Saturday, July 18, 2015

The Jose Flash Review
Mencari Hilal

Di berbagai scene festival film dalam negeri dan internasional, nama Ismail Basbeth sudah bukan nama yang asing lagi. Apalagi film pendeknya, Shelter, yang berjaya di mana-mana. Terakhir, ia menyelesaikan film panjang pertamanya, Another Trip to the Moon (Menuju Rembulan) yang masuk nominasi Tiger Awards Competition di International Film Festival Rotterdam 2015. Siapapun yang mengenal Basbeth dan karya-karyanya, pasti tak asing dengan image absurd (baca: eksperimental). Kemudian sebuah tantangan datang dari Hanung Bramantyo untuk membuat film yang bisa dipahami dan dinikmati dengan mudah oleh penonton Indonesia yang lebih luas dan umum. Tantangan itu pun diterima dengan Mencari Hilal (MH) yang menggandeng nama-nama berkualitas di baliknya. Terutama penulis skenario Salman Aristo yang dibantu Bagus Bramanti (Love & Faith, Pintu Harmonika), dan Basbeth sendiri.

Kisah MH bergulir ketika Mahmud, seorang uztad yang merasa paling tahu tentang agamanya dan cara hidup yang dianutnya selama ini sudah yang paling benar. Tak jarang ia harus berkonfrontasi dengan orang-orang di sekitarnya yang punya pandangan yang berbeda. Tak terkecuali sang putra, Heli, yang sekarang jadi jarang pulang karena menjadi aktivis. Suatu kejadian mengharuskan Mahmud dan Heli melakukan perjalanan mencari hilal, sebuah tradisi yang sudah lama hilang. Dari premise ini dan melihat hasil akhirnya, MH sekilas seperti mengingatkan kita akan film Perancis, Le Grand Voyage (LGV). Memang ada perbedaan di mana LGV bercerita tentang sang ayah yang ingin naik haji ke Mekkah dengan jalan darat dari Perancis ketika si anak harus menjalani ujian. Sementara di MH, sang ayah mencari hilal yang diyakini menjadi patokan hari raya Idul Fitri, padahal si anak sedang mengejar jadwal menjadi aktivis di Nikaragua. Basically sama, generation gap yang menyebabkan perbedaan pola pikir antara ayah dan anak, yang akhirnya dipersatukan dalam sebuah perjalanan.

Namun jika ditelaah lebih dalam, MH melakukan pelokalan yang sangat baik. Tak hanya relevan, motivasi karakter utama, Mahmud dan Heli ditulis dengan lebih rasional ketimbang LGV. Seiring dengan perjalanannya, MH dipenuhi berbagai kejadian yang mungkin bagi banyak penonton, terlalu sengaja dijejalkan sebagi protes sosial, seperti yang sering dilakukan Hanung di film-filmnya, namun bagi saya ini sah-sah saja. Tak hanya menjadi sebuah relevansi bagi keadaan negara kita saat ini yang sebenarnya, namun yang lebih penting, bisa mendukung perkembangan karakter-karakter utama, yang mau tak mau men-drive cerita pula. Lihat misalnya ketika bagaimana Mahmud dan Heli ternyata bisa saling mendukung ketika menyelesaikan masalah pertikaian warga dengan umat Kristen di sebuah kampung, atau ketika akhirnya Heli  bisa memanfaatkan sahabat lama ayahnya yang pola pikirnya bergeser setelah berpolitik, Arifin. Kesemua kejadian yang mengalir dengan natural di layar punya peran yang signifikan bagi perkembangan karakter Mahmud dan Heli, sekaligus mempersatukan pola pikir mereka yang berbeda. Ending yang mengusung formula 'ternyata', khas film pendek Jogja, ternyata juga cukup menarik dengan metafora dari judulnya (nonton sendiri supaya lebih menarik). Naskah yang begitu solid ini juga tak ketinggalan dihiasi dialog-dialog yang witty di sana-sini, sehingga MH masih tampil sebagai sebuah sajian yang sangat menghibur. 

Naskah yang begitu solid didukung pula oleh penyutradaraan yang tak kalah baiknya oleh Basbeth. Tak sampai jatuh menjadi melodrama yang berlebihan, di tangan Basbeth MH menjadi tontonan hiburan yang mengalir dan hidup. Kalaupun sampai membuat Anda menitikkan air mata, itu tidak berasal dari adegan-adegan yang didramatisir, tapi karena memang relate dengan kehidupan nyata. Protes sosial yang diselipkan tak sampai pula jatuh menjadi terlalu karikatur seperti yang sering dilakukan Hanung, malahan alur MH tetap mengalir dengan elegan. Alur cerita yang berbobot pun menjadi terasa begitu sederhana dan mudah untuk diikuti sekaligus dinikmati.

Tak ketinggalan pula performa akting yang rata-rata prima. Terutama sekali Deddy Sutomo yang sangat berhasil menghidupkan karakternya, seorang ayah keras kepala dengan pendiriannya. Tampak begitu bijaksana dan berkharisma ketika menyampaikan keberatannya dengan tenang, tampak keras sekaligus lembut, hingga perasaaan damai, semua ditampilkan dengan begitu maksimal oleh Deddy. Pun juga chemistry father-son yang sangat baik dengan Oka Antara. Sementara Oka sendiri meski tak terlalu terasa istimewa, setidaknya masih memerankan karakternya dengan pas dan mampu mengimbangi kharisma Deddy Sutomo.

Keunggulan lain yang patut diapresiasi dari MH adalah berbagai keunggulan teknis, seperti sinematofrafi Satria Kurnianto yang pernah berkolaborasi dengan Basbeth di Another Trip to the Moon. Berbgai framing-framing cantik membingkai adegan-adegan penting MH menjadi lebih bermakna dan dalam. Musik yang ditata oleh Charlie Meliala juga mengiringi adegan-adegan MH menjadi lebih emosional.

Di tengah film-film Lebaran tahun ini, MH sebenarnya menjadi pilihan yang paling menarik. Dengan kemasan yang serba menarik dan cantik, ia juga menyajikan sebuah kontemplasi sederhana tentang berbagai perbedaan yang ternyata bisa dipersatukan dan malah saling mendukung. Sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana namun masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia sampai sekarang. Sangat sayang jika kenyataannya menjadi film Lebaran yang paling sedikit perolehan penontonnya. Go see it in cinema, this one is one of the best Indonesian films this year, and probably also in recent years.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates