Monday, June 8, 2015

The Jose Flash Review
San Andreas

Sejak awal sejarah perfilman, genre disaster sudah ada dan selalu menempatkan wakil di setiap eranya. Sayang di era 2000-an, tak banyak film bergenre disaster yang stand out, padahal genre ini pernah begitu berjaya di era 90-an. Mungkin karena genre ini sudah terlalu jenuh, apalagi karya Roland Emmerich yang seolah menjadi ‘maestro’ di genrenya, tapi bagi saya karyanya semakin lama semakin ‘tak bertenaga’. Bukan perkara plot cerita utama yang digunakan untuk menghiasi latar bencana alamnya, tapi yang terutama adalah kemampuannya membawa penonton turut merasakan ‘mimpi buruk’ berada di tengah-tengah bencana alam. Bukan sekedar pameran visual effect memukau mata tanpa kekuatan mempermainkan emosi penonton. Di era 2000-an ini saya baru mencatat The Impossible (2012) yang punya efek dahsyat bagi penontonnya, disusul Into the Storm (2014) yang meski punya tak begitu besar tapi ternyata punya adegan-adegan yang breathtaking dan mampu membawa penonton seolah-olah berada di lokasi kejadian.

Awalnya saya cukup skeptis dengan San Andreas (SA). Meski diramaikan oleh bintang-bintang yang atraktif, ia ditangani oleh sutradara Brad Peyton yang filmografi sebelumnya masih meragukan (seperti Cats & Dogs: The Revenge of Kitty Galore dan Journey 2: The Mysterious Island). Namun rupanya ekspektasi yang cukup rendah punya efek yang cukup positif ketika menyaksikan langsung filmnya.

Seperti kebanyakan film bergenre disaster, SA masih memanfaatkan plot keluarga dan asmara untuk mewarnai latarnya. Ini wajar, karena kedua tema ini adalah pondasi hubungan antar-manusia yang bisa dimanfaatkan untuk menarik simpati penonton secara kemanusiaan. Untungnya meski klise, Peyton mampu menghadirkan plot drama-dramanya dengan porsi, korelasi, dan relevansi yang serba pas.

Namun yang menjadi kekuatan utama SA adalah tampilan adegan-adegan disaster yang begitu intense, breath-taking dan realistis, tanpa terkesan terlalu chaotic dan tanpa ada darah yang terlihat, terutama berkat timing yang serba tepat dan tata kamera yang efektif memaksimalkan hampir semua setup-setup thrilling-nya. Menjadikan adegan demi adegan disaster, mulai gempa awalan, aftershock, hingga tsunami, sebuah rangkaian mimpi buruk modern yang mengerikan, ketimbang sekedar pameran visual effect yang memukau mata. Apalagi bagi penonton yang acrophobia. Tata suara yang dahsyat dan memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos secara maksimal pun turut membuat adegan-adegannya semakin hidup.

Di sisi lain, dihadirkan pula karakter pakar gempa, Lawrence. Mesti terkesan terpisah dengan plot utama, kemunculannya memang berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa gempa yang sedang terjadi di layar. Bagi saya, ini adalah cara yang tepat untuk mengedukasi tentang gempa (yang ternyata sangat informatif dan akurat, kecuali tentu saja dari segi geografis) dan tentu saja pre-caution bencana, tanpa terkesan pretensius. Toh kehadiran karakternya ternyata dipadukan dengan plot utam secara lebih halus dan bagi saya, lebih berkesan ketimbang karakter sejenis di film-film disaster lainnya.

Keberhasilan drama klise SA sehingga masih mampu menyentuh saya, tak lepas dari faktor para cast-nya. Terutama sekali Dwayne Johnson alias The Rock yang ternyata bisa juga mengundang simpati melalui karakter family man dan adegan-adegan yang hearty, tanpa meninggalkan kharismanya sebagai action hero. Meski harus diakui agak aneh melihatnya menjadi suami Carla Gugino maupun ayah dari Alexandra Daddario. But hey, setidaknya chemistry antara ketiganya cukup membangkitkan nuansa kekeluargaan yang hangat. Penampilan Daddario sendiri pun juga menarik perhatian lebih ketimbang peran-peran di film-film sebelumnya, seperti franchise Percy Jackson. Tak hanya karena faktor porsi yang memang cukup dominan dan fisik yang semakin menarik perhatian, tapi juga kharismanya yang terasa semakin kuat sebagai smart girl.

In the end, yes, SA memang sebuah film summer blockbuster yang begitu memanjakan mata dan telinga, pun juga berhasil menjadi sesuatu yang exciting, menyentuh, sekaligus informatif. Sebuah paket lengkap yang tak hanya jarang ditawarkan di genre disaster, tapi juga di kategori summer blockbuster secara keseluruhan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates