Saturday, June 27, 2015

The Jose Flash Review
The Age of Adaline

Seorang wanita muda berusia 29 tahun mengalami perlambatan metabolisme tubuh setelah mengalami kecelakaan. Akibatnya, secara fisik usianya tampak berhenti bertambah, dan kemungkinan besar… hidup abadi. Ini adalah premise dari The Age of Adaline (TAoA) yang cukup menarik dan unik. Memang bukan ide yang benar-benar baru dan orisinal, tapi harus diakui premise cerita seperti itu masih jarang diangkat dan dieksplor. Belum tentu satu film dalam satu dekade. Tak sepenuhnya mirip, tapi mungkin ada banyak juga yang langsung teringat dengan The Curious Case of Benjamin Button (TCCBB) tahun 2008 lalu. Mungkin karena itulah film bertema mirip yang paling dekat rentang waktu rilisnya dan cukup dikenal penonton film.

Sebenarnya ada pilihan seperti apa premise seperti ini bakal dikemas: bisa drama serius dan cenderung mellow, seperti halnya TCCBB, atau romantic comedy (ditambah lagi nuansa remaja supaya lebih fresh dan fun) seperti halnya 13 Going On 30 (dulu di Indonesia judulnya menjadi Suddenly 30). Namun rupanya sutradara Lee Toland Krieger (Celeste & Jesse Forever) memilih untuk berada di antara keduanya. Alhasil, TAoA menjadi sajian drama romantis yang tak terlalu serius sehingga lebih accessible oleh range penonton yang lebih luas, namun juga tak jatuh menjadi terlalu slapstick dan teenage. Mungkin itulah alasan kenapa usia yang dipilih adalah 29.

Masih meng-underline message memaknai hidup lebih dari sekedar youth dan immortality, nyatanya TCCBB juga tak mau terbebani dengan cerita yang berat. Dipilihlah romance sebagai rasa utamanya. Tentu saja dengan bumbu problematika dan dilematik yang relevan dengan tema youth dan immortality. Nyatanya bumbu-bumbu ini bagi saya cukup berhasil membuat penonton merasakan dan memikirkan apa yang dialami oleh Adaline. Rentang waktu penceritaan yang tergolong sangat panjang pun cukup rapi diringkas, dengan tetap fokus pada setting present day. Sisanya, perjalanan hidup yang cukup panjang dari Adaline Bowman ditampilkan sebagai flashback dari adegan present day yang relevan. In the end, keseluruhannya menjadi seperti kesatuan yang utuh dan esensial dari kisah hidup Adaline Bowman, tentu saja sesuai dengan fokus message yang ingin disuarakan sejak awal.

Bagi beberapa penonton mungkin penceritaan yang terfokus pada romance ini terkesan lambat, tanpa lonjakan dramatis yang cukup signifikan, dan tidak begitu penting. Namun bagi saya ini adalah cara penyampaian cerita yang sangat efektif kepada range penonton yang lebih luas. Intinya, keep it simple and very accessible. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya sangat menikmati alurnya yang berjalan santai, terasa manis di sana-sini, dan secara keseluruhan, feel good. Seperti menikmati film yang diangkat dari novel Nicholas Spark (mungkin faktor J. Mills Goodloe, salah satu penulis naskahnya yang memang pernah mengadaptasi novel The Best of Me), namun tentu saja dengan premise yang lebih unik dan nuansa yang jauh dari menye-menye.

Keberhasilan TAoA tentu tak lepas dari karakateristik Adaline Bowman yang cukup detail, logis, dan dibawakan dengan sangat believable dari Blake Lively. Dengan demikian Lively berhasil membuktikan diri mampu membawa beban peran utama dengan kompleksitas karakter yang cukup rumit dengan sangat baik. Sementara itu di deretan pemeran pendukung, Harrison Ford patut mendapat kredit lebih. Dengan screen presence yang jauh lebih sedikit, namun mampu mengimbangi performa Lively, sekaligus mencuri perhatian penonton. Penampilan Michiel Huisman sebagai Ellis Jones mungkin tak begitu istimewa maupun mengesankan, namun juga tak buruk. Begitu pula Ellen Burstyn sebagai Flemming dan Kathy Baker sebagai Kathy Jones. Above all, saya patut menyematkan kredit yang cukup besar kepada Anthony Ingruber sebagai William muda. Ia sangat mencuri perhatian karena kemiripan yang luar biasa dengan Harrison Ford muda, tak hanya dari segi paras, tapi juga suara dan kharisma. Keren!

Tak ada yang istimewa dari segi sinematografi, namun sudah cukup mampu mempresentasikan sesuai kebutuhan cerita. Keistimewaan justru dihadirkan dari divisi tata suara. Saya dibuat takjub oleh tata suara yang begitu detail, terutama dalam hal pembagian kanal surround. Ini sebenarnya jarang menjadi perhatian khusus untuk genre romantic drama. Apalagi ternyata TAoA mendukung Dolby Atmos dan Auro 11.1. Meski melihat dari skala filmnya, tidak memungkinkan 2 fasilitas tata suara ini dimanfaatkan di bioskop-bioskop Indonesia, namun fasilitas surround di studio reguler sudah lebih dari cukup untuk bisa merasakan detail tata suaranya.

In the end, TAoA adalah sajian romantic drama dengan premise yang unik dan bumbu manis di sana-sini dengan takaran yang pas sehingga begitu feel good untuk dinikmati. Tak hanya oleh penonton wanita, tapi nyatanya juga penonton pria. Toh eternal youth juga menjadi impian para pria kan?

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates