Monday, August 17, 2015

The Jose Flash Review
Fantastic Four (2015)

Semenjak dibeli oleh Disney, Marvel  menjadi salah satu raksasa Hollywood yang tiap tahun terus-terusan mencetak rekor baru. Tak heran jika studio lain yang sudah lebih dulu mengantongi hak untuk karakter-karakter Marvel kalang kabut. Salah satunya adalah Fox yang mengantongi hak untuk X-Men dan Fantastic Four. Sementara X-Men masih mampu terus menyedot penonton dan mengumpulkan dolar, Fantastic Four versi Tim Story yang sudah dibuat 2 installment tak begitu disukai terutama oleh para kritikus. Salah satu alasannya adalah kemasan yang dianggap terlalu ringan dan ceria. Padahal kalau mau jujur, sejak dulu komik Fantastic Four (F4) memang punya image superhero dengan cerita ringan, nuansa ceria, dan karena lebih bersifat ‘kekeluargaan’, maka kadar kekerasannya pun tergolong mild. Dua installment versi Tim Story pun sama sekali tak melenceng dari pakemnya, malahan masih sangat menghibur dengan pemilihan cast-nya yang termasuk pas. Kini, supaya hak-nya tidak diambil kembali oleh Marvel, maka Fox berupaya untuk membuat reboot dengan pendekatan yang berbeda. Digandenglah Josh Trank yang sebelumnya pernah menarik perhatian lewat mockumentary superhero, Chronicle. Dibantu Jeremy Slater (The Lazarus Effect) dan Simon Kinberg (Mr and Mrs Smith, X-Men: The Last Stand, X-Men: Days of Future Past, dan Sherlock Holmes), maka disusunlah F4 versi baru. Rupanya versi ini tak begitu disukai pihak studio sehingga produksinya pun dipenuhi dengan kontroversi. Hasil akhirnya mendapat review negatif di mana-mana. Buntutnya Josh Trank menyalahkan pihak studio atas hasil akhirnya lewat twitter. Bahkan ada petisi yang meminta Fox berhenti memproduksi F4 lagi dan segera mengembalikan haknya ke Marvel. Saya sendiri penasaran, seburuk apakah F4 versi Josh Trank ini?

Josh Trank membuat F4 dengan kemasan yang memang 180 derajat berbeda dari pakemnya. F4 yang sejatinya ceria berubah menjadi cerita yang dark dan depresif, bak The Dark Knight versi Nolan. Bedanya, pendekatan Nolan cocok dengan konsep besar yang sangat kuat. Sementara Trank tidak punya motivasi yang kuat untuk membuat F4 se-dark itu. Alih-alih berfokus pada petualangan dan aksi seru para superhero ini memberantas kejahatan, F4 menghabiskan tiga perempat durasinya untuk menyampaikan konsep bagaimana terbentuknya F4, mulai pembangunan mesin teleportasi yang menjadi asal mula semua ‘bencana’ yang menghabiskan separuh durasi sendiri, hingga penjelajahan dimensi lain yang mengingatkan saya akan feel sci-fi horor macam Prometheus. Saya sebenarnya sama sekali tidak keberatan dengan penceritaan ‘the beginning’ seperti ini yang jujur, cukup kreatif dan realistis, termasuk dalam menceritakan asal mula Dr. Doom. Namun jika sampai menjadi tiga perempat durasi sendiri dan menyisakan showdown utamanya tak lebih dari 10 menit, I guess that’s not what we really want to know and see from a superhero movie, was it?

Tak hanya konsep besar yang terkesan salah sasaran, F4 versi Trank nyatanya juga tak didukung oleh naskah dan penyutradaraan yang mumpuni, terutama dalam mengembangkan karakter-karakternya. Lihat saja interaksi antar karakternya yang terkesan serba dingin. Keempat karakter utamanya  pun secara personal terkesan seperti geek depresif pendiam yang tidak membuat saya kaget jika suatu hari menjadi berita karena kasus penembakan atau bunuh diri. Penonton juga tak diajak untuk mengenal karakternya secara personal dan mendalam sehingga susah untuk menaruh simpati kepada mereka. Keanehan lain adalah hubungan antara Ben Grimm dengan ketiga lainnya, mengingat Ben baru mengenal Johnny, Sue, dan Victor sesaat sebelum berteleportasi ke dimensi lain. Kesemuanya menjerumuskan F4 versi Trank menjadi tontonan yang meski punya pace yang cukup dan masih berjalan dengan nyaman, tetap saja terasa datar.

Level kekerasan yang turut meningkat seiring dengan nuansa darknya, menjadikan F4 film superhero yang kurang nyaman disaksikan oleh seluruh keluarga, terutama bagi anak-anak di bawah 10 tahun. Entah apa yang ada di benak Trank membuat manusia yang meledak dan darah yang splattering ke tembok. Entah juga apa yang membuat MPAA meloloskan rating PG-13 dengan adegan-adegan kekerasan yang mengerikan untuk ranah superhero.

Bukan salah keempat pemeran utamanya; Miles Teller, Michael B. Jordan, Kate Mara, dan Jamie Bell, untuk datarnya karakter yang mereka perankan. Mereka tampil sesuai dengan naskah yang memang tak banyak menuntut kualitas akting, bahkan cenderung tidak kuat. Toby Kebbell sebagai villain, Victor von Doom juga tak buruk, namun juga gagal menjadi mengesankan. Sementara Reg E. Cathey sebagai Dr Franklin Storm sebenarnya punya karakter yang menarik, namun lagi-lagi tak diberi penghormatan yang layak di akhir film.

Untuk visual effect, tak ada yang benar-benar baru maupun mengesankan. Gambaran dimensi lain pun bukan gambaran yang visioner. Sementara dukungan sound effect tak terlalu mengalami kendala, meski effect Dolby Atmos-nya tergolong biasa saja. Ada beberapa efek yang menarik, seperti ketika pusaran perpindahan dimensi, namun secara keseluruhan tergolong biasa saja.

In the end, bagi saya F4 versi Trank ini sebenarnya tak sesampah yang ramai dibicarakan banyak orang. Saya masih mampu bertahan mengikuti jalinan alur ceritanya tanpa ada keinginan untuk walk out. Pun juga tak sampai tertidur. Namun saya juga tidak bisa mengelak kalau F4 versi ini memang presentasi yang jauh dari memuaskan. Apalagi untuk sebuah film superhero, once again, this is definitely the least version you’ll care to see.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates