Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Friday, September 25, 2015

The Jose Flash Review
Katti Batti

Dibandingkan film yang mengangkat tema ‘jadian’, tema ‘putus’ dan ‘move-on’ tergolong jarang diangkat. Dari sekian film bertemakan ‘putus’ dan ‘move-on’, siapapun bisa dengan mudah menyebut (500) Days of Summer sebagai yang paling diingat. Tak salah, harus diakui 500DoS yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel ini memang jadi film tentang move-on yang tak hanya appealing, cerdas, tapi juga bisa ‘memotivasi’ siapa saja yang sedang patah hati dan harus move-on. Tahun 2015 sutradara-penulis naskah India, Nikhil Advani (Kal Ho Naa Ho, Salaam E-Ishq, dan D-Day), me-remake 500DoS menjadi sebuah racikan baru lewat Katti Batti (KB), dengan pasangan Imran Khan (Delhi Belly) dan Kangana Ranaut (Tanu Weds Manu, Queen).

Payal dan Maddy telah menjalin hubungan asmara selama 5 tahun. Bahkan terakhir mereka sudah sampai memutuskan untuk tinggal bersama. Seiring dengan usia dan perkembangan masing-masing, tiba-tiba ada yang turut berubah dari hubungan mereka. Payal yang sudah tak tahan lagi akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Maddy. Menyadari tak bisa hidup tanpa Payal, Maddy berusaha mencari keberadaan Payal dan berniat balikan. Namun Payal seolah sudah menutup semua aksesnya. Hingga di satu titik Maddy menemukan sesuatu yang salah yang menyebabkan Payal meninggalkannya.

Seperti 500DoS, KB sebenarnya punya premise dasar yang sangat sederhana. Dan seperti rata-rata film Hindi, KB banyak memanfaatkan flashback sebagai motor penggerak cerita. Bahkan jauh sampai ketika Maddy pertama kali melihat Payal dan langsung jatuh cinta. Awal-awal hubungan mereka pun divisualisasikan lewat sebuah rangkaian kolase stop motion yang cantik dan penuh warna-warni ceria. Penonton pun awalnya disuguhi awal keretakan hubungan mereka melalui sudut pandang Maddy. Baru kemudian di babak selanjutnya, sudut pandang Maddy dipatahkan lewat sudut pandang Payal. Ini menarik. Jika di 500DoS, kita hanya disuguhi penceritaan dari sudut pandang sang pria, Tom (Joseph Gordon-Levitt), sementara sosok Summer (Zooey Deschanel) dibuat semisterius mungkin sampai revealing yang juga tak terlalu menjelaskan di bagian akhir, maka KB menampilkan konsep battle of sexes yang seimbang dan realistis. Misalnya bagaimana pria pada awal sebuah perpisahan cenderung menyalahkan si wanita, padahal dirinya sendiri yang lebih butuh untuk balikan, atau bagaimana wanita bisa memutuskan untuk berpisah hanya karena alasan-alasan yang mungkin bagi pria, sepele. Tidak ketinggalan, sentilan-sentilan menggelitik yang memancing penonton untuk tertawa, atau malah mentertawai diri sendiri.

Namun pada klimaksnya, cerita ala 500DoS yang sudah dibangun dengan setup-setup yang bagus ini diputar balikkan lewat sebuah twist yang mungkin bagi penonton yang sering menikmati film romantis, cheesy dan corny. I don’t want to spoil here, tapi intinya, break-up story yang dikembangkan dengan battle of sexes, berubah jadi cerita cinta sejati yang manis dan mengharukan. Secara logika, twist ini pun terkesan sulit diterima logika, namun bukan berarti tidak mungkin. Nevertheless, seperti kebanyakan film Hindi, twisting part ini tetap saja berhasil menyentuh emosi penonton dengan cukup maksimal.

Sebagai pasangan, Imran dan Kangana berhasil membangun chemistry yang kuat dan meyakinkan, baik ketika sedang akur-akurnya, bertengkar, maupun ketika sedang berpura-pura bersikap biasa saja, we know that there’s still love left in them. Kehadiran Roger dan band ‘sakit hati’-nya, FOSLA (Frustrated One Sided Lovers Association), mencuri perhatian (baca: menghibur) di paruh kedua, meski harus diakui kehadirannya dalam cerita termasuk ‘aneh’. Dengan porsi yang jauh lebih sedikit, Vivan Bhatena sebagai Ricky juga cukup mencuri layar.

Di teknis, saya sangat mengagumi desain produksi yang begitu cantik. Tidak hanya ketika adegan kolase di awal, tapi juga semua settingnya. Mulai rumah tempat Maddy-Payal tinggal bersama, galeri, wedding aisle di tengah danau, bahkan sampai minivan FOSLA, semuanya luar biasa cantik. Pemilihan lagu-lagunya pun tergolong manis-manis dan ear catchy, meski tak sampai begitu memorable juga. Seperti Lip to Lip, Sarfira, dan Ove Janiya.

In the end, turnover twist pasca klimaks memang terasa begitu mengganggu. Apalagi setelah bangunan setup-setup yang ditata dengan bagus sejak awal. Namun nikmati saja suguhan mengharukan setelahnya, yang tetap saja berhasil menguras emosi meski tak sampai berlebihan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 23, 2015

The Jose Flash Review
Black Mass

Sejak sejarah perfilman dimulai, genre crime yang mengangkat karakter-karakter mafia, baik yang berdasarkan tokoh nyata maupun fiktif sudah sangat sering sekali diangkat. Bahkan seorang Johnny Depp yang dikenal sebagai aktor dengan pemilihan peran paling variatif dan unik, sudah dua kali memerankan sosok kriminal legendaris; penguasa kokain di Amerika Serikat, George Jung, di Blow (2001), dan perampok bank paling populer di era ‘30-an, John Dillinger di Public Enemies (2009). Tahun 2015 ini Depp menambah daftar bergengsi itu dengan memerankan sosok James ‘Whitey’ Bulger, mafia penguasa Boston Selatan di era ’70 sampai ‘80-an, di Black Mass (BM). Konon sosok Whitey inilah yang menjadi inspirasi dari karakter di remake Infernal Affairs, The Departed.

Tinggal di Boston Selatan sejak kecil membuat James ‘Whitey’ Bulger jadi sosok yang dicintai di lingkungannya. Padahal Whitey dikenal sebagai kepala mafia Irlandia yang disegani, sementara sang adik, Billy, justru menjadi senator negara bagian Massachusetts. Sejak kecil Whitey menjalin persahabatan yang kental dengan John Connolly, yang kemudian menjadi agen FBI. Berusaha melindungi sahabatnya dari investigasi FBI, John memanfaatkan Whitey sebagai informan tentang sepak terjang gembong mafia Italia di Boston Selatan. Merasa juga diuntungkan dengan diberangusnya mafia Italia sebagai pesaing sekaligus mendapatkan ‘kekebalan’ hukum dari FBI, Whitey menerima tawaran itu. Namun keadaan berubah sejak seorang jaksa, Fred Wyshak, masuk ke kantor John. Fred mempertanyakan Whitey yang selalu lolos dari hukum padahal punya catatan kejahatan yang cukup panjang, termasuk peredaran narkoba dan pembunuhan. Apalagi satu per satu saksi mata yang memberatkan Whitey, ditemukan tewas.

Jika Anda termasuk rajin menyaksikan film-film bertemakan mafia, apalagi yang diangkat dari kisah nyata, maka plot yang ditawarkan BM tak ada yang benar-benar baru. Segala elemen-elemen ceritanya pun sangat familiar. Apalagi ‘keterbatasan’ kisah nyata yang memang tidak bisa seenaknya dikembangkan ke mana-mana. Namun Jez Butterworth (Edge of Tomorrow dan upcoming Spectre) yang dibantu Mark Mallouk berhasil menuliskan naskah yang serba efektif dalam merangkum rentang waktu yang cukup luas, dan tentu saja dengan dialog-dialog yang kuat, cerdas, dan memorable. Apalagi mengingat BM termasuk dialog-driven crime drama yang bisa saja jatuh jadi datar dan membosankan tanpa dialog-dialog yang ‘renyah’ dan menarik. Fokus cerita pada karakter Whitey, dan terutama hubungan antara Whitey dan John Connolly, terjaga secara konstan. Meski ada beberapa side story yang sebenarnya tak kalah menarik, seperti hubungan antara John Connolly dan sang istri, Marianne, namun tak sampai mengganggu jalan cerita utama. Meski didukung ensemble cast berkelas yang membuatnya tak perlu effort terlalu keras untuk mengarahkan mereka, sutradara Scott Cooper (Crazy Heart dan Out of the Furnace) tetap memberikan nafas yang pas dan sesuai untuk BM: dingin dan gloomy, namun tetap memasukkan sisi-sisi manusiawi yang seimbang.

Tak perlu lagi mempertanyakan penampilan Johnny Depp di sini. Tak hanya fasih beraksen Boston Selatan yang khas, namun juga menirukan banyak aspek dari sosok Whitey yang asli; mulai mimik wajah, gesture tubuh, hingga kharisma dingin dan bengis yang begitu hidup. Tak heran jika peran sebagai Whitey di sini diakui Depp sendiri sebagai peran paling favorit sepanjang karirnya. Joel Edgerton sebagai John Connolly pun menjadi pairing yang tak kalah kuatnya. Di deretan pemeran pendukung yang screentime-nya tak begitu banyak, juga tampil memikat, seperti Kevin Bacon sebagai Charles McGuire, Peter Sarsgaard sebagai Brian Halloran, Rory Cochrane sebagai Steve Flemmi, Corey Stoll sebagai Fred Wyshak, dan bahkan Dakota Johnson (iya, Dakota Johnson yang tampil berani di Fifty Shades of Grey itu!) tampil memikat dengan emosi yang pas sebagai Lindsey Cyr, istri Whitey.

Sinematografi Masanobu Takayanagi (Warrior, The Grey, Silver Linings Playbook, dan pernah bekerja sama dengan Scott Cooper di Out of the Furnace) menjadi kekuatan terbesar teknis BM. Ada terlalu banyak perfect shot yang ditampilkan dengan begitu indah, meski tergolong minim camera movement. Tak ada yang terlalu istimewa untuk production design, termasuk costume design, selain lebih dari cukup dalam menghidupkan lagi era-nya.

Sebagai sebuah mob biopic, BM memang tergolong tipikal. Tidak terlalu direkomendasikan pula untuk penonton yang kurang bisa menikmati film dialog-driven dan minim adegan aksi (meski ada beberapa adegan pembunuhan yang cukup brutal). Namun jika Anda menggemari dialog-dialog yang memikat, ditambah performance yang serba luar biasa dari ensemble cast-nya, serta jumlah perfect shot yang banyak, BM jelas tidak boleh dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 22, 2015

The Jose State of Mind
From German Cinema 2015 (Part 3/3)

Bagian sebelumnya.

Hirngerspinster /
Flights of Fancy (2014)

Keluarga Simon berubah ketika penyakit schizophrenia sang ayah, Hans, kembali kambuh dan bahkan mencapai titik terburuknya. Sebagai akibatnya, Simon harus kehilangan pekerjannya sebagai sopir antar jemput karena para orang tua enggan mempercayakan anaknya dijemput oleh anak seorang schizophrenia yang baru saja ditangkap polisi. Apalagi ada kemungkinan penyakit itu diturunkan pada Simon. Tak hanya itu, masa depannya menjadi terancam tidak bisa berkembang karena waktunya habis untuk mengurus keluarganya, terutama adiknya yang masih kecil, Maja, yang menjadi terbengkalai karena sang ibu sibuk mengurus Hans. Pertemuannya dengan seorang gadis, Verena, yang cerdas dan punya cita-cita yang tinggi, membuat Simon semakin bingung menentukan, apakah akan terus-terusan mengurus keluarganya atau menciptakan masa depannya sendiri.

Hirngerspinster sebenarnya punya premise yang menarik dan divisualisasikan dengan alur yang pas pula. Namun selain akting yang begitu kuat terutama dari Tobias Moretti sebagai Hans dan pendatang baru, Jonas Nay sebagai Simon (tak heran dua-duanya diganjar penghargaan di Bavarian Film Awards), jujur, tak ada sesuatu yang benar-benar remarkable.

Lihat data film ini di IMDb.

Im Labyrinth des Schweigens /
Labyrinth of Lies (2014)

Johann Radman adalah jaksa muda pendatang baru yang tertarik untuk melakukan investigasi terhadap sebuah kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. Ini bukan hal yang mudah, mengingat masyarakat Jerman, terutama para pejabatnya, lebih memilih untuk sebisa mungkin melupakan aib di mata dunia yang terjadi belasan tahun yang lalu itu. Namun dengan gigih dan sabar, Johann mengumpulkan fakta-fakta yang membawanya pada kemuakan terhadap bangsanya sendiri.

Diangkat dari kisah nyata, Im Labyrinth des Scweigens (ILdS) membeberkan fakta-fakta yang sangat akurat, baik tentang perkembangan investigasi dan seputar kamp konsentrasi di Auschwitz. Namun kesetiaan inilah yang membuat satu jam pertama terasa berjalan begitu lambat, datar, dan terkesan bertele-tele. Baru pada paruh kedua, ketika investigasi mulai punya pertalian langsung dengan perkembangan karakter Johann, film menjadi lebih menarik. Termasuk ketika menampilkan hubungan Johann dengan Marlene Wondrak yang menyumbangkan rangkaian dialog paling mengesankan sepanjang film. Esensi terpenting dari pengungkapan kasus Auschwitz pun menjadi kesimpulan yang bergaung begitu kuat.

Lihat data film ini di IMDb.

Who Am I – Kein System ist sicher /
Who Am I - No System is Safe (2014)

Benjamin yang selama ini selalu merasa invisible, ingin merasakan menjadi superhero. Beruntung dengan kemampuannya mengutak-atik bahasa program komputer, ia punya harapan untuk mewujudkan mimpinya. Apalagi pertemuannya dengan Max yang memotivasinya untuk menjadi manusia yang berani mengambil tindakan. Bersama timnya; Stephan dan Paul, mereka berempat memutuskan untuk menjadi Robin Hood di dunia maya (baca: hacker) dengan nama sandi CLAY (Clowns Laughing At You). Popularitas CLAY membuat Europol yang dipimpin oleh Hanne Lindberg, memburu mereka. Setelah muncul tantangan dari grup hacker lain dan satu per satu melibatkan pembunuhan, keadaan menjadi semakin buruk, hingga semua tuduhan jatuh pada Benjamin.


Sejak awal, Who Am I (WAI) mengingatkan saya akan Fight Club-nya David Fincher. Mulai dari gaya dan energi visual, sampai penggambaran karakter serta fisik Benjamin yang dibuat mirip karakter Edward Norton di film cult itu. Benar saja, hingga klimaksnya, WAI memang memasukkan sebagian besar template Fight Club pada tema hacker-nya. Bahkan di kamar Benjamin terpasang dengan jelas poster film yang juga dibintangi oleh Brad Pitt itu. Mungkin yang membuatnya jadi lebih menarik adalah tambahan visualisasi dunia maya, terutama antara Benjamin dengan group hacker misterius. Cerita juga menambah satu lapisan twist lagi setelah klimaks sebagai bumbu tambahan. Menarik dan cukup relevan dengan setup-setup yang dibangun sejak awal sih, tapi tetap saja bagi saya yang hafal Fight Club luar-dalam, that didn’t really work that much. Namun bagi penonton yang belum familiar, mungkin masih bisa menikmati energi dan alur yang memang tertata dengan pas, rapi, cerdas, dan mudah dicerna oleh penonton umum. Tak heran jika WAI mencetak box office di Jerman dengan mengumpulkan US$ 11 juta dalam waktu 4 minggu. Kabar terakhir, Warner Bros. sudah melakukan deal untuk me-remake film ini.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose State of Mind
From German Cinema 2015 (Part 2/3)

Bagian sebelumnya.

Phoenix (2014)

Nelly Lenz adalah penyanyi Yahudi yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi. Namun setelah lolos dari maut, Nelly harus menjalani operasi plastik yang membuat tampilan fisiknya berbeda. Dengan bantuan sahabat setianya, Lene, keinginan Nelly hanya satu: menemukan suaminya, Johnny, yang juga seorang musisi. Apakah benar Johnny selama ini mengkhianatinya seperti yang dituduhkan Lene, dan yang paling penting, apakah Johnny masih mencintainya. Nelly berhasil menemukan Johnny di sebuah klub malam bernama Phoenix. Betapa hancur hati Nelly ketika mendapati Johnny tidak mengenalinya, meski ia sudah berusaha keras menunjukkan tanda-tanda. Malahan Johnny beride agar ia menyamar menjadi istrinya yang kembali dari kamp konsentrasi agar mendapatkan warisan dari keluarga istrinya. Nelly menuruti permintaan Johnny dan mengaku bernama Esther, dengan harapan suatu hari ia benar-benar mengenali dirinya.

Diadaptasi secara bebas dari novel Perancis berjudul Le Retour des cendres (The Return from the Ashes), Christian Petzold dan almarhum Harun Farocki menjadikan naskah Phoenix jauh lebih sederhana dan berfokus pada hubungan Nelly dan Johnny. Dengan penuturan cerita yang tenang dan lambat, Phoenix menjadi drama arthouse yang sebenarnya cukup sederhana dan mudah dipahami, namun tidak semua penonton bisa menikmatinya. Untungnya, meski mungkin terasa membingungkan atau malah terkesan menggantung bagi penonton umum, ending Phoenix cukup mengesankan (baca: menggetarkan) berkat performa yang luar biasa dari Nina Hoss sebagai Nelly Lenz, membawakan lagu Speak Low. Chemistry yang dibangun oleh Hoss dan Ronald Zehrfeld juga menjadi kekuatan tersendiri.

Lihat data film ini di IMDb.

Auf das Leben! /
To Life! (2014)

Ruth adalah mantan penyanyi kabaret yang harus merelakan rumah sekaligus workshop alat musik yang sudah menjadi passion-nya selama bertahun-tahun, disita. Sebagai gantinya, ia menempati sebuah apartemen sederhana. Tak sengaja ia justru menjalin pertemanan dengan sopir jasa pemindah perabotan, seorang pemuda berusia 29 tahun, Jonas. Apalagi setelah sebuah kejadian membuat keduanya saling membantu. Terkuaklah sebuah penggalan masa lalu Ruth sekaligus rahasia Jonas yang diam-diam meninggalkan kekasihnya.

Meski premise utamanya membuat Auf das Leben! (AdL) terkesan lebih sebagai drama penemuan kembali jati diri, bukan sebuah film drama romantis, namun porsi flashback romansa antara Ruth dan mantan kekasihnya ternyata cukup banyak. Berkat pertalian alur yang apik serta pas dengan hubungan antara Ruth-Jonas pula lah yang menjadikan AdL sajian drama romantis yang sangat manis. Didukung oleh karakter Ruth yang sarkas dan seringkali mengundang humor berkelas, serta penampilan Sharon Brauner sebagai Ruth muda yang membawakan lagu-lagu klasik namun ceria, seperti Beir mir bist du schön, Rumenye Rumenye, Tumbalalaika, Vu is dos Gessele, dan Bublitschki bagelach, alurnya yang lambat menjadi terasa lebih menarik.

Lihat data film ini di IMDb.

Kreuzweg /
Stations of the Cross (2014)

Maria adalah remaja berusia 14 tahun yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Krisma (sakramen yang biasanya diterima seorang Katolik ketika menginjak remaja, sebagai tanda penguatan iman sekaligus pembaharuan janji baptis). Kebetulan Maria dibesarkan di lingkungan Katolik fundamentalis yang menjalankan ajaran secara kaku dan menolak modernisasi, termasuk ajaran Paus yang dinilai sudah melenceng dari Gereja Katolik. Padahal Maria sendiri bersekolah di sekolah umum yang tentu saja sangat modern dan bertentangan dengan ajaran Gereja-nya. Pada akhirnya, iman yang dipegang teguh oleh Maria membuat ia berniat mengorbankan diri demi keluarganya.

Dari semua film yang ditayangkan di German Cinema kali ini, saya memilih Kreuzweg sebagai film yang paling menarik karena keunikannya. Pertama, penuturan ceritanya dibagi menjadi 14 babak sesuai 14 stasi (pemberhentian) prosesi Jalan Salib (prosesi mengenang sengsara Yesus Kristus yang dimulai dari Yesus dijatuhi hukuman mati hingga dimakamkan). Secara brilian, 14 stasi ini menjadi metafora yang relevan dengan cerita Maria. Kedua, tiap stasi yang ditampilkan adalah satu take panjang yang dimanfaatkan secara maksimal dalam menyampaikan cerita tanpa terkesan membosankan. Pergerakan kamera pun tergolong minim terjadi. Tentu saja ini juga berkat dialog-dialog yang witty dan kuat sepanjang film.

Overall, Kreuzweg adalah sindiran terhadap fundamentalis reliji yang tidak hanya terjadi pada Gereja Katolik. Namun ia sama sekali tidak menjustifikasi ajaran gereja mana yang benar. Bahkan iman Maria benar-benar terwujudkan bak mukjizat, yang otomatis sebenarnya mendukung kebenaran ajaran fundamentalis yang dianut Maria dan keluarganya. In the end, Kreuzweg lebih memilih untuk menampilkan realitas manusiawi sebagai konsekuensi dari pilihan iman keluarga Maria, terutama dari sang ibu.


Sebagai film dengan take yang serba panjang, performance para aktor-aktrisnya jelas patut mendapatkan apresiasi. Tak hanya Lea van Acken yang berperan sebagai Maria, tapi juga sang ibu yang diperankan Franziska Weisz, Lucie Aron sebagai Bernadette, dan Florian Stetter sebagai Romo Weber, yang berhasil menghidupkan karakter masing-masing dengan luar biasa.

Lihat data film ini di IMDb.

Bersambung ke bagian 3.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose State of Mind
From German Cinema 2015 (Part 1/3)

Sejak empat tahun lalu, gelaran festival film Jerman, German Cinema, meramaikan bursa festival film bergengsi di Indonesia. Dari tahun ke tahun, jumlah film yang ditayangkan terus meningkat, mulai yang pertama hanya 10 film, sampai tahun 2015 ini meningkat sampai 17 film dari berbagai genre. Seperti kita ketahui, industri film Jerman adalah salah satu yang terbesar di Eropa, setara atau malah melebihi Perancis. Jika di tahun 1927 saja Jerman sudah bisa membuat film sevisioner Metropolis yang sampai sekarang terus menginspirasi film-film besar, bahkan di Hollywood, tentu film-film Jerman pantas untuk mendapatkan perhatian lebih.

Merchandise German Cinema dari tahun 2012-2015.
Sayangnya, tahun ini German Cinema 2015 mengalami degradasi kualitas festival yang cukup drastis. Bukan, bukan dari pilihan film-filmnya, tapi dari segi manajemen pelaksanaannya. Mari kita mulai dari manajemen tiket yang sudah kacau balau. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang mana ketika datang telat pun masih dengan mudah mendapatkan tiket, kali ini keadaannya benar-benar menggila. Bayangkan, dari aturan tiket bisa didapatkan 1 jam sebelum pemutaran tiap film saja, tidak sampai 10 menit setelah dibuka, tiket sudah habis. Bahkan antriannya sudah terbentuk satu jam sebelum meja pengambilan tiket dibuka. Aturan berapa tiket yang boleh didapatkan dari tiap orang juga tidak ada, sehingga tak heran jika mendapati tiket sudah habis ketika sampai pada pengantri ke-5. Padahal calon penonton yang mengular, yang otomatis harus menunggu 1 jam lebih dengan sia-sia. Aturan satu orang hanya boleh mendapatkan 2 tiket pun baru dijalankan pada hari terakhir. Kacau sekali. Dengan demikian nonton marathon di festival ini juga menjadi hal yang mustahil… jika tanpa strategi tertentu. Tapi tunggu dulu. Mengantri untuk mendapatkan tiket masih perjuangan pertama yang harus dilalui calon penonton. Setelah mendapatkan tiket, mereka masih harus mengantri di depan pintu studio. Begitu pintu dibuka, aksi dorong-dorongan, saling serobot, dan rebutan kursi masih harus jadi tahapan ‘penderitaan’ berikutnya. Lucunya, ternyata punya tiket bukan jaminan bisa dapat tempat duduk. Ini yang saya alami sendiri ketika menonton Im Labyrinth des Schweigens. Ceritanya, saya mendapatkan last ticket dari penonton yang batal melalui panitia beberapa menit setelah film sudah mulai berjalan. Dengan antusias saya mencari kursi yang kosong, dan ternyata… tidak ada! Tiap mengkonfirmasi kursi yang kosong, selalu ada yang mengklaim ada orangnya. Aneh bukan? Ya sudah deh, saya mengalah dan duduk di anak tangga paling atas. Baru setelah tengah-tengah film saya bisa duduk di kursi samping kiri saya, karena penonton yang sebelumnya duduk di situ walk out.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peminat German Cinema tahun ini nampaknya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tentu sekilas ini menjadi sebuah kabar baik. Namun tunggu dulu. Kok peminatnya jadi anak-anak SMA dan anak kuliahan yang, sorry to say, secara attitude, norak. Padahal jelas-jelas di semua materi promosinya tertulis 18+. Ini wajar, karena film-film Jerman, sebagaimana film-film Eropa lainnya, lebih bebas dalam menampilkan adegan-adegan eksplisit, seperti ketelanjangan, seks, dan kekerasan. Apalagi film-film yang ditayangkan memang tidak melewati Lembaga Sensor Film. Jadi setiap kali ada adegan telanjang, seks, atau bahkan sekedar ciuman dan bercumbu, suasana studio jadi riuh oleh seruan para ABG-ABG yang mungkin belum terbiasa dengan adegan-adegan seperti itu. Suasana yang sangat berbeda jika Anda juga pernah datang ke festival serupa, seperti Festival Sinema Perancis atau Europe on Screen yang penontonnya jauh lebih ‘terpelajar’ dan ber-attitude.

Usut punya usut, ternyata banyak dari penonton yang berasal dari sekolah dan kampus yang diwajibkan dan ditugaskan oleh guru/dosennya. Nantinya mereka harus membuat laporan. Dahi siapapun pasti bakal langsung berkerut. Bagaimana bisa hal seperti ini bisa terjadi? Logikanya saja, satu angkatan satu kampus sudah melebihi kuota 1 studio yang digunakan, yaitu hanya berkapasitas 125 kursi (yang konon katanya hanya separuh dari kapasitas studio festival yang sama tahun lalu). Dengan demikian, habis sudah kesempatan untuk penonton umum lain, yang mungkin jauh lebih tepat sasaran daripada murid-mahasiswa ini. Sayang sekali masih ada saja guru/dosen yang dengan tidak bijak, asal menugaskan murid-mahasiswanya tanpa mencermati dulu seperti apa film-film yang akan ditayangkan. Pihak panitia menyangkal punya bentuk kerjasama dengan kampus seperti itu, namun kenyataannya di lapangan yang terjadi demikian, bagaimana dong? Ini masih belum ditambah penonton yang asal gratisan, tapi ketika tengah-tengah film malah ribut sendiri atau walk out. Maklum, masyarakat Indonesia pada umumnya masih belum bisa menghargai gratisan dan juga tidak begitu peduli apa yang akan ditontonnya. Lah mau nonton bioskop yang berbayar aja, masih nanya mbak penjaga loketnya, apa yang bagus. Apalagi gratisan.

Saya pernah mengusulkan menghapus sistem gratisan untuk German Cinema sebagai bentuk seleksi penonton secara otomatis, sehingga penonton yang datang pun yang benar-benar selektif dan memang niat untuk nonton. Dengan kata lain, orang-orang yang memang target audience-nya, yang concern dengan cultural event seperti ini, yang siap dengan segala sesuatu yang mungkin ditampilkan pada film. Jawaban dari mereka adalah, “kami tidak bisa memungut biaya karena sudah ketentuan dari yayasan”.  Oke, beberapa festival serupa juga gratisan, tapi tetap bisa menseleksi penontonnya secara tidak langsung. Ketika dikritik tentang seleksi penonton, pihak panitia seolah juga tidak tahu bagaimana mengontrol penonton, dengan memberikan jawaban seperti, “itu di luar kontrol kami”, “kami tidak bisa melarang penonton untuk nonton”. Memang benar kita tidak bisa secara langsung membatasi penonton di lapangan, tapi seleksi penonton dan tindakan preventif tetap bisa dilakukan secara tidak langsung. Yang paling mudah dan bisa dengan efektif menseleksi penonton adalah penerapan batasan usia yang ketat. Ini penting. Absennya subtitle bahasa Indonesia juga bisa menjadi filter yang efektif. Come on, penonton yang bisa menikmati dan terbiasa menonton film-film festival sudah terbiasa pula dengan subtitle Bahasa Inggris. Memang terkesan diskriminatif atau stereotip, tapi percayalah, memang demikian kenyataannya. Boleh silakan lakukan riset sendiri. Seleksi tak langsung ini memang tidak otomatis bisa 100% ‘menghalangi’ penonton norak untuk datang, tapi jelas akan menekan jumlahnya. Percayalah, penonton dengan bad attitude itu hanya berani bersikap norak jika ada teman-temannya alias beramai-ramai. Ketika sendirian mereka tetap akan malu untuk bersikap norak.

Festival film internasional seharusnya menjadi event berkelas, sehingga harus selalu dijaga reputasinya. Meski dibuka untuk umum, namun secara intern tetap harus punya target audience yang jelas. Come on, lihatlah tipe film-film yang ditayangkan. Yang benar-benar bisa dinikmati oleh penonton umum (dan awam) tidak sampai 10% dari keseluruhan film. Misalnya dari pergelaran German Cinema di Surabaya kemarin. Kalau mau jujur, hanya ada dua judul yang benar-benar bisa dinikmati penonton umum, yaitu Fack Ju Göhte dan Who Am I (pihak panitia boleh deh mengadakan survey kecil-kecilan, menanyakan kesan-kesan penontonnya pasca pemutaran tiap film, atau paling mudah, hitung ada berapa penonton yang walk out atau tertidur saat menonton). Jadi jelas sekali bahwa pilihan film-film yang diputar sudah secara otomatis menentukan target audience-nya dengan sangat jelas. Jika penontonnya dibebaskan sebebas-bebasnya seperti yang terjadi pada German Cinema tahun ini, yang lebih terasa seperti pensi alay, dan panitia enggan untuk melakukan evaluasi serta perbaikan dari pihak penyelenggara, bukan tidak mungkin reputasi festival menjadi jatuh serendah-rendahnya. Jika event ini sudah menjadi domain alay yang dihadiri orang-orang ber-attitude kampungan, maka target audience yang sesungguhnya; yang benar-benar tertarik dan terbuka dengan kultur Jerman, dan termasuk juga para ekspatriat, menjadi malas untuk hadir. Antri berjam-jam sudah bukan hal yang sepadan untuk dilakukan, apalagi suasana nonton yang jauh dari nyaman. Sebaliknya, malah image sebagai negara yang ‘rusak’ dan ‘amoral’ didapatkan dari penonton yang tidak sesuai target audience. Saya masih ingat komentar salah satu siswa SMA setelah nonton Ich fühl mich Disco di German Cinema tahun lalu: “Film apa ini? Jelek banget. Pantesan dikasih gratisan, soalnya nggak laku, Nggak ada yang mau nonton.” Apakah image seperti itu yang diharapkan penyelenggara?

Ternyata kekacauan yang serupa tapi tak sama juga terjadi di kota-kota lain, seperti Medan, Denpasar, Yogyakarta, dan bahkan Jakarta. Ini saya temukan dari teman-teman sesama pecinta film yang berada di masing-masing kota. Kami sudah menyampaikan kritik lewat twitter, namun lagi-lagi dengan jawaban-jawaban diplomatis tanpa solusi. Ini berarti manajemen penyelenggaraan dari pusat memang sudah tidak beres. Sukses secara kuantitas itu mudah, tapi secara kualitas (dalam arti mencapai tujuan event yang sesungguhnya: mengenalkan kultur Jerman pada masyarakat yang memang benar-benar terbuka dan tertarik) itu susah. Semoga ini menjadi perenungan bagi pihak penyelenggara ke depannya. Mubazir rasanya jika kurasi film-film bermutu yang dilakukan dengan sangat hati-hati, tapi tidak bisa dinikmati dan diapresiasi oleh target audience yang tepat.

Anyway, saya termasuk beruntung berhasil menonton 8 dari 9 film yang ditayangkan di kota Surabaya, 18-20 September lalu. Karena faktor kekacauan penyelenggaraan, saya terpaksa harus melewatkan film dokumenter yang menjadi salah satu nominasi Oscar tahun lalu, Das Salz der Erde alias The Salt of the Earth. But it’s okay, berikut review singkat dari 8 film yang berhasil saya tonton.

Fack Ju Göhte /
Suck Me Shakespeer (2013)

Sekeluarnya dari penjara, Zeki Müller, berniat langsung mengambil hasil rampokannya yang disembunyikan oleh temannya. Naasnya, temannya ternyata mengubur ‘harta karun’ itu di sebuah proyek pembangunan.  Sekarang proyek itu sudah selesai dan berdiri sebuah gedung SMA. Zeki memutuskan untuk melamar pekerjaan sebagai janitor di SMA itu. Sebuah kesalahpahaman membuat Zeki justru menjadi guru pengganti. Dengan keadaan sekolah yang kacau, Zeki ditempatkan di kelas dengan murid-murid paling ‘brutal’, yang sudah bikin banyak guru lebih memilih bunuh diri daripada mengajar mereka. Bisa ditebak, perlahan Zeki berhasil mencuri hati dan mengontrol mereka. Lebih dari itu, Zeki benar-benar menikmati pekerjaannya sebagai guru. Padahal dia sendiri tidak lulus SMA. Nasib pula yang mempertemukan Zeki dengan Lisi, guru muda yang tinggal bersama 2 saudarinya di rumah.

Membaca sinopsis di atas, tentu bukan premise yang benar-benar baru. Tema guru ‘sangar’ dan slengean sudah cukup sering diangkat, terutama yang paling populer adalah manga Jepang GTO (Great Teacher Onizuka) atau yang pernah digarap Hollywood, Bad Teacher. Namun yang membedakan, Fack Ju Göhte (FJG- atau judul Bahasa Inggrisnya, Suck Me, Shakespeer) adalah naskah yang benar-benar ditulis dengan sangat baik. Mulai dari background cerita, setup-setup yang masuk akal dan dikembangkan dengan sangat baik, hingga guyonan-guyonan yang meski tak semuanya bikin saya tertawa, tapi saya tetap harus mengakui, cerdas dan kreatif. Best of all, FJG punya hati yang sangat besar, yang membuatnya tetap pada koridor ‘mendidik’, terutama dari segi turnover karakter Zeki. Bandingkan dengan karakter Elizabeth Halsey (Cameron Diaz) di Bad Teacher yang sampai ending pun politically inappropriate and so wrong. Penulisan karakter yang serba pas membuat para aktornya menjadi begitu ‘bersinar’, terutama Elyas M’Barek dan Karoline Herfurth.

Kemasannya yang begitu fresh dan pop membuat FJG tetap menjadi sajian yang menghibur dan bisa dinikmati range penonton yang sangat luas. Pilihan lagu-lagu populer sebagai soundtrack juga mendukung FJG sebagai tontonan yang menyenangkan. Mulai Olly Murs, Kodaline, Nonono, Martin Solveig and The Cataracs, John Newman, sampai scoring ceria dari Djorkaeff.

Tak heran jika FJG mencetak rekor box office, yaitu ditonton sebanyak 3 juta penonton dalam kurun waktu 17 hari saja. September 2015 ini, FJG dibuatkan sekuel yang lagi-lagi menjadi box office dengan menjual sebanyak 4.1 juta tiket dalam kurun waktu 11 hari saja.

Lihat data film ini di IMDb.

Jack (2014)


Jack, bocah berusia 10 tahun, hanya tinggal dengan ibu kandungnya yang masih berusia 26 tahun, Sanna, dan adik laki-lakinya yang berusia 6 tahun, Manuel. Ketika menerima putusan akhir perceraian dengan suaminya, Sanna harus rela Jack tinggal di shelter, sementara Manuel dititipkan untuk tinggal bersama temannya. Suatu ketika saat Jack mendapatkan day-off, Sanna batal menjemput. Karena kecewa, Jack memutuskan kabur dari shelter untuk pulang. Mendapati sang ibu tidak ada di apartemen, Jack yang juga menjemput Manuel, terlunta-lunta ‘bertualang’  di jalanan selama berhari-hari. Namun saat kesempatan bertemu dengan ibunya tiba, Jack mengambil keputusan yang berani untuk anak seusianya.


Jack berhasil masuk bursa berbagai penghargaan bergengsi di Eropa, termasuk memenangkan VGF Award di Bavarian Film Awards, dan bahkan didaftarkan untuk kategori Best Foreign Language Film di 88th Academy Awards, meski akhirnya harus mengalah dengan Im Labyrinth des Schweigens. Secara tampilan, Jack memiliki style penceritaan ala arthouse realis. Dengan adegan-adegan panjang yang menampilkan detail peristiwa, minim score pendukung, serta nuansa yang depresif, membuat tak banyak penonton yang bisa menikmatinya, alias segmented. Selain akting natural Ivo Pietzcker sebagai Jack, yang konon tidak punya pengalaman akting sebelumnya, tak ada lagi yang begitu istimewa dari Jack.

Lihat data film ini di IMDb.

Bersambung ke bagian 2.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 20, 2015

The Jose Flash Review
Everest

Di antara film bertemakan force of nature, latar gunung termasuk jarang diangkat. Hal ini bisa dipahami karena gunung memang bukan medan yang mudah untuk dijadikan lokasi. Belum lagi persiapan yang tidak main-main, baik dari cast maupun kru yang terlibat. Yang paling saya ingat adalah Cliffhanger (1993) dan Vertical Limit (2000). Itupun Vertical Limit banyak melakukan pengambilan gambar di dalam studio. Tahun 2015 ini sutradara asal Eslandia, Baltasar Kormákur (Contraband, 2 Guns), ditunjuk untuk menggawangi proyek film petualangan mendaki puncak tertinggi di dunia, Mount Everest. Diangkat dari kisah nyata kejadian pendakian Mount Everest terburuk yang terjadi tahun 1996, naskahnya didasarkan pada banyak buku, termasuk Into Thin Air yang ditulis salah satu penyitasnya, Jon Krakauer, dan wawancara terhadap para penyitas lainnya, jelas Everest proyek yang tidak main-main. Apalagi dengan konsep cast ensamble yang mebuatnya dipenuhi bintang-bintang berkelas (meski tak semua yang benar-benar familiar bagi penonton umum di Indonesia) yang membuatnya semakin menarik.

Everest membidik cerita dari tim Adventure Consultants yang dipimpin oleh Rob Hall. Musim pendakian saat itu Rob membawa beberapa kliennya, seperti Beck Weathers, jutawan asal Texas, Doug Hansen yang seorang pengantar surat, dan the only lady in the group, Yasuko Namba, yang sudah menaklukkan 6 dari Seven Summits dan berniat melengkapinya dengan pendakian Mount Everest. Di tengah perjalanan, tim Adventure Consultants bertemu tim Mountain Madness yang dipimpin Scott Fischer. Karena cuaca yang tiba-tiba memburuk, kedua tim yang sempat bersaing ini memutuskan untuk mengesampingkan ego masing-masing dan bekerja sama dalam mencapai puncak. But still, force of nature tidak bisa dilawan. Di tengah badai yang terus memburuk, mereka harus berjuang untuk sekedar tetap hidup.

Mendasarkan cerita dari kisah nyata memang membatasi perkembangan plot. But hey, who needs unique plot dari film macam Everest? All we need is a breathtaking experience seolah ikut mendaki bersama para karakternya. Atau setidaknya, turut merasakan segala emosi yang dirasakan karakternya, mulai victory, ketakutan, sampai pedihnya kehilangan. Everest has it all, above its marvelous visual grandeur yang memang seolah membawa penonton turut mendaki puncak tertinggi dengan berbagai rintangan dan kendala yang tampak nyata. Sepanjang durasi yang sekitar 2 jam, penonton benar-benar diajak bertualang mendaki tiap spot menuju puncak, sambil mengenalkan karakter-karakter penting di dalamnya, dalam rangka menggali emosi yang cukup kelak. Namun nampaknya Kormákur tidak berniat lebih mengeksploitasi tiap potensi emosi dari adegan-adegan yang dimilikinya. Seperti adegan-adegan bencana yang memang masih membuat penonton khawatir dan deg-degan, but we know we can feel much breathtaking from those scenes. Atau karakter-karakter yang memang membuat kita menaruh simpati, tapi tidak sampai terlalu dalam merasakan kesedihan dari tiap kehilangan. Emosi serba tanggung yang dihadirkan Kormákur di sini lah yang membuat tak ada yang begitu istimewa dari Everest. Good, but we know it could have been much better.

Ensemble cast yang bahkan beberapa berkelas Oscar, mulai Jason Clarke, Josh Brolin, John Hawkes, Emily Watson, Jake Gylenhaal, Sam Worthington, Martin Henderson (masih ingat Torque?), Robin Wright, sampai Keira Knightley, menghiasi layar. Namun dengan porsi masing-masing yang memang tak begitu banyak, selain karakter utama Rob Hall (Jason Clarke) dan Beck Weathers (Josh Brolin), seolah seperti hanya sekedar gimmick yang menghiasi layar dan membuat penonton tertarik. Not bad, tapi kita tahu tanpa diperankan oleh mereka pun juga tidak akan menjadi masalah, selain tentu saja kita menjadi semakin mudah mengenali tiap karakternya karena familiar dengan aktor-aktris yang memerankan. Karakter Doug (John Hawkes) dan Yasuko (Naoko Mori) sebagai pendukung, diberi sedikit lebih banyak porsi, juga sedikit menarik simpati penonton, meski pada akhirnya kita bakal lebih peduli dengan karakter Rob. Sementara dari tim Mountain Mardness sama sekali tak punya porsi yang cukup untuk sekedar dikenal lebih dalam oleh penonton.

Kekuatan teknis terbesar Everest jelas terletak pada sinematografi Salvatore Totino yang tak hanya mampu meng-capture scenery-scenery indah pada dan dari Mount Everest, tapi juga menangkap ketegangan berbagai adegan breathtaking-nya.  Setting yang tak sepenuhnya mengambil gambar di Mount Everest, seperti memanfaatkan Schalnstal, Italia, dan Pinewood Studio, Inggris, tapi tetap saja menyuguhkan pengalaman pendakian gunung yang seutuhnya. Sinematografi yang grandeur inilah yang membuatnya layak untuk disaksikan di layar berukuran sebesar-besarnya, termasuk IMAX, meski tidak menggunakan aspect ratio khas IMAX. Efek 3D yang ditawarkan memang memberikan depth yang cukup baik, terutama di awal-awal film (setelah itu biasa saja, mungkin faktor mata saya yang sudah mulai beradaptasi sehingga terkesan bisa saja), namun minim gimmick pop-out.

Keunggulan lainnya terletak pada sound effect yang begitu detail, termasuk dalam hal membagi kanal surround-nya. Suara angin badai, bongkahan es yang berjatuhan, sampai denting pengait pengaman, terdengar begitu nyata, crisp, dan crystal clear. Sayang score Dario Marianelli tergolong biasa saja, apalagi absen atau sangat minimalis pada adegan-adegan emosi potensialnya.

Everest memang menyuguhkan visual grandeur yang otomatis memberikan cinematic experience yang cukup maksimal, namun dalam menghadirkan emosi dan penanaman simpati penonton terhadap karakter-karakternya, ia terasa kepalang tanggung sehingga terkesan biasa saja. But still, sayang sekali untuk melewatkan Everest di layar selebar-lebarnya, dengan tata suara terbaik.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Self/Less

Sudah sejak lama manusia memimpikan memiliki kehidupan abadi. Di ranah film, entah sudah berapa kali tema ini diangkat. Namun dengan scope sci-fi yang lebih ilmiah, masih termasuk belum banyak dibuat. Dengan keyakinan jiwa manusia itu abadi, manusia bisa menjadi immortal dengan terus-menerus ‘mengganti’ organ tubuhnya, seperti yang pernah digambarkan di The Island-nya Michael Bay atau bisa juga dengan kloning seperti yang digambarkan lewat The Sixth Day yang dibintangi Arnold Schwarzenegger. Dengan kepercayaan baru bahwa yang abadi adalah pikiran sebagai pusat kehidupan manusia, menjadi abadi sudah semakin dekat, setidaknya menurut film. Self/Less (S/L) yang disutradarai oleh sutradara visioner, Tarsem Singh, menawarkan ide itu. Tidak sepenuhnya baru, karena memang diakui sebagai remake dengan technology update dari Seconds-nya John Frankenheimer tahun 1966, namun tetap saja ide yang menarik, apalagi dengan kemasan action adventure.

Damian adalah bos real estate sukses yang sedang menderita kanker stadium akhir. Menyadari hidupnya tak lama lagi, namun tetap ingin berkarya dan masih merasa harus memperbaiki hubungan dengan putri satu-satunya, ia tertarik mengikuti sebuah prosedur medis rahasia yang membuatnya bisa mendapatkan tubuh fisik yang baru dan sehat. Sebagai ganjarannya, identitasnya yang lama harus dimatikan dan menjalani hidup dengan identitas baru. Serangkaian pengobatan lanjutan juga harus dijalaninya untuk meredam efek yang dianggap sebagai penyesuaian dengan tubuh yang baru. Namun Damian mendapati memori-memori buruk yang bukan dari memorinya. Maka Damian menyelidikinya dan mendapati fakta buruk dari prosedur yang dijalaninya.

Tarsem Singh selama ini dikenal sebagai salah satu sutradara dengan visi yang unik. Lihat saja karya-karyanya seperti The Cell, The Fall, Immortals, dan Mirror Mirror. Setidaknya Anda akan menemukan visual signatural, apalagi dengan dukungan desain kostum dari Eiko Ishioka yang menjadi langganannya. Sayang kematiannya di tahun 2012 menjadikan S/L sebagai proyek pertama Singh tanpa tangan dinginnya. Namun tentu saja sebenarnya bukan menjadi masalah bagi Singh karena ia masih punya signatural lainnya yang bisa memperkuat S/L.

Sayangnya, S/L bukan salah satu karya Singh yang kuat. Malah bisa jadi salah satu yang terburuk. S/L yang dikemas dengan genre action adventure bisa jadi escape adventure yang seru dan mendebarkan. Gara-gara weak directional Singh di sini, secara keseluruhan S/L tampak seperti action adventure biasa tanpa emosi yang kuat. Just plain action movie. Oke, saya menemukan dan menyukai rhythmic editing sesuai iringan lagu street Jazz ala New Orleans di salah satu adegan, tapi visual signatural itu saja yang menarik sepanjang film. Padahal S/L bisa saja setidaknya punya energi yang sama seperti The Bourne Trilogy, misalnya. Adegan yang seharusnya menjadi klimaks, yaitu ketika Damian head to head dengan Albright, kepala prosedur ‘shedding’, juga gagal untuk memberikan klimaks yang mengesankan. Aspek moral yang melibatkan emosinya dengan karakter Madeline dan Anna pun meski tampil menarik, masih tidak berhasil memberikan kontribusi apa-apa pada feel keseluruhan film.

Meski tak ada yang istimewa, aktor-aktris di sini sebenarnya termasuk tampil bagus sesuai porsi peran masing-masing. Ryan Reynolds masih menampilkan kharisma yang cukup sebagai karakter utama maupun action hero. Begitu juga Natalie Martinez yang mampu mengimbangi Ryan sebagai sidekick. Matthew Goode cukup kuat sebagai antagonis, sayang porsinya masih kurang untuk menjadikannya antagonis yang benar-benar kuat. Terakhir, tentu saja penampilan Ben Kingsley yang penuh kharisma mencuri perhatian, meski dengan porsi yang begitu sedikit.

Tak banyak yang begitu menarik dari segi teknis S/L selain editing di beberapa bagian yang setidaknya memberikan energi oke pada film. Sayang hanya beberapa, tak dipertahankan sepanjang film. Sinematografi Brendan Galvin pun cukup banyak memberikan shot-shot dan pergerakan kamera yang menarik, sayang masih belum mampu mendukung S/L menjadi sajian yang lebih berkesan. Begitu juga dengan tata suara yang tidak banyak yang mengesankan maupun spesial.


Dengan filmografi Tarsem Singh yang begitu mengesankan, S/L bisa jadi yang terburuk. Meski sebenarnya tanpa mengetahui dukungan orang-orang di belakangnya, S/L masih bisa jadi action adventure sci-fi yang setidaknya menarik dari segi ide. Sayang kemasan yang terasa begitu mentah dan tidak maksimal membuatnya jatuh menjadi action adventure sci-fi biasa, yang malah cenderung seperti film direct-to-video atau film TV. Namun jika Anda sekedar tertarik dengan ide ceritanya, tak ada salahnya mencoba. Hanya saja tentu tak perlu memasang ekspektasi apa-apa selain sekedar menikmati sajian yang dihadirkan Singh.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, September 17, 2015

The Jose Flash Review
The Maze Runner: The Scorch Trials

Film yang diangkat dari novel young adult bertemakan dystopian memang masih laris untuk dijual. Terbukti, The Maze Runner, yang tergolong paling terakhir diangkat, dibandingkan kompetitornya, The Hunger Games dan Divergent, masih termasuk laris di pasaran. Dengan budget ‘hanya’ US$ 34 juta, berhasil mengumpulkan sekitar US$ 340 juta di seluruh dunia. Fox pun tak perlu pikir panjang untuk melanjutkan franchise ini, dimana versi novelnya sudah sampai pada seri kelima. Maka hanya berselang 1 tahun, The Maze Runner: The Scorch Trials (TST) dirilis, dengan tim yang kurang lebih sama, termasuk sutradara Wes Ball dan penulis naskah yang hanya menyisakan T.S. Nowlin seorang.
Setelah berhasil lolos dari labirin, Thomas dan teman-temannya dibawa ke sebuah fasilitas yang seolah lebih baik daripada labirin. Janson, kepala fasilitas itu meyakinkan mereka bahwa mereka bukan bagian dari WCKD (the World Catastrophe Killzone Department) dan ini adalah tempat sementara bagi para penyitas labirin sebelum dibawa pulang ke rumah masing-masing. Bagaimana tidak senang, setelah berbulan-bulan hidup di dalam labirin, mereka akhirnya mendapatkan fasilitas yang jauh lebih nyaman di situ. Makanan, mandi dengan air bersih, tempat tidur yang nyaman. Thomas mencurigai ada sesuatu yang salah dengan fasilitas itu, dan diperkuat oleh fakta yang ditunjukkan salah satu penyitas terlama, Aris. Rencana kabur pun disusun. Namun keluar dari fasilitas itu ternyata barulah permulaan dari petualangan di bentaran dunia luar yang ternyata gersang dan sudah dalam kondisi rusak parah. Perjalanan mereka nyaris tanpa tujuan. Hanya cerita tentang para rebel yang dikenal menentang WCKD, Right Arm yang menjadi referensi tujuan mereka.

Jika di installment pertama cukup setia, kali ini Nowlin dan Ball memilih untuk berbeda dari novelnya. Saya sendiri tidak masalah, karena selain memang bukan penggemar novelnya, toh perubahan juga bagus jika mampu menyampaikan ceritanya dengan lebih baik. Nyatanya, di mata saya perubahan ini punya sisi positif dan negatifnya. Di sisi positif, Nowlin-Ball bisa mengeksplor adegan petualangan dan laga dengan porsi yang lebih banyak. Apalagi materi cerita yang memang menampilkan sosok makhluk serupa zombie yang diberi nama Crank. Setidaknya ia memanfaatkannya untuk menampilkan lebih banyak adegan seru, antara lain kejar-kejaran, hide and seek, dan aksi. At this point, Ball rupanya mengalami upgrade kemampuan yang cukup banyak. Terutama untuk adegan hide and seek, ia punya cukup banyak momen yang benar-benar mendebarkan.

Sayangnya perubahan itu pula yang membuat alur cerita TST menjadi terkesan bertele-tele. Sejak keluar dari fasilitas, tokoh-tokoh utamanya sudah dibuat tidak punya tujuan. Para karakter utamanya saja bingung, apalagi penonton. Dengan sedikit demi sedikit info, akhirnya mereka mulai punya tujuan. Ternyata perjalanan panjang melewati berbagai rintangan ini cukup melelahkan. Memperkenalkan karakter-karakter baru melalui tiap titik perjalanan memperparah alur cerita sehingga terkesan bertele-tele. Dalam hati saya hanya bisa berujar, “ya ampun, ketemu siapa lagi ini?”. Belum lagi pemilihan karakter-karakter yang akan dimatikan tergolong klise. Jujur, gara-gara ini semua, tak ada satupun karakter yang membuat saya peduli akan nasibnya.

Dylan O’Brien masih diberi porsi yang paling besar sebagai Thomas. Meski tak banyak perubahan acting skill yang dimunculkan, namun setidaknya Dylan masih mampu mengemban tugas beratnya sebagai karakter utama. Sementara teman-teman dalam gengnya, seperti Ki Hong Lee (Minho), Kaya Scodelario (Teresa), Thomas Brodie-Sangster (Newt), Dexter Darden (Frypan), dan Alexander Flores (Winston), nyaris tidak diberi porsi untuk berkembang. Sebaliknya, pengisi karakter-karakter baru yang berhasil mencuri perhatian antara lain Rosa Salazar (Brenda) dan Jacob Lofland (Aris Jones). Giancarlo Esposito sebagai Jorge juga patut mendapatkan kredit tersendiri.

Sinematografi dari Gyula Pados dan editing Dan Zimmerman, meski tak ada yang istimewa, namun tergolong efektif dalam visualisasi berbagai kebutuhan adegannya. Scoring dari John Paesano juga tak ada yang istimewa. Sementara tata suara cukup banyak memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos. Gimmick sound effect Atmos favorit saya adalah ketika shocking gun ditembakkan. Sementara suara helikopter lewat yang biasanya dimanfaatkan menjadi gimmick Atmos untuk speaker atap, tak begitu terdengar efeknya.


Dengan berbagai perubahan yang cukup signifikan, baik jika dibandingkan installment pertama maupun versi novelnya, TST bisa jadi lebih baik atau malah lebih buruk bagi Anda. Kalau menurut saya, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, perubahan ini membawa 2 sisi. Keputusan ada di tangan Anda, apakah neracanya lebih berat ke ‘suka’ atau ‘tidak suka’.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Transporter Refueled

Sineas Perancis, Luc Besson, harus diakui memang punya tangan dingin di dunia sinema. Tak hanya dalam menghasilkan karya berkelas award, tapi juga pop corn flicks. Salah satu franchise terbesarnya adalah Transporter yang menurut dirinya, awalnya adalah sekedar remake bebas dari karya sebelumnya, Kiss of the Dragon. Action-pack berbudget (relatif) rendah, yaitu hanya sekitar US$ 21 juta, berhasil mengumpulkan lebih dari 2 kali lipat di seluruh dunia. Jalan cerita yang based on character memungkinkan Transporter untuk berkembang menjadi sebuah franchise. Apalagi di tangan dingin sutradara Louis Letterier, karakter Frank Martin berhasil begitu melekat pada sosok Jason Statham. Meski sebelumnya sudah membintangi beberapa film yang remarkable, Transporter tetap bisa dianggap sebagai judul yang melambungkan namanya setinggi saat ini. Setelah 3 installment dan 2 season serial TV, sebuah trilogy baru dipersiapkan untuk diproduksi, dengan masuknya investor dari Cina. Sayangnya, permintaan bayaran sebesar US$ 11 juta per hari dinilai memberatkan, sehingga pihak EuropaCorp memutuskan untuk menggantinya dengan Ed Skrein, yang dikenal lewat serial Game of Thrones, untuk memerankan iconic character Frank Martin. Diputuskan jugalah untuk me-reboot cerita Transporter secara keseluruhan, dengan mengabaikan installment-installment sebelumnya. Camille Delamarre yang selama ini sering menjadi editor film-film produksi Besson, seperti Transporter 3, Taken 2, Lockout, Colombiana, dan 22 Bullets, ditunjuk menjadi sutaradara setelah sebelumnya pernah dipercaya Besson menyutradarai Brick Mansions.

Masih seperti installment-installment sebelumnya, Frank Martin di sini masih digambarkan sebagai bekas tentara operasi khusus yang bekerja sebagai transporter, alias ‘supir’ eksekutif yang siap melayani klien-kliennya dengan 3 syarat: tidak pernah mengubah persetujuan, tak perlu tahu nama sang klien maupun apa yang diantarkan, dan terakhir, tidak pernah melihat apa isi paket yang diantarkan. Klien yang sepakat dilayaninya kali ini adalah seorang wanita anggun bersama 3 orang wanita lainnya dengan wig yang sama sehingga keempatnya terkesan kembar empat. Awalnya Frank mengira keempatnya adalah perampok bank. Namun setelah sang ayah, Frank Senior, diculik, Frank mau tak mau melanggar peraturan-peraturan kode etik kerjanya dan terlibat permainan mematikan dengan gembong prostitusi besar, Arkady Karasov.

Membaca sinopsis di atas, tentu sudah tidak asing lagi terutama buat penggemar installment-installment sebelumnya. Tak ada yang istimewa dari segi naskah. Well, sejak franchise ini berdiri pun juga sudah bukan tipe film yang butuh naskah yang kuat ataupun istimewa. Semua berfokus pada rangkaian adegan aksi gila-gilaan dan aksi kebut-kebutan yang juga tak kalah breathtaking. Truly a high-dose and high-octane entertainment, brainless sometimes. Begitu juga dengan Transporter Refueled (TR) yang masih menggunakan konsep dan formula yang sama. Saking terlalu fokusnya dalam menghadirkan adegan aksi tanpa henti, hampir kesemua adegan aksinya terkesan dingin dan kaku bak es. Seolah kesemuanya sudah ditata dan didesain sedemikian rupa, tinggal dijalankan, dan tidak banyak memberikan efek keseruan ataupun ketegangan. Ada sih satu-dua adegan aksi yang masih sedikit breathtaking, tapi secara keseluruhan memang terasa dingin dan kaku, termasuk ekspresi Frank Martin ketika melakoninya. Eye-candy, very much, but that’s all it got.

Jason Statham memang tidak mungkin digantikan. Meski menampilkan charm yang sama-sama kuat dan unik sebagai Frank Martin, termasuk skill bela diri yang tak kalah mumpuni, Ed Skrein tetap terasa ‘beda’. Bagi penggemar setia Transporter yang sudah terlanjur terbiasa melihat Jason Statham sebagai sosok Frank, tentu sulit untuk menyukai penampilan Skrein, sementara penonton baru mungkin bisa menyukai sepak terjangnya di sini. Sebaliknya, karakter Frank Senior yang sebelumnya memang belum pernah dimunculkan, berhasil memberi warna tersendiri, baik dari segi cerita maupun kharisma Ray Stevenson selaku pemeran. Malah bisa dibilang, Stevenson mencuri layar sepanjang film, selain sepak terjang Skrein.

Loan Chabanol sebagai Anna, Gabriella Wright sebagai Gina, Tatiana Pajkovic sebagai Maria, dan Wenxia Yu sebagai Qiao, bak empat wanita dengan pesona sensualitas yang sama besarnya. Namun karena porsi ‘sensualitas’ yang nyaris setara ini membuat tidak ada salah satu yang menonjol, sehingga akhirnya tak ada satupun dari keempatnya yang benar-benar memorable, selain just another hot chicks. Begitu juga Radivoje Bukvic (Arkady Korasov), Yuri Kolokolnikov (Yuri), dan Lenn Kudrjawizki (Leo Imasova) yang terasa just another replaceable Russian thugs.

Bagi yang sudah terbiasa dengan kamera dan editing di installment-installment sebelumnya, tentu tak ada yang terasa istimewa di sini. Masih stylish, porsi yang serba pas, serta sesuai dengan kebutuhan adegan aksi yang mengandalkan pace. Apalagi latar Nice, Alpes-Maritimes yang terekam dengan indah. Pemilihan soundtrack-nya pun masih seasyik installment-installment sebelumnya. Sayang, untuk sebuah film action, fasilitas Dolby Digital 7.1 terasa begitu mubazir. Entah kenapa tiap suara yang terdengar, mulai dialog hingga sound effect, semua seperti terdengar mengambang. Jauh dari kesan crisp dan deep bass. 

Sebagaimana pendahulu-pendahulunya, Transporter memang sebuah franchise yang dibuat untuk tidak pernah beranjak ke mana-mana, termasuk level yang lebih tinggi. Semuanya tergantung pada adegan-adegan aksi yang ditampilkan dan kharisma sang action hero, Frank Martin, untuk menghibur penonton. Begitu pula dengan TR yang masih dibuat dengan konsep itu. Nikmati saja tiap adegannya seperti eye-candy. Forgettable? Probably. Ed Skrein sukses memerankan Frank Martin? Tergantung Anda yang menilai. As for me, he’s doing okay, but Statham as Frank was definitely irreplaceable.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 16, 2015

The Jose Flash Review
Bidadari Terakhir

Pernah mendengar nama Agnes Davonar? Atau malah Anda pernah ‘termakan’ oleh cerita-cerita yang dibuat oleh dua penulis bernama asli Agnes & Teddy Li ini? Nama Agnes Davonar mulai dikenal karena tulisan-tulisannya di dunia maya yang kemudian dinovelkan, seperti Gaby dan Lagunya (masih ingat fenomena lagu Jauh Kau Pergi?) dan Surat Kecil untuk Tuhan (SKUT). Satu benang merah dari cerita-cerita karyanya adalah disease porn (maksudnya bukan cerita tentang penyakit dan pornografi lho ya, tapi eksploitasi penyakit) dalam upaya membuat penonton menangis, klise, dan  jika mau diteliti lagi, sangat jauh dari logika apalagi fakta keilmuan tertentu. Dalam hal ini, medis. Membaca latar belakang keluarganya (kalau penasaran, silakan googling namanya, biografi singkatnya selalu muncul di halaman pertama kok), lantas membuat saya tak heran dengan cerita-ceritanya. Nevertheless, mengeruk keuntungan dengan mengeksploitasi kesedihan dan penyakit tapi melecehkan intelektual atau malah membodohi pembaca tetaplah bukan cara yang terpuji. Di layar bioskop, pencapaian tertingginya adalah ketika SKUT berhasil jadi top box office tahun 2011 dengan ditonton oleh 748.842 penonton. Hasil film-film lain yang diangkat dari novelnya seringkali flop, produser rupanya tak jera untuk terus mengangkatnya ke layar lebar. Upaya terbarunya adalah Bidadari Terakhir (BT) yang konon aslinya berasal dari cerita thread Kaskus yang mendapat banyak penghargaan serta rekor online pada tahunnya, lantas dinovelkan oleh Agnes dengan label “berdasarkan kisah nyata”.

Seperti biasa, klise dan dengan logika cerita yang sangat menggelikan. Tak heran kemudian menjadi kontroversi sampai muncul petisi untuk memboikot penayangan film ini (boleh di-googling juga kalau penasaran :D). Untung saja ada nama Awi Suryadi di bangku sutradara yang membuat saya sedikit tertarik untuk menyaksikannya. Meski sering mengerjakan proyek-proyek yang lebih bersifat komersial dan terkesan, maaf, murahan, namun Awi selalu berhasil memolesnya menjadi terkesan lebih berkelas. Berdasarakan pengalaman menyaksikan film-filmnya, saya masih menaruh trust kepada Awi.

Rasya adalah siswa SMA kelas 11 yang tergolong rajin dan cerdas. Mimpinya simple, lulus SMA, kuliah, mendapatkan pekerjaan seperti ayahnya, menikah, dan punya 2 anak. Namun mimpinya ini goyah ketika bertemu Eva, seorang PSK yang dikenalnya di lokalisasi Paradiso ketika diajak sahabatnya, Hendra, berulang tahun. Latar belakang keluarganya mengubah pola pikir Rasya dan kedekatan mereka tak terelakkan. Namun tentu saja Rasya harus menjaga rahasia hubungan mereka jika tak ingin merusak segalanya.

Remaja. Prostitusi. Penyakit. Secara garis besar memang hanya 3 kata itulah untuk menggambarkan BT. Ia punya semua elemen cerita klise, terutama penyakit sebagai akibat dari menjajakan diri (untung saja di film diubah dari sipilis menjadi kanker leher rahim) dan melacur karena ibu sakit keras-ayah tiri doyan judi. Tapi tunggu dulu. Priesnanda Dwisatria (penulis naskah Lily Bunga Terakhirku yang dirilis dalam waktu yang sangat berdekatan, sama-sama punya judul mengandung kata “terakhir”, dan sama-sama punya elemen prostitusi dalam cerita) yang dibantu oleh Fauzan Adisuko memodifikasi materi asli sehingga naskahnya punya lebih banyak kelebihan, terutama cerita yang lebih logis dan esensi yang lebih penting. Jadilah BT sebuah film yang basically bercerita tentang coming of age sebagi basis utamanya. Ditambah nasehat dari sang ayah yang bisa dipakai sebagai pola pendidikan keluarga, apa yang dilakukan karakter Rasya untuk Eva dan keluarganya jauh lebih kuat ketimbang sekedar faktor keluguan seorang anak SMA. Lebih detail lagi, memasukkan materi pelajaran ke dalam adegan, seperti aljabar dan biologi, juga patut mendapatkan apresiasi lebih karena termasuk sangat jarang ditampilkan dalam film remaja. Apalagi juga punya tujuan dan korelasi dengan alur cerita.

Sebagai sutradara pun, Awi Suryadi juga memvisualisasikan naskahnya dengan lebih elegan. Relasi antara Rasya dan Eva dibangun lewat momen-momen yang indah dan mengeksplorasi keindahan latar Balikpapan. Belum lagi ketika turnover cerita yang sebenarnya terkesan dipaksakan muncul dan tetap klise, mengikuti materi aslinya, namun berhasil divisualisasikan dengan begitu elegan, jauh dari kesan eksploitasi. Ada yang bilang tearjerker yang benar-benar bagus adalah yang mampu membuat penonton menangis tanpa memperlihatkan adegan menangis. Seperti itulah Awi membuat bagian klimaksnya. Part inilah yang membuat saya memberikan poin tambahan ½ pada score di atas. Sayang ada beberapa part setelah klimaks itu yang sebenarnya tak perlu ada, termasuk epilog 5 tahun kemudian yang tak penting dan justru meruntuhkan semua perkembangan karakter Rasya yang sudah dibangun dengan baik sejak awal.

Dibandingkan peran-peran sebelumnya, akting Maxime Bouttier di sini jelas terasa lebih berkelas dan berbobot. Sedikit mengingatkan saya dengan Irwansyah di awal karirnya, seperti ketika bermain di Heart. Terbukti dia bisa berakting lebih baik ketimbang peran-peran remeh di film abal-abal yang selama ini ia mainkan. Termasuk juga dalam menjalin chemistry yang dibangunnya bersama Putri Indonesia 2013, Whulandary Herman. Whulandary sendiri tampil begitu memukau di debut aktingnya ini. Meski masih tetap harus terus diasah supaya lebih natural, namun gesture dan pembawaannya untuk karakter Eva yang sensual, menggoda, namun juga cerdas dan rapuh, sudah cukup untuk membuatnya paling menonjol sepanjang film. Di deretan pemeran pendukung, saya memfavoritkan Ikang Fawzi sebagai ayah Rasya, terutama sekali terlihat ketika kekecewaannya mendapati Rasya tidak masuk 10 besar di kelas. Stella Cornelia yang matan personel JKT48, Julian Jacobs, dan Meirayni Fauziah juga cukup baik membawakan peran masing-masing meski tak sampai jadi memorable.

Sinematografi Memet Nakes patut mendapatkan kredit yang terutama di teknisnya. Meski masih ada beberapa camera movement yang masih kurang smooth dan berakibat pada kurangnya cinematic feel, namun termasuk efektif bercerita dan berhasil menangkap keindahan latar-latar Balikpapan dengan maksimal, terutama di Jembatan Mahakam dan di dermaga. Untungnya cinematic feel turut ditebus oleh shot-shot drone yang memang punya fungsi peran dalam adegan, bukan sekedar gaya-gayaan, pun juga dengan kualitas gambar yang masih terjaga, mengingat banyak film-film layar lebar yang kualitas gambarnya drop ketika shot-shot menggunakan drone. Pemilihan lagu-lagu dari Endah n Resha juga terasa begitu tepat dan mendukung adegan dengan sangat kuat; theme song Seluas Harapan yang manis dan Sayang saya tidak menyukai scoringnya yang terkesan diulang-ulang seperti layaknya score FTV dan dipotong dengan kasar sehingga terdengar kurang nyaman.


BT memang tipikal tearjerker klise, sesuai dengan materi aslinya. Tapi dengan naskah, penyutradaraan, dukungan cast, dan teknis lainnya, setidaknya sudah jadi karya yang jauh lebih baik dan bertutur dengan elegan, apalagi jika dibandingkan film-film yang diangkat dari novel Agnes Davonar lainnya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates