Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Sunday, May 31, 2015

The Jose Flash Review
It Follows

Masih ingat teror video maut yang bakal membunuh penontonnya jika tidak diteruskan ke orang lain? Premise dari The Ring yang fenomenal itu sudah jarang diangkat lagi, hingga kali ini muncul sebuah horor indie yang seolah menggabungkan premise The Ring tersebut dengan Species. Film berjudul It Follows (IF) ini secara mengejutkan berhasil memenangkan hati banyak pecinta horor di Amerika Serikat dan mau tidak mau gaungnya pun terdengar di seluruh dunia. Saya sendiri dibuat penasaran sedahsyat apakah IF meneror.

Di layar, sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari cerita IF. Persis seperti racikan dari cerita The Ring dan Species. So the terror will follow if you don’t pass it on through sexual intercourse. Terdengar menarik? Tunggu dulu, meski terdengar hot, tapi adegan-adegannya masih termasuk ‘sopan’ kok. Bahkan seri Species mana pun masih jauh lebih panas. Alih-alih horor yang mementingkan latar belakang cerita, IF justru membiarkan misterinya tetap mengambang hingga akhir film. Clue memang disebar di mana-mana yang mungkin akan tertangkap oleh penonton yang jeli, tapi semua karakternya dibuat benar-benar clueless. Tak ada cara pasti bagaimana menghilangkan kutukan maupun melenyapkan makhluk ‘it’ yang selalu mengikuti korbannya. Bahkan kewajiban untuk ‘pass it on’ melalui sexual intercourse tinggallah mitos belaka. So bagi penonton yang suka memperhatikan detail mungkin akan bersenang-senang mengamati dan mendiskusikannya setelah film berakhir. Konsekuensinya, penonton biasa yang cenderung malas memperhatikan detail dan menganalisis akan dengan mudah mencap IF geje (tidak jelas).

As for me, IF memang tidak menyeramkan, tapi saya harus mengakui ada cukup banyak adegan yang sangat mendebarkan. Dan karena siapa saja bisa diambil wujudnya oleh si makhluk ‘it’ ini, maka siapa saja yang muncul di layar bikin was-was.

Tak hanya itu yang membuat IF jadi horor yang segmented. Nuansa yang serba retro (era ’60-’80-an) agaknya kurang mampu menaikkan gairah penonton era sekarang, termasuk pergerakan cerita yang agak lambat dibanding horor kebanyakan (tapi punya pace yang cukup di adegan-adegan mendebarkannya), tata kamera yang minim variasi (kebanyakan hanya panning memutar 360 derajat), dan scoring dari Disasterpeace alias Rich Vreeland yang mengingatkan saya pada horor-horor klasik era ‘70-‘80-an. Bagi saya ini justru sebuah desain universe yang unik dan mendukung nuansa teror yang ditampilkan. Meski banyak sekali elemen retro yang ditampilkan, namun ada pula beberapa elemen modern tapi masih dalam ranah fantasi, misalnya penggunaan sebuah gadget e-book reader berbentuk clamshell. Ini menandakan IF berada pada universe yang berbeda dengan dunia nyata dan itu menjadi nilai plus tersendiri.

Menggunakan nama-nama aktor muda yang belum populer, IF bisa dikatakan cukup berhasil mendongkrak popularitas aktornya yang bermain cukup menarik di sini kelak. Terutama sekali Maika Monroe yang memang diberi porsi paling dominan. Sementara Jake Weary, Daniel Zovatto, Keir Gilchrist, Olivia Luccardi, hingga Lili Sepe, menarik namun tidak begitu diberi porsi yang cukup untuk memorable lebih lama di benak penonton.


Well yeah, tidak bisa dipungkiri IF sebagai horor yang segmented dengan tampilan retro dan cenderung seperti film horor kelas B. Tapi jelas IF tidak ditulis dengan sembarangan. Ada desain khusus yang dirancang sedemikian rupa untuk ditemukan oleh penonton yang peduli. Bahkan kansnya untuk menyandang status cult movie yang dipuja-puja oleh fans setianya ke depan sangatlah besar.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 30, 2015

The Jose Flash Review
The Taking of Deborah Logan

Cerita kerasukan atau pengusiran roh jahat (possession atau exorcism) sudah sangat sering dibuat. Bahkan mungkin saat ini jadi salah satu materi horor yang paling banyak diangkat. Tak sedikit pula yang menggunakan gaya found footage atau mockumentary. Namun apa yang ditawarkan sutradara baru, Adam Robitel, lewat The Taking of Deborah Logan (The Taking) ini sedikit berbeda. Tak heran jika berhasil menarik perhatian seorang Bryan Singer (sutradara X-Men dan The Usual Suspects) untuk memproduserinya.

Sebagai sebuah horor, dengan gaya mockumentary sekalipun, The Taking tak begitu mengikuti pakem. Di awal, ia justru seperti sebuah documentary biasa tentang seorang nenek yang menderita Alzheimer. Penonton dengan mudah dibuat iba dengan kondisi si nenek, Deborah Logan. Bahkan disisipkan pula penjelasan dan fakta-fakta tentang Alzheimer, persis seperti sebuah documentary biasa. Namun kemudian perlahan mulai dimunculkan kejadian demi kejadian ganjil yang membawa penonton ke serangkaian adegan menyeramkan.

Dari segi plot sebenarnya tak ada yang istimewa dari The Taking. Cerita possession dengan latar belakang ritual okultisme sudah sering diangkat. Namun yang patut diacungi jempol adalah kerapihan menyusun plot dari awal hingga akhir, dengan adegan-adegan mengerikan yang slow-burn hingga klimaksnya. Meski menggunakan style mockumentary, The Taking tak sampai membuat penonton merasakan motion sickness atau ketidak jelasan adegan. Ya, tentu saja kompensasinya ada beberapa adegan yang tampak tak mungkin untuk ukuran found footage. Namun tanpa mempedulikan logika angle, style mockumentary cukup berhasil menmbuat adegan-adegan mengerikannya menjadi lebih nyata.

Keberhasilan The Taking jelas terletak pada akting Jill Larson sebagai Deborah Logan yang sukses membuat penonton iba sekaligus merinding dengan perubahan pada dirinya yang begitu meyakinkan. Sementara supporting casts yang lain meski tak begitu  diberi porsi lebih namun cukup mengisi perannya dengan baik, seperti Anne Ramsay sebagai Sarah Logan, Michelle Ang sebagai Mia, Ryan Cutrona sebagai Harris, dan tak ketinggalan Julianne Taylor pemeran si cilik Cara, yang di bagian akhir ternyata juga mampu tampil mengintimidasi penuh misteri.

Desain tata suara dan scoring pun turut andil dalam membangun suasana creepy. Meski scoring-nya tak begitu sering ditampilkan, namun diletakkan pada timing yang tepat.

Well yeah, memang tak banyak yang baru maupun begitu istimewa dari The Taking. Bahkan mungkin banyak penonton penggemar horor yang menganggapnya terlalu slow dan membosankan, namun di ranah horor mockumentary, The Taking patut menjadi salah satu yang menarik untuk disimak dan diapresiasi.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Doea Tanda Cinta

Tak mudah membuat film aksi. Selain perlu skill pengarahan adegan yang khusus, skill aktor yang juga harus mendukung, melibatkan visual effect yang mumpuni, dan tentu saja butuh dana yang tidak sedikit. Setidaknya pasti di atas biaya film drama, misalnya. Itulah sebabnya tak banyak film Indonesia yang berani mengambil genre ini. Sebelumnya ada Badai di Ujung Negeri yang menggabungkan cerita romance dan action dengan porsi yang cukup berimbang, penampilan aktor yang baik, pun juga penanganan adegan aksi yang bisa dibilang mumpuni. Kali ini ada lagi yang mencoba menggabungkan romance dan action, masih dengan latar belakang dunia kemiliteran, Doea Tanda Cinta (DTC - entah kenapa pakai ejaan Doea tetapi tidak pakai Tjinta. Bahkan esensi penggunaan ejaan lama Doea pun tidak saya temukan setelah menyaksikan filmnya). Memang disutradarai oleh nama baru, Rick Soerafani, namun nama Jujur Prananto di jajaran penulis naskahnya membuat DTC tidak bisa diremehkan begitu saja.

Awalnya, DTC menghadirkan sebuah kisah persahabatan dua taruna di Akademi Militer (baca: bromance), Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett) yang mengalir dengan cukup lancar. Melalui adegan-adegan dan dialog-dialog yang menggelitik, part ini membuat DTC begitu nyaman untuk diikuti. Ketika masuk ke part romance-nya, yang dimulai dengan dimasukkanya karakter Laras (Tika Bravani) pun terasa masih punya flow yang enak. Sayangnya part romance ini dibiarkan mengambang begitu saja, tidak dikembangkan dengan cukup, serta langsung dilanjutkan part aksinya. Mulailah ketidak fokusan dan kekacauan begitu terasa. Tanpa penjelasan motif dan pendekatan yang lebih, terutama pada karakter antagonisnya, adegan demi adegan aksi digeber hingga akhir film yang membawa pada konklusi.

Penyatuan ketiga sub-plot ini memang riskan mengacaukan keseluruhan film, dan itu yang benar-benar terjadi pada DTC. Okelah part bromance di awal memang berhasil ditampilkan, namun part romance dan aksi yang berada pada bagian kedua dan akhir film merusak susunan yang sudah ditata dengan lancar. Adegan-adegan aksinya memang digarap dengan mumpuni sih, tapi hanya sekedar tampak meyakinkan, belum sampai berhasil memainkan emosi penonton. Bandingkan dengan BdUN yang sama-sama menggarap adegan aksinya dengan mumpuni, tapi setidaknya karakter antagonis yang diperankan Jojon dibuat lebih dalam untuk mengundang emosi penonton. Sementara di sini cuma sekedar diinfokan kalau dia seorang teroris. Titik. Tidak ada penjelasan motif ataupun sepak terjang yang lebih untuk memperkuat karakteristik itu. Latar belakang Akademi Militer pun digambarkan serba ideal, mengingat ada tujuan “promosi” di balik pembuatan film ini. Jadi jangan mengharapkan gambaran nyata suasana di dalam Akademi Militer yang selama ini sudah menjadi rahasia umum. Alhasil, in the end semuanya terasa serba setengah-setengah dan potensi secara keseluruhan yang sebenarnya cukup besar itu berubah drastis menjadi buyar seketika.

Sebagai tiga lead, Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, dan Tika Bravani sebenarnya sudah mampu membangun chemistry yang cukup kuat dan meyakinkan. Rendy Kjaernett pun cukup baik membawakan perannya, seiring dengan perkembangan-perkembangan karakternya yang porsinya paling banyak. Fedi Nuril masih seperti biasa, lebih banyak tampil tenang tanpa perkembangan berarti. Tika Bravani yang memang sekilas tampak menarik, tapi secara keseluruhan karakternya tak begitu berpengaruh karena porsi yang serba berjejalan.

Di deretan supporting casts, Rizky Hanggono tampil dengan kharisma yang semakin meningkat dari peran-peran sebelumnya. Sisanya tak begitu punya porsi yang cukup untuk menarik perhatian penonton.

Satu-satunya yang patut mendapatkan apresiasi tinggi adalah tata kamera dari Yunus Pasolang. Banyak sekali frame-frame dengan angle unik yang tampak sangat indah, puitis, dan tentu saja bisa bercerita dengan maksimal. Termasuk juga ketika adegan aksi yang lebih dinamis. Penggunaan visual effect dan CGI juga cukup bagus. Tanpa ini semua mungkin DTC akan menjadi just another FTV.

Untuk tata suara, tidak ada yang begitu istimewa. Semua sesuai kebutuhan dengan level  yang biasa saja. Termasuk fasilitas surround yang tak begitu banyak dimanfaatkan. Score dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti pun kali ini tidak se-powerful biasanya, meski tetap terasa ke-khas-annya.

DTC sebenarnya sangat berpotensi menjadi sebuah racikan drama, romance, dan action yang menarik jika disajikan dengan serba pas. Sayangnya dengan porsi yang serba tanggung menjadikan masing-masing bagian terasa tanggung pula dan akhirnya tidak berhasil membuat penonton merasakan apa-apa setelah film berakhir.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dejavu: Ajian Puter Giling

Mau dicemooh dan dikecam bagaimanapun, nyatanya genre horor selalu menarik perhatian penonton kita. Sayangnya pengetahuan penonton kita yang kurang sebelum menonton sebuah film membuat fenomena “nonton asal horor” dimanfaatkan produser untuk membuat film horor yang asal-asalan pula. Tak peduli dengan plot cerita generik, asal ada banyak adegan jumpscare di sana-sini, dengan score yang didaur ulang berkali-kali, dan sedikit bumbu sensual, sudah cukup untuk menyedot penonton. Lama-kelamaan kebiasaan ini menjadi bumerang bagi image film horor kita secara khusus, dan film nasional secara umum. Sangat disayangkan, mengingat di Indonesia sebenarnya ada banyak sekali urban legend yang bisa digali menjadi cerita yang menarik untuk diangkat. Salah satu yang sering aji mumpung dengan selera mayoritas penonton kita adalah BIC Pictures yang sudah melahirkan cukup banyak horor asal jadi. Tapi rupanya kali ini BIC mencoba untuk merombak image. Apalagi menggandeng sutradara Hanny R Saputra yang track record-nya termasuk bagus, baik ketika menangani drama maupun horor, seperti Mirror dan The Real Pocong.

Dejavu: Ajian Puter Giling (DAPG) sebenarnya punya source materi urban legend yang sangat menarik. Konon Ajian Puter Giling adalah ajian yang bisa digunakan untuk membuat pencuri tidak bisa keluar dari tempat ia mencuri suatu barang. Menariknya, Baskoro Adi Wuryanto tidak mengangkat materi ini mentah-mentah. Ia meraciknya dengan fenomena déjà vu yang lebih dikenal di seluruh dunia. Hasilnya, secara keseluruhan bisa dikatakan cukup berhasil menghadirkan cerita yang bikin penasaran, cukup rapi, dan dengan revealing twist yang relevan, tidak asal twist. Di ending, ia masih menyisakan pertanyaan “how come” yang discussable dan debatable sesuai imajinasi masing-masing penonton. Sayangnya banyak pula dialog yang masih terdengar kaku, terdengar tidak begitu penting, dan dibawakan para aktornya secara mentah-mentah pula.

Secara struktural, DAPG sengaja menggeber adegan-adegan thrilling dan jumpscare di setengah jam awal untuk menarik perhatian penonton. Hampir jadi melelahkan namun untungnya segera mulai dibuka teori déjà vu dan ajian puter giling untuk mulai mengupas cerita di balik apa yang terjadi di setengah jam awal. Dari situ cerita pun berkembang dengan cukup lancar. Namun patut disayangkan, setelah adegan revealing, penyelesaian dan konklusinya berlangsung terlalu terburu-buru sehingga kesannya “begitu aja”.

Berkat tangan dingin Hanny R Saputra dan sinematografi Rizko Angga Vivedru, DAPG bisa dikatakan berhasil dalam membangun atmosfer seram dan claustrophobic lewat setnya. Mereka berhasil mengeksplor tiap sudut rumah untuk membangun ketegangan, meski terbatas pada ruang yang sempit. Penataan artistik yang ditangani oleh Hanny sendiri juga berhasil mendukung nuansa creepy lewat gaya rumah dan properti yang vintage. Meski saya agak mengernyitkan dahi dengan dekorasi campur aduk yang kurang terarah (baca: asal terkesan vintage). I mean, buat apa ada poster iklan Jack Daniels dan minuman-minuman keras lainnya di dalam rumah?

Sementara departemen tata suara dan scoring turut mendukung suasana seram dan creepy, meski tak sampai pada titik istimewa. Fasilitas surround juga sudah dimanfaatkan dengan baik, meski hanya sebatas pembeda letak asal suara, belum sampai menciptakan kesatuan atmosfer lewat suara.

Kekuatan lainnya tentu saja terletak pada performance para aktornya. Terutama sekali Ririn Ekawati yang begitu menghidupkan cerita berkat keberhasilannya menjadi lead. Porsi antara ketakutan, licik, dan sensualnya tampak begitu natural dan meyakinkan, tanpa harus adegan terbuka secara blak-blakan. Ririn Dwi Aryanti pun terasa begitu misterius dan mengerikan meski porsinya tak begitu banyak. Sementara Dimas Seto sayangnya masih terasa canggung dan kebingungan mendefinisikan karakternya, tapi ada beberapa bagian di mana karakternya tampil menarik.


DAPG memang masih punya banyak kelemahan, namun secara keseluruhan cukup patut diapresiasi dalam upayanya menghadirkan naskah horor yang sedikit lebih menarik, dan dengan dukungan horor atmospheric yang digarap serius serta cukup berhasil. Semoga saja ini benar-benar menjadi titik balik BIC Pictures menggarap horor-horor yang lebih berkualitas ke depannya.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 27, 2015

The Jose Flash Review
Spy

Tahun 2011 Hollywood dihebohkan dengan Bridesmaids, sebuah komedi karya Paul Feig yang cukup berani mengeksploitasi seksual dari sisi wanita, hingga banyak yang menganalogikan sebagai female American Pie. Salah satu faktor kesuksesannya adalah penampilan si tambun Melissa McCarthy yang langsung mencuri perhatian. Feig pun semakin yakin bisa ‘klik’ dengan gaya komedi McCarthy, sehingga berlanjut ke film The Heat yang dirilis tahun 2013 dan lagi-lagi sukses besar secara box office. Maka tak heran jika banyak yang menantikan kerjasama Feig dan McCarthy selanjutnya, Spy. Dari judulnya, tentu saja kali ini Feig mencoba formula spoof spionase, ditambah Jason Statham yang sangat populer di scene action Eropa dan Asia.

So yes, Spy masih berhasil memanjakan penggemar setia Feig-McCarthy dengan humor-humor sejenis. Feig tahu bagaimana ‘mengeksploitasi’ (atau ‘mem-bully?) McCarthy semaksimal mungkin hingga menjadi bahan tertawaan yang dengan mudah dicerna oleh penonton manapun. Juga tak ketinggalan humor-humor ejekan yang mereferensi pada banyak materi budaya pop. Kesemuanya sekali lagi berhasil mengocok perut sepanjang durasinya yang tergolong cukup panjang untuk ukuran film komedi, dengan jeda antar humor yang tak terlalu jauh. Ada sih momen-momen serius dan bahkan adegan-adegan sadis, tapi lagi-lagi jatuhnya tetap lucu, intentionally of course.

Other than that, tidak ada yang begitu istimewa dari Spy. Bahkan judulnya saja begitu uninspired. Adegan aksinya memang terasa keren dan dinamis, tapi tidak ada yang begitu memorable, begitu juga klise-klise genre spionase, termasuk yang melibatkan romance, double agent, dan betrayal. Tapi, ah come on, kita semua tahu bahwa tujuan utama dari Spy adalah guyonan-guyonannya. Semua sub-plot hanya dipasang untuk set up dan membumbui cerita supaya lebih seru. Iya kan?

Melissa McCarthy jelas menjadi spotlight utama yang begitu bersinar sepanjang durasi. Dan sekali lagi, ia berhasil memikul beban berat itu dengan gemilang. Tapi tak hanya McCarthy, jajaran supporting casts-nya pun sangat mendukung nuansa humor, mulai Miranda Hart sebagai Nancy, Rose Byrne sebagai Rayna, bahkan Jason Statham yang sebenarnya punya peran serta running time sedikit dibandingkan yang lain, berhasil menjadi ‘korban bullyan’ Feig. Tak ketinggalan, 50 Cent yang membuat saya bersorak ketika tiba-tiba muncul di layar. Sementara Jude Law seperti biasa, kharismatik dalam membawakan perannya sebagai mata-mata charming.

Jika Anda menyukai humor yang ditawarkan Feig dan McCarthy lewat Bridesmaids dan The Heat, maka Spy juga pasti mampu membuat Anda tertawa terbahak-bahak. Enjoy it while letting the story flows.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 24, 2015

The Jose Flash Review
Tomorrowland

Masih ingat bagaimana gambaran masa depan dari film-film bertemakan futuristik ketika kita masih kecil dulu? Yang saya ingat adalah serba indah, canggih, imajinatif, dan semuanya tampak luar biasa menyenangkan. Sebuah gambaran yang membuat kita optimis kalau masa depan bakal jauh lebih baik daripada sekarang. Tapi  beberapa tahun belakangan gambaran masa depan bumi dibuat suram oleh berbagai media, terutama film. Ini tak lepas dari fakta bahwa bumi kita sebenarnya semakin lama semakin sekarat. Manusia perlu wake up call untuk mencegahnya. Kemudian muncullah kisah-kisah young adult bertemakan dystopian, seperti The Hunger Games, Divergent, The Maze Runner. Kesemuanya menyajikan petualangan yang seru sih, tapi tidak lagi semengasyikkan dan se-fun dulu. Petualangan tak lagi menjadi milik semua umur, tapi terbatas pada penonton remaja. Sometimes I missed that moment.

Menjawab kerinduan itu, Disney mencoba untuk mengembalikan visi masa depan yang serba fun, canggih, dan menyenangkan itu. Bersama Brad Bird, sutradara sekaligus penulis naskah yang pernah melahirkan film-film fantasi visioner untuk Disney, macam The Incredibles dan Ratatouille. Penulisan naskahnya pun dibantu Damon Lindelof yang juga menulis naskah-naskah sci-fi bervisi tinggi, macam Cowboys & Aliens, Prometheus, Star Trek Into Darkness, dan World War Z. So, dari sini sebenarnya sudah jelas kalau Disney tidak main-main mengangkat salah satu taman hiburan paling terkenalnya ke layar lebar. Yap, sama seperti The Pirates of the Caribbean, Tomorrowland juga diangkat dari wahana di Disneyland yang sudah ada sejak tahun 50-an dan terus dikembangkan sampai sekarang.

Sejak menit pertama, Tomorrowland sudah membawa penonton ke dunia fantasi yang sangat menyenangkan, meski dengan era 1964. Nuansa retro-futuristic yang menggambarkan dunia masa depan sebagai dunia yang indah dan serba sophisticated begitu memanjakan mata dan membuat penonton bak anak-anak yang sedang bermimpi indah di dunia fantasi. Cerita pun bergulir ke masa kini dengan benang merah sesosok gadis kecil bernama Athena yang ternyata sebuah robot… ehm, bukan robot, tetapi audio animatronic yang bertugas mencari bakat-bakat dengan visi untuk masa depan yang lebih indah. Lantas cerita terus bergulir menjadi semakin seru, in term of fun. Apalagi adegan di toko Blast from the Past yang jadi semacam surga penggemar sci-fi sebagai tribute, mulai Star Wars hingga Iron Giant yang juga merupakan karya Brad Bird. Adegan-adegan action-nya mengingatkan saya akan action ala Men in Black atau My Favorite Martians. Sadis, melibatkan pemenggalan anggota tubuh, namun masih bisa ditolerir untuk ditonton seluruh keluarga karena terjadi pada robot, ehm… audio animatronic. Sampai di sini saya langsung berpendapat bahwa sudah lama sekali saya tidak menyaksikan sebuah petualangan futuristik yang se-fun ini. It’s so Brad Bird! Apalagi kemudian ia memasukkan unsur-unsur sejarah (yang dipelintir sedemikian rupa, tentu saja) seperti yang pernah dilakukan Disney untuk National Treasure.

Paruh kedua film tampaknya pengaruh Lindelof yang kelam lebih dominan, seiring dengan terkuaknya fakta yang sebenarnya di balik petualangan karakter utama kita, Frank dan Casey. Saya pun masih terhibur dengan sindiran terhadap manusia yang cenderung menjadikan kiamat sebagai hiburan, bukan lagi momok atau reminder, dan juga trend cerita dystopian yang membuat visi manusia tentang masa depan tak lagi indah, melainkan suram. Sayangnya, baik Bird maupun Lindelof tampak kesusahan menjelaskan apa yang mereka ingin sampaikan melalui Tomorrowland secara visual, sehingga harus disampaikan secara verbal melalui dialog yang diucapkan oleh Nix. Itupun saya harus fokus mendengarkan penjelasannya, yang artinya besar kemungkinan susah dipahami oleh penonton awam yang hanya mendengarkannya sepintas lalu. Inilah yang menjadi satu-satunya permasalahan Tomorrowland yang membuat nuansa serba ceria dan seru yang dibangun di paruh pertama film. Apalagi ternyata klimaksnya “hanya seperti itu”. Untung saja ia menyajikan sesuatu yang manis dan yang paling penting, membuat saya tersenyum di akhir film.

Daya tarik utama di Tomorrowland tentu saja sepak terjang aktris muda, Brit Robertson, yang porsinya paling banyak dan mampu ia mainkan dengan sangat baik. George Clooney pun “mendampingi” Brit dengan porsi yang pas di balik kharisma-nya yang harus diakui masih cukup tinggi meski tampak effortless memainkan perannya di sini. Sementara di jajaran supporting cast yang paling mencuri perhatian tentu saja si audio animatronic cilik, Athena yang diperankan oleh Raffey  Cassidy, dan Hugh Laurie sebagai Nix.

Sebagai sebuah sci-fi dan futuristik, Tomorrowland jelas membutuhkan banyak sekali visual effect yang memanjakan mata. Kenyataannya saya sangat puas dengan visualisasi dimensi lain yang disebut sebagai Tomorrowland di sini. Cantik, sophisticated, dan visioner. Tak kalah pentingnya, tata suara yang memanfaatkan teknologi Dolby Atmos dengan sangat maksimal. Arah suara terdengar begitu jelas bedanya dan tetap menghasilkan keseimbangan suara yang renyah dan terdengar dahsyat.

So yes, sudah cukup lama saya tidak merasakan petualangan sci-fi futuristik se-fun Tomorrowland. Meski tak sepenuhnya berjalan mulus dan selalu menyenangkan, yang paling penting saya berhasil dibuat percaya akan harapan masa depan dunia yang lebih baik dan indah. Mission accomplished, and I’d say, overall I loved it!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 20, 2015

The Jose Flash Review
Mad Max: Fury Road

Mad Max yang dirilis tahun 1979 adalah sebuah batu loncatan yang luar biasa, baik bagi kreatornya, George Miller, dan aktor Mel Gibson. Sebuah proyek indie tapi visioner asal Australia yang akhirnya mendunia. Setelahnya pun nama George Miller dan Mel Gibson terus bersinar di Hollywood, yang otomatis sekaligus merambah seluruh dunia. Setelah 3 film dan penantian selama 30 tahun sejak seri terakhirnya, Mad Max Beyond Thunderdome rilis tahun 1985, akhirnya George berhasil kembali menuangkan visinya ke layar lebar. Rentang waktu yang sangat panjang jelas tidak memungkinkan Mel Gibson untuk tetap dipertahankan sebagai karakter utama. Sebagai gantinya adalah Tom Hardy yang memerankan karakter bernama sama, Mad Max. Hanya saja bukan Mad Max yang sama dengan yang diperankan oleh Mel Gibson. So Mad Max Fury Road (MMFR) bukanlah sebuah sekuel maupun remake/reboot, melainkan semacam refresh. Artinya penonton yang belum pernah menonton ketiga seri sebelumnya tidak akan dibuat bingung, tapi fans maupun yang sekedar sudah nonton akan diingatkan kembali dengan berbagai referensi dari film-film sebelumnya. Tentu saja dengan sentuhan lebih modern yang membuat MMFR tampak (dan lebih tepatnya, terasa) lebih sophisticated dengan visi yang kurang lebih sama.

Kemunculan MMFR jelas sebuah pertaruhan besar. Pertama, generasi sekarang sudah tidak banyak yang mengenal Mad Max. Kedua, film berlatarkan gurun pasir selama lebih dari satu dekade terakhir tidak pernah berhasil menarik perhatian penonton. Terakhir kita lihat kegagalan Disney dengan John Carter-nya. Tapi nampaknya kepiawaian Miller di usianya yang sudah kepala 7 tidak pudar, bahkan menurut saya makin garang dan terasah.

MMFR membawa kita ke dunia yang mengingatkan dengan padang pasir di film pertamanya. Dunia yang serba susah dimana air bersih menjadi barang mewah dan dikuasai oleh penguasa lalim, Immortan Joe. Seperti biasa, ada vigilante yang pura-pura menjadi kaki tangan demi merencanakan sebuah pemberontakan ke tanah harapan baru. Bukan Mad Max, tapi seorang wanita tangguh bertangan satu bernama Furiosa. Karakter Mad Max justru tampil sebagai sosok yang membantu Furiosa dan juga ternyata selir-selir Immortan Joe. Satu keputusan yang berani dari Miller. Tapi in my opinion, keputusan yang sangat baik karena kehadiran karakter Furiosa justru begitu kuat dan menarik perhatian, termasuk para selir yang jelas tak hanya sekedar sebagai eye-candy, tapi juga sangat kuat sebagai bagian penting dari cerita. Apalagi isu feminisme masih relevan sampai sekarang, bahkan bukan tidak mungkin menarik perhatian penonton wanita di tengah nuansa film yang serba maskulin.

Sepintas, MMFR seperti hanya sekedar sebuah film non-stop action yang memborbardir penontonnya tanpa jeda sedikitpun. Tak banyak cerita yang disampaikan, termasuk dialog yang teramat sangat minim. Tapi coba Anda ikuti adegan demi adegannya, Anda pasti dapat memahami gerak ceritanya dengan mudah. Selain ceritanya memang sengaja dibuat sesimpel mungkin untuk memaksimalkan fokus penonton pada pengalaman action tanpa henti, harus diakui pula Miller adalah seorang storyteller yang piawai bercerita secara visual. Tak hanya melalui adegan, tapi juga detail tiap karakter yang sangat kuat, bahkan sampai karakter yang mungkin tak begitu signifikan dalam cerita utama, seperti The Doof Warrior, si pemain gitar penyembur api yang pasti menarik perhatian penonton (yang konon bakal dibuat spin-off nya sendiri kelak). Tak heran jika ada kabar Miller akan merilis MMFR dengan versi silent dan B/W. Saya tak akan meragukan kemampuannya dipahami dengan mudah oleh penonton jaman sekarang sekalipun. Pada hakikatnya, film memang sebuah medium bercerita yang utamanya melalui visual dan suara, bukan? Buat apa susah-susah membuat film jika ceritanya banyak disampaikan secara verbal?

Sebagai sebuah film non-stop action, MMFR pun tidak main-main. Semua adegannya ditampilkan dengan begitu nyata dan brutal. Semua berkat penggunaan metode praktikal di kebanyakan adegan aksinya dan meminimalisir CGI. Konon CGI hanya digunakan untuk membuat efek tangan bionic Furiosa dan sekedar membuat adegan-adegannya semakin terlihat realistis.

Film dengan adegan-adegan non-stop action biasanya cenderung terkesan kacau dan asal dinamis tanpa diperhitungkan efek emosionalnya bagi penonton. Tapi tidak dengan adegan-adegan MMFR. Meski punya pace yang sangat dinamis dan cepat, perpindahan adegan yang cut-to-cut, semua detail adegan action MMFR berhasil membawa penonton seolah berada di tengah-tengah kejadian. Jangan kaget kalau Anda akan sering menahan nafas dan bahkan berteriak. Ternyata rahasianya adalah penjagaan konsitensi letak karakter utama sebagai fokus di gambar. So, penonton bisa dengan mudah mengikuti point of view karakter utama di layar tanpa terasa bingung maupun pusing. Efek emosi dari penonton pun semakin maksimal (apalagi ditunjang efek gimmick pop-out 3D yang cukup impressive dan tepat guna). Bravo untuk sinematografi dari John Seale! Masih ditambah music scoring dari Junkie XL yang serba metal dan sentuhan techno, memompa adrenaline ke tahap yang maksimal.

Pilihan cast-nya juga tak sembarangan. Tom Hardy mungkin tidak sepenuhnya punya kharisma sekuat Mel Gibson sebagai Mad Max, terutama dari segi sorot matanya. Tapi setidaknya Hardy sudah menampilkan performa yang cukup bad-ass untuk menjadi seorang Mad Max. Sementara Charlize Theron terasa begitu mencolok dan mencuri hati penonton lewat karakternya yang begitu kuat dan menonjol.

Di jajaran pemeran pendukung, Nicholas Hoult sebagai Nux berhasil mencuri perhatian dan simpati saya. Tak ketinggalan pula kehadiran para selir ber-body ala supermodel yang diperankan oleh Zoe Kravitz, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Abbey Lee, dan Courtney Eaton, bisa dengan mudah menjadi eye-candy yang begitu mempesona sekaligus badass.

MMFR jelas sebuah film yang mengedepankan pengalaman penonton and it really works to the max. Banyak sekali adegan-adegan aksi berkesan yang mungkin belum pernah kita saksikan di layar, dengan efek emosional terhadap Anda yang saya jamin akan jauh lebih terasa luar biasa di MMFR. Didukung dengan art dan desain produksi yang unik serta sangat berkesan, performa akting luar biasa mengisi karakter-karakter yang ditulis dengan begitu kuat, MMFR jelas bukan sekedar just another pop corn action movie. Kalaupun demikian, it will be a very crispy one, with one of the best taste ever.

Lihat data dari film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Achievement in Directing - George Miller
  • Best Achievement in Cinematography - John Seale
  • Best Achievement in Editing - Margaret Sixel
  • Best Achievement in Production Design - Colin Gibson and Lisa Thompson
  • Best Achievement in Costume Design - Jenny Beavan
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Lesley Vanderwalt, Elka Wardega, and Damian Martin
  • Best Achievement in Sound Mixing - Chris Jenkins, Gregg Rudloff, and Ben Osmo
  • Best Achievement in Sound Editing - Mark A. Mangini and David White
  • Best Achievement in Visual Effects - Andrew Jackson, Tom Wood, Dan Oliver, Andy Williams

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 10, 2015

The Jose Flash Review
Tarot

Sejak meledaknya Jelangkung tahun 2001, nama Jose Poernomo tiba-tiba menjadi masterful horor Indonesia, apalagi di tengah maraknya film horor murahan di tanah air. Namanya pun menarik banyak PH besar untuk bekerja sama menggarap horor yang banyak mencetak box office. Salah satu yang paling sering adalah Soraya Intercine Pictures yang sampai membuka khusus divisi Hitmaker Studios untuk Jose berkarya. Dimulai dengan Rumah Kentang, 308, Rumah Gurita, Mal Klender, dan yang paling baru, Tarot. Kerjasama berkesinambungan pun terjadi dengan Shandy Aulia yang seolah sudah menjadi Soraya Intercine’s darling karena selalu muncul di setiap proyek Hitmaker Studios, dan juga beberapa film Soraya Intercine sejak Eiffel I’m in Love. Maka ‘the dreamteam’ yang selalu sukses mencetak box office ini terus menambah daftar portfolionya. Padahal in my opinion, horor-horor Jose Poernomo lewat Hitmaker Studios tidak pernah beranjak dari formula-formula yang sama, hanya naskah dasarnya saja yang diubah. Tak terkecuali Tarot.

Membaca sinopsisnya, otomatis mengingatkan kita akan plot dari film horor Thailand buatan master of horor mereka, Parkpoom Wongpoom dan Banjong Pisanthanakun, Alone. Bedanya, di Alone si kembar lahir dempet, sedangkan di Tarot hanya kembar biasa. Namun ternyata apa yang disajikan Tarot bukan jiplakan mentah-mentah dari Alone. Meski harus diakui kalau ada banyak unsur yang terinspirasi dari film Thailand itu. Lihat saja ekspresi wajah Shandy sebagai Sofia yang mengingatkan saya akan karakter Ploy. Begitu juga dengan munculnya karakter seorang pria yang menjadi konflik utama. Bedanya, tentu saja twist di menjelang akhir film. Namun tunggu dulu, berbeda bukan berarti lebih baik, karena Tarot justru menghancurkan nuansa dan penceritaan yang rapi sejak awal, hanya demi sebuah twist ending yang berbeda.

Twist ending memang sah-sah saja dalam mengecoh dan akhirnya membuat penonton tercengang di depan layar. Namun tentu saja perlu keterampilan khusus dalam menyampaikannya, terutama dalam hal letak dan durasinya. Sayangnya, twist Tarot berlangsung kelewat panjang (menurut hitungan saya, sekitar 30 menit) hingga ending. Sehingga bukannya mendukung cerita, justru mengganggu pace, nuansa ngeri yang dibangun sejak awal, dan I have to say, melelahkan. Alih-alih mendukung cerita dan atmosfer seram, setengah jam terakhir justru lebih banyak membuat penontonnya tertawa terbahak-bahak. Terutama setiap kali Shandy Aulia mengucapkan line memorable-nya, “Sayaaaaaang….!”. Singkatnya, bangunan cerita sejak awal yang meski cukup rapi, tapi cukup melelahkan dalam taste saya berkat penjelasan yang terlalu bertele-tele dan flashback yang tidak perlu (tapi saya masih bisa berkompromi), semakin dibuat lelah dengan extended ending ini. Belum lagi membahas logika cerita berkaitan dengan kartu Tarot (dan hello... bagaimana ceritanya seorang Tarot reader bisa tahu bagaimana cara mengusir roh jahat. Oh okay, mungkin dia rajin browsing di internet tentang pengusiran roh jahat), yang sebenarnya sudah bisa saya kompromi asal secara 'horor' oke.

Rasa ‘melelahkan’ masih ditambah dengan akting para pemerannya. Oke, chemistry Shandy Aulia dan Boy William mungkin sudah sedikit lebih baik daripada di Rumah Gurita. Namun Boy William dan Shandy Aulia masih stuck dengan tipikal karakter yang mereka perankan di film-film Hitmaker Studios sebelumnya. Kalau boleh sedikit memuji, akting Shandy Aulia sebagai Sofia memang lebih baik dari tipikal biasanya. But that’s it. Shandy Aulia sebagai Julie masih se-mengesalkan seperti biasanya. Sementara Sara Wijayanto sebagai Madam Herlina melafalkan dialog-dialognya seperti membaca dan hafalan.

Namun jangan remehkan aspek teknis dari film-film Jose dan Hitmaker yang selalu ditata dengan cukup mumpuni. Seperti Tarot kali ini menyuguhkan tata kamera yang tergolong cantik, termasuk desain produksi yang tak kalah indahnya. Visual effect pun disajikan dengan cukup rapi. Sayang tata suara masih terdengar lemah. Terutama dari segi sound effect yang tidak sedahsyat adegannya. Perhatikan saja ketika adegan sebuah meja yang menyerang hingga hancur berkeping-keping, dan saat mobil menghantam dinding jembatan.


Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, in my opinion, Tarot dengan mudah akan menarik perhatian penonton, terutama remaja yang menjadi target utamanya. Semua yang disajikan Tarot di layar memang cocok untuk ditonton seru-seruan beramai-ramai bersama teman-teman. Jadi jangan heran jika saat menonton film ini di bioskop, studio tidak akan sepi dari hiruk pikuk penonton yang mengekspresikan diri. Tarot dibuat sebagai tipikal film horor ‘berjamaah’, bukan untuk dinikmati sendiri. Apalagi ia sudah menyiapkan gimmick lainnya, lagu Stranger in My Bed yang dinyanyikan Boy William, mengiringi salah satu adegan sekaligus liriknya menceritakan isi adegan, bak film Hindustan. (Lagi-lagi) jangan heran kalau lagu ini menjadi booming di kalangan remaja, dan jadi materi yang stuck in your head for months. Once again, that’s what Tarot was made for. Hitmaker knew it and will always use the same formula again and again for more fortunes. As for me, setidaknya ada banyak hal yang bisa jadi bahan bully-an dan mocking berdasarkan apa yang ada dari film ini.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 9, 2015

The Jose Flash Review
Cinta Selamanya

Nama Fira Basuki di kalangan tertentu, adalah nama yang cukup dikenal, terutama sebagai editor in chief majalah Cosmopolitan Indonesia dan penulis dari beberapa novel. Namun beberapa waktu lalu Fira menjadi lebih populer lagi karena kisah hidupnya yang boleh dibilang unfortunate. Bayangkan, seorang single parent dari seorang gadis yang beranjak remaja, dengan kesibukannya sebagai wanita karir. Giliran saat sudah menemukan sosok pria idaman yang usianya 11 tahun lebih muda, sang suami harus menghadap Yang Maha Kuasa, hanya beberapa bulan setelah pernikahan mereka, dan di saat Fira dalam kondisi hamil. It’s true, sometimes real life is stranger than fiction. Setelah dituturkan dalam bentuk novel, memoir romansa Fira dan suaminya, Almarhum Hafez Baskoro, akhirnya diangkat ke layar lebar, di bawah komando sutradara Fajar Nugros.

Kisah nyata yang tergolong “menye-menye” bisa menjerumuskan Cinta Selamanya (CS) menjadi sajian yang klise dan kelewat picisan. Namun rupanya naskah yang ditulis oleh Piu Syarif dan arahan Fajar Nugros membuat nuansa CS lebih berwarna. Tidak mudah sebenarnya merangkai cerita yang sebenarnya tergolong biasa, apalagi ketika penonton sudah tahu seperti apa endingnya. Salah-salah penonton bisa bosan dan walk out. Untuk itulah disebar komedi-komedi yang cukup berhasil menghibur, begitu juga romance sweetness, dan tentu saja bitterness, hingga konklusi, dengan takaran yang serba pas. Alhasil, CS selamat dari ancaman tontonan picisan dan bisa dibilang cukup berhasil menunjukkan kelasnya.

Mungkin secara keseluruhan, CS belum mampu meyakinkan penonton kenapa sosok Fira yang high class dan punya high taste pula, bisa jatuh cinta pada sosok Almarhum Hafez yang lebih membumi. Belum lagi bagaimana Fira bisa yakin bahwa Almarhum Hafez adalah cinta sejatinya meski mendahului dirinya. In my opinion, in case of true story, tidak ada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata (ataupun adegan), selain perasaan dan instinct pelakunya sendiri. So yes, dari apa yang disajikan di layar, kita dibuat menerima kalau menurut instinct seorang Fira, Almarhum Hafez is the one. Kita hanya bisa menjadi saksi berbagai manisnya sikap Almarhum Hafez serta momen-momen yang harus saya akui cukup berkesan, misalnya ketika Almarhum Hafez membawa Fira kencan pertama, bermain wayang, dan tentu saja di sebuah pantai di Jogja (yang tau itu pantai apa, let me know please!).

Namun yang membuat saya memberi poin lebih pada penceritaan CS adalah konklusinya yang ternyata tidak berhenti sampai saat Almarhum Hafez meninggal dunia. Jauh lebih penting, bagaimana Fira menyikapi musibah yang menimpanya dan melanjutkan hidup. Adegan-adegan dirinya di Madrid menjadi adegan bitter yang tak kalah mengesankan dengan adegan-adegan sweetness-nya. Hingga akhirnya penonton dibuat tersenyum berkat konklusi yang mengindikasikan (dan mungkin juga menginspirasi) Fira sebagai sosok Fun Fearless Female, seperti tagline majalah yang dipimpinnya.

Sweetness dan bitterness CS tak lepas dari chemistry luar biasa dari Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto yang di kehidupan nyata memang sepasang suami-istri. Namun penampilan individu mereka yang juga tak kalah kuat dan mirip dengan sosok-sosok aslinya, membuat CS menjadi lebih hidup. Atiqah mungkin masih belum sepenuhnya sempurna membawakan aksen Fira yang agak Jawa Timuran, nemun secara keseluruhan berhasil membawakan gesture yang mirip. Begitu juga Rio yang cukup charming, meski terkadang gesture-nya kelewat flamboyan sehingga mengingatkan perannya sebelumnya di Arisan! 2.

Di jajaran pemeran pendukung pun cukup menyegarkan nuansa CS secara keseluruhan, mulai Widi Mulia, Tantry Agung Dewani yang memang adik kandung Almarhum Hafez yang asli, Amanda Soekasah, dan Shaloom Razade, putri Wulan Guritno yang memulai debut aktingnya. Sementara scene stealernya jelas Surya Insomnia yang berhasil “mlethék” sama seperti saat Rio Dewanto di Arisan! 2. Cameo dari Moammar Emka (sebagai Ari Lasse, jelas bukan plesetan dari nama siapa?), Agus Kuncoro, Lukman Sardi, dan Dwi Sasono, juga pasti menarik perhatian Anda.

Salah satu aspek terkuat dari CS adalah desain produksinya yang ditata dengan serius. Jelas dunia glamour Fira berbaur dengan ekotisnya etnis Jawa yang dibawa oleh Almarhum Hafez menjadi blend yang menarik, termasuk lagu-lagu campur sari ala Didi Kempot yang berubah menjadi manis dan berkelas. Kesemuanya tertangkap oleh tata kamera yang juga serba cantik dari Yadi Sugandi (yang kali ini turut menjadi salah satu pemeran pendukung).

Sayangnya gambar yang serba cantik ini tidak begitu terimbangi oleh audio yang terdengar masih mengambang, terutama untuk dialog yang terdengar kurang jernih dan tegas, meski tidak juga sampai tidak terdengar jelas. Fasilitas surround pun tidak begitu dimaksimalkan, terutama dalam meletakkan musik latar dan sound effect, sehingga kurang terasa dimensi ruangnya.

CS bisa jadi sebuah memoir bittersweet romance yang sangat personal dan cukup berhasil membuat penonton merasakannya pula, meski tak sampai mampu dinalar dengan logika. Well, speaking of romance in true life, sometimes we have to drop some logics to really feel it, don’t we?

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Toba Dreams

Etnis dan budaya Batak termasuk jarang diangkat ke medium film kita. Alasannya jelas, selama ini sentralisasi masih etnis dan budaya yang ada di Pulau Jawa, sisanya mungkin hanya Bali karena alasan pariwisata yang mendunia. Yang sering terjadi, etnis Batak hanya ditampilkan melalui salah satu karakter untuk menandakan kebhinekaan bangsa kita, sekaligus objek pemancing tawa. Padahal etnis Batak termasuk yang paling banyak tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Maka sebuah kemajuan ketika tahun ini mulai banyak film yang “Batak banget”. Belum lama lalu kita disuguhi remake Bulan di Atas Kuburan yang kualitasnya tergolong bagus. Maka kali ini kita sekali lagi diajak menikmati budaya Batak dan juga keindahan alam pusatnya, seperti ikonnya, Danau Toba, lewat kemasan yang lebih ringan dan pop, Toba Dreams.

Diangkat dari novel karya TB Silalahi (mantan  Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara di era Kabinet Pembangunan VI, yang juga menjadi produser eksekutif dan co-sutradara versi filmnya), Toba Dreams (TD) basically adalah cerita father-and-son dengan konflik yang sudah klasik dalam masyarakat ketimuran kita, generation gap. Konflik antara karakter utama kita, Ronggur (Vino G. Bastian) dan ayahnya, Tebe (Mathias Muchus) menjadi porsi utama sekaligus dasar dari konflik-konflik lain yang diangkat di sini. Iya, betul sekali, sebenarnya TD punya konflik yang cukup banyak yang berpotensi menjadi tidak fokus dan berantakan. Mulai kawin lari, akibat korupsi, penyalahgunaan narkoba, kejamnya dunia mafia bawah tanah, hingga perbedaan agama. Genrenya pun menjadi campur aduk. Tak hanya drama keluarga, tapi juga romance, komedi, dan tentu saja action. Namun hebatnya, Benni Setiawan selaku penulis naskah sekaligus sutradara, kali ini berhasil merangkai kesemuanya menjadi satu kesatuan cerita yang saling berkaitan, tidak tumpang tindih,  porsi yang serba pas, dan dengan flow yang mulus pula. Dengan durasi yang hampir dua setengah jam, TD berhasil mengalir lancar dan sangat enjoyable. Tidak ada sedikit pun terasa membosankan. Kesemuanya mungkin terdengar klise dan pretensius, namun ternyata ketika di layar kesemuanya tampak natural, bahkan berhasil begitu menyentuh di banyak bagian.

Selain penceritaan Benni dan TB yang mulus, kenikmatan mengikuti TD terletak pada kekuatan para aktornya. Terutama sekali Vino G. Bastian yang meski masih memerankan karakter tipikalnya, namun sekali ini berhasil menyentuh titik emosi yang belum pernah dicapainya sendiri sebelumnya. Begitu juga ketika menjalin chemistry dengan istrinya sendiri, Marsha Timothy yang juga semakin terasah emosinya tanpa harus over-dramatic. Chemistry father-and-son antara Vino dan Mathias Muchus juga patut mendapatkan kredit lebih. Meski emosi satu sama lain sudah tertuang dalam dialog, namun ekspresi wajah mereka memberikan kedalaman yang lebih.

Pemeran-pemeran pendukungnya pun juga tak tampil sembarangan. Mulai Jajang C. Noer, Haikal Kamil, Boris Bokir, Tri Yudiman, dan tentu saja Ramon Y. Tungka, semuanya mengisi peran masing-masing dengan maksimal serta mampu menjadi screen stealer lewat penampilannya.

Departemen-departemen teknis-nya pun tak main-main. Terutama sekali tata kamera Roy Lolang yang memang jago mengeksplorasi alam landscape, sekaligus framing adegan yang tak hanya efektif dalam bercerita, tapi juga kadang memuat simbolik-simbolik metafora, dan membuat tata artistiknya terkesan megah. Lihat saja adegan pernikahan Ronggur-Andini yang juga diiringi suara merdu Judika. Meski masih ada beberapa shot yang diambil dengan drone tampak patah-patah dan pecah, namun cukup termaafkan secara keseluruhan.

Musik scoring dari Viky Sianipar pun turut menghantarkan emosi dari adegan-adegan TD secara lebih maksimal, sekaligus memfusi musik-musik Batak dengan pop dengan begitu indah.

Dengan berbagai keunggulannya, TD jelas menjadi salah satu drama keluarga yang berhasil menyentil konflik sosio-kultural klasik di bangsa kita dengan hati yang besar, sehingga tak terkesan membela salah satu pihak. Pun juga berhasil menyentuh dengan maksimal di banyak bagian. Bisa jadi TD malah drama keluarga yang paling megah yang pernah dibuat Indonesia, termasuk dari segi cast maupun teknisnya. Sayang jika dilewatkan di layar bioskop.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates