Wednesday, September 23, 2015

The Jose Flash Review
Black Mass

Sejak sejarah perfilman dimulai, genre crime yang mengangkat karakter-karakter mafia, baik yang berdasarkan tokoh nyata maupun fiktif sudah sangat sering sekali diangkat. Bahkan seorang Johnny Depp yang dikenal sebagai aktor dengan pemilihan peran paling variatif dan unik, sudah dua kali memerankan sosok kriminal legendaris; penguasa kokain di Amerika Serikat, George Jung, di Blow (2001), dan perampok bank paling populer di era ‘30-an, John Dillinger di Public Enemies (2009). Tahun 2015 ini Depp menambah daftar bergengsi itu dengan memerankan sosok James ‘Whitey’ Bulger, mafia penguasa Boston Selatan di era ’70 sampai ‘80-an, di Black Mass (BM). Konon sosok Whitey inilah yang menjadi inspirasi dari karakter di remake Infernal Affairs, The Departed.

Tinggal di Boston Selatan sejak kecil membuat James ‘Whitey’ Bulger jadi sosok yang dicintai di lingkungannya. Padahal Whitey dikenal sebagai kepala mafia Irlandia yang disegani, sementara sang adik, Billy, justru menjadi senator negara bagian Massachusetts. Sejak kecil Whitey menjalin persahabatan yang kental dengan John Connolly, yang kemudian menjadi agen FBI. Berusaha melindungi sahabatnya dari investigasi FBI, John memanfaatkan Whitey sebagai informan tentang sepak terjang gembong mafia Italia di Boston Selatan. Merasa juga diuntungkan dengan diberangusnya mafia Italia sebagai pesaing sekaligus mendapatkan ‘kekebalan’ hukum dari FBI, Whitey menerima tawaran itu. Namun keadaan berubah sejak seorang jaksa, Fred Wyshak, masuk ke kantor John. Fred mempertanyakan Whitey yang selalu lolos dari hukum padahal punya catatan kejahatan yang cukup panjang, termasuk peredaran narkoba dan pembunuhan. Apalagi satu per satu saksi mata yang memberatkan Whitey, ditemukan tewas.

Jika Anda termasuk rajin menyaksikan film-film bertemakan mafia, apalagi yang diangkat dari kisah nyata, maka plot yang ditawarkan BM tak ada yang benar-benar baru. Segala elemen-elemen ceritanya pun sangat familiar. Apalagi ‘keterbatasan’ kisah nyata yang memang tidak bisa seenaknya dikembangkan ke mana-mana. Namun Jez Butterworth (Edge of Tomorrow dan upcoming Spectre) yang dibantu Mark Mallouk berhasil menuliskan naskah yang serba efektif dalam merangkum rentang waktu yang cukup luas, dan tentu saja dengan dialog-dialog yang kuat, cerdas, dan memorable. Apalagi mengingat BM termasuk dialog-driven crime drama yang bisa saja jatuh jadi datar dan membosankan tanpa dialog-dialog yang ‘renyah’ dan menarik. Fokus cerita pada karakter Whitey, dan terutama hubungan antara Whitey dan John Connolly, terjaga secara konstan. Meski ada beberapa side story yang sebenarnya tak kalah menarik, seperti hubungan antara John Connolly dan sang istri, Marianne, namun tak sampai mengganggu jalan cerita utama. Meski didukung ensemble cast berkelas yang membuatnya tak perlu effort terlalu keras untuk mengarahkan mereka, sutradara Scott Cooper (Crazy Heart dan Out of the Furnace) tetap memberikan nafas yang pas dan sesuai untuk BM: dingin dan gloomy, namun tetap memasukkan sisi-sisi manusiawi yang seimbang.

Tak perlu lagi mempertanyakan penampilan Johnny Depp di sini. Tak hanya fasih beraksen Boston Selatan yang khas, namun juga menirukan banyak aspek dari sosok Whitey yang asli; mulai mimik wajah, gesture tubuh, hingga kharisma dingin dan bengis yang begitu hidup. Tak heran jika peran sebagai Whitey di sini diakui Depp sendiri sebagai peran paling favorit sepanjang karirnya. Joel Edgerton sebagai John Connolly pun menjadi pairing yang tak kalah kuatnya. Di deretan pemeran pendukung yang screentime-nya tak begitu banyak, juga tampil memikat, seperti Kevin Bacon sebagai Charles McGuire, Peter Sarsgaard sebagai Brian Halloran, Rory Cochrane sebagai Steve Flemmi, Corey Stoll sebagai Fred Wyshak, dan bahkan Dakota Johnson (iya, Dakota Johnson yang tampil berani di Fifty Shades of Grey itu!) tampil memikat dengan emosi yang pas sebagai Lindsey Cyr, istri Whitey.

Sinematografi Masanobu Takayanagi (Warrior, The Grey, Silver Linings Playbook, dan pernah bekerja sama dengan Scott Cooper di Out of the Furnace) menjadi kekuatan terbesar teknis BM. Ada terlalu banyak perfect shot yang ditampilkan dengan begitu indah, meski tergolong minim camera movement. Tak ada yang terlalu istimewa untuk production design, termasuk costume design, selain lebih dari cukup dalam menghidupkan lagi era-nya.

Sebagai sebuah mob biopic, BM memang tergolong tipikal. Tidak terlalu direkomendasikan pula untuk penonton yang kurang bisa menikmati film dialog-driven dan minim adegan aksi (meski ada beberapa adegan pembunuhan yang cukup brutal). Namun jika Anda menggemari dialog-dialog yang memikat, ditambah performance yang serba luar biasa dari ensemble cast-nya, serta jumlah perfect shot yang banyak, BM jelas tidak boleh dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates