Tuesday, August 25, 2015

The Jose Flash Review
Hitman: Agent 47

Film yang diangkat dari video game sejak dulu tak punya track record yang begitu bagus, apalagi sekuelnya. Meski mungkin masih cukup banyak meraup keuntungan, namun kritikus dan fanboy kerap memberikan review negatif. Padahal tujuan adaptasi video game ke film semata-mata tidak hanya memuaskan (sekaligus membidik sebagai calon penonton) penggemarnya, tapi juga mempromosikan game-nya ke penonton yang tidak akrab dengan versi video game-nya. Setidaknya nama franchise nya jadi dikenal lebih banyak audience. Tahun 2007 Fox pernah mengadaptasi salah satu game yang dikembangkan oleh IO Interactive asal Denmark, Hitman. Kritikus membencinya, namun hanya dengan budget sekitar 20 juta dollar ternyata berhasil mengumpulkan hampir 100 juta dollar di seluruh dunia. In my opinion, Hitman versi Xavier Gens ini setidaknya menyajikan film action yang cukup menghibur meski tak ada yang istimewa juga. Alih-alih membuat sekuel, Fox memutuskan me-reboot Hitman yang sayangnya prosesnya tak berjalan mulus. Terutama setelah kematian Paul Walker yang awalnya didapuk menggantikan Timothy Olyphant yang menolak tampil lagi. Peran Agent 47 alias sang Hitman dipercayakan kepada Rupert Friend, aktor Inggris yang belum begitu dikenal meski sebenarnya cukup sering mengambil peran pendukung bersetting lawas, seperti Pride & Prejudice, The Last Legion, The Young Victoria,  dan terakhir, serial Homeland. Bangku sutradara pun dipercayakan kepada Aleksander Bach, sutradara iklan asal Polandia yang belum pernah menggarap film layar lebar sebelumnya. Dari pemilihan nama-nama yang tak begitu populer ini dan budget yang lagi-lagi tak begitu banyak (konon hanya sekitar 35 juta dollar), sebenarnya bisa diduga kalau Fox tidak memposisikan reboot bertajuk Hitman: Agent 47 (HA47) sebagai proyek utama yang high profile.

Di installment ini Agent 47 masih digambarkan sebagai pembunuh bayaran yang diprogram secara genetis dengan kekuatan, kecepatan, stamina, dan intelijensia lebih. Hanya saja kali ini ceritanya tak lagi bermain-main dengan misi di luar tubuh Syndicate (yang mana di installment sebelumnya disebut sebagai The Organization, dan di game disebut sebagai The Agency). Misi Agent 47 berkaitan dengan asal-usulnya dan kreator program yang ada pada dirinya. Seperti biasa pula, dimunculkan sosok gadis cantik yang ternyata adalah kunci dari misi pembunuhan yang diemban oleh Agent 47, Katia van Dees.

Mengusung plot yang tak jauh-jauh dari konflik eksistensi ICA (International Contracts Agency) sebenarnya pilihan yang pas untuk memahami latar belakang Agent 47, sekaligus menarik seiring dengan perkembangan karakter Agent 47 sendiri. Tak ada yang salah pula dengan bangunan plotnya yang meski tak begitu istimewa, namun bergerak dengan timing yang pas. Yes, mungkin ada cukup banyak dialog yang menggelikan dan sama sekali tidak ada yang berkesan, namun secara keseluruhan masih mampu jadi sajian yang sangat menghibur. Apalagi diwarnai adegan-adegan aksi praktikal yang terasa cukup keren, meski lagi-lagi, tak terlalu istimewa juga. Mediocre, namun menghibur.

Yang mungkin membuat HA47 terasa kurang ‘berenergi’ sebagai sebuah sajian action pop corn adalah penyutradaraan Bach yang masih kurang dinamis. Terasa sekali ada cukup banyak adegan yang terkesan terlalu ‘lelet’. Itu pulalah yang mungkin turut menyusahkan editor Nicolas De Toth (The Sum of All Fears, Terminator 3: Rise of the Machines, Live Free or Die Hard, X-Men Origins: Wolverine) untuk menjadikannya terkesan lebih dinamis. Namun kesan sedikit stylish sudah dipamerkan Bach lewat satu adegan, yaitu ketika Agent 47 dan Katia naik lift ke helipad dengan iringan score yang gokil.

Susah bagi saya untuk menilai sepak terjang Rupert Friend. Sama sekali tidak buruk dan cukup menampilkan adegan-adegan aksi yang badass, namun tetap saja belum menunjukkan kharisma yang pas untuk karakter Agent 47 yang dingin dan bengis. Hannah Ware sebagai Katia jelas menonjol sepanjang film yang lebih banyak didominasi oleh pria. Apalagi sepak terjangnya termasuk memuaskan sebagai kick-ass chick sekaligus cukup berhasil menghidupkan perannya yang termasuk kompleks. Zachary Quinto yang terhitung paling populer di jajaran cast-nya juga mendukung dengan baik, meski jelas bukan performance terbaiknya.

Sinematografi Óttar Guðnason membingkai tiap adegan aksi dengan sangat pas, maupun wide shot yang sangat memanfaatkan keindahan panorama latarnya, terutama ikon-ikon Singapura dan jalanan urbannya secara maksimal. Sayang tidak diimbangi tata suara yang tergolong di bawah rata-rata untuk film action. Fasilitas surround memang masih terasa dimanfaatkan di sana-sini, namun jelas tidak sedahsyat dan semaksimal film action lain. Yang paling terasa minus jelas dialognya yang seringkali terdengar tenggelam di kanal utama. Scoring Marco Beltrami pas mendukung dan memompa adrenaline di adegan-adegannya, meski termasuk biasa saja. Tak sampai jadi score yang memorable.

Sebenarnya dari fakta di lapangan, jelas lagi-lagi Fox tak memposisikan HA47 sebagai project high profile yang dikerjakan dengan ambisius. Maka tak perlu pula punya ekspektasi yang terlalu tinggi ketika menyaksikannya. Nikmati saja sajian action mediocre-nya yang cukup brutal dan menghibur, as it was made as.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates