Sunday, May 24, 2015

The Jose Flash Review
Tomorrowland

Masih ingat bagaimana gambaran masa depan dari film-film bertemakan futuristik ketika kita masih kecil dulu? Yang saya ingat adalah serba indah, canggih, imajinatif, dan semuanya tampak luar biasa menyenangkan. Sebuah gambaran yang membuat kita optimis kalau masa depan bakal jauh lebih baik daripada sekarang. Tapi  beberapa tahun belakangan gambaran masa depan bumi dibuat suram oleh berbagai media, terutama film. Ini tak lepas dari fakta bahwa bumi kita sebenarnya semakin lama semakin sekarat. Manusia perlu wake up call untuk mencegahnya. Kemudian muncullah kisah-kisah young adult bertemakan dystopian, seperti The Hunger Games, Divergent, The Maze Runner. Kesemuanya menyajikan petualangan yang seru sih, tapi tidak lagi semengasyikkan dan se-fun dulu. Petualangan tak lagi menjadi milik semua umur, tapi terbatas pada penonton remaja. Sometimes I missed that moment.

Menjawab kerinduan itu, Disney mencoba untuk mengembalikan visi masa depan yang serba fun, canggih, dan menyenangkan itu. Bersama Brad Bird, sutradara sekaligus penulis naskah yang pernah melahirkan film-film fantasi visioner untuk Disney, macam The Incredibles dan Ratatouille. Penulisan naskahnya pun dibantu Damon Lindelof yang juga menulis naskah-naskah sci-fi bervisi tinggi, macam Cowboys & Aliens, Prometheus, Star Trek Into Darkness, dan World War Z. So, dari sini sebenarnya sudah jelas kalau Disney tidak main-main mengangkat salah satu taman hiburan paling terkenalnya ke layar lebar. Yap, sama seperti The Pirates of the Caribbean, Tomorrowland juga diangkat dari wahana di Disneyland yang sudah ada sejak tahun 50-an dan terus dikembangkan sampai sekarang.

Sejak menit pertama, Tomorrowland sudah membawa penonton ke dunia fantasi yang sangat menyenangkan, meski dengan era 1964. Nuansa retro-futuristic yang menggambarkan dunia masa depan sebagai dunia yang indah dan serba sophisticated begitu memanjakan mata dan membuat penonton bak anak-anak yang sedang bermimpi indah di dunia fantasi. Cerita pun bergulir ke masa kini dengan benang merah sesosok gadis kecil bernama Athena yang ternyata sebuah robot… ehm, bukan robot, tetapi audio animatronic yang bertugas mencari bakat-bakat dengan visi untuk masa depan yang lebih indah. Lantas cerita terus bergulir menjadi semakin seru, in term of fun. Apalagi adegan di toko Blast from the Past yang jadi semacam surga penggemar sci-fi sebagai tribute, mulai Star Wars hingga Iron Giant yang juga merupakan karya Brad Bird. Adegan-adegan action-nya mengingatkan saya akan action ala Men in Black atau My Favorite Martians. Sadis, melibatkan pemenggalan anggota tubuh, namun masih bisa ditolerir untuk ditonton seluruh keluarga karena terjadi pada robot, ehm… audio animatronic. Sampai di sini saya langsung berpendapat bahwa sudah lama sekali saya tidak menyaksikan sebuah petualangan futuristik yang se-fun ini. It’s so Brad Bird! Apalagi kemudian ia memasukkan unsur-unsur sejarah (yang dipelintir sedemikian rupa, tentu saja) seperti yang pernah dilakukan Disney untuk National Treasure.

Paruh kedua film tampaknya pengaruh Lindelof yang kelam lebih dominan, seiring dengan terkuaknya fakta yang sebenarnya di balik petualangan karakter utama kita, Frank dan Casey. Saya pun masih terhibur dengan sindiran terhadap manusia yang cenderung menjadikan kiamat sebagai hiburan, bukan lagi momok atau reminder, dan juga trend cerita dystopian yang membuat visi manusia tentang masa depan tak lagi indah, melainkan suram. Sayangnya, baik Bird maupun Lindelof tampak kesusahan menjelaskan apa yang mereka ingin sampaikan melalui Tomorrowland secara visual, sehingga harus disampaikan secara verbal melalui dialog yang diucapkan oleh Nix. Itupun saya harus fokus mendengarkan penjelasannya, yang artinya besar kemungkinan susah dipahami oleh penonton awam yang hanya mendengarkannya sepintas lalu. Inilah yang menjadi satu-satunya permasalahan Tomorrowland yang membuat nuansa serba ceria dan seru yang dibangun di paruh pertama film. Apalagi ternyata klimaksnya “hanya seperti itu”. Untung saja ia menyajikan sesuatu yang manis dan yang paling penting, membuat saya tersenyum di akhir film.

Daya tarik utama di Tomorrowland tentu saja sepak terjang aktris muda, Brit Robertson, yang porsinya paling banyak dan mampu ia mainkan dengan sangat baik. George Clooney pun “mendampingi” Brit dengan porsi yang pas di balik kharisma-nya yang harus diakui masih cukup tinggi meski tampak effortless memainkan perannya di sini. Sementara di jajaran supporting cast yang paling mencuri perhatian tentu saja si audio animatronic cilik, Athena yang diperankan oleh Raffey  Cassidy, dan Hugh Laurie sebagai Nix.

Sebagai sebuah sci-fi dan futuristik, Tomorrowland jelas membutuhkan banyak sekali visual effect yang memanjakan mata. Kenyataannya saya sangat puas dengan visualisasi dimensi lain yang disebut sebagai Tomorrowland di sini. Cantik, sophisticated, dan visioner. Tak kalah pentingnya, tata suara yang memanfaatkan teknologi Dolby Atmos dengan sangat maksimal. Arah suara terdengar begitu jelas bedanya dan tetap menghasilkan keseimbangan suara yang renyah dan terdengar dahsyat.

So yes, sudah cukup lama saya tidak merasakan petualangan sci-fi futuristik se-fun Tomorrowland. Meski tak sepenuhnya berjalan mulus dan selalu menyenangkan, yang paling penting saya berhasil dibuat percaya akan harapan masa depan dunia yang lebih baik dan indah. Mission accomplished, and I’d say, overall I loved it!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates