, meski tak sampai begitu memorable juga. Seperti Lip to Lip, Sarfira, dan Ove Janiya.

In the end, turnover twist pasca klimaks memang terasa begitu mengganggu. Apalagi setelah bangunan setup-setup yang ditata dengan bagus sejak awal. Namun nikmati saja suguhan mengharukan setelahnya, yang tetap saja berhasil menguras emosi meski tak sampai berlebihan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates