Saturday, August 15, 2015

The Jose Flash Review
Mission: Impossible - Rogue Nation

Tom Cruise memang sempat jadi salah satu aktor Hollywood yang punya cukup kharisma, bahkan sebagai one-man-show sekalipun, untuk menjadi box office hit maker. Namun beberapa judul film terakhirnya, seperti Jack Reacher, Oblivion, dan Edge of Tomorrow, meski hasil box office (dan juga hasil akhirnya)-nya tidak termasuk buruk, tetap saja di bawah target yang diharapkan dari film Tom Cruise biasanya. Namun ada satu franchise yang tetap bisa menjadi andalan Tom Cruise, apalagi ia tak hanya menjadi aktor utamanya, tetapi juga duduk di salah satu bangku produser. Apalagi kalau bukan Mission: Impossible (M:I) yang sudah dipegangnya sejak tahun 1996. Speaking of M:I, franchise yang diangkat dari serial TV ini harus diakui tidak pernah punya hasil yang buruk, baik dari segi kualitas film maupun penghasilan box office-nya. Well, mungkin tak selalu punya adegan-adegan yang memorable, namun secara keseluruhan tak pernah sampai terjerumus badly. Mission: Impossible – Ghost Protocol (MIGP) tahun 2011 lalu membuktikan kekuatannya yang masih lebih dari cukup untuk terus hidup, Malahan mengalami perbaikan yang cukup signifikan dibanding M:I-2 dan M:I-3. Maka apa yang disuguhkan di installment ke-5 ini, Mission: Impossible – Rogue Nation (MIRN) masih menjadi semacam pertaruhan akan reputasi franchise tentang agen-agen rahasia IMF (Impossible Mission Force) ini.

JJ Abrams yang ‘memegang’ peranan penting di franchise ini sejak M:I-3 masih duduk di bangku produser, dan kali ini menunjuk Christopher McQuarrie di bangku sutradara dan penulis naskah. Keputusan ini masuk akal, mengingat McQuarrie sebelumnya sudah beberapa kali bekerja sama dengan Tom Cruise, mulai Valkyrie, Jack Reacher, dan Edge of Tomorrow. Soal reputasi, McQuarrie punya pengalaman dan reputasi yang lebih dari cukup mumpuni dalam menangani film aksi blockbuster.

Baik sebagai penulis naskah maupun sutradara, McQuarrie berhak mendapatkan kredit pujian sebesar-besarnya. Sebagai penulis naskah, McQuarrie berhasil menuangkan kompleksitas cerita bak installment pertamanya, dengan alur yang sangat rapi, dan takaran teka-teki, aksi stunt, serta humor yang serba pas. Well okay, mungkin bagi yang benar-benar mengamati pola penceritaan M:I, tak ada yang benar-benar baru, seperti keterlibatan orang dalam dan Ethan Hunt, yang lagi-lagi menjadi buruan para atasan karena kenekadannya. Namun kali ini McQuarrie berhasil sedikit memelintir adegan demi adegan, sehingga terkesan lebih menarik tanpa terasa ribet dan membingungkan. Just as solid as the first installment. Bagi penggemar cerita spionase klasik, McQuarrie memasukkan cukup banyak ke-khas-annya, termasuk adegan penangkapan yang, I have to say, one of the best ever in espionage genre. Tak perlu tampil bombastis namun cerdas. Aspek khas lain dari M:I, yaitu topeng realistis, juga turut dimasukkan di saat yang tak terduga. But above all I like from the script, yang paling saya suka dan hargai adalah esensi utama yang disampaikan oleh McQuarrie, yaitu seberapa jauh peran agen-agen rahasia di mata para petinggi.

Namun yang terpenting, as the director, McQuarrie juga sangat terampil dalam memvisualisasikan semua visinya dengan timing yang serba pas, sehingga ketegangan tiap adegan terjaga dengan sangat baik. Ini yang terpenting dalam mempertahankan keseruan mengikuti kisah M:I. Urusan adegan stunt yang (juga) selalu menjadi signatural M:I, MIRN mungkin tidak se-breathtaking ataupun se-memorable di M:I atau MIGP, apalagi sudah diletakkan di opening, namun tetap saja patut mendapatkan kredit tersendiri. Khususnya untuk Tom Cruise yang mengaku melakoni adegan stunt ini sendiri.

Di jajaran cast, Tom Cruise, Jeremy Renner, dan Ving Rhames tampil tak berbeda dengan di installment-installment sebelumnya. Sementara Simon Pegg yang kali ini diberikan porsi jauh lebih banyak, terbukti mampu memberi warna baru dalam franchise sehingga terkesan lebih ceria dan menggelitik di saat-saat yang tepat. Alec Baldwin (Alan Hunley), Sean Harris (Solomon Lane), Simon McBurney (Atlee), dan Tom Hollander (Prime Minister) juga cukup kuat memerankan peran masing-masing.

Namun yang paling mencuri perhatian tentu saja Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust, yang tak hanya menjadi pemanis ataupun sembarang badass chick. Dengan sex appeal yang segunung, Rebecca berhasil menghidupkan karakter manipulatif ini dengan sangat menarik. Tak heran jika ke depannya Rebecca akan lebih sering mengisi peran-peran badass chick dengan sex-appeal tinggi.
Divisi teknis turut punya andil yang sangat kuat dalam kesuksesan MIRN. Mulai sinematografi yang tak hanya berhasil mengeksploitasi eksotisme berbagai latarnya, mulai Vienna, UK, hingga Cassablanca, hingga mampu menyatu dengan adegan-adegan aksinya. Seiring dengan editing yang serba pas dan tepat, menjadikan adegan-adegan aksi dan investigasi MIRN tak pernah kehilangan momen. Tata suara juga memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos dengan sangat maksimal. Jika biasanya Anda hanya mendengarkan suara hujan atau helikopter lewat di kanal atas, kali ini siap-siap menoleh ketika sepeda motor terlempar lewat kanal atas. That’s my favorite use of Dolby Atmos, not only in this movie, but among all my Dolby Atmos experience ever! Penggunaan Nessun Dorma dari opera Turandot sebagai salah satu elemen music score sepanjang film juga menghadirkan kelas tersendiri bagi MIRN.

So dengan berbagai effort luar biasa dari tiap pendukungnya, MIRN jelas menjadi salah satu installment terbaik untuk M:I, setidaknya setara dengan installment pertama. Sayang sekali jika Anda sampai melewatkannya di layar bioskop, apalagi jika Anda punya akses ke teater dengan tata suara Dolby Atmos.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates