Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Monday, August 31, 2015

The Jose Flash Review
Gangster

Mafia atau gangster mungkin jadi salah satu sub-genre yang menarik. Negara manapun nyatanya bisa mengangkat tema ini ke dalam berbagai medium penceritaan, terutama film. Tak hanya Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang yang punya cerita cukup banyak dan panjang tentang mafia. Bahkan pedalaman kumuh dan miskin di India pun punya cerita epik mafia yang digagas oleh Anurag Kashyap lewat Gangs of Wasseypur tahun 2012 lalu. Indonesia sendiri sebenarnya punya riwayat yang cukup panjang tentang mafia dan gangster, mengingat premanisme sudah mendarah daging dalam sebagian besar masyarakat kita sejak dulu, mulai kalangan bawah sampai atas sekalipun. Tak heran jika sebagian besar masyarakatnya merasa lebih bangga jadi ‘preman’ ketimbang cendekiawan di sini, apalagi faktor batas ‘ditakuti’ dan ‘dihormati’ sangat-sangat tipis. Starvision menangkap fenomena ini dengan dibantu oleh penulis naskah Jujur Prananto dan salah satu sutradara langganan mereka, Fajar Nugros.

Di tengah-tengah lesunya penonton film Indonesia, Starvision tak mau ambil resiko menggarap film bertema gangster yang terlalu serius. Sebaliknya, Chand Parwez Servia lebih melirik selera pasar terbesar film Indonesia: tontonan yang murni menghibur. Fajar Nugros menangkap konsep ini dengan membuat Gangster semenghibur mungkin. Tak perlu terlalu banyak alur cerita yang ribet, serius, dan lebih banyak dialog ketimbang laganya. Maka Gangster lahir dengan konsep blend martial art action dengan komedi yang memang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Sosok utama di sini adalah Jamroni, pemuda desa yang harus menerima fakta bahwa selama ini dirinya bukan anak kandung dari ayahnya yang baru saja meninggal. Ditambah motivasi mengejar pujaan hati sejak kecil, Sari, Jamroni nekad ke Jakarta. Tak sengaja Jamroni bertemu seorang gadis yang sedang lari dari rumah karena akan dijodohkan, Retta. Siapa sangka membantu Retta justru membawanya pada masalah yang lebih besar dan melibatkan perseteruan dengan dua pemimpin gangster yang sama-sama ‘memegang’ Jakarta, Hastomo dan Amsar.

Di atas kertas (apalagi kertas flyer promosinya), sinopsis Gangster terkesan ribet. Padahal pada kenyataannya alur cerita hanya dijadikan dasar berjalannya adegan semata, bukan komoditas jualan utama. Memvisualisasikannya secara dinamis dan cepat, Fajar jelas lebih memfokuskan dalam menghadirkan adegan-adegan yang menghibur dan remarkable. Mulai dari segi koreografi bela dirinya, dialog-dialog yang serius maupun komedik, karakter-karakter yang menarik, desain latar dan kostumnya, bahkan sampai sound effect tukang roti. Jajaran ensemble cast yang all-star juga menjadi komoditas Gangster untuk tampil lebih menarik dan meriah. Namun bukan berarti tak punya gagasan utama yang bold. Setidaknya tema 'janji' dengan cukup bold ditunjukkan lewat karakter Amsar-Hastomo dan Jamroni-Sari. Above all, yang paling berhasil menurut saya adalah blend yang seimbang antara action dan komedinya. Ada saat di mana satu adegan benar-benar terasa komikal namun berhasil bikin ketawa karena chaotic humornya yang memang lucu, tapi di adegan lain ketegangan karena keseriusan adegan juga mampu terasa dengan maksimal. Adegan-adegan pertarungannya pun cukup berhasil bikin exciting meski masih ada beberapa yang keliatan kaku, tidak begitu convincing, dan terkesan seperti sudah diatur, terutama 3-way fight antara Kelly Tandiono-Yayan Ruhian-Dian Sastro. Maklum dengan waktu latihan yang konon hanya 1.5 bulan, ditambah latar belakang para aktor yang bukan fighter sungguhan, apa yang tampak di layar sebenarnya sudah patut dihargai lebih.

Kelemahan terbesar Gangster sebenarnya terletak pada twist end-nya. Bukan karena seperti apa endingnya, tapi lebih karena ketidak peduliannya memberi waktu bagi penonton untuk merasakan emosi dari ending yang cukup potensial itu. Editing yang terkesan ‘hajar bleh’, konsisten dinamis sejak awal, langsung menjadikan ending ini bak tukikan tajam rollercoaster yang terasa antiklimaks. Sayang sekali.

Sebagai salah satu komoditas terbesar, jajaran cast-nya bisa dikatakan cukup bisa menjadi ensemble cast yang keren, meski penampilannya tak merata. Hamish Daud selaku pemeran utama tak lebih dari sekedar fighting machine utama. Tak banyak perkembangan karakter yang cukup berarti diberikan kepadanya. Nina Kozok yang menjadi ‘pendamping’-nya juga tak begitu menonjol selain fisiknya yang memang menarik dan aksennya yang sering tidak konsisten. Scene stealer jelas Dwi Sasono yang dengan mood-swing-nya berhasil menciptakan rollercoaster emosi di tiap adegan yang melibatkan dirinya, apalagi ketika beradu dialog dan akting bersama Agus Kuncoro.

Di jajaran cast pendukung, mulai Kelly Tandiono, Yayan Ruhian, Ganindra Bimo, Andrea Bimo, Dominique Sanda, bahkan sampai Dian Sastro, Dede Yusuf, Eriska Rein, dan Lukman Sardi yang perannya murni untuk menyemarakkan film, juga berhasil menciptakan excitement tersendiri di setiap penampilannya.

Tak ada yang istimewa dengan teknisnya, meski harus saya puji, sangat tertata dengan rapi. Mulai tata kamera Padri Nadeak, editing Yoga Krispratama, sampai tata suara yang maksimal. Tak hanya kanal 7.1 yang dimanfaatkan dengan maksimal untuk adegan-adegan laga, tapi juga editing music yang punya timing begitu pas dan blending dengan adegan. Keren!

Jika Anda mengharapkan Gangster menjadi cerita gangster/mafia yang serius, jelas Anda salah ekspektasi. Niat sejak awal sebagai tontonan yang murni menghibur dengan berbagai formula yang masih jarang dipadukan di film Indonesia, Gangsters sudah lebih dari cukup. Masih jauh dari sempurna, tapi cukup banyak yang remarkable dan highly entertaining!

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 30, 2015

The Jose Flash Review
Jenderal Soedirman

Sebagai negara yang punya catatan sejarah cukup panjang dan tokoh bersejarah yang penting, Indonesia sejatinya punya sangat banyak materi untuk diangkat ke medium film. Trend biopic sejarah beberapa tahun terakhir rupanya masih terus berlanjut meski penghasilannya tak begitu menggembirakan, apalagi jika dibandingkan budget yang jauh di atas rata-rata film genre lain. Di satu sisi film bertemakan sejarah dirasa penting dalam upaya mendokumentasikan sejarah sekaligus pass-on antar generasi. Namun di sisi lain, nyatanya film bertemakan sejarah tak banyak menarik perhatian penonton umum. Memang tak mudah membuat film sejarah. Selain riset yang tak bisa main-main supaya menghasilkan akurasi semaksimal mungkin, dan status 'film pesanan' yang mau tak mau hasilnya seolah punya agenda tersendiri, yang tak kalah susahnya adalah merangkai kesemuanya menjadi sajian yang tetap menghibur untuk penonton umum, termasuk yang mungkin belum pernah mengenal sang subjek. Film-film biopic yang dan Tjokroaminoto dibuat beberapa tahun terakhir, seperti Soekarno, mungkin punya akurasi yang cukup tinggi, terutama dari segi kronologis. Namun ‘porsi’ kronologis harus berimbas pada fokus cerita yang kemana-mana dan pada akhirnya kurang dalam sisi hiburannya. Pendekatan lain yang dicoba Garin Nugroho lewat Soegija dan Tjokroaminoto, namun pada akhirnya kehilangan jati diri sebagai biopic. Penonton lantas bertanya, jadi apa hebatnya atau apa peran tokoh utama yang dijadikan judul? Berangkat dari kasus-kasus tersebut, Viva Westi (Rayya, Cahaya di Atas Cahaya) bersama partnernya ketika mengerjakan naskah Ketika Bung di Ende dan Mursala, Tubagus Deddy, untuk mencoba menggabungkan berbagai kepentingan itu ke dalam biopic terbarunya, Jenderal Soedirman (JS), yang masih termasuk 'film pesanan'.

Pemilihan karakter Jenderal Soedirman sebenarnya lebih mudah untuk dijadikan sajian biopic yang menghibur. Tak seperti tokoh lain yang lebih berperan di meja perundingan, Jenderal Soedirman adalah sosok pemimpin yang langsung terjun ke medan perang gerilya. Setidaknya dengan porsi adegan perang yang cukup banyak, bisa menambah unsur hiburan dari biopic ini. Berbekal pengalaman ketika menggarap Ketika Bung di Ende yang juga memotret kejadian sejarah dengan kemasan menghibur, Westi ternyata memang berhasil memberi lebih banyak unsur hiburan lewat adegan-adegan perangnya yang well-made.

Dari segi naskah, Westi dan Deddy juga menggarapnya dengan fokus yang sangat terjaga. Tak hanya berpatokan pada kronologis kejadian sejarah, bahkan langsung memulai penceritaannya ketika Jenderal Soedirman memilih jalan perang gerilya untuk berjuang. Kalaupun ada sub-plot yang dimasukkan, seperti Tan Malaka dan Soekarno, tetap saja punya hubungan yang kuat pada karakter utamanya, yakni Jenderal Soedirman sendiri. Semua dialog Soekarno tetap membahas tentang sosok Jenderal Soedirman, dan kehadiran Tan Malaka menunjukkan kontras pemikiran dengan Jenderal Soedirman. Keuntungannya, penonton bisa dengan mudah dan lebih terfokus dalam mengenal sosok Jenderal Soedirman.

Namun bukan berarti dari naskah ini tak ada celahnya. Mengingat Jenderal Soedirman memimpin gerilyawan dalam kondisi sakit, maka tidak banyak pula sepak terjang secara langsung yang membuat penonton kagum pada sosoknya. Adegan perang lebih banyak menunjukkan sepak terjang anak buahnya, seperti Kapten Tjokropanolo alias Nolly, Aceng, Bisma, Hanum, Kunto, dan Kusno. Bahkan kepolosan dan kelucuan karakter Karsani yang sebenarnya ‘meminjam’ pendekatan yang pernah dilakukan Garin di Soegija dan Tjokroaminoto, lebih membekas dalam benak penonton. Taktik perang gerilya ala Jenderal Soedirman yang konon diklaim sebagai terbaik di dunia, pun cukup disampaikan dalam satu line narasi. Secara visual, penonton bakal lebih sering disajikan adegan kucing-kucingan dengan Belanda yang ternyata cukup mendebarkan, dan beberapa adegan konfrontasi terbuka. Beberapa jokes juga diselipkan, namun bukannya membantu menambah unsur hiburan, justru lebih terasa mengganggu di tengah-tengah nuansa perang yang menegangkan.

Keberhasilan film biopic tak lepas dari peran para aktor yang menghidupkan. Pemilihan cast Jenderal Soedirman di atas kertas, jujur saja, agak bikin mengernyitkan dahi. Selain diisi oleh aktor muda yang notabene lebih akrab dengan peran-peran roman, yang lebih diragukan adalah kharismanya sebagai tokoh-tokoh pejuang. Sebagai karakter utama, Adipati Dolken ternyata berhasil tampil lebih baik ketimbang di film-film roman yang biasa dilakoninya, bahkan lebih baik dari penampilannya di biopic Sang Kiai yang pernah menganugerahkannya Piala Citra. Namun yang tetap saja tak bisa dipungkiri adalah kharismanya sebagai seorang Jenderal yang memang jauh dari image Adipati sendiri. Tonal suaranya saja sudah menggambarkan kelemahan ini. Anyway, usaha Adipati untuk menghidupkan karakter sentral ini patut dihargai lebih.  Di jajaran pemeran pendukung teruama yang mengisi peran anak buah Jenderal Soedirman, selain Ibnu Jamil, sayangnya diisi oleh aktor-aktor tak dikenal yang juga kurang meyakinkan secara fisik dan kharisma. Sementara yang paling mencuri perhatian mungkin Gogot Suryanto sebagai Karsani yang seperti mengulang peran serupa di Soegija, namun tentu saja dengan porsi yang jauh lebih banyak.

Melanjutkan peran sebagai Soekarno di Ketika Bung di Ende, pemilihan Baim Wong juga tak kalah mengernyitkan dahi, setelah kita melihat sosok Ario Bayu yang jauh lebih layak di Soekarno. Pengisi karakter nyata lainnya, Mathias Muchus, sepeti biasa, powerful enough sebagai Tan Malaka.

Tanpa gembar-gembor proyek yang terlalu besar, ternyata teknis Jenderal Soedirman dikerjakan dengan sangat baik. Terutama sekali sinematografi Muhammad Firdaus yang membingkai adegan-adegan penting dengan turut mengeksploitasi latar yang tak kalah indahnya. Mulai kota Yogyakarta, hutan-hutan, hingga pegunungan di Sobo. Tata suara pun digarap dengan cukup maksimal meski hanya sebatas 5.1 channel, terutama sekali terdengar pada adegan-adegan perangnya. Score dari Iwang Noorsaid cukup berhasil mengiringi adegan-adegannya menjadi lebih bernyawa, tapi theme song Soedirman masih terdengar kurang powerful untuk tema perang seperti ini. Untuk visual effect masih tidak begitu merata. CGI pesawat tempur dan rudalnya terlihat sangat halus dan real, sementara masih cukup banyak adegan ledakan yang masih terlihat kasar.

Dengan berbagai upaya terbaik meski masih belum sempurna, Jenderal Soedirman setidaknya masih bisa jadi sajian yang cukup menghibur untuk sebuah film biopic. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 28, 2015

The Jose Flash Review
How to Make Love Like an Englishman

Di Hollywood ada semacam kecenderungan, atau bahkan ada yang menyebutnya sebagai ‘kutukan’, bahwa aktor/aktris yang pernah memainkan karakter iconic di franchise besar, karirnya tak akan lebih besar atau setidaknya mengulang ketika memerankan karakter iconic itu. Ada cukup banyak kasus yang membuktikan teori ini. Lihat saja karir Hayden Christensen pasca peran Anakin Skywalker. Next yang sudah menunjukkan gejala ini, seperti Daniel Radcliffe dan Kristen Stewart yang cenderung tampil di project-project indie pasca histeria Harry Potter dan Twilight Saga. Harrison Ford adalah sedikit dari contoh kasus yang berhasil survive dari ‘kutukan’ ini. Sayangnya, sang James Bond era 90-an, Pierce Brosnan, termasuk salah satu yang lebih banyak bermain di film indie pasca James Bond digantikan oleh Daniel Craig. Kalaupun di proyek major studio, dia bukanlah pemeran utama, seperti di Mamma Mia!, misalnya. Tak heran jika Brosnan akhirnya memilih merangkap sebagai produser, termasuk untuk film komedi romantis terakhirnya, How to Make Love Like an Englishman (HTMLLAE) atau yang juga dirilis dengan judul alternatif Some Kind of Beautiful.

Pierce Brosnan di sini berperan sebagai seorang dosen sastra di Cambridge, Richard. Peran sang ayah yang pecinta ulung bak Cassanova membuat Richard juga punya kecenderungan untuk gampang jatuh cinta. Richard menjalin hubungan asmara dengan salah satu mahasiswinya, Kate. Di tengah keseriusan yang mulai terjalin antara keduanya, Richard bertemu dan tertarik dengan Olivia, kakak tiri Kate. Berusaha setia, Richard memendam rasanya dan memilih untuk menikahi Kate serta menurutinya untuk pindah ke Los Angeles. Kebahagiaan tak berlangsung lama karena Kate jatuh cinta dengan pria lain. Sebagai warga negara Inggris, Richard terancam untuk kehilangan semuanya. Mulai istrinya, greencard, yang artinya juga kehilangan putranya bersama Kate, Jake.

Sejatinya HTMLLAE adalah sebuah komedi romantis yang diperuntukkan oleh penonton dewasa. Dibandingkan komedi romantis untuk remaja, kategori ini masih tergolong jarang ada, apalagi yang berhasil secara komersial. Isu mature relationship dan segala komplikasinya sebenarnya sudah divisualisasikan dengan cukup baik di sini. Guyonan baik yang berupa dialog, tema seksis dan battle of sexes, olok-olok stereotip orang Inggris dan Amerika, bahkan sampai yang sedikit slapstick, diselipkan di sana-sini untuk mewarnai film. Memang hanya berhasil membuat saya sekedar tersenyum kecil, tak sampai tertawa terbahak-bahak, but it’s just okay. Romance-nya pun tergolong manis dengan penampilan Pierce Brosnan dan Salma Hayek. Namun yang menjadi kendala terbesar dari HTMLLAE sehingga menjadi kurang nyaman dinikmati secara utuh adalah terlalu banyak isu pendukung yang turut dimasukkan, seperti parenting yang sebenarnya punya sedikit korelasi dengan isu utama, sisterhood rivalry, dan yang paling mengganggu, kehilangan kewarganegaraan. Khusus yang terakhir, menurut saya yang paling parah mencederai penceritaan dan simpati penonton terhadap Richard sebagai tokoh utama. Tak salah juga jika ada yang mengatakan bahwa ketiga karakter utama di sini tak ada yang benar-benar bisa mengundang simpati penonton karena tindakannya yang tidak benar.

Kendati demikian, sebenarnya kehadiran para cast turut memberikan alasan lebih kenapa HTMLLAE masih menarik untuk disimak. Pierce Brosnan masih memikat dengan peran pecinta ulung yang berusaha do the right thing. Adegan-adegan komikal dari karakternya pun berhasil dilakoni dengan baik dan berhasil tanpa terkesan dibuat-buat. Jessica Alba tak diberi porsi yang cukup untuk memikat penonton ditambah karakternya yang terkesan menyebalkan. Salma Hayek pun sebenarnya juga tak diberi screen presence yang cukup untuk membangun chemistry layak dan convincing dengan Pierce Brosnan, tetapi Hayek masih sedikit lebih memikat daripada Alba di sini. Di deretan pemeran pendukung, aktor veteran, Malcolm McDowell yang paling menarik perhatian.

Divisi teknis tak ada yang begitu istimewa. Yang paling menonjol mungkin hanya art directing, terutama untuk set rumah Richard-Kate di Los Angeles yang begitu cantik. Pilihan track yang digunakan untuk menghidupkan adegan-adegannya sebenarnya cukup menarik dan sesuai, sayangnya tidak familiar sehingga gagal untuk menjadi memorable.

Di tangan sutradara Tom Vaughan (What Happens in Vegas), sebenarnya HTMLLAE jadi komedi romantis yang cukup manis dan menghibur. Bisa lebih manis lagi dan lebih bold jika tanpa memasukkan terlalu banyak isu yang mendistraksi isu utamanya. Not bad, tapi juga tidak akan jadi begitu memorable. At least, HTMLLAE bisa jadi pilihan yang lumayan menghibur jika Anda bingung mau nonton apa karena film lainnya sudah ditonton dan tak ada film lain yang menarik perhatian Anda. Atau Anda fans Brosnan atau Hayek.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 25, 2015

The Jose Flash Review
Hitman: Agent 47

Film yang diangkat dari video game sejak dulu tak punya track record yang begitu bagus, apalagi sekuelnya. Meski mungkin masih cukup banyak meraup keuntungan, namun kritikus dan fanboy kerap memberikan review negatif. Padahal tujuan adaptasi video game ke film semata-mata tidak hanya memuaskan (sekaligus membidik sebagai calon penonton) penggemarnya, tapi juga mempromosikan game-nya ke penonton yang tidak akrab dengan versi video game-nya. Setidaknya nama franchise nya jadi dikenal lebih banyak audience. Tahun 2007 Fox pernah mengadaptasi salah satu game yang dikembangkan oleh IO Interactive asal Denmark, Hitman. Kritikus membencinya, namun hanya dengan budget sekitar 20 juta dollar ternyata berhasil mengumpulkan hampir 100 juta dollar di seluruh dunia. In my opinion, Hitman versi Xavier Gens ini setidaknya menyajikan film action yang cukup menghibur meski tak ada yang istimewa juga. Alih-alih membuat sekuel, Fox memutuskan me-reboot Hitman yang sayangnya prosesnya tak berjalan mulus. Terutama setelah kematian Paul Walker yang awalnya didapuk menggantikan Timothy Olyphant yang menolak tampil lagi. Peran Agent 47 alias sang Hitman dipercayakan kepada Rupert Friend, aktor Inggris yang belum begitu dikenal meski sebenarnya cukup sering mengambil peran pendukung bersetting lawas, seperti Pride & Prejudice, The Last Legion, The Young Victoria,  dan terakhir, serial Homeland. Bangku sutradara pun dipercayakan kepada Aleksander Bach, sutradara iklan asal Polandia yang belum pernah menggarap film layar lebar sebelumnya. Dari pemilihan nama-nama yang tak begitu populer ini dan budget yang lagi-lagi tak begitu banyak (konon hanya sekitar 35 juta dollar), sebenarnya bisa diduga kalau Fox tidak memposisikan reboot bertajuk Hitman: Agent 47 (HA47) sebagai proyek utama yang high profile.

Di installment ini Agent 47 masih digambarkan sebagai pembunuh bayaran yang diprogram secara genetis dengan kekuatan, kecepatan, stamina, dan intelijensia lebih. Hanya saja kali ini ceritanya tak lagi bermain-main dengan misi di luar tubuh Syndicate (yang mana di installment sebelumnya disebut sebagai The Organization, dan di game disebut sebagai The Agency). Misi Agent 47 berkaitan dengan asal-usulnya dan kreator program yang ada pada dirinya. Seperti biasa pula, dimunculkan sosok gadis cantik yang ternyata adalah kunci dari misi pembunuhan yang diemban oleh Agent 47, Katia van Dees.

Mengusung plot yang tak jauh-jauh dari konflik eksistensi ICA (International Contracts Agency) sebenarnya pilihan yang pas untuk memahami latar belakang Agent 47, sekaligus menarik seiring dengan perkembangan karakter Agent 47 sendiri. Tak ada yang salah pula dengan bangunan plotnya yang meski tak begitu istimewa, namun bergerak dengan timing yang pas. Yes, mungkin ada cukup banyak dialog yang menggelikan dan sama sekali tidak ada yang berkesan, namun secara keseluruhan masih mampu jadi sajian yang sangat menghibur. Apalagi diwarnai adegan-adegan aksi praktikal yang terasa cukup keren, meski lagi-lagi, tak terlalu istimewa juga. Mediocre, namun menghibur.

Yang mungkin membuat HA47 terasa kurang ‘berenergi’ sebagai sebuah sajian action pop corn adalah penyutradaraan Bach yang masih kurang dinamis. Terasa sekali ada cukup banyak adegan yang terkesan terlalu ‘lelet’. Itu pulalah yang mungkin turut menyusahkan editor Nicolas De Toth (The Sum of All Fears, Terminator 3: Rise of the Machines, Live Free or Die Hard, X-Men Origins: Wolverine) untuk menjadikannya terkesan lebih dinamis. Namun kesan sedikit stylish sudah dipamerkan Bach lewat satu adegan, yaitu ketika Agent 47 dan Katia naik lift ke helipad dengan iringan score yang gokil.

Susah bagi saya untuk menilai sepak terjang Rupert Friend. Sama sekali tidak buruk dan cukup menampilkan adegan-adegan aksi yang badass, namun tetap saja belum menunjukkan kharisma yang pas untuk karakter Agent 47 yang dingin dan bengis. Hannah Ware sebagai Katia jelas menonjol sepanjang film yang lebih banyak didominasi oleh pria. Apalagi sepak terjangnya termasuk memuaskan sebagai kick-ass chick sekaligus cukup berhasil menghidupkan perannya yang termasuk kompleks. Zachary Quinto yang terhitung paling populer di jajaran cast-nya juga mendukung dengan baik, meski jelas bukan performance terbaiknya.

Sinematografi Óttar Guðnason membingkai tiap adegan aksi dengan sangat pas, maupun wide shot yang sangat memanfaatkan keindahan panorama latarnya, terutama ikon-ikon Singapura dan jalanan urbannya secara maksimal. Sayang tidak diimbangi tata suara yang tergolong di bawah rata-rata untuk film action. Fasilitas surround memang masih terasa dimanfaatkan di sana-sini, namun jelas tidak sedahsyat dan semaksimal film action lain. Yang paling terasa minus jelas dialognya yang seringkali terdengar tenggelam di kanal utama. Scoring Marco Beltrami pas mendukung dan memompa adrenaline di adegan-adegannya, meski termasuk biasa saja. Tak sampai jadi score yang memorable.

Sebenarnya dari fakta di lapangan, jelas lagi-lagi Fox tak memposisikan HA47 sebagai project high profile yang dikerjakan dengan ambisius. Maka tak perlu pula punya ekspektasi yang terlalu tinggi ketika menyaksikannya. Nikmati saja sajian action mediocre-nya yang cukup brutal dan menghibur, as it was made as.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Battle of Surabaya

Ngomongin film animasi bangsa sendiri, jujur saya mengalami dilema yang cukup besar. Semua tahu, sebagaimana film ‘live action’ yang lagi lesu-lesunya, industri animasi yang jelas-jelas membutuhkan proses yang lebih rumit, melibatkan lebih banyak tenaga kerja, dan otomatis biaya yang susah dikompromikan, mengalami nasib yang tak jauh berbeda atau malah lebih buruk. Hanya pihak-pihak yang ‘nekad’ yang akhirnya berhasil menghasilkan karya untuk ditempatkan di layar lebar. Note this, ‘berhasil menempatkan karya’ aja, soal kualitas nanti dulu. Sebenarnya anak bangsa punya cukup banyak sumber daya manusia berkualitas di bidang animasi. Tak heran jika kita sering mendengar nama anak bangsa atau menemukan nama-nama Indonesia di credit film-film Hollywood. But once again, tak banyak kesempatan buat mereka berkarya atau sekedar mengembangkan skill di negeri sendiri. Apalagi penontonnya yang sudah terlanjur skeptis duluan. Maka apa yang dilakukan oleh Aryanto Yuniawan lewat MSV Pictures (Mataram Surya Visi), didukung oleh almamaternya, Amikom Yogyakarta, dan krunya, untuk meramaikan animasi nasional ini patut mendapatkan apresiasi tersendiri.

Mengusung message ‘there’s no glory in war’ Battle of Surabaya (BoS) mengangkat peristiwa 10 November dari kacamata seorang anak pengantar surat, Musa dan sahabatnya yang misterius, Yumma. Ketika Jepang kalah dan Sekutu dikabarkan akan kembali menduduki nusantara, para pejuang di Surabaya menyusun strategi untuk mempertahankan kemerdekaan. Musa yang berjasa dalam mengantarkan surat-surat penting petinggi perang, dihadapkan pada banyak hal yang terjadi dalam dirinya, yang harus membuatnya memilih siapa yang bisa ia percayai.

Membidik cerita bersejarah dari kacamata karakter fiktif sebenarnya jadi jalan yang paling baik dalam mengangkat tema historis. Selain mempermudah penyampaian cerita, juga lebih menarik dan adaptif terhadap penceritaan ala film yang punya keterbatasan durasi dan harus menjaga pace. BoS pun memilih sudut penceritaan demikian dengan tujuan yang sama, namun sebagai ‘pemula’ wajar jika tak berlangsung mulus. Apalagi ceritanya ditulis oleh Aryanto Yuniawan yang background-nya lebih ke teknis animasi (IT di STMIK AMIKOM Yogyakarta). First of all yang paling ‘mengganggu’ dari BoS adalah penceritaannya yang masih jauh dari kata rapi, sehingga tiap adegan terkesan berdiri sendiri, dan kontinuiti antar adegannya jauh dari kesan smooth. Tak mudah memang menyusun struktur cerita dengan latar belakang sejarah. Selain harus menjaga keseimbangan porsi, juga sebisa mungkin mengaitkan keduanya menjadi kesatuan yang pas. Sama dengan film Indonesia kebanyakan yang mengangkat unsur sejarah, BoS juga temasuk yang belum berhasil melakukannya dengan baik. Kalau boleh jujur, dari segi struktur dan alur cerita, malah seperti garapan tugas akhir mahasiswa DKV atau IT kebanyakan. Banyak pula adegan yang sebenarnya bisa diringkas sesuai tujuannya untuk menyelamatkan pace. Justru pace untuk momen-momen yang potensial mengundang emosi penonton yang dibuat terlalu cepat sehingga gagal mengundang simpati apa-apa dari penonton. Belum lagi banyak dialog yang hubungan antar kalimatnya bikin jidad berkerut.

Usaha BoS untuk memasukkan elemen-elemen pendukung dalam cerita agar terkesan lebih menarik juga tak banyak membantu. Mulai latar belakang masing-masing karakter yang disampaikan lewat adegan-adegan flashback hingga perkumpulan rahasia Kipas Hitam. Sayangnya kesemuanya ditampilkan apa adanya, tanpa dikembangkan menjadi korelasi yang lebih kuat. Khusus untuk adegan-adegan flashback-nya, klise dan agak kurang penting untuk ditampilkan menjadi adegan tersendiri, sehingga lagi-lagi, mengganggu pace cerita. Apalagi jumlah kemunculannya yang termasuk sangat banyak.

Untung BoS punya ending yang akhirnya berhasil menyentuh sisi emosional saya. Terutama sejak adegan Musa membaca surat-surat yang tak berhasil sampai ke tangan tujuan. Mungkin adegan-adegan setelahnya tak punya tujuan apa-apa selain ‘mengikuti’ film-film sejenis dan yang paling akhir ala-ala Les Miserables, namun saya mengapresiasi endingnya yang memang ‘menyentuh’. Finally.

Untuk urusan animasi, BoS memang patut mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi. Meski ada beberapa adegan (untungnya bukan adegan yang melibatkan karakter utama dan bukan juga adegan utama) yang pergerakannya masih sangat keliatan keyframe-nya dan pergerakan bibir yang masih banyak tak sesuai dengan audio, overall menyajikan animasi yang tak hanya halus, namun juga latar yang sangat indah. Penggabungan animasi 2D dan 3D-nya juga cukup blended dengan apik. Lihat saja latar kota seperti Jalan Kaliasin, Jembatan Merah, serta latar desa Musa yang terlukiskan dengan sangat cantik dan cukup detail. Terlepas dari kemiripannya dengan animasi-animasi Ghibli Studio, sebenarnya tak salah juga mengingat memang ada unsur Jepang dalam cerita. Saya juga tak akan protes dengan sedikit inkonsisten gaya gambar pada prolog yang sangat berbeda dengan keseluruhan film. Secara keseluruhan, tampilan visual BoS sangat memuaskan, melebihi pencapaian kebanyakan animasi lokal kita.

Tak ada yang istimewa dengan penampilan para voice talent-nya, termasuk untuk karakter-karakter utama; Ian Saybani (Musa) dan Maudy Ayunda (Yumma), yang memang tak punya banyak karakteristik yang spesifik. Sebaliknya, suara Reza Rahadian yang begitu khas ternyata memberikan warna tersendiri meski presence-nya tak sebanyak Ian maupun Maudy. Meski tak terlalu konsisten, selipan istilah-istilah dan aksen Suroboyoan di beberapa adegan patut dihargai.

Meski tak terlalu maksimal, namun fasilitas Dolby Digital 7.1 cukup dimanfaatkan terutama untuk menghidupkan adegan-adegan perangnya sehingga terkesan menggelegar. Sayangnya suara-suara narasi terutama yang melalui siaran radio tidak memanfaatkan kanal surroundnya.  Editing gambar yang kurang berhasil menyatukan adegan-adegannya, ternyata juga disertai dengan editing score yang masih jauh dari kata smooth dan secara keseluruhan jadi terasa kurang nyaman ditelinga. Selain dari itu, lagu-lagu yang disumbangkan oleh Maudy sendiri, Angela Nazar, Sherina, Ungu, dan Afgan, cukup baik menyatu dalam film meski belum mampu terasa terlalu memorable juga.

Di balik segala kelemahan dan kelebihannya, BoS jelas menjanjikan semangat dan harapan baru bagi animasi Indonesia. Namun yang paling patut disayangkan adalah promosinya yang 'kepedean'. Buzz di IMDb hingga score 9.3 saat tulisan ini dibuat jelas terlalu berlebihan (saat ini sudah jadi bahan bully-an di twitter lho!). Bukannya apa, dengan ‘janji’ yang begitu muluk, namun presentasi yang demikian adanya, jelas bisa jadi bumerang; mencederai image sang produsen dan yang paling bahaya, mencederai kepercayaan penonton kita sendiri. Gara-gara promosi yang ‘kepedean’ ini, saya jadi ragu kebenaran berita ketertarikan Disney untuk membantu BoS. Melihat kualitasnya, setidaknya yang bisa saya percayai hanya sejauh Disney akan memberdayakan sumber daya manusia kita untuk memproduksi film animasi sendiri. Itu saja sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengembangkan animasi kita. Well, apapun yang sebenarnya terjadi, kita memang harus mendukung dan mengapresiasi bangsa kita sendiri, namun segala pemakluman jangan juga sampai membuat terlena atau delusional, hingga tak peduli untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan ke depannya. Semoga saja Aryanto Yuniawan tak sedelusional Demian Dematra, misalnya, dan bisa terus menghasilkan karya yang kualitasnya terus meningkat.

Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, August 20, 2015

The Jose Flash Review
Inside Out

Sama seperti Disney, animasi-animasi produksi Pixar sudah punya fanbase tersendiri. Tak heran, film-film animasi Pixar memang punya ciri khas yang selalu ditunggu-tunggu. Mulai ide ceritanya yang seringkali sederhana namun nyaris tak terbayangkan sebelumnya, eksekusi yang memang bagus, baik dari segi naskah, desain produksi (termasuk karakter), maupun kekuatannya dalam mengundang emosi penonton. Sebagai film panjang ke-15-nya, Pixar memilih untuk mengajak kita masuk ke dalam pikiran manusia dengan visualisasi yang seperti biasa, imajinatif dan penuh warna, Inside Out (IO). Di Indonesia penayangannya ditunda 2 bulan dari peredaran di US, yang konon untuk menghindari persaingan dengan Minions produksi Ilumination Studio milik Universal. Tanpa membandingkan dari segi cerita, keduanya jelas punya target market yang berbeda. Jika Minions lebih bisa dinikmati oleh range usia yang lebih luas, maka IO sejatinya lebih segmented.

Ide memvisualisasikan apa yang terjadi di dalam tubuh manusia melalui cerita fiksi memang bukan hal yang baru. Seingat saya tahun 2001 ada animasi tentang sel darah putih yang dipersonifikasi sebagai seorang polisi dalam menghancurkan virus lewat Osmosis Jones yang disutradarai oleh Farrelly Brothers (There’s Something About Mary, Dumb & Dumber). Jauh sebelumnya ada juga Fantastic Voyage (1966) yang dibintangi Stephen Boyd dan Raquel Welch, serta Innerspace (1987) dimana Dennis Quaid ‘masuk’ ke dalam tubuh Martin Short. Speaking of human’s mind pun, ada Inception dan Being John Malkovich yang memang sangat fiktif dan sedikit jauh dari ilmiah. Bahkan saat perilisan trailernya, IO sempat mendapatkan cibiran karena kemiripan ide cerita dengan manga yang juga sudah diangkat menjadi serial drama romantis, Poison Berry in My Brain. In short, tema ‘what happens in human’s body’ memang bukan barang baru tapi harus diakui, sangat jarang diangkat. Lewat lima karakter emosi utama yang dipilih (dari total 27 emosi), Pixar mengajak penonton untuk memahami cara kerja emosi, kepribadian, dan memori manusia.

Sudut pandang cerita berada pada Riley, seorang gadis berusia 11 tahun yang sejatinya sejak kecil mengalami masa kecil yang sangat bahagia. Baik karena faktor orang tuanya, teman-teman, dan prestasinya sebagai pemain hockey. Tentu saja kesemuanya berkat campur tangan 5 emosi utama yang ada di dalam tubuh Riley: Sadness (sedih), Fear (takut), Disgust (Jijik), Anger (Marah), dan dipimpin oleh Joy (senang). Namun kepindahannya dari Minnesota ke San Francisco mengguncang keseimbangan dari kelima emosi dalam diri Riley. Terutama sekali Sadness yang mendadak ingin mendominasi kendali setelah selama ini dipegang oleh Joy. ‘Bencana’ dalam diri Riley pun satu per satu bermunculan bak efek domino. Maka Joy pun bertualang agar Riley kembali bahagia seperti masa kecilnya dulu.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, secara garis besar IO sebenarnya menjelaskan bagaimana cara kerja emosi, kepribadian (sebagai hasil dari dominasi emosi), dan memori manusia. Dengan desain yang seolah futuristik namun penuh warna bak pabrik cokelat Charlie, Pixar begitu detail menyimbolkan berbagai aspek ilmiahnya. Mulai kepingan memori berbentuk seperti bola bowling yang bisa terus ada di core memory ataupun dibuang selamanya, warna-warna yang menyimbolkan berbagai emosi dalam memandang berbagai kejadian-kejadian di memori, sampai bentuk rak long term memory yang melingkar dan berkelok-kelok sesuai dengan bentuk celebral cortex otak yang berkerut dan berlipat-lipat. Begitu juga dengan berbagai keadaan tubuh yang ditunjukkan, misalnya tentang fantasi dan mimpi. Pixar sendiri mengaku banyak berkonsultasi dengan banyak psikolog dan para pakar dalam mengembangkan naskah dan visualisasinya. Sebuah kerja dengan detail yang luar biasa dan patut diapresiasi dengan luar biasa pula.

Meski tampilannya sudah dibuat sangat warna-warni dan terkesan ‘dekat’ dengan penonton cilik, kayaknya penonton yang masih terlalu kecil agak susah untuk menikmati jalan ceritanya yang harus diakui, terlalu kompleks dan ilmiah. Tak heran jika ada penonton cilik yang merasa bosan atau bahkan tertidur, simply karena memang belum waktunya mereka bisa mencerna dan memahami, apalagi menikmatinya. Ada sih guyonan ringan yang bisa dengan mudah bikin tertawa usia berapa saja, terutama yang bersifat fisik. Tapi ada pula humor bereferensi yang lebih susah dipahami tanpa mengetahui referensi yang dimaksud. So yes, tidak ada salahnya mengajak anak-anak untuk ikutan nonton. Siapa tau kebetulan mereka punya kecerdasan di atas rata-rata. But I suggest at least seusia Riley (11 tahun) untuk sekedar bisa memahami jalan ceritanya. As for me, yang paling mengasyikkan dari menyaksikan IO adalah penasaran apa yang bakal terjadi selanjutnya dan merepresentasikan proses apa di dalam tubuh. 

Pengisi suara kelima emosi utama; Amy Poehler (Joy), Phyllis Smith (Sadness), Bill Hader (Fear), dan Lewis Black (Anger) memang sengaja dipilih karena benar-benar mewakili karakternya. Bahkan konon karakter Anger yang memakai kemeja dan dasi dibuat mirip dengan tampilan Black ketika tampil sebagai komika. Alhasil, kelimanya memang berhasil menghidupkan karakter masing-masing dengan maksimal, terutama Joy dan Sadness. Tak ketinggalan, Richard Kind yang kebagian mengisi suara karakter yang saya jamin paling dicintai penonton, Bing Bong!

Seperti biasa, animasi Pixar selalu bisa memanjakan mata dengan desain karakter yang kuat dan memorable, serta desain produksi yang catchy. Detail fisik kelima emosi utama yang seperti terbuat dari spons patut mendapat kredit lebih. Juga desain karakter Bing Bong dengan campuran berbagai spesies, mulai gajah, kucing, gulali, dan lumba-lumba. It’s a super fun of a wild imagination. Keren banget! Tata suara juga layak mendapatkan kredit lebih dalam menghidupkan berbagai adegan fantastisnya. Terutama faktor pembagian kanal yang begitu detail, seperti bola-bola memori yang meluncur di rak meliuk-liuk, pusaran angin, dan banyak lagi. Score dari Michael Giacchino meski tak sampai level modern classic seperti layaknya score Up gubahannya tahun 2009 lalu, tetap berhasil membawa adegan-adegan IO ke dalam dramatisasi yang begitu menyentuh emosi penonton.

Lagi-lagi IO membuktikan bahwa Pixar memang masih maestro di dunia animasi, terutama dari segi orisinalitas cerita dan memainkan emosi penonton. Di tangan Pete Docter yang sudah ‘bekerja’ untuk Pixar sejak Toy Story dengan berbagai peran, IO simply menjadi salah satu animasi terbaik sepanjang masa. Oya, jangan terlambat masuk karena seperti biasa, ada animasi pendek Lava yang manis dan romantis. Gara-gara lagu simple dengan lirik yang diulang-ulang, otomatis stuck lama di dalam ingatan!

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - Pete Docter, Meg LeFauve, Josh Cooley, and Ronnie Del Carmen
  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Child 44

Biasanya film perang yang didasarkan pada kejadian nyata tak pernah jauh-jauh dari tema action ataupun drama kemanusiaan. Maka apa yang ditawarkan oleh Child 44 ini cukup menarik: thriller investigasi misteri pembunuhan berantai di tengah latar Uni Soviet era kepemimpinan Stalin. Belum lagi ada nama Ridley Scott yang awalnya didapuk untuk duduk di bangku sutradara, meski akhirnya hanya menjadi salah satu produser, aktor Tom Hardy, Noomi Rapace, dan Gary Oldman. Trailernya pun menunjukkan tingkat kemenarikan yang serupa. Film yang diangkat dari novel trilogy best seller berjudul sama dari penulis Inggris, Tom Rob Smith ini benar-benar menjanjikan sebuah gripping thriller.

Cerita bergulir dari Leo Demidov, anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga militer, hingga saat dewasa menjadi petugas keamanan pro-Stalin yang idealis. Kehidupannya semakin sempurna ketika menikahi gadis pujaannya, Raisa. Namun idealismenya mulai memudar ketika mendapati putra sahabat sesama petugas keamanan tewas dengan keadaan yang mencurigakan. Meski akhirnya harus melaporkan kecelakaan sebagai penyebab kematian karena doktrin “there’s no murder in paradise” dari Stalin saat itu, Leo terusik untuk menyelidiki kasus pembunuhan ini. Ternyata pembunuhan dengan modus serupa juga muncul di berbagai wilayah. Kehidupannya dan Raisa harus terancam karena tekanan dari pihak pemerintah gara-gara ulah Leo.

Dari premise di atas pun, Child 44 punya potensi untuk menjadi cerita thriller yang seru, menegangkan, dan bikin penasaran. Memang di awal, film bergulir dengan setup-setup yang menarik untuk membangun rasa penasaran penonton. Namun seiring dengan semakin bergulirnya cerita, semakin banyak sub-plot yang idealnya dimasukkan untuk menyatu dengan plot utama sehingga menjadi lebih menarik, namun jatuhnya malah terkesan meluber ke mana-mana, tak fokus, dan paling parahnya, membuat saya sebagai penonton, sudah tidak peduli lagi untuk mengetahui siapa pelaku pembunuhan sebenarnya. Beberapa sub plot yang terasa tidak menyatu seperti tentang hubungan Leo-Raisa dan Leo vs pemerintahan. Penyelidikan kasus pembunuhan pun seolah berkembang dengan sangat lambat. Peran General Mikhail Nesterov yang selalu dicantumkan di berbagai media promosi, termasuk trailer dan poster pun ternyata sangat sedikit. Kesannya tokoh ini ada di semua materi promo semata-mata supaya dilirik, karena diperankan oleh Gary Oldman. Entah permasalahannya sudah berawal dari naskah adaptasinya, penyutradaraan Daniel Espinosa (Safe House) yang masih kurang smooth dalam memblend berbagai formulanya, atau editing yang kurang jeli menyusun adegan. Konon, first cut dari film ini awalnya berdurasi 5 ½ jam!

Tom Hardy dan Noomi Rapace, seperti biasa tampil gemilang di lini utama. Catatan khusus untuk Hardy, meski aksen Rusia-nya tidak terkesan dibuat-buat, namun tetap saja terdengar ada yang aneh dan kurang match. Gary Oldman, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, seolah-olah menyia-nyiakan kekuatan aktingnya gara-gara karakter yang terkesan tak begitu ‘penting’ di hasil akhirnya. Di lini pemeran pendukung, Joel Kinnaman sebagai Vasili dan Jason Clarke sebagai Anatoly cukup menarik perhatian.

Kelebihan lain dari Child 44 adalah desain produksinya yang terlihat begitu otentik dengan settingnya. Mulai desain lokasi, properti, hingga kostum. Sinematografi pun cukup berhasil menangkap segala keindahan dan detail desain produksinya. Sementara tak ada yang terlalu istimewa di divisi tata suara, selain lebih dari cukup untuk menghidupkan berbagai suasana adeagn, mulai perang dengan desingan peluru dari berbagai kanal surround, hingga scoring dari Jon Ekstrand yang setidaknya berhasil membangun nuansa misteri dan suspense di tengah-tengah ketidak fokusan cerita yang mendistraksi.

Meski banyaknya sub plot yang dijejalkan dengan tujuan memperkaya cerita terbukti tidak mampu ditangani dan nge-blend dengan baik, Child 44 setidaknya masih berhasil membangun nuansa thriller dan suspense-nya dengan stabil sepanjang durasi. Setidaknya saya masih cukup bisa menikmatinya. Dengan sedikit perasaan tak puas yang mengganjal, tentu saja. Sayang sekali.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, August 19, 2015

The Jose Flash Review
Brothers

Tahun 2011 lalu ada sebuah film bertemakan olahraga bela diri dengan latar drama keluarga berjudul Warrior yang dibintangi oleh Tom Hardy dan Joel Edgerton. Premisenya menarik. Kakak-beradik putra mantan petinju yang kini jadi alkoholik harus head-to-head di ajang Mixed Martial Arts. Warrior berhasil dipuji di mana-mana dan menganugerahkan Nick Nolte nominasi Oscar. Tahun 2015 sutradara India, Karan Malhotra (Agneepath) me-remake kisah Warrior dengan bintang populer, Akshay Kumar dan bintang muda yang mulai dikenal lewat Student of the Year tahun 2012 lalu.

Secara garis besar, Brothers masih cukup setia mempertahankan cerita materi aslinya. Namun jika Warrior berfokus pada cerita di saat ini, maka Brothers lebih banyak memfokuskan pada flashback yang menceritakan masa lalu keluarga Gary Fernandes hingga menjadi berantakan seperti saat ini. Cerita pun diawali dengan keluarnya Gary dari penjara. Sedikit demi sedikit lewat sedikit kejadian di masa kini, kita dibawa ke kilasan masa lalu yang menjawab semua pertanyaan, seperti apa yang menyebabkan Gary masuk penjara, kenapa putra sulungnya, David, begitu membencinya, dan bagaimana hubngan David dan Monty. Klise, namun dengan visualisasi, timing, dukungan score, dan akting yang serba kuat, kesemuanya tetap berhasil membuat penonton tersentuh dan bukan tidak mungkin, berkaca-kaca.

Di paruh kedua setelah intermission, film terfokus untuk menghadirkan adegan pertarungan demi pertarungan di ajang R2F alias Right to Fight, sambil sesekali diselipi drama interpersonal, seperti antara David-Monty, Gary-David, Gary-Monty, dan David-Jenny, sang istri. Baiknya, drama interpersonal ini sama sekali tidak mengganggu keseruan mengikuti pertarungan demi pertarungan yang dikoreografi dengan sangat baik, realistis, dan dengan timing yang serba pas. Even more, drama interpersonal ini turut memperkuat pertarungan klimaks di akhir menjadi tak hanya sekedar seru dan menegangkan, namun juga mengharukan. Ya, namanya juga film India. Mau seklise apapun ceritanya, tetap saja berhasil menyentuh emosi.

Dari jajaran cast-nya, aktor legendaris Jackie Shroff jelas menjadi yang paling memorable dan mencuri perhatian. Tiap detail adegan yang dibawakannya begitu hidup dan menggetarkan. Shefali Shah sebagai istri Gary, mengimbangi akting Shroff dengan sama kuatnya. Akshay Kumar juga menampilkan performa yang tak kalah kuatnya, baik sebagai ayah yang harus tegar di tengah berbagai terpaan maupun sebagai petarung brutal di atas ring. Sementara Sidharth Malhotra yang karakternya memang tak begitu banyak diberi perkembangan, harus mengalah. Tak buruk, namun tetap saja terasa tenggelam di tengah performa Shroff dan Kumar yang begitu kuat.  Jacqueline Fernandez sebagai Jenny, istri David, cukup mempesona. Terakhir, Kareena Kapoor yang sekedar menjadi special appearance membawakan lagu Mera Naam Mary cukup menghibur di tengah nuansa film yang dominan depresif.

Di teknis, tata suara menghadirkan detail sound effect yang sangat baik, termasuk dalam membagi kanal surround. Terutama sekali terasa ketika adegan di atas ring R2F yang begitu hidup. Brothers juga menyuguhkan lagu-lagu yang sangat berpengaruh terhadap mood touching, seperti lewat Gaaye Jaa dan Sapna Jahan, serta anthem megah yang di-compose oleh Ajay dan Atul Gogavale.

Seperti film India kebanyakan, Brothers menawarkan adegan-adegan pertarungan brutal dengan bumbu drama yang menyentuh. Bukan remake yang terlalu istimewa, tapi tetap berhasil mencapai tujuan utamanya: menghibur dengan brutal excitements and emotion stirs.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 17, 2015

The Jose Flash Review
Fantastic Four (2015)

Semenjak dibeli oleh Disney, Marvel  menjadi salah satu raksasa Hollywood yang tiap tahun terus-terusan mencetak rekor baru. Tak heran jika studio lain yang sudah lebih dulu mengantongi hak untuk karakter-karakter Marvel kalang kabut. Salah satunya adalah Fox yang mengantongi hak untuk X-Men dan Fantastic Four. Sementara X-Men masih mampu terus menyedot penonton dan mengumpulkan dolar, Fantastic Four versi Tim Story yang sudah dibuat 2 installment tak begitu disukai terutama oleh para kritikus. Salah satu alasannya adalah kemasan yang dianggap terlalu ringan dan ceria. Padahal kalau mau jujur, sejak dulu komik Fantastic Four (F4) memang punya image superhero dengan cerita ringan, nuansa ceria, dan karena lebih bersifat ‘kekeluargaan’, maka kadar kekerasannya pun tergolong mild. Dua installment versi Tim Story pun sama sekali tak melenceng dari pakemnya, malahan masih sangat menghibur dengan pemilihan cast-nya yang termasuk pas. Kini, supaya hak-nya tidak diambil kembali oleh Marvel, maka Fox berupaya untuk membuat reboot dengan pendekatan yang berbeda. Digandenglah Josh Trank yang sebelumnya pernah menarik perhatian lewat mockumentary superhero, Chronicle. Dibantu Jeremy Slater (The Lazarus Effect) dan Simon Kinberg (Mr and Mrs Smith, X-Men: The Last Stand, X-Men: Days of Future Past, dan Sherlock Holmes), maka disusunlah F4 versi baru. Rupanya versi ini tak begitu disukai pihak studio sehingga produksinya pun dipenuhi dengan kontroversi. Hasil akhirnya mendapat review negatif di mana-mana. Buntutnya Josh Trank menyalahkan pihak studio atas hasil akhirnya lewat twitter. Bahkan ada petisi yang meminta Fox berhenti memproduksi F4 lagi dan segera mengembalikan haknya ke Marvel. Saya sendiri penasaran, seburuk apakah F4 versi Josh Trank ini?

Josh Trank membuat F4 dengan kemasan yang memang 180 derajat berbeda dari pakemnya. F4 yang sejatinya ceria berubah menjadi cerita yang dark dan depresif, bak The Dark Knight versi Nolan. Bedanya, pendekatan Nolan cocok dengan konsep besar yang sangat kuat. Sementara Trank tidak punya motivasi yang kuat untuk membuat F4 se-dark itu. Alih-alih berfokus pada petualangan dan aksi seru para superhero ini memberantas kejahatan, F4 menghabiskan tiga perempat durasinya untuk menyampaikan konsep bagaimana terbentuknya F4, mulai pembangunan mesin teleportasi yang menjadi asal mula semua ‘bencana’ yang menghabiskan separuh durasi sendiri, hingga penjelajahan dimensi lain yang mengingatkan saya akan feel sci-fi horor macam Prometheus. Saya sebenarnya sama sekali tidak keberatan dengan penceritaan ‘the beginning’ seperti ini yang jujur, cukup kreatif dan realistis, termasuk dalam menceritakan asal mula Dr. Doom. Namun jika sampai menjadi tiga perempat durasi sendiri dan menyisakan showdown utamanya tak lebih dari 10 menit, I guess that’s not what we really want to know and see from a superhero movie, was it?

Tak hanya konsep besar yang terkesan salah sasaran, F4 versi Trank nyatanya juga tak didukung oleh naskah dan penyutradaraan yang mumpuni, terutama dalam mengembangkan karakter-karakternya. Lihat saja interaksi antar karakternya yang terkesan serba dingin. Keempat karakter utamanya  pun secara personal terkesan seperti geek depresif pendiam yang tidak membuat saya kaget jika suatu hari menjadi berita karena kasus penembakan atau bunuh diri. Penonton juga tak diajak untuk mengenal karakternya secara personal dan mendalam sehingga susah untuk menaruh simpati kepada mereka. Keanehan lain adalah hubungan antara Ben Grimm dengan ketiga lainnya, mengingat Ben baru mengenal Johnny, Sue, dan Victor sesaat sebelum berteleportasi ke dimensi lain. Kesemuanya menjerumuskan F4 versi Trank menjadi tontonan yang meski punya pace yang cukup dan masih berjalan dengan nyaman, tetap saja terasa datar.

Level kekerasan yang turut meningkat seiring dengan nuansa darknya, menjadikan F4 film superhero yang kurang nyaman disaksikan oleh seluruh keluarga, terutama bagi anak-anak di bawah 10 tahun. Entah apa yang ada di benak Trank membuat manusia yang meledak dan darah yang splattering ke tembok. Entah juga apa yang membuat MPAA meloloskan rating PG-13 dengan adegan-adegan kekerasan yang mengerikan untuk ranah superhero.

Bukan salah keempat pemeran utamanya; Miles Teller, Michael B. Jordan, Kate Mara, dan Jamie Bell, untuk datarnya karakter yang mereka perankan. Mereka tampil sesuai dengan naskah yang memang tak banyak menuntut kualitas akting, bahkan cenderung tidak kuat. Toby Kebbell sebagai villain, Victor von Doom juga tak buruk, namun juga gagal menjadi mengesankan. Sementara Reg E. Cathey sebagai Dr Franklin Storm sebenarnya punya karakter yang menarik, namun lagi-lagi tak diberi penghormatan yang layak di akhir film.

Untuk visual effect, tak ada yang benar-benar baru maupun mengesankan. Gambaran dimensi lain pun bukan gambaran yang visioner. Sementara dukungan sound effect tak terlalu mengalami kendala, meski effect Dolby Atmos-nya tergolong biasa saja. Ada beberapa efek yang menarik, seperti ketika pusaran perpindahan dimensi, namun secara keseluruhan tergolong biasa saja.

In the end, bagi saya F4 versi Trank ini sebenarnya tak sesampah yang ramai dibicarakan banyak orang. Saya masih mampu bertahan mengikuti jalinan alur ceritanya tanpa ada keinginan untuk walk out. Pun juga tak sampai tertidur. Namun saya juga tidak bisa mengelak kalau F4 versi ini memang presentasi yang jauh dari memuaskan. Apalagi untuk sebuah film superhero, once again, this is definitely the least version you’ll care to see.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Love You... Love You Not

Thailand sejak dulu dikenal punya banyak kemiripan dengan Indonesia. Tak hanya dari ciri-ciri fisik bangsanya, tapi juga kebudayaan dan gaya hidup. Maka tak heran jika perfilman Thailand yang beberapa tahun terakhir termasuk yang paling maju di Asia Tenggara, bisa dengan mudah diterima oleh penonton Indonesia. Jumlahnya tak banyak yang masuk ke sini, tapi rata-rata menjadi bahan pembicaraan di banyak kalangan. Salah satunya yang terakhir di impor ke sini adalah I Fine… Thank You Love You (IFTYLY), komedi romantis dengan sedikit bumbu komedi seks yang diproduksi oleh GTH. Mungkin banyak komedinya yang terasa garing bagi penonton sini (termasuk saya), tapi harus diakui punya naskah romantis yang digarap rapi, manis, dengan step-step yang kuat. Maka tak heran jika MVP membeli hak untu me-remake ke versi Indonesia dengan nilai yang cukup tinggi (konon dengar-dengar sebesar 50.000 dolar Amerika Serikat). Bukan hal yang mudah agar versi Indonesia-nya ini bisa diterima oleh masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur skeptis dengan karyanya bangsanya sendiri dengan cap plagiat. Padahal bahkan Hollywood pun tak jarang me-remake film-film dari berbagai negara. Tapi MVP terus percaya diri melaju dengan bintang yang diharapkan bisa mengundang penonton; Chelsea Islan dan Hamish Daud. Sayangnya sutradara yang digandeng tidak begitu meyakinkan, yaitu Sridhar Jetty yang sebelumnya menggarap banyak film horor, seperti 13, Hantu Juga Selfie, dan Hotline 666: Delivery to Hell. Sementara perombakan naskah aslinya dilakukan oleh Mira Santika yang pernah menulis naskah Mika.

Secara garis besar, Love You Love You Not (LYLYN) punya cerita yang sama dengan IFTYLY. Seorang tutor kursus Bahasa Inggris, Amira, terpaksa harus mengajar Juki, seorang montir berattitude buruk, yang bertekad bisa fasih berbahasa Inggris agar bisa mengejar sex partnernya yang orang Jepang dan sekarang pindah ke Amerika. Sementara Amira yang seperti kebanyakan wanita muda lainnya, bermimpi mendapatkan pasangan bak Prince Charming, tak menyadari perlahan sebenarnya jatuh hati terhadap Juki yang jelas-jelas jauh dari mimpinya.

I really don’t mind if they don’t do many changes to its core story. Saya juga tak keberatan jika banyak elemen-elemen (terutama elemen romantis) dari aslinya yang memang ditata dengan bagus, seperti metafora cerita Cinderella dan terjemahan lagu untuk menyampaikan dialog. Tapi saya berharap setidaknya LYLYN melakukan pelokalan jokes agar lebih dekat dengan penonton Indonesia, sehingga bisa menjadi paket romantic comedy bercita rasa lokal yang bagus pula. Well rupanya LYLYN tak digarap serapi materi aslinya, meski sebagian besar memang masih dipertahankan, kecuali endingnya yang konon diubah dengan pertimbangan perkembangan karakter dan esensi cerita yang lebih bold. Jika Anda pernah menyaksikan IFTYLY, setiap step adegannya ditata dengan sangat rapi dan runtut sehingga tiap perkembangannya terasa masuk akal. LYLYN sedikit ‘mengacak’ susunannya, namun yang terjadi adalah beberapa keanehan dalam cerita. Terutama yang paling saya ingat adalah bagaimana Juki mengenal gebetan Amira yang kaya raya, Taufan. Secara keseluruhan, editing terasa yang paling patut bertanggung jawab terhadap feel tidak berkesinambungan. Tak usah heran jika Anda merasa ada beberapa perpindahan adegan yang tidak menyatu dan seperti potongan-potongan adegan yang berdiri sendiri. Namun yang paling parah adalah proses belajar bahasa Inggris dari Juki yang tidak meyakinkan step-stepnya. Bandingkan dengan versi aslinya yang mana proses belajar sebagai latar kisah cintanya bisa menyatu dengan sangat baik dan meyakinkan. Di sini perkembangan proses belajar Bahasa Inggris Juki hanya ditampilkan seadanya, kalau bukan sebagai sarana penyampaian materi jokes.

Beberapa jokes dari versi aslinya yang menurut saya tidak lucu, tetap dipertahankan di sini. Seperti misalnya perangkap cicak dan mercon pantat. Sayangnya, hasilnya tetap tidak lucu. Namun yang patut saya apresiasi adalah beberapa guyonan khas lokal yang justru seringkali lebih berhasil dalam memancing tawa. Mulai yang bersifat plesetan bahasa, komedi nakal yang menyerempet materi seksual, sampai guyonan-guyonan khas 90-an yang pernah dipopulerkan oleh Warkop DKI dan Kadir-Doyok. Memang banyak jokes yang on-off, namun secara kesleuruhan masih sangat menghibur.
Meski tak terlalu istimewa, Chelsea Islan cukup baik memerankan Amira, termasuk untuk adegan-adegan komikal. Tak ada masalah juga dengan chemistry yang dibangunnya bersama Hamish Daud yang juga mampu tampil komikal dengan baik. Sayangnya, aksen Betawi Hamish Daud masih sering tidak konsisten. Dengarkan saja bagaimana ia mengucapkan ‘Gemini’. Untuk urusan lawakan, komika Fico Fachriza dan Reynold Hamzah mampu mencuri perhatian dengan beberapa adegan komedi terlucu sepanjang film. Namun Kemal Palevi yang sering ‘hilang’ dari adegan gagal untuk mengimbangi kelucuan Fico dan Reynold.

Untuk teknis, selain editing gambar yang terkesan bekerja terburu-buru sehingga terkesan tidak runtut, editing suara pun patut bertanggung jawab atas banyak sekali pemenggalan lagu yang acakadut bak FTV. Untungnya tata kamera Rei Supriadi termasuk oke, baik dalam framing dan pergerakan kamera yang sinematis. Sayang adegan slow-mo-nya masih patah-patah, dan gambar-gambar wideshot yang jelas menggunakan drone terlihat pecah-pecah. Divisi lain yang patut mendapatkan kredit lebih adalah penata artistik dan busana yang membuat gambar dan warna-warni di layar tampak begitu cantik dan berkarakter kuat.

Harus diakui, LYLYN memang masih jauh dari sempurna dengan berbagai kekurangan teknis maupun naskah yang tidak sekuat dan serapi aslinya. Tidak terlalu nyaman pula untuk diikuti. Namun juga bukan termasuk produksi yang buruk. Setidaknya secara keseluruhan, ia masih mampu menjadi sajian komedi romantis yang cukup menghibur. Apalagi jika Anda termasuk fans Chelsea Islan atau Hamish Daud.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 15, 2015

The Jose Flash Review
Mission: Impossible - Rogue Nation

Tom Cruise memang sempat jadi salah satu aktor Hollywood yang punya cukup kharisma, bahkan sebagai one-man-show sekalipun, untuk menjadi box office hit maker. Namun beberapa judul film terakhirnya, seperti Jack Reacher, Oblivion, dan Edge of Tomorrow, meski hasil box office (dan juga hasil akhirnya)-nya tidak termasuk buruk, tetap saja di bawah target yang diharapkan dari film Tom Cruise biasanya. Namun ada satu franchise yang tetap bisa menjadi andalan Tom Cruise, apalagi ia tak hanya menjadi aktor utamanya, tetapi juga duduk di salah satu bangku produser. Apalagi kalau bukan Mission: Impossible (M:I) yang sudah dipegangnya sejak tahun 1996. Speaking of M:I, franchise yang diangkat dari serial TV ini harus diakui tidak pernah punya hasil yang buruk, baik dari segi kualitas film maupun penghasilan box office-nya. Well, mungkin tak selalu punya adegan-adegan yang memorable, namun secara keseluruhan tak pernah sampai terjerumus badly. Mission: Impossible – Ghost Protocol (MIGP) tahun 2011 lalu membuktikan kekuatannya yang masih lebih dari cukup untuk terus hidup, Malahan mengalami perbaikan yang cukup signifikan dibanding M:I-2 dan M:I-3. Maka apa yang disuguhkan di installment ke-5 ini, Mission: Impossible – Rogue Nation (MIRN) masih menjadi semacam pertaruhan akan reputasi franchise tentang agen-agen rahasia IMF (Impossible Mission Force) ini.

JJ Abrams yang ‘memegang’ peranan penting di franchise ini sejak M:I-3 masih duduk di bangku produser, dan kali ini menunjuk Christopher McQuarrie di bangku sutradara dan penulis naskah. Keputusan ini masuk akal, mengingat McQuarrie sebelumnya sudah beberapa kali bekerja sama dengan Tom Cruise, mulai Valkyrie, Jack Reacher, dan Edge of Tomorrow. Soal reputasi, McQuarrie punya pengalaman dan reputasi yang lebih dari cukup mumpuni dalam menangani film aksi blockbuster.

Baik sebagai penulis naskah maupun sutradara, McQuarrie berhak mendapatkan kredit pujian sebesar-besarnya. Sebagai penulis naskah, McQuarrie berhasil menuangkan kompleksitas cerita bak installment pertamanya, dengan alur yang sangat rapi, dan takaran teka-teki, aksi stunt, serta humor yang serba pas. Well okay, mungkin bagi yang benar-benar mengamati pola penceritaan M:I, tak ada yang benar-benar baru, seperti keterlibatan orang dalam dan Ethan Hunt, yang lagi-lagi menjadi buruan para atasan karena kenekadannya. Namun kali ini McQuarrie berhasil sedikit memelintir adegan demi adegan, sehingga terkesan lebih menarik tanpa terasa ribet dan membingungkan. Just as solid as the first installment. Bagi penggemar cerita spionase klasik, McQuarrie memasukkan cukup banyak ke-khas-annya, termasuk adegan penangkapan yang, I have to say, one of the best ever in espionage genre. Tak perlu tampil bombastis namun cerdas. Aspek khas lain dari M:I, yaitu topeng realistis, juga turut dimasukkan di saat yang tak terduga. But above all I like from the script, yang paling saya suka dan hargai adalah esensi utama yang disampaikan oleh McQuarrie, yaitu seberapa jauh peran agen-agen rahasia di mata para petinggi.

Namun yang terpenting, as the director, McQuarrie juga sangat terampil dalam memvisualisasikan semua visinya dengan timing yang serba pas, sehingga ketegangan tiap adegan terjaga dengan sangat baik. Ini yang terpenting dalam mempertahankan keseruan mengikuti kisah M:I. Urusan adegan stunt yang (juga) selalu menjadi signatural M:I, MIRN mungkin tidak se-breathtaking ataupun se-memorable di M:I atau MIGP, apalagi sudah diletakkan di opening, namun tetap saja patut mendapatkan kredit tersendiri. Khususnya untuk Tom Cruise yang mengaku melakoni adegan stunt ini sendiri.

Di jajaran cast, Tom Cruise, Jeremy Renner, dan Ving Rhames tampil tak berbeda dengan di installment-installment sebelumnya. Sementara Simon Pegg yang kali ini diberikan porsi jauh lebih banyak, terbukti mampu memberi warna baru dalam franchise sehingga terkesan lebih ceria dan menggelitik di saat-saat yang tepat. Alec Baldwin (Alan Hunley), Sean Harris (Solomon Lane), Simon McBurney (Atlee), dan Tom Hollander (Prime Minister) juga cukup kuat memerankan peran masing-masing.

Namun yang paling mencuri perhatian tentu saja Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust, yang tak hanya menjadi pemanis ataupun sembarang badass chick. Dengan sex appeal yang segunung, Rebecca berhasil menghidupkan karakter manipulatif ini dengan sangat menarik. Tak heran jika ke depannya Rebecca akan lebih sering mengisi peran-peran badass chick dengan sex-appeal tinggi.
Divisi teknis turut punya andil yang sangat kuat dalam kesuksesan MIRN. Mulai sinematografi yang tak hanya berhasil mengeksploitasi eksotisme berbagai latarnya, mulai Vienna, UK, hingga Cassablanca, hingga mampu menyatu dengan adegan-adegan aksinya. Seiring dengan editing yang serba pas dan tepat, menjadikan adegan-adegan aksi dan investigasi MIRN tak pernah kehilangan momen. Tata suara juga memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos dengan sangat maksimal. Jika biasanya Anda hanya mendengarkan suara hujan atau helikopter lewat di kanal atas, kali ini siap-siap menoleh ketika sepeda motor terlempar lewat kanal atas. That’s my favorite use of Dolby Atmos, not only in this movie, but among all my Dolby Atmos experience ever! Penggunaan Nessun Dorma dari opera Turandot sebagai salah satu elemen music score sepanjang film juga menghadirkan kelas tersendiri bagi MIRN.

So dengan berbagai effort luar biasa dari tiap pendukungnya, MIRN jelas menjadi salah satu installment terbaik untuk M:I, setidaknya setara dengan installment pertama. Sayang sekali jika Anda sampai melewatkannya di layar bioskop, apalagi jika Anda punya akses ke teater dengan tata suara Dolby Atmos.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 14, 2015

The Jose Flash Review
99% Muhrim: Get Married 5

Siapa yang menyangka kalau Get Married (GM) menjelma menjadi salah satu franchise valuable di ranah perfilman Indonesia? Mungkin bahkan Starvision sendiri tak pernah merencanakan GM ketika installment pertamanya digarap. Dengan angka 1.389.454 penonton untuk seri pertamanya, meski seri-seri berikutnya terus mengalami penurunan angka, namun masih termasuk angka perolehan yang bagus (GM2 1.199.161 penonton, GM3 601.786 penonton, dan GM4 315.390 penonton). Toh dengan cerita yang dikembangkan melalui karakter-karakter uniknya, cerita GM bisa dikembangkan ke mana-mana, mulai kegalauan pasangan yang menginginkan keturunan, baby blues, sampai menikah muda. Bisa dibilang, GM menjadi semacam komedi satir yang memotret fenomena-fenomena sosial masyarakat Indonesia, dengan guyonan-guyonan yang akrab dengan mayoritas masyarakat kita. Itulah kunci mengapa GM bisa tetap diminati penontonnya hingga saat ini. Dengan alasan ‘mengikuti fenomena kekinian’ pula, cerita GM5, yang katanya menjadi penutup franchise GM, dikembangkan.

Kali ini Sophie, adik Rendy yang di installment sebelumnya kawin gantung dengan Jali, mulai risih dengan suami gantungnya. Akhirnya Sophie menemukan ide untuk berpura-pura masuk pondok pesantren untuk menghindari Jali. Namun rupanya Sophie benar-benar mendapatkan hidayah untuk lebih mendalami agama dan… BERHIJAB! Di saat yang sama, sebuah kecelakaan membuat Mae sadar kalau selama ini dia menomerduakan ibadah. Melihat Sophie, Mae pun tergerak untuk ikut mendalami agama.

Membaca sinopis di atas, sudah pasti Anda menemukan benang merah dengan fenomena sosial di masyarakat kita akhir-akhir ini. Terutama hijab yang memang tiba-tiba menjadi booming, tidak lagi sekedar menjalankan syariat, tapi juga fashion statement, seperti yang pernah dituangkan Hanung Bramantyo lewat Hijab awal tahun ini. Dengan nuansa khas GM (yang sebenarnya tercermin lewat karakter Mae, dan bahkan ‘sangat Nirina Zubir), sebenrnya GM menyelipkan fenomena-fenomena ‘mendadak relijius’ ini lebih jauh dan dalam. Seperti misalnya anggapan kalau orang-orang yang mendadak relijius biasanya karena sedang menghadapi kesulitan, jilboobs, pengajian hedon, dan yang menurut saya paling menarik adalah kebahagiaan yang sudah tercapai tanpa harus menjadi relijius seperti yang dialami oleh Rendy. Kenapa menarik? Menurut saya, yang dialami oleh Rendy ini mewakili banyak sekali individu yang hidup biasa-biasa saja, mensyukuri dan bahagia dengan semua yang sudah dimiliki, meski tidak bergaya hidup reliji seperti yang sering disugestikan sebagai kebahagiaan yang sesungguhnya. Di sini hanya sekedar dimunculkan untuk kemudian dikompromikan dengan karakter Mae yang menginginkan keluarga yang ‘lebih dekat dengan Tuhan’. That’s okay, setidaknya ia berani memunculkan fenomena yang menurut saya masih jarang diangkat ini.

Tidak ada yang salah dengan konsep cerita yang seperti ini.  GM masih bawel, cerdas, namun menggelitik. Sayangnya tak hanya nuansa itu yang dimunculkan di sini, seperti installment-installment sebelumnya. Yang mendominasi di installment kali ini justru melodrama kegundahan Mae yang terasa terlalu berlarut-larut, dengan memakan durasi yang cukup panjang tanpa perkembangan cerita yang cukup berarti, dan bagi penonton sekuler, terkesan halu (okay, mungkin lebih bijak kalau saya menggunakan istilah ‘sugestif semata’). Alhasil, kerenyahan komedi khas GM hanya ada di bagian awal dan menjelang akhir saja, dengan porsi yang jauh lebih sedikit. Alhasil, secara keseluruhan naskah GM5 terasa tak punya perkembangan cerita yang cukup signifikan, terkesan tergesa-gesa, dan uninspired. Yang tersisa hanya beberapa line cerdas yang untungnya masih khas GM.

Nirina Zubir, Nino Fernandez, Jaja Mihardja, Meriam Bellina, Tatjana Saphira, Ricky Harun, dan Ira Wibowo masih melanjutkan peran sebelum-sebelumnya dengan kekuatan yang kurang lebih sama. Pasangan Jaja Mihardja-Meriam Bellina justru tampil lebih dari biasanya dengan satu adegan yang sangat menyentuh. Sayang, dari trio Ringgo-Amink-Desta, hanya Amink saja yang masih hadir. Itu pun dengan porsi yang seolah-olah sekedar cameo. Kehadiran Danang-Darto cukup menghibur, meski belum mampu menutupi absennya trio Ringgo-Amink-Desta.

Lagu-lagu Slank masih mendominasi sepanjang durasi, seperti Pandangan Pertama yang sudah jadi theme song, dan yang baru, sesuai dengan konsep, Halal, yang masih ‘sanga Slank’ dan tentunya ‘sangat Get Married’. Tak ada yang begitu istimewa maupun kendala di divisi sound. Sinematografi pun cukup mampu memvisualisasikan cerita.

After all, sebagai penutup franchise GM, GM5 mungkin menjadi turnover yang cukup signifikan meski masih menyisakan sedikit ‘spirit’-nya. Tak terlalu istimewa, bahkan mungkin jadi yang terlemah dari franchise GM, namun sedikit epilog di akhir mengajak penontonnya untuk bernostalgia sepanjang perjalanan franchise. At least, it put a little smile to its audience in the end.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 10, 2015

The Jose Flash Review
Demonic

Di ranah horor modern, nama James Wan sudah jadi semacam jaminan mutu. Tak heran, beberapa franchise horor terlaris lahir dari tangan dinginnya. Mulai Saw, Insidious, dan The Conjuring. Popularitasnya ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai ‘bahan jualan’ untuk film-film yang mana dirinya duduk di salah satu bangku produser. Film horor indie berjudul Demonic ini salah satunya. Sebuah horor investigasi yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh pendatang baru, Will Canon.

Tak terlalu beda jauh dengan beberapa horor Hollywood  kebanyakan, Demonic memilih sebuah rumah berhantu yang konon dulu pernah menjadi lokasi pembantaian berkedok ritual Satanic, The Livingstone House. Detektif Mark Lewis yang dibantu oleh timnya dan Dr. Elizabeth Klein, menyelidiki sekelompok remaja yang ditemukan tewas terbantai di The Livingstone House dan harus menemukan salah satunya, Michelle, yang diketahui hilang. Satu-satunya kunci adalah kesaksian John, yang ternyata punya hubungan dengan kasus pembunuhan di Livinstone House berpuluh-puluh tahun lalu.

Familiar dengan premise tersebut? Memang, secara keseluruhan tidak ada yang baru. Yes, I know, revealing-nya pun bukan hal baru, bahkan mungkin banyak dari penonton yang bisa menebak-nebak. Untungnya, Canon menyusun ceritanya dengan cukup nyaman untuk diikuti meski beralur maju-mundur. Begitu juga dengan adegan-adegan jumpscare dan thrilling yang termasuk cukup banyak dan dengan timing yang pas.

Dari jajaran cast-nya juga tak ada yang benar-benar istimewa. Kesemuanya cukup melakoni part masing-masing dengan pas, sesuai kebutuhan cerita. Mulai Frank Grillo sebagai Detektif Mark Lewis, Maria Bello sebagai Dr. Elizabeth Klein, Dustin Milligan sebagai John, Scott Mechlowicz sebagai Bryan, dan Cody Horn sebagai Michelle.


Overall, Demonic menyuguhkan horor yang cukup menghibur meski tidak ada yang istimewa dan mungkin akan dengan mudah dilupakan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Serena

Pasangan Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence memang pernah mencuri perhatian dunia ketika tampil di Silver Linings Playbook (2012) yang menganugerahkan 1 Oscar untuk Lawrence dan nominasi Oscar untuk Cooper. Puas dengan hasilnya, sutradara sekaligus penulis naskah, David O. Russell, kembali menggandeng mereka berdua untuk berduet di proyek berikutnya, American Hustle (2013) yang lagi-lagi menganugerahkan keduanya nominasi Oscar. Mungkin faktor ini yang membuat film berbudget (relatif) rendah, Serena. Diangkat dari novel karya Ron Rash keluaran tahun 2008. Awalnya proyek ini akan ditangani oleh Darren Aronofsky dengan bintang Angelina Jolie, namun akhirnya jatuh ke tangan Susanne Bier dan dibintangi J-Law.

Secara garis besar, Serena yang konon berbudget sekitar 25-30 juta dolar ini tampak seperti produksi yang sangat bagus. Apalagi dengan setting era depresi tahun 1930-an, semuanya tampak begitu meyakinkan. Namun rupanya permasalahan bukan terletak pada desain produksi, tapi pada penceritaannya. Serena sejatinya adalah sebuah drama romance yang harus berakhir dengan cukup tragis, yang menariknya, punya bumbu-bumbu psychological thriller. Seorang wanita muda yang keluarganya tewas dalam kebakaran, Serena, bertemu dengan seorang pria penguasa kayu, George Pemberton, yang akhirnya menikahi dirinya. Serena rupanya punya intelektual di atas rata-rata sehingga turut andil dalam bisnis suaminya. Inilah yang menyebabkan partner-partner George sebelumnya tak suka. Cerita pun semakin bergulir ketika Serena keguguran dan dinyatakan tidak mungkin hamil lagi. Tekanan demi tekanan membuat kejiwaan Serena terguncang.

Premise yang cukup menarik, namun karena tidak dieksekusi dengan maksimal menjadikan hasil akhirnya sama sekali tidak mengesankan. Diawali dengan proses jatuh cinta antara Serena dan George yang terkesan gampangan, atmosfer Serena selanjutnya menjadi terlalu depresif dengan kemasan yang sangat drama. Maka ketika muncul adegan-adegan psychological thriller dan, bahkan sedikit gore, jelas penonton menjadi terkejut (dalam arti negatif). Alhasil, secara keseluruhan Serena terkesan seperti sebuah paket drama yang datar dan membosankan, dengan berbagai subplot tanpa fokus yang tidak jelas mau dibawa ke arah mana. Menurut saya faktor utamanya adalah adaptasi yang mentah-mentah dari novelnya. Well, saya tidak perlu membaca novelnya untuk bisa menemukan gaya penceritaan ala novel di versi filmnya. Serena versi film sama sekali tidak menemukan bentuk visual yang pas untuk adaptasinya.  Coba bayangkan jika misalnya sejak awal sudah dikemas sebagai drama thriller yang misterius namun seduktif. Ambil contoh Original Sin-nya Antonio Banderas dan Angelina Jolie deh. I think Serena will be a much more appealing movie.

Untung saja performance Bradley Cooper, dan lebih lagi, Jennifer Lawrence, begitu kuat, hidup, dan dramatis, termasuk chemistry yang terasa riil, membuat Serena menjadi sedikit lebih layak untuk disimak. Sementara pemeran pendukungnya, seperti Rhys Ifans, Sean Harris, dan Toby Jones tidaklah buruk, namun memang harus diakui juga tidak berkesan.

Like I said before, yang patut diapresiasi paling utama dari Serena adalah desain produksinya, terutama tergambar lewat properti dan kostum yang terlihat genuine sesuai eranya. Sinematografi yang membingkai semua keindahan desain produksinya pun turut mendukung, termasuk misty mountain Republik Ceko yang menjadi lokasi syutingnya. Sementara tata suara dan score tidak ada yang begitu istimewa.


Serena sebenarnya bisa saja jadi sajian yang remarkable jika di-‘desain’ dengan kemasan penceritaan yang lebih tepat. Sayangnya Susanne Bier (After the Wedding) dan penulis naskah Christopher Kyle mungkin memang bukan orang yang tepat. Sehingga performance sekuat Cooper-Lawrence saja belum cukup untuk menjadikannya terasa lebih istimewa.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates