Friday, August 14, 2015

The Jose Flash Review
99% Muhrim: Get Married 5

Siapa yang menyangka kalau Get Married (GM) menjelma menjadi salah satu franchise valuable di ranah perfilman Indonesia? Mungkin bahkan Starvision sendiri tak pernah merencanakan GM ketika installment pertamanya digarap. Dengan angka 1.389.454 penonton untuk seri pertamanya, meski seri-seri berikutnya terus mengalami penurunan angka, namun masih termasuk angka perolehan yang bagus (GM2 1.199.161 penonton, GM3 601.786 penonton, dan GM4 315.390 penonton). Toh dengan cerita yang dikembangkan melalui karakter-karakter uniknya, cerita GM bisa dikembangkan ke mana-mana, mulai kegalauan pasangan yang menginginkan keturunan, baby blues, sampai menikah muda. Bisa dibilang, GM menjadi semacam komedi satir yang memotret fenomena-fenomena sosial masyarakat Indonesia, dengan guyonan-guyonan yang akrab dengan mayoritas masyarakat kita. Itulah kunci mengapa GM bisa tetap diminati penontonnya hingga saat ini. Dengan alasan ‘mengikuti fenomena kekinian’ pula, cerita GM5, yang katanya menjadi penutup franchise GM, dikembangkan.

Kali ini Sophie, adik Rendy yang di installment sebelumnya kawin gantung dengan Jali, mulai risih dengan suami gantungnya. Akhirnya Sophie menemukan ide untuk berpura-pura masuk pondok pesantren untuk menghindari Jali. Namun rupanya Sophie benar-benar mendapatkan hidayah untuk lebih mendalami agama dan… BERHIJAB! Di saat yang sama, sebuah kecelakaan membuat Mae sadar kalau selama ini dia menomerduakan ibadah. Melihat Sophie, Mae pun tergerak untuk ikut mendalami agama.

Membaca sinopis di atas, sudah pasti Anda menemukan benang merah dengan fenomena sosial di masyarakat kita akhir-akhir ini. Terutama hijab yang memang tiba-tiba menjadi booming, tidak lagi sekedar menjalankan syariat, tapi juga fashion statement, seperti yang pernah dituangkan Hanung Bramantyo lewat Hijab awal tahun ini. Dengan nuansa khas GM (yang sebenarnya tercermin lewat karakter Mae, dan bahkan ‘sangat Nirina Zubir), sebenrnya GM menyelipkan fenomena-fenomena ‘mendadak relijius’ ini lebih jauh dan dalam. Seperti misalnya anggapan kalau orang-orang yang mendadak relijius biasanya karena sedang menghadapi kesulitan, jilboobs, pengajian hedon, dan yang menurut saya paling menarik adalah kebahagiaan yang sudah tercapai tanpa harus menjadi relijius seperti yang dialami oleh Rendy. Kenapa menarik? Menurut saya, yang dialami oleh Rendy ini mewakili banyak sekali individu yang hidup biasa-biasa saja, mensyukuri dan bahagia dengan semua yang sudah dimiliki, meski tidak bergaya hidup reliji seperti yang sering disugestikan sebagai kebahagiaan yang sesungguhnya. Di sini hanya sekedar dimunculkan untuk kemudian dikompromikan dengan karakter Mae yang menginginkan keluarga yang ‘lebih dekat dengan Tuhan’. That’s okay, setidaknya ia berani memunculkan fenomena yang menurut saya masih jarang diangkat ini.

Tidak ada yang salah dengan konsep cerita yang seperti ini.  GM masih bawel, cerdas, namun menggelitik. Sayangnya tak hanya nuansa itu yang dimunculkan di sini, seperti installment-installment sebelumnya. Yang mendominasi di installment kali ini justru melodrama kegundahan Mae yang terasa terlalu berlarut-larut, dengan memakan durasi yang cukup panjang tanpa perkembangan cerita yang cukup berarti, dan bagi penonton sekuler, terkesan halu (okay, mungkin lebih bijak kalau saya menggunakan istilah ‘sugestif semata’). Alhasil, kerenyahan komedi khas GM hanya ada di bagian awal dan menjelang akhir saja, dengan porsi yang jauh lebih sedikit. Alhasil, secara keseluruhan naskah GM5 terasa tak punya perkembangan cerita yang cukup signifikan, terkesan tergesa-gesa, dan uninspired. Yang tersisa hanya beberapa line cerdas yang untungnya masih khas GM.

Nirina Zubir, Nino Fernandez, Jaja Mihardja, Meriam Bellina, Tatjana Saphira, Ricky Harun, dan Ira Wibowo masih melanjutkan peran sebelum-sebelumnya dengan kekuatan yang kurang lebih sama. Pasangan Jaja Mihardja-Meriam Bellina justru tampil lebih dari biasanya dengan satu adegan yang sangat menyentuh. Sayang, dari trio Ringgo-Amink-Desta, hanya Amink saja yang masih hadir. Itu pun dengan porsi yang seolah-olah sekedar cameo. Kehadiran Danang-Darto cukup menghibur, meski belum mampu menutupi absennya trio Ringgo-Amink-Desta.

Lagu-lagu Slank masih mendominasi sepanjang durasi, seperti Pandangan Pertama yang sudah jadi theme song, dan yang baru, sesuai dengan konsep, Halal, yang masih ‘sanga Slank’ dan tentunya ‘sangat Get Married’. Tak ada yang begitu istimewa maupun kendala di divisi sound. Sinematografi pun cukup mampu memvisualisasikan cerita.

After all, sebagai penutup franchise GM, GM5 mungkin menjadi turnover yang cukup signifikan meski masih menyisakan sedikit ‘spirit’-nya. Tak terlalu istimewa, bahkan mungkin jadi yang terlemah dari franchise GM, namun sedikit epilog di akhir mengajak penontonnya untuk bernostalgia sepanjang perjalanan franchise. At least, it put a little smile to its audience in the end.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates