Saturday, April 4, 2015

The Jose Flash Review
Furious 7 (The Fast and the Furious 7)

Bahkan produser Neal H. Moritz mungkin tidak akan menyangka kalau film dengan premise sesederhana The Fast and the Furious di tahun 2001 bisa menjelma menjadi salah satu franchise terbesar, tidak hanya bagi Universal Pictures, tapi juga di antara film-film produksi Hollywood lainnya. Kesuksesan franchise ini tak lepas dari kekuatan tim para aktor-aktrisnya yang begitu solid sehingga mudah dicintai banyak orang, dan tentu saja penulis naskah yang berhasil mendaur ulang premise yang sama menjadi cerita yang selalu menarik, serta kreator adegan-adegan gila pemacu adrenalin di setiap serinya. Tak terasa sekarang sudah sampai seri ketujuh.

Ada yang istimewa di seri ketujuh ini. Ya, apalagi kalau bukan kejadiaan naas yang merenggut nyawa salah satu aktor pengisi peran kunci di franchise ini, Paul Walker, di tengah-tengah produksi. Otomatis produksi sempat tertunda dan naskahnya ditulis ulang dan dimodifikasi untuk mengakali adegan-adegan yang belum sempat diselesaikan Paul. Namun seperti biasa, mau tidak mau harus diakaui bahwa kematian salah satu aktor pendukung bisa jadi salah satu bahan publisistas dan juga promosi. Singkatnya, penggemar dan penonton baru akan semakin berbondong-bondong sekedar untuk ikut menjadi bagian dari tribute terakhir sang aktor.

Namun sebenarnya Furious 7 (F7) sudah punya modal yang cukup untuk menarik lebih banyak massa. Dukungan sutradara yang berpindah tangan dari Justin Lin (yang sudah menggarap franchise ini sejak seri ke-3 sampai 6) ke James Wan (sutradara asal Malaysia yang dikenal sejak debutnya, Saw, franchise Insidious dan The Conjuring) terbukti mampu memberikan penyegaran baru kepada franchise.

Di atas kertas, plot yang ditawarkan F7 sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru. Tidak hanya sekedar daur ulang plot, tapi juga perpanjangan dari seri ke-6. Naskahnya pun sebenarnya tidak sekuat seri-seri sebelumnya. Alhasil kehadiran karakter villain, Deckard Shaw jadi terasa kurang penting selain sekedar untuk mengintimidasi kru Toretto. Begitu juga Jakande dan Mr. Nobody yang semakin terasa kurang penting selain sekedar 'hiasan'. Unsur yang paling menarik mungkin hanya Letty yang mencoba mengingat semua masa lalunya, bridging dengan Tokyo Drift yang cukup mulus, dan nuansa kekeluargaan yang semakin diperkuat terutama melalui dialog. 

Bagi sebagian penonton mungkin sudah bosan dengan istilah “one last job” yang selalu diucapkan karakter utamanya, tapi jujur deh, sebenarnya deep down inside, yang sebenarnya selalu Anda tunggu-tunggu dan ingin terus disaksikan adalah adegan-adegan gila yang bikin menahan nafas serta memacu adrenalin, lagi dan lagi, bukan? Memang itu formula jualan utama franchise F7 yang selalu berhasil. Jujur, meski adegan-adegan aksi di F7 tidak semenegangkan seri-seri sebelumnya, tapi harus diakui stunt performance di sini semakin gila, dengan dosis yang semakin banyak, serta semakin mustahil namun berhasil tampil sangat convincing (we call it cinematic magic!), dan tetap terasa mengasyikkan. Tentu ini tak lepas dari pengaruh James Wan yang memberikan ‘bahan bakar’ segar lewat penyutradaraan dan camera work yang dinamis, serta adegan-adegan keren lain yang tanpa henti ditampilkan. Very intense, very loud, and that’s made the max of the cinematic experience you always want for more.

Above all, pengaruh James Wan juga semakin positif dengan treatment tribute yang sangat-sangat bagus dan cerdas untuk Paul Walker. Pertama, bantuan CGI untuk menyempurnakan stunt double dari kedua adik Paul, Cody dan Caleb Walker untuk sampling gesture dan sorot mata. Beberapa adegan tampak nyata, sementara ada juga yang terlihat jelas bedanya, terutama dari segi postur tubuh. Namun best part-nya adalah, alih-alih mematikan karakter, ia membuat karakter Brian O’Connor tetap hidup, ditampilkan dengan adegan farewell yang begitu poetic, dibumbui dialog, adegan-adegan flashback, dan music (tak heran jika lantas lagu See You Again dari Wiz Khalifa dan Charlie Puth jadi hits di mana-mana), menjadikan endingnya kekuatan tersendiri bagi seri ini. Sebagai salah satu fans yang mengikuti kesemua serinya, treatment tribute dari Wan untuk Walker ini membuat saya sedih, merinding karena kepergian Paul, namun sekaligus membuat ikhlas melepas kepergiannya dengan senyum bahagia. Sungguh merupakan sebuah treatment tribute yang sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap karakter dan si aktor sendiri. Yes, kematian Paul Walker memang berhasil mengundang penonton berbondong-bondong ke bioskop, tapi sama sekali tidak terasa seperti sebuah eksploitasi. Salute to the team, especially James Wan.

Kekuatan lain yang terus dikembangkan di franchise ini adalah penambahan aktor-aktris legendaris dan/atau populer yang turut meramaikan. Selain Jason Statham yang sudah sempat muncul sebagai hint di Furious 6, kali ini hadir pula aktor legendaris Kurt Russell, Djimon Hounsou, bintang Ong Bak legendaris, Tony Jaa, bintang serial Game of Thrones, Nathalie Emmanuel, petinju UFC wanita, Ronda Rousey, sampai Iggy Azalea.


Anyway, sejauh saya menuliskan review ini memang belum ada berita tentang kelanjutan franchise ini. Di film pun ditunjukkan seolah-olah seri ketujuh ini sebagai seri terakhir dari franchise. Namun, when money talks, we’ll never know. Merujuk dari endingnya, kemungkinan terbesar adalah sebuah spin-off tentang petualangan karakter Dominic Toretto. Who knows? Let’s just wait and see.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates