Thursday, August 20, 2015

The Jose Flash Review
Inside Out

Sama seperti Disney, animasi-animasi produksi Pixar sudah punya fanbase tersendiri. Tak heran, film-film animasi Pixar memang punya ciri khas yang selalu ditunggu-tunggu. Mulai ide ceritanya yang seringkali sederhana namun nyaris tak terbayangkan sebelumnya, eksekusi yang memang bagus, baik dari segi naskah, desain produksi (termasuk karakter), maupun kekuatannya dalam mengundang emosi penonton. Sebagai film panjang ke-15-nya, Pixar memilih untuk mengajak kita masuk ke dalam pikiran manusia dengan visualisasi yang seperti biasa, imajinatif dan penuh warna, Inside Out (IO). Di Indonesia penayangannya ditunda 2 bulan dari peredaran di US, yang konon untuk menghindari persaingan dengan Minions produksi Ilumination Studio milik Universal. Tanpa membandingkan dari segi cerita, keduanya jelas punya target market yang berbeda. Jika Minions lebih bisa dinikmati oleh range usia yang lebih luas, maka IO sejatinya lebih segmented.

Ide memvisualisasikan apa yang terjadi di dalam tubuh manusia melalui cerita fiksi memang bukan hal yang baru. Seingat saya tahun 2001 ada animasi tentang sel darah putih yang dipersonifikasi sebagai seorang polisi dalam menghancurkan virus lewat Osmosis Jones yang disutradarai oleh Farrelly Brothers (There’s Something About Mary, Dumb & Dumber). Jauh sebelumnya ada juga Fantastic Voyage (1966) yang dibintangi Stephen Boyd dan Raquel Welch, serta Innerspace (1987) dimana Dennis Quaid ‘masuk’ ke dalam tubuh Martin Short. Speaking of human’s mind pun, ada Inception dan Being John Malkovich yang memang sangat fiktif dan sedikit jauh dari ilmiah. Bahkan saat perilisan trailernya, IO sempat mendapatkan cibiran karena kemiripan ide cerita dengan manga yang juga sudah diangkat menjadi serial drama romantis, Poison Berry in My Brain. In short, tema ‘what happens in human’s body’ memang bukan barang baru tapi harus diakui, sangat jarang diangkat. Lewat lima karakter emosi utama yang dipilih (dari total 27 emosi), Pixar mengajak penonton untuk memahami cara kerja emosi, kepribadian, dan memori manusia.

Sudut pandang cerita berada pada Riley, seorang gadis berusia 11 tahun yang sejatinya sejak kecil mengalami masa kecil yang sangat bahagia. Baik karena faktor orang tuanya, teman-teman, dan prestasinya sebagai pemain hockey. Tentu saja kesemuanya berkat campur tangan 5 emosi utama yang ada di dalam tubuh Riley: Sadness (sedih), Fear (takut), Disgust (Jijik), Anger (Marah), dan dipimpin oleh Joy (senang). Namun kepindahannya dari Minnesota ke San Francisco mengguncang keseimbangan dari kelima emosi dalam diri Riley. Terutama sekali Sadness yang mendadak ingin mendominasi kendali setelah selama ini dipegang oleh Joy. ‘Bencana’ dalam diri Riley pun satu per satu bermunculan bak efek domino. Maka Joy pun bertualang agar Riley kembali bahagia seperti masa kecilnya dulu.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, secara garis besar IO sebenarnya menjelaskan bagaimana cara kerja emosi, kepribadian (sebagai hasil dari dominasi emosi), dan memori manusia. Dengan desain yang seolah futuristik namun penuh warna bak pabrik cokelat Charlie, Pixar begitu detail menyimbolkan berbagai aspek ilmiahnya. Mulai kepingan memori berbentuk seperti bola bowling yang bisa terus ada di core memory ataupun dibuang selamanya, warna-warna yang menyimbolkan berbagai emosi dalam memandang berbagai kejadian-kejadian di memori, sampai bentuk rak long term memory yang melingkar dan berkelok-kelok sesuai dengan bentuk celebral cortex otak yang berkerut dan berlipat-lipat. Begitu juga dengan berbagai keadaan tubuh yang ditunjukkan, misalnya tentang fantasi dan mimpi. Pixar sendiri mengaku banyak berkonsultasi dengan banyak psikolog dan para pakar dalam mengembangkan naskah dan visualisasinya. Sebuah kerja dengan detail yang luar biasa dan patut diapresiasi dengan luar biasa pula.

Meski tampilannya sudah dibuat sangat warna-warni dan terkesan ‘dekat’ dengan penonton cilik, kayaknya penonton yang masih terlalu kecil agak susah untuk menikmati jalan ceritanya yang harus diakui, terlalu kompleks dan ilmiah. Tak heran jika ada penonton cilik yang merasa bosan atau bahkan tertidur, simply karena memang belum waktunya mereka bisa mencerna dan memahami, apalagi menikmatinya. Ada sih guyonan ringan yang bisa dengan mudah bikin tertawa usia berapa saja, terutama yang bersifat fisik. Tapi ada pula humor bereferensi yang lebih susah dipahami tanpa mengetahui referensi yang dimaksud. So yes, tidak ada salahnya mengajak anak-anak untuk ikutan nonton. Siapa tau kebetulan mereka punya kecerdasan di atas rata-rata. But I suggest at least seusia Riley (11 tahun) untuk sekedar bisa memahami jalan ceritanya. As for me, yang paling mengasyikkan dari menyaksikan IO adalah penasaran apa yang bakal terjadi selanjutnya dan merepresentasikan proses apa di dalam tubuh. 

Pengisi suara kelima emosi utama; Amy Poehler (Joy), Phyllis Smith (Sadness), Bill Hader (Fear), dan Lewis Black (Anger) memang sengaja dipilih karena benar-benar mewakili karakternya. Bahkan konon karakter Anger yang memakai kemeja dan dasi dibuat mirip dengan tampilan Black ketika tampil sebagai komika. Alhasil, kelimanya memang berhasil menghidupkan karakter masing-masing dengan maksimal, terutama Joy dan Sadness. Tak ketinggalan, Richard Kind yang kebagian mengisi suara karakter yang saya jamin paling dicintai penonton, Bing Bong!

Seperti biasa, animasi Pixar selalu bisa memanjakan mata dengan desain karakter yang kuat dan memorable, serta desain produksi yang catchy. Detail fisik kelima emosi utama yang seperti terbuat dari spons patut mendapat kredit lebih. Juga desain karakter Bing Bong dengan campuran berbagai spesies, mulai gajah, kucing, gulali, dan lumba-lumba. It’s a super fun of a wild imagination. Keren banget! Tata suara juga layak mendapatkan kredit lebih dalam menghidupkan berbagai adegan fantastisnya. Terutama faktor pembagian kanal yang begitu detail, seperti bola-bola memori yang meluncur di rak meliuk-liuk, pusaran angin, dan banyak lagi. Score dari Michael Giacchino meski tak sampai level modern classic seperti layaknya score Up gubahannya tahun 2009 lalu, tetap berhasil membawa adegan-adegan IO ke dalam dramatisasi yang begitu menyentuh emosi penonton.

Lagi-lagi IO membuktikan bahwa Pixar memang masih maestro di dunia animasi, terutama dari segi orisinalitas cerita dan memainkan emosi penonton. Di tangan Pete Docter yang sudah ‘bekerja’ untuk Pixar sejak Toy Story dengan berbagai peran, IO simply menjadi salah satu animasi terbaik sepanjang masa. Oya, jangan terlambat masuk karena seperti biasa, ada animasi pendek Lava yang manis dan romantis. Gara-gara lagu simple dengan lirik yang diulang-ulang, otomatis stuck lama di dalam ingatan!

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - Pete Docter, Meg LeFauve, Josh Cooley, and Ronnie Del Carmen
  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates