Tuesday, July 28, 2015

The Jose Flash Review
Maggie

Tema zombie sudah tak terhitung banyaknya diangkat ke layar lebar, terutama dengan genre horor. Berbagai teori tentang zombie sampai berbagai pendekatan dalam penyampaian cerita juga sudah dicoba. Tak sedikit pula yang berhasil menyandang gelar cult classic, mulai karya-karya sang maestro, George A. Romero,  sampai yang modern pop seperti Shaun of the Dead, 28 Days Later,  Zombieland, dan World War Z. Maggie rupanya ingin bermain-main di ranah yang berbeda dengan tema zombie: father and daughter relationship.

Maggie membidik cerita pada seorang gadis remaja bernama Maggie yang harus apes digigit zombie. Dia punya waktu sekitar 6-8 minggu sebelum berubah menjadi benar-benar buas dan harus dikarantina. Maka sang ayah, Wade, menjemput Maggie untuk menghabiskan sisa waktu bersama sambil menimbang-nimbang keputusan yang paling tepat ketimbang mengantarkan Maggie ke karantina. Sebuah premise cerita yang menarik sebenarnya jika ditulis dan divisualisasi secara tepat. Namun yang terjadi pada Maggie ternyata jauh dari menarik.

Jauh berbeda dengan film zombie kebanyakan yang mengumbar adegan kekerasan sadis, horor yang mencekam, dan thriller yang bikin sport jantung, Maggie lebih menampilkan drama depresif yang dibangun melalui hubungan seorang ayah dan putrinya. Beberapa menit pertama Maggie masih menampilkan adegan-adegan yang menarik untuk disimak. Termasuk juga ketika ditampilkan tetangga keluarga Vogel yang masih anak-anak harus dibunuh karena terinfeksi dan sudah berubah menjadi tak terkontrol. Sebuah setup yang seharusnya membuat Wade dan Maggie semakin sulit mengambil keputusan. Pun juga chemistry antara Arnold Schwarzenegger (Wade) dan Abigail Breslin (Maggie) dibangun dengan bagus. Namun nampaknya naskah tak memanfaatkan itu semua untuk dikembangkan menjadi adegan yang lebih menarik lagi. Penonton seolah dibiarkan hanya ikut menghitung waktu hingga Maggie benar-benar berubah menjadi zombie.

Ending-nya pun termasuk biasa saja. Tak ada resolusi yang menarik ataupun memuaskan, padahal keputusan final di ending menjadi satu-satunya alasan mengapa penonton merasa harus stay. Secara keseluruhan pun Maggie juga gagal menjadi drama depresif yang mengundang simpati maupun menguras emosi penonton. Faktor utamanya, sekali lagi adalah tak ada detail cerita maupun adegan yang membangun simpati penonton pada Wade dan Maggie. That’s it. That’s the ending, and all of us feeling like just had the most wasted one and half hour.

Menarik sebenarnya menyaksikan Arnie bermain di pure drama sebagai seorang ayah, tanpa embel-embel action hero. Ternyata ia bisa berakting cukup baik pula di ranah itu. Sayangnya naskah tidak memberikan kedalaman lebih jauh lagi untuk membuat karakternya semakin menarik simpati penonton. Begitu juga dengan Abigail Breslin yang berakting paling memikat sepanjang film. Ketakutan, ketegaran, dan putus asa, berhasil dihidupkan dengan sangat convincing dan pas oleh Breslin.

Sementara di teknis juga tak ada yang begitu istimewa. Sinematografi dan tata suara tergolong biasa saja. Editing ala arthouse yang sangat slow-paced sebenarnya bisa mendukung suasana depresif dan kelam, namun hasilnya justru jatuh menjadi lebih membosankan.

In the end, Maggie sebenarnya punya premise yang menarik jika dikembangkan dengan benar. Sayang penyutradaraan yang belum terlalu berpengalaman dari Henry Hobson (sebelumnya lebih sering bertindak sebagai opening/main/closing title film-film besar seperti The Help, The Lone Ranger, dan Snow White and the Huntsman), ditambah naskah John Scott (juga baru pertama kali menulis naskah) yang lemah, menjadikannya sajian yang tanpa greget dan mudah dilupakan. Syukur-syukur kalau penontonnya tidak keburu ketiduran atau walk out sebelum filmnya berakhir.


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates