Friday, July 31, 2015

The Jose Flash Review
The Loft

Salah satu genre favorit saya tapi sudah sangat jarang ada saat ini adalah puzzled murder investigation. Terakhir kali yang menurut saya paling menarik dan masih saya ingat sampai sekarang adalah Identity (2003). Keasikannya tak hanya terletak pada jawaban siapakah pembunuhnya, tapi juga kelokan-kelokan cerita yang sering memanipulasi jawabannya. Tak jarang juga, twist ending yang mencengangkan. Tahun 2008 ada satu film Belgia berjudul Loft karya sutradara Erik Van Looy dan penulis naskah Brat De Bouw, yang konon berhasil menjadi film Belgia yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah sinema mereka, yaitu sebanyak 1.186.072 juta penonton. Kesuksesan ini yang akhirnya diikuti remake versi Belanda berjudul sama di tahun 2010, disusul Hollywood yang mulai diproduksi tahun 2011 yang juga disutradarai oleh Erik Van Looy. Entah bagaimana ceritanya baru dirilis di negara asalnya awal 2015 ini. Hasilnya buruk sehingga studio tidak percaya diri dan terus memundurkan jadwalnya? Kebanyakan kasus penundaan selama itu sih alasannya demikian. Tapi jangan skeptis dulu, ternyata surprisingly memang menarik.

The Loft versi Hollywood nyatanya sangat persis dengan versi aslinya (Belgia). Mulai dari susunan adegan yang persis hingga dialog yang identik, kalau tidak mau dibilang sekedar penerjemahan dari versi aslinya. Bedanya, versi Belgia punya pace yang sedikit lebih santai (baca: lambat), sementara versi Hollywood-nya jauh lebih dinamis. Versi Belgia punya adegan-adegan telanjang yang sedikit lebih frontal daripada versi Hollywood. Serta, tentu saja, versi Hollywood dibintangi aktor-aktris yang lebih populer, muda, dan good looking daripada versi Belgia (kecuali, tentu saja, Eric Stonestreet).

Let’s talking about the Hollywood version, which I watched first before the Belgian and the Dutch’s. Masih bercerita tentang 5 orang pria beristri yang sepakat berbagi sebuah loft (semacam apartemen) sebagai tempat untuk berselingkuh. “The right place to do wrong” berubah menjadi neraka ketika suatu hari ditemukan mayat wanita di atas ranjang loft mereka.

Sebagai pecinta puzzle murder investigation, saya sangat menikmati tiap adegan yang disusun oleh The Loft. Ia membawa penonton ke rollercoaster cerita yang disusun dengan sangat rapi, mulai kasus paling sederhana yang terlihat di permukaan, hingga satu per satu fakta yang diungkap, yang mengarahkan penonton untuk menuduh tiap karakter utama, namun kemudian dipatahkan dengan fakta yang berikutnya. Semuanya ditampilkan dengan mudah dicerna, tanpa perlu berpikir terlalu keras. Alur yang maju-mundur juga sama sekali tidak membingungkan penonton untuk mengikuti perkembangan kasusnya, karena disusun sesuai kebutuhan kontinuitas cerita. Sexual affair, friendship betrayal, dengan dialog-dialog yang cerdas dan sering terdengar seksis (well, ini memang dibutuhkan, sesuai dengan gambaran karakter-karakter prianya yang memang seksis), mewarnai rollercoaster ride ini. I have to say, a very fun and exciting ride!

Kelima aktor utamanya; Karl Urban, James Marsden, Wentworth Miller, Eric Stonestreet, dan Matthias Schoenaerts (satu-satunya aktor versi Belgia yang juga bermain di versi Hollywood), berhasil mengisi peran masing-masing dengan cukup kuat dan porsi yang seimbang. Well, Urban, Marsden, dan Miller mungkin terasa lebih menonjol karena popularitas yang lebih ketimbang Stonestreet dan Schoenaerts, dan juga peran dalam cerita yang lebih vital, namun kelimanya tampil maksimal sesuai kebutuhan cerita, meski tak terlalu istimewa juga. Pun juga Isabel Lucas dan Rachael Taylor yang meski scene presence-nya tak banyak, namun berhasil mencuri perhatian berkat keindahan fisik, sekaligus kharisma sensualitas yang lebih dari cukup untuk mewarnai cerita menjadi lebih menarik. Di deretan para istri karakter utama, jelas Kali Rocha sebagai Mimi, istri Marty, yang paling menonjol.

Divisi production design dan art directing patut mendapatkan kredit terbesar di teknis. Terutama sekali desain loft sebagai set utama yang jauh lebih luxury dan sophisticated ketimbang versi Belgia. Sinematografi dan editing yang dinamis juga patut mendapatkan kredit dalam membangun adegan-adegan yang cantik sekaligus dinamis. Sementara tak ada yang istimewa di divisi tata suara dan scoring, selain cukup dalam membangun atmosfernya.


In the end, it’s your choice to see which version you want to see. Tak ada yang benar-benar signifikan berbeda. Tergantung mana yang lebih cocok dengan Anda, terutama dari segi pace dan aktor-aktrisnya. Yang pasti jika Anda sudah menyaksikan salah satu versi, keseruan mengikuti ceritanya bakal hilang atau setidaknya berkurang ketika menonton versi yang ditonton selanjutnya, mau versi manapun yang ditonton duluan. Karena yang sedang tayang di bioskop adalah versi Hollywood, maka tak ada salahnya Anda menikmati versi yang ini. It’s a fun and exciting puzzled murder investigation we haven’t experienced for quite a long time.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates