Wednesday, May 20, 2015

The Jose Flash Review
Mad Max: Fury Road

Mad Max yang dirilis tahun 1979 adalah sebuah batu loncatan yang luar biasa, baik bagi kreatornya, George Miller, dan aktor Mel Gibson. Sebuah proyek indie tapi visioner asal Australia yang akhirnya mendunia. Setelahnya pun nama George Miller dan Mel Gibson terus bersinar di Hollywood, yang otomatis sekaligus merambah seluruh dunia. Setelah 3 film dan penantian selama 30 tahun sejak seri terakhirnya, Mad Max Beyond Thunderdome rilis tahun 1985, akhirnya George berhasil kembali menuangkan visinya ke layar lebar. Rentang waktu yang sangat panjang jelas tidak memungkinkan Mel Gibson untuk tetap dipertahankan sebagai karakter utama. Sebagai gantinya adalah Tom Hardy yang memerankan karakter bernama sama, Mad Max. Hanya saja bukan Mad Max yang sama dengan yang diperankan oleh Mel Gibson. So Mad Max Fury Road (MMFR) bukanlah sebuah sekuel maupun remake/reboot, melainkan semacam refresh. Artinya penonton yang belum pernah menonton ketiga seri sebelumnya tidak akan dibuat bingung, tapi fans maupun yang sekedar sudah nonton akan diingatkan kembali dengan berbagai referensi dari film-film sebelumnya. Tentu saja dengan sentuhan lebih modern yang membuat MMFR tampak (dan lebih tepatnya, terasa) lebih sophisticated dengan visi yang kurang lebih sama.

Kemunculan MMFR jelas sebuah pertaruhan besar. Pertama, generasi sekarang sudah tidak banyak yang mengenal Mad Max. Kedua, film berlatarkan gurun pasir selama lebih dari satu dekade terakhir tidak pernah berhasil menarik perhatian penonton. Terakhir kita lihat kegagalan Disney dengan John Carter-nya. Tapi nampaknya kepiawaian Miller di usianya yang sudah kepala 7 tidak pudar, bahkan menurut saya makin garang dan terasah.

MMFR membawa kita ke dunia yang mengingatkan dengan padang pasir di film pertamanya. Dunia yang serba susah dimana air bersih menjadi barang mewah dan dikuasai oleh penguasa lalim, Immortan Joe. Seperti biasa, ada vigilante yang pura-pura menjadi kaki tangan demi merencanakan sebuah pemberontakan ke tanah harapan baru. Bukan Mad Max, tapi seorang wanita tangguh bertangan satu bernama Furiosa. Karakter Mad Max justru tampil sebagai sosok yang membantu Furiosa dan juga ternyata selir-selir Immortan Joe. Satu keputusan yang berani dari Miller. Tapi in my opinion, keputusan yang sangat baik karena kehadiran karakter Furiosa justru begitu kuat dan menarik perhatian, termasuk para selir yang jelas tak hanya sekedar sebagai eye-candy, tapi juga sangat kuat sebagai bagian penting dari cerita. Apalagi isu feminisme masih relevan sampai sekarang, bahkan bukan tidak mungkin menarik perhatian penonton wanita di tengah nuansa film yang serba maskulin.

Sepintas, MMFR seperti hanya sekedar sebuah film non-stop action yang memborbardir penontonnya tanpa jeda sedikitpun. Tak banyak cerita yang disampaikan, termasuk dialog yang teramat sangat minim. Tapi coba Anda ikuti adegan demi adegannya, Anda pasti dapat memahami gerak ceritanya dengan mudah. Selain ceritanya memang sengaja dibuat sesimpel mungkin untuk memaksimalkan fokus penonton pada pengalaman action tanpa henti, harus diakui pula Miller adalah seorang storyteller yang piawai bercerita secara visual. Tak hanya melalui adegan, tapi juga detail tiap karakter yang sangat kuat, bahkan sampai karakter yang mungkin tak begitu signifikan dalam cerita utama, seperti The Doof Warrior, si pemain gitar penyembur api yang pasti menarik perhatian penonton (yang konon bakal dibuat spin-off nya sendiri kelak). Tak heran jika ada kabar Miller akan merilis MMFR dengan versi silent dan B/W. Saya tak akan meragukan kemampuannya dipahami dengan mudah oleh penonton jaman sekarang sekalipun. Pada hakikatnya, film memang sebuah medium bercerita yang utamanya melalui visual dan suara, bukan? Buat apa susah-susah membuat film jika ceritanya banyak disampaikan secara verbal?

Sebagai sebuah film non-stop action, MMFR pun tidak main-main. Semua adegannya ditampilkan dengan begitu nyata dan brutal. Semua berkat penggunaan metode praktikal di kebanyakan adegan aksinya dan meminimalisir CGI. Konon CGI hanya digunakan untuk membuat efek tangan bionic Furiosa dan sekedar membuat adegan-adegannya semakin terlihat realistis.

Film dengan adegan-adegan non-stop action biasanya cenderung terkesan kacau dan asal dinamis tanpa diperhitungkan efek emosionalnya bagi penonton. Tapi tidak dengan adegan-adegan MMFR. Meski punya pace yang sangat dinamis dan cepat, perpindahan adegan yang cut-to-cut, semua detail adegan action MMFR berhasil membawa penonton seolah berada di tengah-tengah kejadian. Jangan kaget kalau Anda akan sering menahan nafas dan bahkan berteriak. Ternyata rahasianya adalah penjagaan konsitensi letak karakter utama sebagai fokus di gambar. So, penonton bisa dengan mudah mengikuti point of view karakter utama di layar tanpa terasa bingung maupun pusing. Efek emosi dari penonton pun semakin maksimal (apalagi ditunjang efek gimmick pop-out 3D yang cukup impressive dan tepat guna). Bravo untuk sinematografi dari John Seale! Masih ditambah music scoring dari Junkie XL yang serba metal dan sentuhan techno, memompa adrenaline ke tahap yang maksimal.

Pilihan cast-nya juga tak sembarangan. Tom Hardy mungkin tidak sepenuhnya punya kharisma sekuat Mel Gibson sebagai Mad Max, terutama dari segi sorot matanya. Tapi setidaknya Hardy sudah menampilkan performa yang cukup bad-ass untuk menjadi seorang Mad Max. Sementara Charlize Theron terasa begitu mencolok dan mencuri hati penonton lewat karakternya yang begitu kuat dan menonjol.

Di jajaran pemeran pendukung, Nicholas Hoult sebagai Nux berhasil mencuri perhatian dan simpati saya. Tak ketinggalan pula kehadiran para selir ber-body ala supermodel yang diperankan oleh Zoe Kravitz, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Abbey Lee, dan Courtney Eaton, bisa dengan mudah menjadi eye-candy yang begitu mempesona sekaligus badass.

MMFR jelas sebuah film yang mengedepankan pengalaman penonton and it really works to the max. Banyak sekali adegan-adegan aksi berkesan yang mungkin belum pernah kita saksikan di layar, dengan efek emosional terhadap Anda yang saya jamin akan jauh lebih terasa luar biasa di MMFR. Didukung dengan art dan desain produksi yang unik serta sangat berkesan, performa akting luar biasa mengisi karakter-karakter yang ditulis dengan begitu kuat, MMFR jelas bukan sekedar just another pop corn action movie. Kalaupun demikian, it will be a very crispy one, with one of the best taste ever.

Lihat data dari film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Achievement in Directing - George Miller
  • Best Achievement in Cinematography - John Seale
  • Best Achievement in Editing - Margaret Sixel
  • Best Achievement in Production Design - Colin Gibson and Lisa Thompson
  • Best Achievement in Costume Design - Jenny Beavan
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Lesley Vanderwalt, Elka Wardega, and Damian Martin
  • Best Achievement in Sound Mixing - Chris Jenkins, Gregg Rudloff, and Ben Osmo
  • Best Achievement in Sound Editing - Mark A. Mangini and David White
  • Best Achievement in Visual Effects - Andrew Jackson, Tom Wood, Dan Oliver, Andy Williams

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates