Tuesday, August 4, 2015

The Jose Flash Review
Pixels

Entah sudah menjadi bagian dari strategi atau kebetulan yang manis, tahun 2015 ini seolah menjadi surga bagi generasi 80-90an. Dimulai Mad Max Fury Road, Jurassic World, Terminator Gynesis, sampai yang baru saja, Mission: Impossible – Rogue Nation. Satu yang tak boleh dilupakan adalah Pixels yang membawa game-game arcade (atau yang di sini lebih dikenal dengan istilah ding-dong) 16 bit yang juga menjadi salah satu tonggak sejarah pop culture di era 80-an. Meski tidak bisa dikatakan sebagai game changer, karena film bertemakan game arcade klasik di layar 2000-an sudah lebih dulu diangkat oleh Scott Pilgrim vs the World dan bahkan film animasi Disney, Wreck It Ralph, film yang diangkat dari film pendek berjudul sama tahun 2010 karya sutradara Perancis, Patarick Jean, ini tetap saja menarik perhatian, tentu saja terutama bagi penonton yang pernah menjadi fans game-game seperti Pac-Man, Donkey Kong, dan The Centipedes.

Di atas kertas, Pixels tampak seperti sebuah sajian hiburan yang sangat seru dan menyenangkan. Setidaknya trailernya sudah memberikan gambaran itu. Ditambah sutradara Chris Columbus yang sudah sangat berpengalaman dalam menggarap film-film keluarga seperti Home Alone, Mrs. Doubtfire, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, Harry Potter and the Chamber of Secrets, dan Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief. Namun ada satu hal yang membuat banyak kalangan ragu dengan hasilnya, yaitu keterlibatan Adam Sandler yang mana film-filmnya beberapa tahun terakhir selalu flop. Tak hanya membintangi, Sandler juga memproduseri di bawah bendera Happy Madison-nya. Well, seperti bisa diduga humor-humor yang disajikan di Pixels ini bakal terasa sangat Sandler-ish.

Ternyata hasilnya tidak seburuk yang banyak dikatakan kritikus. Di balik naskah generik tentang invasi alien dengan bumbu komedi dan cerita para loser yang berubah menjadi action heroes, lengkap dengan bumbu-bumbu asmara, namun punya referensi-referensi akurat yang cukup banyak, seperti score game tertinggi yang memang beneran ada, dan karakter Eddie yang seperti gabungan dari beberapa gamer sungguhan, Pixels di tangan Chris Columbus masih menjadi film komedi petualangan yang seru, sangat menghibur, dan cocok untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Plus, yang paling menarik dari naskah adalah membandingkan game jaman dulu yang bisa dipelajari lewat polanya, dan game jaman sekarang yang random. Pixels seolah mengatakan bahwa keduanya sama-sama punya kelebihan masing-masing. Tapi jangan terlalu serius dan mengharapkan cerita alien yang serius pula. Bersenang-senang saja seperti ketika menyaksikan Mars Attacks atau Evolution. Tak ada wujud alien yang sebenarnya, selain menyamar menjadi ikon-ikon 80-an, seperti Madonna. I have to say, Chris berhasil menghidupkan game-game yang selama ini hanya dimainkan di layar dengan kualitas 16 bit menjadi sebuah live action adventure yang nyata dan lebih seru dengan skala human-size, serta porsi dan timing yang serba pas. Tak lupa ditambahkan karakter Q-Bert dengan porsi yang cukup banyak sebagai cute-factor untuk mencuri hati penonton cilik yang tentu saja tidak begitu familiar dengan karakter-karakter game arcade di sini.

Memang, tak bisa dipungkiri, guyonan Sandler-ish masih mewarnai sebagian besar frame comedic-nya, terutama yang bergaya slapstick, play-dumb, dan awkward moment, yang lagi-lagi kebanyakan gagal untuk mengundang tawa lepas. Entah faktor apa. Mungkin gaya guyonannya sudah tidak relevan dengan penonton jaman sekarang atau sudah terlampau basi untuk terus-menerus didaur ulang di film-filmnya. Yang pasti yang dulu terdengar lucu, sekarang sudah tidak lagi.

Sebagai aktor, tak ada yang istimewa dengan Adam Sandler. Masih sama seperti peran-peran sebelumnya, bahkan penampilannya terasa seperti sudah lelah dan ogah-ogahan memainkan peran sejenis. Untung saja ada Josh Gad yang setidaknya menyelakamatkan sisi humor Pixels dengan tingkahnya. Masih belum sekuat komedian segenerasinya, seperti Jonah Hill, tapi kelucuannya semakin terasah seiring dengan berjalannya durasi. Kevin James sebagai presiden mungkin terasa kurang tampil maksimal, baik dalam konteks kharisma sebagai presiden maupun sebagai comedy presence. Peter Dinklage juga masih lebih banyak gagal dalam menyampaikan line-line maupun gimmick komedinya, sementara Sean Bean yang sebelumnya jauh dari image komedi malah terasa lebih lucu. Michelle Monaghan tak istimewa tapi cukup berhasil menjadi karakter hot mom yang loveable dan penuh pesona. Tak lupa si cilik Matt Lintz yang meski porsinya tak terlalu banyak dibandingkan karakter cilik di film sejenis, ternyata cukup mampu mencuri hati penonton.

Tak perlu meragukan visualisasi yang memang menjadi salah satu komoditas utamanya. Bukan hal baru namun tetap saja memanjakan mata dan masih mampu membuat saya beberapa kali bergumam “wow!”. Sementara sound fx juga ditata dengan demikian dahsyat, termasuk dalam membagi kanal surroundnya. Sayang keseimbangan dengan suara dialog kurang begitu terjaga. Entah memang demikian adanya atau hanya di teater tempat saya menonton, keseluruhan dialog terdengar tenggelam dan tak secrisp sound fx dan music-nya.

In the end, come on. Don’t be snob. Untuk apa Anda bawel soal alur cerita ketika menyaksikan pure entertainment ringan seperti Pixels? Pun demikian, cerita generiknya masih menyelipkan esensi menemukan jati diri dengan cukup efektif kok. Tak ketinggalan heart factor yang juga masih cukup berhasil. Ajak adik, anak, atau keponakan yang tidak familiar dengan game-game dingdong, dan perkenalkan dengan cara yang seru dan memanjakan panca indra.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates