Wednesday, June 24, 2015

The Jose Flash Review
Poltergeist (2015)

Poltergeist versi asli yang dirilis tahun 1982 adalah salah satu film horor legendaris sepanjang masa. Dengan sutradara Tobe Hooper yang punya background horor cukup terpercaya (The Texas Chainsaw Massacre) dan produser Steven Spielberg, Poltergeist punya keseimbangan yang pas antara horor, family, dan sedikit nuansa sci-fi. Apalagi ditambah isu kutukan gara-gara tiga bintangnya tewas tak lama setelah filmnya dirilis, menambah status ‘horor’ dari Poltergeist. Dilanjutkan dengan 2 installment lagi yang hasilnya biasa saja atau malah cenderung buruk, tahun 2015, produser Sam Raimi bersama Ghost House Pictures yang tahun 2013 lalu bisa dibilang cukup sukses me-remake Evil Dead, berniat membawa kembali (baca: meng-estafet) kisah Poltergeist dengan sutradara Gil Kenan (Monster House dan Citi of Ember).

Secara keseluruhan, Poltergeist versi 2015 sangat setia dengan pakem aslinya. Tak hanya dari segi basic cerita, tapi juga elemen-elemen adegan, sampai dandanan karakter-karakter utamanya (terutama karakter si gadis cilik, Madison yang dibuat semirip mungkin dengan Carol Anne). Pembaruan yang dibawa hanyalah update teknologi yang menyesuaikan dengan saat ini. Seperti TV tabung ke TV LCD, iPhone, dan drone. Di tengah trend horor yang menghadirkan atmosfer eerie yang klasik dan penampakan-penampakan yang terpengaruh horor Asia, Poltergeist versi 2015 dengan cukup berani tampil beda. Entah atas pertimbangan apa, namun atmosfer dan nuansa yang jauh dari mengerikan ini tak banyak berhasil memuaskan penonton dan penggemar horor generasi ini.

Namun tunggu dulu, meski tak menghadirkan atmosfer horor klasik, Poltergeist versi 2015 masih punya cukup banyak jump scare dengan timing dan durasi yang pas. I know most of casual horror audiences nonton film horor karena faktor ini kan? So yes, overall Poltergeist versi 2015 masih menghadirkan hiburan khas horor yang menegangkan dan bikin cemas. Dengan tanpa adegan kekerasan dan darah seperti versi aslinya, ia pun cukup aman ditonton oleh penonton yang lebih luas range usianya.

Meski masih berada pada alur yang bisa dinikmati, bukan berarti tak ada yang terasa salah dengan Poltergeist. Tidak, bukan selipan adegan komedik yang sedikit dibubuhkan di beberapa bagian yang melibatkan karakter paranormal Dr. Brooke Powell dan Carrigan Burke. Melainkan bagaimana karakter pasangan suami-istri Eric dan Amy Bowen yang relatif terasa tenang-tenang saja pasca putri bungsu mereka ‘diculik’ ke dimensi lain. Bandingkan, misalnya, ketika pasangan Josh dan Renai Lambert mendapati putra mereka, Dalton, diculik ke dunia astral, di Insidious. Entah konsep cerita seperti apa yang ingin disampaikan. Salah Sam Rockwell dan Rosemarie DeWitt selaku pemerannya kah, salah sutradara Gil Kenan yang mengarahkan mereka, atau salah penulis naskah David Lindsay-Abaire? Entahlah, yang pasti ini terasa agak mengganggu bagi saya.

Kelemahan lain Poltergeist versi 2015 adalah sosok makhluk halus yang ditampilkan di sini seperti tanpa nyawa yang patut ditakuti. Alhasil serangan-serangan yang terjadi pada keluarga Bowen seperti kejadian-kejadian yang berdiri sendiri, bukan serangkaian kejadian yang mengarah ke satu titik utama. Apalagi kemudian sosok (-sosok)-nya ditampilkan dalam animasi 3D yang tidak begitu meyakinkan sebagai makhluk halus yang nyata dan mengancam.

Di jajaran cast-nya, anak-anak pasangan Bowen patut mendapatkan kredit teratas, terutama sekali Kennedi Clements sebagai Madison dan Kyle Catlett sebagai Griffin. Ekspresi yang merepresentasikan psikologis Griffin setelah Madison kehilangan, terlihat lebih natural dan masuk akal ketimbang kedua orang tua mereka. Sementar Saxon Sharbino sebagai si sulung Kendra Bowen cenderung biasa saja karena porsi yang juga tak banyak memberikan kesempatan kepadanya untuk menarik simpati penonton. Sedikit di bawah Kennedi dan Kyle adalah Jared Harris sebagai paranormal Carrigan yang meski tak sekuat karakter Elise Rainier di Insidious, namun cukup menghadirkan kharisma serta keseimbangan yang pas antara serius dan komedik.

Aspek teknis yang perlu mendapatkan kredit dan cukup mendukung Poltergeist versi 2015 adalah tata kamera yang bergerak dinamis sehingga mampu menciptakan visual yang menegangkan. Tata suara juga menjadi pendukung keberhasilan adegan-adegan menegangkan. Mulai dari detail suara, keseimbangan antara clarity dan crisp, sampai fasilitas surround yang begitu detail dimanfaatkan.

In short, Poltergeist versi 2015 mungkin tak begitu menambahkan apa-apa pada versi aslinya selain update teknologi, tak juga jadi film horor yang mengerikam dan mampu bertahan lama dalam ingatan, namun ia masih bisa jadi sajian horor yang menghibur dengan jump scare dan ketegangan yang dihadirkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates